“Tahaan” bayangan pertama yang tidak lain adalah orang tua bongkok tadi berteriak seraya menyerang punggung Ketua Kuil Pek-hok-bio.
“Hentikan...!” bayangan ke dua yang tidak lain adalah bayangan Tio Ciu In berseru pula seraya menerjang ke arah altar.
Karya : Sriwidjono |
Semua orang terkejut, kejadian itu benar-benar di luar dugaan. Tak seorangpun berpikir bahwa tempat yang terjaga kuat dan rapi itu akan bisa kemasukan perusuh dari luar. Demikian pula halnya dengan para pimpinan, pendeta dan para anggota Kuil Pek-hok-bio itu.
Namun semua telah terjadi, dua orang tamu undangan telah meloncat menyerang ke arah panggung. Dan penyerang itu ternyata sangat dikenal. Oleh para anggota Kuil Pek-hok-bio tersebut, karena mereka adalah Gu Lam si Kakek Penjaga Kamar Buku dan Nyonya Cia anggota kehormatan Kuil Pek-hok-bio sendiri.
“Gu Lam! Apa yang kau lakukan?” Ketua Kuil Pek-hok-bio yang kurus kering itu membentak sambil mengelak ke samping.
“Cia Hu-jin (Nyonya Cia), tahaaaaaan...!” para pendeta yang mengelilingi altar itu berteriak seraya menghadang langkah Tio Ciu In.
Melihat serangan tangannya gagal, kakek bongkok itu segera berputar pula ke samping untuk mengejar lawannya, tapi dua orang pendeta berjubah merah itu telah memotong langkahnya. Bahkan kedua orang itu telah menyabetkan dua pasang ujung lengan baju atau jubah mereka yang panjang ke arah dada dan kepalanya. Begitu kuat tenaga dalam yang mereka pergunakan sehingga angin pukulannya telah lebih dulu datang daripada ujung lengan bajunya.
“Gu Lam! Apakah kau sudah gila, menyerang Ketua sendiri?” sambil menyerang salah seorang dari pendeta itu menghardik.
“Wuuuuus! Wuuuuus!”
“Plak! Plak!” Kakek bongkok itu tidak berusaha untuk mengelak, sebaliknya ia mengerahkan tenaga ke lengannya untuk menangkis serangan tersebut. Dan akibatnya sungguh di luar dugaan masing-masing. Kedua pendeta berjubah merah, itu merupakan tokoh tingkat dua di Kuil Pek-hok-bio dan merupakan orang-orang ke dua setelah ketuanya. Sedangkan Gu Lam hanyalah penjaga Kamar Buku.
Maka tidaklah aneh kalau kedua pendeta berjubah merah tersebut tidak bersungguh-sungguh dalam serangan mereka. Mereka hanya mengerahkan separuh bagian dari tenaga dalam mereka dan semua itu sudah lebih dari cukup untuk menghentikan amukan Gu Lam. -Dan ke duanya yakin betul akan hal itu.
Akan tetapi hasilnya sungguh mengejutkan! Bukannya Gu Lam yang jatuh tunggang langgang akibat bentrokan kekuatan itu, tapi sebaliknya justru mereka berdualah yang terdorong ke belakang dengan kuatnya! Untunglah dalam kekagetan mereka, mereka masih bisa bertahan untuk tidak jatuh terjengkang ke atas panggung, sehingga untuk sementara mereka masih dapat menyelamatkan diri dari rasa malu yang lebih besar!
Tentu saja kedua pendeta itu menjadi marah bukan main. Wajah mereka menjadi merah padam saking malu dan gusarnya. Namun ketika mereka berdua sudah bersiap sedia untuk menghukum Kakek Gu Lam, tiba-tiba mereka terbelalak! Kakek penjaga kamar buku itu kini telah berubah bentuk maupun wajahnya! Kakek bongkok itu kini dapat berdiri dengan tegap.
Sebuah bantal kecil yang dipakai untuk mengganjal punggungnya tadi tampak tergeletak di bawah kakinya. Wajahnya yang berjenggot dan berkeriput tadi kini kelihatan bersih dan gagah. Ternyata getaran udara yang diakibatkan oleh bentrokan tenaga tadi telah merontokkan tempelan-tempelan bedak kering yang dipakai untuk menyamar sebagai Gu Lam.
Sementara itu nasib Tio Ciu In ternyata juga tidak jauh bedanya dengan Gu Lam palsu! Di dalam ketergesaannya tadi ternyata Ciu In juga telah melupakan pula penyamarannya sendiri. Ketika empat orang pendeta yang berada di sekeliling altar tadi mencegatnya, ia tidak peduli.
Ciu In nekad saja menjenguk ke arah altar untuk melihat gadis korban itu. Gadis itu hanya mengelak saja secara reflek ketika dua orang di antara pendeta itu mendorongnya. Akibatnya dorongan itu mengenai bantal yang mengganjal perut dan dadanya, sehingga bantal itu tersembul ke luar dari tempatnya. Tentu saja bentuk tubuhnya menjadi lucu dan aneh!
“Hah, kau bukan Cia Hu-jin!” kedua pendeta itu segera berteriak.
“Hei? Siapa kau...?” dua orang pendeta berjubah merah itu juga berteriak pula ke arah Gu Lam palsu.
Kejadian yang tak tersangka-sangka itu segera merubah suasana yang semuIa tenang dan serius itu menjadi ribut dan panik. Para tamu yang rata-rata tak mengerti ilmu-ilmu silat itu menjadi ketakutan. Mereka menyangka kuil itu telah kedatangan musuh atau pasukan keamanan kota.
Mereka segera berlarian ke arah pintu, sehingga tak ayal lagi mereka saling bertubrukan dan berdesak-desakan. Jerit dan tangis para tamu wanita tak dapat dicegah lagi. Namun keributan itu sama sekali tak mempengaruhi keadaan di atas panggung.
Lelaki yang menyamar sebagai Gu Lam palsu dan masih tetap berhadapan dengan pendeta berjubah merah. Lelaki yang masih amat muda itu tidak segera menjawab pertanyaan lawan-lawannya. Matanya yang tajam itu justru melirik ke arah Tio Ciu In yang juga kedodoran penyamarannya.
Sekilas dahinya yang lebar itu berkerut, agaknya ia merasa kaget atau heran karena ada orang lain yang sedang menyamar pula seperti dirinya. Ada terbersit keinginannya untuk mengetahui siapa gadis itu, tapi kedua lawannya tak memberi kesempatan kepadanya.
Melihat perusuh yang menyaru sebagai Gu Lam palsu itu tidak mempedulikan pertanyaan mereka, kedua pendeta berjubah merah itu menjadi marah bukan buatan. Berbareng mereka menerjang dari kanan dan kiri, masing-masing tetap mempergunakan ujung lengan baju mereka yang lebar itu sebagai senjata.
“Whuuus! Whus! Whuuuss!”
Hembusan angin yang amat kuat segera mengurung Gu Lam palsu. Begitu kuatnya sehingga anak muda itu tidak berani lagi adu kekuatan seperti tadi. Dan untuk menyelamatkan diri dari kurungan tersebut, pemuda itu cepat merendahkan tubuh serendah-rendahnya, kemudian bergeser mundur mengikuti hembusan angin pukulan lawannya.
Sesaat dua pendeta berjubah merah itu terkesiap melihat gerakan anak muda tersebut. Gerakan yang dilakukan oleh anak muda itu terang sangat sulit dan merupakan bagian dari sebuah jurus ilmu silat yang sangat tinggi. Kelihatannya memang sederhana, tapi tanpa dasar dan perhitungan yang matang tak mungkin gerakan tersebut bisa dilaksanakan dengan mulus. Jelas bagi kita sekarang, pemuda itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Cuma mereka berdua tidak tahu, dari aliran atau perguruan mana lawan mereka tersebut berasal. Yang terang mereka berdua harus berhati-hati.Sementara itu di dekat mereka Tio Ciu In juga sedang menghadapi empat orang pendeta berjubah kuning tingkat tiga di kuil Pek-hok-bio itu. Karena penyamarannya sudah terlanjur kedodoran, maka Tio Ciu In juga tak ingin direpotkan oleh dandanannya lagi. Baju luar, sanggul, ganjal perut dan tempelan-tempelan bedak yang menutup sebagian wajahnya segera dibuangnya. Melihat lawan mereka sekarang berubah menjadi gadis yang lebih cantik lagi, empat pendeta berjubah kuning itu terkejut. Apalagi ketika mereka lihat gadis itu masih sangat muda sekali.
“Kau... Kau siapa? Mengapa kau mengacau upacara kami? dalam gugupnya salah seorang dari pendeta itu berseru.
Seperti halnya dengan Gu Lam palsu, sikap Tio Ciu In sekarang juga tidak setegang tadi. Kenyataan bahwa gadis yang terbaring di atas altar itu bukan adiknya membuat hati Tio Ciu In menjadi tenang kembali. Namun demikian Tio Ciu In tetap bertekad untuk menolong gadis itu. Gadis yang tak berdosa itu harus diselamatkan. “Jangan kalian ributkan aku ini siapa! Lebih baik kalian melepaskan gadis yang tak berdosa itu!”
“Kurang ajar! Kau bocah kecil ini memang sudah bosan hidup! Pergi...!” Pendeta itu tersinggung dan berteriak gusar.
Tanpa basa-basi lagi keempat pendeta berjubah kuning itu lalu menyerang Tio Ciu In. Seperti teman-teman mereka yang berjubah merah, merekapun mempergunakan lengan baju mereka yang lebar dan panjang itu untuk senjata. Bagaikan gumpalan awan yang bertebaran di udara, lengan baju mereka bergulung-gulung menimpa ke arah dada Tio Ciu In. Begitu dahsyatnya tenaga yang mereka kerahkan sehingga Tio Ciu In merasa seperti ada ratusan batu besar yang hendak menimpanya.
Dan kali ini Tio Ciu In tidak mau sembrono lagi seperti tadi. Dengan tangkas kedua tangannya mencabut pedang pendek yang terselip di lengannya. “Srrrt! Srrrt...!” Pedang itu lalu diputarnya dengan kencang mengelilingi tubuhnya, sehingga lawan-lawannya terpaksa menarik kembali serangan mereka agar tidak terpotong oleh sabetan pedang tersebut.
Tapi para pendeta itu juga tak ingin melepaskan Tio Ciu In. Untuk menanggulangi pedang tesebut mereka terpaksa mengeluarkan senjata pula, yaitu kebutan lalat yang gagangnya terbuat dari besi dan bulu kebutannya dari ekor kuda pilihan. Dengan bulu kebutan tersebut para pendeta itu ingin merampas pedang pendek Tio Ciu In.
Demikianlah pertempuran serupun tak bisa dielakkan lagi, sehingga panggung yang sempit itu menjadi terlalu sesak untuk pertempuran dua arena tersebut. Terpaksa dalam sebuah kesempatan Tio Ciu In meloncat turun ke bawah panggung. Tentu saja lawan-lawannya tak ingin kehilangan dirinya. Mereka melayang turun pula mengejar dia.
Sambil melayani kurungan lawannya Tio Ciu In mencuri lihat ke sekelilingnya, ke ruang kosong yang telah ditinggalkan tamu-tamunya. Gadis itu hanya melihat belasan penjaga atau anggota Kuil Pek-hok-bio di tempat itu. Mereka bersiaga penuh dengan senjata masing-masing mengurung ruangan tersebut. Tapi ia tak melihat Liu Wan di antara mereka. Kemanakah sebenarnya pemuda lihai itu?
Ternyata apa yang dilakukan oleh Liu Wan juga tidak kalah sibuknya dengan Tio Ciu In maupun Gu Lam palsu. Pemuda itu sekarang sedang bertempur pula dengan hebatnya melawan So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio di atas genting. Jauh lebih dahsyat dan lebih seru dari pada pertempuran di dalam ruangan tersebut. Tadi ketika seluruh perhatian orang tertuju ke arah keributan di atas panggung, diam-diam Liu Wan melihat musuh lamanya, So Gu Tai bersama Ketua Kuil Pek-hok-bio berusaha meloloskan diri melalui lobang genting yang terbuka.
Tentu saja pemuda itu tak mau melepaskannya. Dengan tangkas ia mengejar mereka. Untuk beberapa saat kedua tokoh Pek-hok-bio itu menjadi bingung melihat Cia-Wangwe yang telah mereka kenal itu bisa melompat ke atas genting mengejar mereka. Tetapi setelah Liu Wan tertawa dan mengejek tingkah laku mereka, So Gu Tai segera mengenalnya.
“Bun-bu Siucai (Pelajar Serba Bisa), mengapa kau selalu saja mengejar-ngejar aku? Apa salahku kepadamu?” peranakan suku bangsa Monggol dan Hun itu bertanya jeri.
“Saudara So, siapakah yang menyamar seperti Cia-Wangwe ini?” Ketua Pek-hok-bio bertanya kepada So Gu Tai.
“Dialah pemuda yang kuceritakan dulu. Namanya Liu Wan, digelari orang si Pelajar Serba Bisa karena dia pandai ilmu silat, ilmu sastra, ilmu-ilmu pengobatan, melukis dan menyamar!”
“Oooh!” Ketua Kuil Pek-hok-bio yang kurus kering itu terkejut.
“Benar, hahaha...! Kalian tak menyangka, bukan? Akupun tak menyangka pula bahwa tokoh-tokoh terhormat seperti kalian berdua ini bisa berubah menjadi pengecut yang meninggalkan anak buahnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri!” Liu Wan tertawa mengejek sambil melepaskan alat-alat penyamarannya.
“Bangsat! kau benar-benar sombong! kau kira aku takut mendengar namamu, hah?” Ketua Kuil Pek-hok-bio itu tersinggung dan menjerit berang.
Selesai mencopoti semua alat yang ia pakai untuk menyamar, Liu Wan bertolak pinggang. “Hehehe, kalau kau memang tidak takut... Mengapa kau harus melarikan diri?”
“Kurang ajar! Bocah bermulut lancangi Lihat kebutanku...!” sambil berteriak marah Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengeluarkan kebutan dan menyerang Liu Wan. Bulu kebutan yang lemas itu mendadak menjadi kaku seperti sikat baja dan menusuk ke ulu hati. Tapi dengan lincah Liu Wan menggeliat ke samping, kemudian balas menyerang dengan tusukan jari tangannya.
“Cuuuus!” Jari itu melesat ke arah ketiak lawannya. Ketua Pek-hok-bio semakin gusar. Kebutan yang gagal mengenai lawannya itu ia tarik ke atas, kemudian ia sabetkan mendatar mengarah ke kepala Liu Wan. Dan kali ini bulu kebutan itu telah berubah menjadi lemas kembali seperti cambuk.
“Taaaaar!” Bulu kebutan itu melecut udara kosong, karena Liu Wan telah lebih dulu menundukkan tubuhnya. Bahkan sambil menundukkan tubuhnya pemuda itu masih sempat membalas pula, siku kanannya terayun menghajar lutut lawannya. Dengan tergesa-gesa Ketua Kuil Pek-hok-bio itu membuang tubuhnya ke belakang!
“Praaak!” Dua buah genting hancur terijak kakinya. Dan tubuh yang kurus kering itu terguling ke kiri hampir jatuh. Untunglah So Gu Tai cepat menyambar ujung jubahnya. “Bedebah! kau memang harus dibunuh!” untuk menutupi perasaan malunya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat.
“Sudahlah! Mari kita lawan bersama-sama!” akhirnya So Gu Tai yang lihai itu menawarkan diri.
“Baik! Marilah...!” ternyata Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menyahut tanpa malu-malu lagi. Namun sebelum pertempuran itu dilanjutkan kembali, tiba-tiba di halaman depan terdengar suara ribut-ribut pula. So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio saling pandang dengan wajah kaget, lalu menatap Liu Wan dengan curiga.
“Kau membawa teman?” So Gu Tai menggeram.
Liu Wan tercengang. Tapi di lain saat bibirnya kembali tersenyum. “Kau jangan mengada-ada! Bukankah itu suara para tamu yang lari ketakutan? kau jangan mencari-cari alasan untuk melarikan diri!” ejeknya pedas.
“Bangsat sombong...!” Ketua Kuil Pek-hok-bio mengumpat. Tapi sebelum orang kurus kering itu melompat menerjang Liu Wan, mendadak dari bawah genting meloncat tiga orang berjubah kuning.
“Suhu! Kuil... Kuil kita diserbu gerombolan pengemis! Mereka telah masuk ke halaman!” dengan suara gugup mereka bertiga melapor kepada Ketua Kuil Pek hok-bio.
“Hah...? Gerombolan pengemis? Pengemis dari mana?” So Gu Tai menyahut dengan suara geram.
“Tampaknya mereka dari perkumpulan Tiat-tung Kai-pang!”
“Tiat-tung Kai-pang?” Ketua Kuil Pek-hok-bio berdesah cemas. “Hmmh, kalau begitu... cepat kalian siapkan saudara-saudara kalian untuk menghadapi mereka! Sebentar lagi aku datang!”
Tak heran kalau Ketua Kuil Pek-hok-bio itu merasa cemas. Perkumpulan Tiat-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bertongkat Besi) memang sebuah perkumpulan yang amat disegani di daerah selatan. Belasan tahun yang lalu ketika masih dipimpin oleh Tiat-tung Lokai, perkumpulan pengemis tersebut benar-benar mengalami kejayaannya. Sedemikian kuat dan besar anggota mereka waktu itu sehingga perkumpulan mereka terpaksa dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah selatan dan utara aliran Sungai Yang-tse.
Daerah di sebelah selatan Sungai Yang-tse dipimpin oleh Tiat-tung Lokai, sedangkan di sebelah utara Sungai Yang-tse dipimpim oleh Tiat-tung Hong-kai (Pengemis Gila Bertongkat Besi). Mereka berdua adalah saudara seperguruan. Dan sekarang, meskipun perkumpulan itu tidak sebesar dan sekuat dulu lagi, namun sisa-sisa kebesarannya masih tetap melekat di hati kaum persilatan. Begitu pendeta-pendeta berjubah kuning itu pergi, Ketua Kuil Pek-hok-bio kembali menghadapi Liu Wan.
“Huh! Ternyata kau bersekongkol dengan pengemis-pengemis busuk dari Tiat-tung Kai-pang!”
Liu Wan menjadi marah juga akhirnya. “Kau jangan mencampur-adukkan urusanku dengan urusan Tiat-tung Kai-pang! Aku tidak mengenal mereka dan mereka juga tidak mengenal aku! Kalau kebetulan sekarang mereka datang ke sini bersamaan dengan kedatanganku, hal itu berarti bahwa kuilmu ini memang mempunyai banyak musuh!”
“Tutup mulutmu!” orang tua itu menjadi marah.
Demikianlah pertempuran tak bisa dielakkan lagi, Liu Wan dikeroyok Ketua Kuil Pek-hok-bio dan So Gu Tai. Mereka bertempur di atas genting dengan ginkang mereka yang tinggi. Di dalam cahaya bulan yang gilang gemilang tubuh mereka berkelebatan kesana-kemari bagaikan burung malam yang sedang berebut mangsa. Ketua Kuil Pek-hok-bio tetap memegang kebutannya.
Sementara So Gu Tai telah mengeluarkan ruyungnya pula, tapi Liu Wan tetap mempergunakan tangan kosong untuk melayani mereka. Meskipun demikian pemuda itu tidak tampak di bawah angin. Malahan seringkali pemuda itu bisa menindih permainan senjata lawannya.
“Anak Setan! Anak Gila! Siapakah sebenarnya kau ini? Siapakah Gurumu?” karena kesalnya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat tiada habisnya.
Liu Wan tertawa lepas. “Kau ingin mengetahui siapa aku dan siapa Guruku? Hahahaha, mudah sekali! Desaklah aku! Paksalah aku untuk mengeluarkan ilmu silatku yang sejati! Nanti kau akan mengenalnya...!”
“Baik! Hati-hatilah...!” Ketua Kuil Pek-hok-bio itu lalu memberi tanda kepada So Gu Tai. Bersama-sama mereka menerjang Liu Wan. Sambil mengibaskan kebutannya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menebarkan tepung kuning berbau wangi ke tubuh Liu Wan. Dan serangan tersebut segera dibantu pula oleh So Gu Tai. Raksasa Monggol itu menyabetkan ruyungnya ke bawah, sementara tangannya yang lain mengayunkan belasan batang paku kecil ke arah kepala, dada dan perut Liu Wan. Tampaknya mereka berdua memang benar-benar ingin mendesak pemuda itu.
Serangan yang bertubi-tubi itu memang membuat Liu Wan kewalahan, tapi pemuda itu masih tetap bertahan untuk tidak mengeluarkan ilmu andalannya. Dengan berjungkir balik sambil berkali-kali mengibaskan lengan bajunya, pemuda itu berusaha mengelak dan menyingkirkan paku-paku serta tepung beracun yang mengurung dirinya. Tapi So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio sudah bertekad untuk memaksa Liu Wan mengeluarkan ilmu andalannya.
Belum juga pemuda itu mampu membebaskan dirinya, mereka telah menyusulkan pula serangan yang lain. Bulu kebutan Ketua Kuil Pek-hok-bio itu tiba-tiba meledak ketika disabetkan dan sejumput bulu pada ujungnya mendadak putus, lalu menebar ke arah Liu Wan. Sedangkan So Gu Tai dengan tenaga dalamnya yang kuat memutar-mutar ruyungnya sekuat tenaga.
Kini Liu Wan memang tidak memiliki kesempatan untuk mengelak lagi. Dalam keadaan sibuk menghindari serangan paku dan taburan tepung wangi itu, dia tidak mungkin bisa mengelakkan dua serangan tersebut. Apalagi putaran ruyung So Gu Tai itu benar-benar ganas luar biasa. Dalam keadaan seperti itu Liu Wan memang dipaksa untuk mengeluarkan kesaktiannya. Tanpa mempergunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi tak mungkin seseorang dapat melepaskan diri dari hujan serangan seperti itu.
Dan hal itu memang dilakukan oleh Liu Wan! Ketika akhirnya pemuda itu merasa tidak dapat menghindar lagi, tiba-tiba ia memutar tubuhnya seperti gasing. Dan pada saat itu pula sekonyong-konyong dari telapak tangan Liu Wan meniup angin pusaran yang amat kuat, berputar seperti puting beliung, yang melanda dan melontarkan kembali semua benda yang kembali mendekati dirinya.
Begitu dahsyatnya hembusan angin yang keluar dari telapak tangan pemuda itu, sehingga tidak cuma paku, tepung wangi dan bulu kebutan saja yang terpental balik, tapi tubuh Ketua Pek-hok-bio dan So Gu Tai pun ikut terdorong mundur pula dengan kuatnya. Bahkan tumpukan genting yang terinjak oleh pemuda itu turut tersibak dan terlempar kemana-mana. Dan sebagian di antaranya jatuh ke bawah menimpa panggung upacara!
Semuanya terkejut. Tidak terkecuali Gu Lam palsu yang masih bertempur seru melawan dua pendeta berjubah merah itu. Pecahan-pecahan genting yang berjatuhan dari atas itu memaksa dia berjumpalitan ke arah altar untuk menyelamatkan gadis korban yang masih terbujur diam di tempat tersebut. Sekali sambar pemuda itu berhasil menyingkirkan tubuh telanjang itu dari malapetaka.
Bergegas pemuda itu melepaskan baju luarnya dan mengenakannya pada tubuh gadis itu. Kemudian dengan geram pemuda itu menatap ke atas panggung kembali. Tapi kedua lawannya tadi telah menghilang. Demikianlah pula halnya dengan anggota-anggota Pek-hok-bio lainnya. Ruangan itu telah kosong.
Tinggal gadis yang menyamar sebagai Cia Hujin bersama lawan-lawannya saja yang masih berada di sana. Pemuda yang menyamar sebagai Gu Lam itu menatap ke atas genting. Ia tidak tahu siapa yang sedang berlaga di sana. Namun mendengar deru angin dahyat yang menggetarkan bangunan gedung itu ia percaya tentu ada orang sakti di atas genting. Tak terasa matanya menatap ke arah Tio Ciu In kembali.
“Tampaknya gadis itu juga membawa teman pula. Mungkin gurunya. Dia juga bermaksud menolong Li Cu. Eeem, siapakah dia...?” pemuda itu berkata di dalam hatinya. Pemuda itu lalu melangkah ke jendela dan melongok ke halaman. Di dalam cerahnya sinar rembulan ia melihat pertempuran yang kacau-balau di sana.
“Ah, teman-teman dari Tiat-tunig kai-pang benar-benar telah datang aku tinggal merawat dan mengurusi Li Cu saja sekarang.” desisnya gembira.
Pemuda itu lalu kembali lagi ke dalam. Sambil bersila di dekat gadis yang ditolongnya, pemuda itu memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya. Jari-jarinya yang telah terisi tenaga sakti itu lalu menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh gadis yang baru saja ditolongnya tersebut. Peluh mengalir membasahi dahi dan lehernya, tapi pemuda itu tak mempedulikannya. Tangannya terus sibuk mengurut di sana-sini.
Tubuh yang terpaku diam seperti patung itu tiba-tiba bergerak. Mula-mula bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, lalu kepalanya menoleh pula ke kanan dan ke kiri. Demikian melihat pemuda yang duduk di dekatnya, gadis itu tiba-tiba bangkit dengan kaget. Tak terduga tangannya melayang menampar pipi Gu Lam palsu beberapa kali.
“Plaak! Plaaak! Plaaak!” Lalu dengan isak tertahan gadis itu melompat berdiri terus berlari meninggalkan tempat itu, namun begitu sadar bagian bawah tubuhnya tidak mengenakan apa-apa gadis itu segera mendekam kembali dengan tergesa-gesa. Dan tangisnyapun segera meledak pula dengan hebatnya.
“Kau jelek...! kau jahat...! kau apakan aku tadi? Uhu-huuuuu...!”
Pemuda yang menyamar sebagai Gu-Lam palsu itu beringsut, namun tidak berani terlalu dekat. Dengan sedih ia memandang gadis yang sedang menangis itu. Tangannya mengusap-usap pipinya yang bengkak. “Li Cu Sumoi...! Aku tidak berbuat apa-apa kepadamu. Percayalah. Aku tahu kau membenciku. Tapi apa daya, suheng telah mengutus aku untuk membawamu pulang. Maafkan aku...”
Tak terduga tangis perempuan itu malahan semakin menjadi-jadi. “Bohong! kau bohong! kau tentu telah menculik aku! kau tidak bisa mendapatkan aku secara wajar, maka kau lalu menculik aku! Memperkosa aku! Huuuuu...!”
“Tidak, Sumoi... aku tidak serendah itu! Aku justru yang menolongmu dari cengkeraman pendeta-pendeta Pek-hok-bio ini! Lihatlah...! Pertempuran antara kawan-kawan kita kaum Kai-pang melawan penculikmu masih berlangsung!”
Gadis yang bernama Li Cu itu tersentak kaget. “Kai-pang...? Kau maksudkan perkumpulan Tiat-tung Kai-pang? Ada apa mereka itu di sini?” serunya tak percaya. Otomatis tangisnya berhenti dan tinggal sedu-sedan saja.
Pemuda yang baru saja menyamar sebagai Gu Lam palsu itu menghela napas panjang. “Sumoi, ketahuilah...! Kau telah diculik oleh pendeta Kuil Pek-hok-bio ini untuk dikorbankan kepada Dewi Bulan. Untunglah aku dapat melacak jejakmu, sehingga dengan pertolongan kawan-kawan kita dari Tiat-tung Kai-pang aku bisa membebaskanmu. Lihatlah di luar, kawan-kawan kita masih bertempur melawan orang-orang Pek-hok-bio ini!”
Gadis itu memandang ke jendela sebentar, lalu menunduk kembali. Wajahnya yang cantik manis itu masih tampak marah dan kesal. “Kau jangan melihat aku saja! Carikan kembali pakaianku!” bentaknya kaku.
“Eh... ba-baik, Sumoi!” dengan gugup pemuda itu menjawab, lalu berlari ke atas panggung untuk mencari pakaian sumoinya tadi. Sekilas pemuda itu menoleh ke pertempuran yang masih berlangsung antara Tio Ciu In dan empat orang pengeroyoknya.
Dengan sepasang pedang pendeknya gadis itu menghadapi lawan-lawannya yang garang. Pedangnya berkelebatan mengelilingi tubuhnya, seakan-akan sedang merangkai sebuah pagar besi yang menutup dan melindungi seluruh bagian tubuhnya. Dan dalam waktu dan kesempatan yang tepat, pagar besi itu tiba-tiba terbuka untuk balas menyerang lawan-lawannya. Permainan pedang gadis itu sangat rapi dan kuat, baik pada saat menyerang maupun bertahan.
Ilmu pedang gadis itu agak aneh. Biasanya orang selalu mengandalkan kelincahan dan kecepatannya dalam bermain pedang, tapi gadis ini ternyata tidak demikian. Dia justru selalu bertumpu pada kuda-kudanya yang kuat dan gerak pergelangan tangannya yang luwes. Rasanya seperti tidak bermain pedang, tapi sedang menulis atau menggambar saja.
Gerakan-gerakan pedang Tio Ciu In memang sangat berlainan dengan gerakan ilmu pedang pada umumnya. Selain tidak mengandalkan kecepatan maupun kelincahan gerak, permainan pedang Tio Ciu In juga tidak mengandalkan ketajaman mata pedang pula seperti halnya ilmu-ilmu pedang umumnya. Ilmu pedang Hok-hong Kiam-hiat milik. Tio Ciu In justru bertumpu pada kelihaian memainkan ujung pedangnya.
Dengan keluwesan serta ketrampilan pergelangan tangannya, ujung pedang pendek itu mampu menusuk, menoreh, mengungkit, mencongkel dan mengukir tubuh lawan, tanpa membutuhkan ancang-ancang. Maka tidak mengherankan bila ke empat pendeta berjubah kuning itu menjadi kebingungan melayani Tio Ciu In. Semula mereka berempat sangat berbesar hati karena merasa dengan kebutan mereka itu mereka akan segera bisa menundukkah ilmu pedang gadis tersebut.
Senjata kebutan yang bergagang pendek dengan juntai rambut panjang itu benar-benar sebuah senjata yang cocok untuk menundukkan pedang. Ketajaman mata pedang takkan berguna menghadapi juntai rambut yang lemas. Sebaliknya juntai rambut panjang itu akan dengan mudah membelit batang pedang dan merampasnya.
Akan tetapi permainan pedang Tio Ciu In yang aneh dan tidak umum itu ternyata sangat sulit untuk ditundukkan. Bahkan sebaliknya mereka berempat sendirilah yang menjadi kelabakan melayani ilmu pedang gadis itu. Padahal kalau diukur, kepandaian gadis itu terpaut banyak dengan mereka. Gadis itu hanya menang sedikit bila dibandingkan dengan masing-masing dari mereka. Tapi ilmu pedang aneh itulah yang membuat gadis itu sulit dihadapi.
Demikianlah, pertempuran antara Tio Ciu In dan empat orang pengeroyoknya semakin tampak seru dan menegangkan. Untuk beberapa saat sulit untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tio Ciu In sendiri sangat sukar memecahkan kepungan lawan-lawannya, tapi sebaliknya ke empat pendeta tersebut juga sulit menundukkan gadis yang masih muda belia itu.
Mungkin cuma daya tahan mereka berlimalah yang akan menentukan akhir dari pertempuran tersebut. Sementara itu pecahan kayu dan genting yang berjatuhan dari atas semakin lama semakin banyak pula, sehingga atap ruangan itu lambat-laun tinggal kerangkanya saja. Akibatnya orang yang sedang berlaga di atas genting itu lalu menjadi kelihatan dari bawah. Tapi pertempuran mereka memang tinggal menunggu saat-saat akhir saja.
Setelah Liu Wan mengeluarkan kesaktiannya. So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio itu sama sekali tak mampu melawan lagi. Dengan ilmunya yang dahsyat, yang mampu menimbulkan gejolak angin pusaran yang amat kuat, pemuda itu sama sekali tak bisa didekati lagi. Bahkan dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya (pek-kong-ciang) yang ampuh, pemuda itu dapat membunuh lawan-lawannya setiap saat.
So Gu Tai menyadari bahaya tersebut. Oleh karena itu pula, meskipun keadaannya sangat sulit, otaknya selalu mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari tempat itu. Dan kesempatan itu akhirnya memang ia dapatkan! Suatu saat ketika rekannya, si Ketua Kuil itu, tak mampu mengelak lagi dari sambaran pukulan Liu Wan, So Gu Tai pura-pura memberi pertolongan.
Tubuh kurus kering itu dipeluknya agar tidak terbanting ke bawah tapi bersamaan dengan saat itu tangan kirinya menghajar genting dibawahnya hingga ambrol seperti tidak disengaja tubuhnya yang besar itu terjeblos ke bawah.
Namun ketika Liu Wan mencoba mengejar dirinya, So Gu Tai cepat melemparkan tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio yang ada di dalam pelukannya itu ke arah Liu Wan. Terpaksa Liu Wan menghantam sekali lagi tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio itu dengan Pek-khong-ciangnya.
“Bhuuk!” Tubuh kurus kering itu terhempas ke samping, membentur dinding dan terkulai di atas genting. Darah segar tampak mengalir dari mulut orang tua itu. Liu Wan cepat melongok ke lobang genting di mana So Gu Tai tadi meloncat turun, tapi buruannya itu sudah hilang. Di bawah hanya terlihat pertempuran antara Tio Ciu In melawan empat orang pengeroyoknya. Ketika pemuda itu bermaksud membantu gadis tersebut, sekonyong-konyong terdengar suara menahannya.
“Liu Wan, tunggu...!”
Pemuda itu mengurungkan niatnya. Dilihatnya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu masih bisa bergerak. Mata yang sudah hampir kehilangan cahayanya itu menatap ke arah dirinya.
“Kau benar, Anak Muda... aku sekarang tahu siapa dirimu. kau... Kauuu... Huk-huk! Kau... huk... ooough...!” Ternyata orang tua itu tak kuasa meneruskan perkataannya. Kepalanya terkulai, nyawanya melayang.
Liu Wan menghela napas, kemudian melompat turun melalui lobang tadi. Belum juga kakinya menyentuh lantai seseorang telah membentaknya. “Kau... siapa?”
Liu Wan cepat membalikkan tubuhnya. Di depannya berdiri sepasang muda mudi dalam sikap siap sedia untuk berkelahi. Mereka adalah Gu Lam palsu dan Li Cu, yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali. “Ooooh, Nona adalah gadis yang hendak dikorbankan tadi...” begitu memandang Li Cu, Liu Wan segera menyapa ramah.
Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu mengerutkan keningnya. Hatinya sedikit cemburu mendengar pemuda tampan itu menyapa sumoinya. “Kau siapa...?” tanyanya kemudian dengan suara kaku. Liu Wan tersenyum. Dan pemuda itu memang ganteng sekali kalau tersenyum, hingga Gu Lam palsu itu semakin cemburu dibuatnya.
“Saudara tidak perlu khawatir kepada saya. Saya adalah teman gadis yang sedang bertempur itu. Kami berdua bermaksud menolong Nona ini dari kebiadaban orang-orang Pek-hok-bio.” Liu Wan menerangkan maksudnya berada di tempat itu. Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu menyeringai malu.
“Maaf, kalau begitu kami berdua sangat berhutang budi kepada Tuan. Ehm, kami berdua adalah kakak beradik seperguruan. Namaku Ku Jing San, sedangkan Sumoiku ini bernama Song Li Cu. Bolehkah kami mengetahui nama Tuan?” katanya kemudian dengan suara lantang dan tegas. Liu Wan membalas penghormatan Ku Jing San dan Song Li Cu.
“Ah, jangan sungkan-sungkan. Aku, Liu Wan, memang telah lama bermusuhan dengan pimpinan Kuil Pek-hok-bio ini. Kebetulan saudara perempuanku juga hilang, sehingga aku yang curiga kepada pendeta jahat itu lalu mencarinya ke sini. Tapi ternyata Nona Li Cu yang diculik oleh mereka, bukan adikku...” Ku Jing San dan Song Li Cu terkejut.
“Jadi adik Tuan juga diculik orang?” Ku Jing San bertanya kaget.
Liu Wan mengangguk, lalu memandang keluar jendela. “Apakah saudara Ku yang membawa kaum Kai-pang itu?” katanya mengalihkan pembicaraan.
“Benar antara kami dan perkumpulan Tiat-tung Kai-pang memang bersahabat erat. Guru kami sangat dekat dengan pimpinan mereka.” Ku Jing San menerangkan.
“Baiklah. Kalau begitu saya akan membantu temanku itu dahulu. Silakan saudara Ku dan Nona Song melihat di luar, mungkin orang-orang Kai-pang itu ingin bertemu dengan kalian!” Setelah merangkapkan kedua tangannya di depan dada Liu Wan lalu melangkah menghampiri arena pertempuran Tio Ciu In. Dan gadis ayu itu segera menyambutnya dengan dampratan.
“Twako, kemana saja kau tadi? Aku sampai kewalahan memecahkan kepungan pendeta-pendeta jahat ini!”
Liu Wan berhenti di luar arena dan tidak segera terjun membantu Tio Ciu In. Dengan tenang pemuda itu menonton pertempuran sambil bersilang tangan di atas dada. Akan tetapi sikap itu justru menggetarkan hati empat orang pendeta berjubah kuning tersebut. Apalagi ketika pemuda itu bercerita kepada Tio Ciu In tentang kedatangan orang-orang Kai-pang dan kematian Ketua Kuil Pek-hok-bio, empat orang pendeta tak bisa lagi menguasai hatinya. Mereka menjadi ketakutan dan putus asa.
“Kau... bohong! kau berusaha. mempengaruhi kami!” salah seorang dari pendeta itu berteriak.
Liu Wan tertawa. “Kau tak percaya? Lihatlah di atas genting! kau akan melihat mayat ketuamu! Nah... Itu lihat! Tangan dan kaki yang terjulur keluar dari lobang genting itu, bukankah tangan dan kaki ketuamu? Atau... Kalian ingin menyaksikan dulu mayat-mayat kawan kalian yang dibantai oleh orang-orang Kai-pang di luar sana?”
Ucapan yang bernada ejekan dan ancaman itu ternyata besar sekali pengaruhnya. Suasana ruangan yang sepi, keributan di luar gedung dan hancurnya sebagian besar atap dan genting ruangan itu, benar-benar membuat empat pendeta itu percaya akan ucapan Liu Wan tersebut. Otomatis semangat dan keberanian mereka menghilang. Tak ada keinginan mereka untuk melawan lagi.
“Aku menyerah...!” orang yang paling tua di antara mereka kemudian berseru sambil melompat mundur. Senjatanya dibuang. Ternyata yang lainpun mengikuti pula langkah pendeta tertua tersebut. Mereka meloncat mundur dan membuang kebutan mereka. Tio Ciu In juga tidak mengejar mereka lagi. Dan gadis itu semakin kagum pada kecerdikan Liu Wan. Tanpa turun tangan pemuda itu ternyata bisa menundukkan perlawanan mereka. Liu Wan lalu mengumpulkan senjata-senjata mereka, lalu menaruhnya di atas meja.
“Coba dua orang di antara kalian pergi ke atas genting untuk mengambil mayat ketua Pek-hok-bio!” perintahnya kepada pendeta yang tertua tadi.
“Baik...!” Demikianlah pertempuran di dalam gedung itu sudah selesai.
Kini tinggal pertempuran seru di halaman, antara anak buah Kuil Pek-hok-bio melawan orang-orang dari Kai-pang. Ku Jing San dan Song Li Cu yang telah turun di halaman depan tampak mengamuk dengan hebatnya. Tak seorangpun anak buah Kuil Pek-hok-bio yang mampu menahan pukulan dan tendangan mereka. Mayat-mayat dari kedua belah pihak telah bergelimpangan, terutama orang-orang dari Pek-hok-bio.
“Berhenti semua...!” Seperti seorang panglima perang, Liu Wan berseru sambil berkacak pinggang di atas tangga pendapa. Di belakangnya tampak empat pendeta berjubah kuning, di mana salah seorang di antaranya tampak membawa mayat Ketua Kuil Pek-hok-bio. Tio Ciu In mengawasi mereka dari samping dengan pedangnya. Suara bentakan Liu Wan itu disertai oleh lwekangnya yang tinggi.
Maka tidaklah mengherankan bila suaranya dapat mengatasi gaduhnya suasana di tempat tersebut. Bahkan demikian kuat getaran suaranya sehingga mampu mengguncang jantung setiap orang yang berada di halaman itu. Tak terkecuali Ku Jing San dan Song Li Cu sendiri. Pertempuranpun berhenti dengan tiba-tiba. Semuanya memandang ke atas tangga pendapa seperti terkesima. Dengan takjub mereka menatap Liu Wan yang sangat berwibawa itu.
“Saya harap semuanya menghentikan pertumpahan darah ini! Lihat...! Orang yang menjadi biang keladi pertumpahan darah malam ini telah mati! Oleh karena itu semua anggota Kuil Pek-hok-bio harap meletakkan senjata masing-masing," Liu Wan berteriak sekali lagi.
Melihat tokoh-tokoh mereka telah menyerah, bahkan ketua mereka juga sudah meninggal, maka seluruh anggota Kuil Pek-hok-bio yang masih hidup lalu membuang senjata mereka pula. Mereka diam dan menurut saja ketika digiring lawan-lawan mereka ke pendapa. Beberapa saat kemudian terjadi kesibukan di ruang pendapa yang luas itu. Ku Jing San dan beberapa tokoh Kai-pang tampak mengatur tawanan dan kawan-kawan mereka sendiri.
Beberapa orang ditugaskan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka dan yang menjadi korban di dalam kemelut tadi. Demikian sibuknya mereka sehingga mereka seolah-olah melupakan Liu Wan dan Tio Ciu In yang secara diam-diam meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan terdengar dentang suara lonceng dua kali, pertanda waktu telah menunjukkan pukul dua malam.
Langit terang-benderang, sehingga rembulan penuh yang telah jauh bergulir ke arah barat itu bebas menebarkan sinarnya ke seluruh permukaan bumi. Semua jalan-jalan yang membelah kota Hang-ciu tampak sepi, sama sekali tidak mencerminkan bahwa seharian tadi orang baru saja bersuka-ria menyambut kedatangan Tahun Baru. Malam ini semua orang tampaknya benar-benar ingin mengaso setelah seharian penuh mereka tak beristirahat.
Yang masih kelihatan hidup dan bergerak di jalan-jalan itu hanyalah hewan-hewan piaraan seperti anjing, kucing dan lain sebagainya. Mereka masih berkeliaran di jalan-jalan untuk mengais sisa-sisa makanan yang dibuang orang di pinggir jalan. Tampaknya penduduk kota itu benar-benar telah dicekam oleh mimpi mereka masing-masing, sehingga kedatangan kereta Liu Wan itu sama sekali tak menggoyahkan tidur mereka.
Lo Kang dan Lo Hai yang amat setia itu membawa kereta tersebut ke penginapan. Suara roda besinya yang geludak-geluduk itu terdengar amat nyaring dan berkumandang memenuhi jalanan. Dari jauh suaranya seperti genderang perang yang ditabuh di malam hari, nikmat namun juga menggetarkan hati. Kereta itu berhenti di depan penginapan. Lo Hai turun membukakan pintu dan mempersilakan Liu Wan dan Tio Ciu In untuk menemui pemilik penginapan itu sendiri.
“Ciu-moi, malam ini kita beristirahat dulu di penginapan ini. Besok pagi kita lanjutkan usaha kita untuk mencari Adikmu. Marilah... kau tidak usah curiga atau ragu-ragu. Aku telah mengenal dengan baik pemilik penginapan ini. Lo Kang dan Lo Hai telah memesan dua kamar untuk kita berdua. Ayo...!”
Sesaat Tio Ciu In masih merasa ragu. Tapi di lain saat melihat kesungguhan hati Liu Wan, hatinya menjadi tenteram pula. “Baiklah, Twako...” desahnya pelan tanpa berani memandang Liu Wan.
“Bagus. Nah, Lo Kang dan Lo Hai, kalian kembalilah ke pondok kita di tengah empang itu! Tunggulah aku di sana!” pemuda itu memberi perintah kepada pembantunya.
Demikianlah, seperti yang telah diceritakan di bagian depan, malam itu Tio Ciu In sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Siau In yang lincah dan bandel itu selalu melintas dan menggoda hatinya. Adiknya itu memang nakal dan usil sehingga seringkali sangat menjengkelkan hatinya. Tapi bagaimanapun juga gadis itu adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini.
Untuk kesekian kalinya Tio Ciu In menarik napas panjang. Panjang sekali, la mengenang nasibnya. Nasib perjalanan hidupnya dengan Siau In, adiknya. Sejak kecil mereka diasuh oleh gurunya, Giam Pit Seng, seorang tokoh aliran Im-yang-kauw. Menurut cerita gurunya, dia dan adiknya dulu diambil dari dekapan seorang nelayan tua yang mati akibat kebiadaban bajak laut yang menjarah rayah kampungnya.
Nelayan she Tio itu menitipkan dia dan adiknya kepada Giam Pit Seng agar dirawat seperti anaknya sendiri. Kebetulan Giam Pit Seng juga tidak memiliki anak isteri pula, sehingga kedatangan dia dan adiknya itu benar-benar sangat membahagiakan hati pendekar pit (pena) tersebut. Dia dan Siau In benar-benar dianggap sebagai anak sendiri, diasuh dan diberi pelajaran ilmu silat tinggi. Waktu itu dia sudah berusia enam tahun, sementara Siau In berumur tiga tahun.
Menurut Giam Pit Seng, dia dan Siau In adalah anak-anak yang cerdas dan cerdik, sehingga semua pelajaran ilmu silat dan ilmu sastra yang diberikan oleh gurunya itu cepat sekali diserap dan diterima. Namun demikian sesekali gurunya itu masih mengeluh karena mereka berdua adalah wanita. Gurunya juga menginginkan seorang murid lelaki, yang akan diwarisi ilmunya Hok-hong Pit-hoat.
Dan keinginan Giam Pit Seng itu akhirnya terkabul juga. Setelah mengasuh dia dan Siau In selama empat tahun, suatu hari Giam Pit Seng membawa seorang anak lelaki berusia dua belas tahun ke rumah. Anak yang lebih tua dua tahun dari dia itu bernama Tan Sin Lun, putera seorang kepala desa, sahabat Giam Pit Seng.
Meskipun lebih dulu berguru kepada Giam Pit Seng, tetapi dia dan Siau In memanggil suheng kepada Tan Sin Lun. Hubungan mereka bertiga sangat baik dan rukun seperti saudara sekandung saja. Hal itu berlangsung hingga mereka menjadi dewasa. Setelah menjadi dewasa itulah lambat laun tali hubungan mereka semakin berubah.
Kata orang, dia dan adiknya memiliki wajah yang sangat cantik sehingga orang-orang selalu memandang kagum kepada mereka. Dan anggapan seperti itu akhirnya menular pula kepada Tan Sin itu jatuh cinta kepadanya. Dan rasa cinta itu selalu diperlihatkan oleh suhengnya apabila tiada seorangpun di dekat mereka.
Selama ini dia memang belum paham akan perasaannya sendiri. Ia memang menyukai Tan Sin Lun, karena sejak kecil mereka selalu bersama-sama. Tapi ia tidak tahu, rasa sukanya itu berdasarkan rasa cinta atau cuma rasa sayang saja.
Ia memang senang selalu berdekatan dengan suhengnya itu, tapi selama ini ia tak pernah berpikir atau membayangkan bahwa ia akan menjadi suami-isteri dengan Tan Sin Lun. Selama ini ia hanya berpikir bahwa Tan Sin Lun adalah pemuda yang baik hati dan berjiwa ksatria, itu saja. Lain tidak. Itulah sebabnya ketika kemarin siang Tan Sin Lun mencium pipinya, ia menjadi tersinggung dan marah.
Sekali lagi Tio Ciu In menghela napas panjang. Tiba-tiba saja bayangan Liu Wan berkelebat di depan matanya. Pemuda yang baru dijumpainya kemarin siang itu seperti telah dikenalnya bertahun-tahun. Wajahnya, kepandaiannya, sikapnya serta semua tindakannya, rasanya selalu mengundang kagum di hatinya. Tiba-tiba Tio Ciu In menjadi jengah sendiri. Belum-belum ia telah memperbandingkan Liu Wan dengan Tan Sin Lun.
“Tok! Tok! Tok!”
Tio Ciu In terkejut. Pintu kamarnya diketuk orang. Bergegas turun dari pembaringan dan mengenakan baju luarnya. Sebelum membuka pintu ia merapikan dulu rambutnya.
“Selamat pagi, gadis ayu...!” Liu Wan memberi salam.
“Eh-oh... pukul berapa sekarang?” Tio Ciu In menjawab gugup. Tiba-tiba berhadapan dengan orang yang baru saja dilamunkan membuat gadis itu gugup tidak keruan. Untunglah Liu Wan seorang pemuda yang pandai bicara, sehingga rasa kikuk dan malu yang mengharu biru di hati Tio Ciu In segera menghilang pula.
“Hei, kau jadi mencari adikmu tidak? Hari sudah siang. Lihatlah, matahari telah berada di atas atap! Mengapa kau belum bangun juga? Apakah mimpimu indah sekali? Ahaa, tahulah aku! Kau tentu bermimpi jadi pengantin, sehingga kau menjadi segan untuk bangun. Pengantin lelakinya tentu... tentu...”
“Apaaa...? Coba, siapa...? Siapa Sebutkan! Sekali kau kesalahan omong, aku akan pergi dan tak mau kenal kau lagi!” seru Tio Ciu In gemas. Matanya membelalak, pipinya merah. Liu Wan meringis dan tak berani menggoda lagi.
“Maaf, Ciu-moi... jangan marah. Aku cuma ingin bercanda denganmu. Entah mengapa, pagi ini hatiku merasa gembira bukan main, sehingga rasanya aku jadi ingin menggoda siapa saja yang kutemui.”
Tio Ciu In mencibirkan mulutnya. “Huh! Dasar...! Kalau mau bercanda lihat-lihat dulu orangnya! Jangan asal sambar saja! Huh, coba katakan terus terang! Siapa yang hendak kau sebutkan sebagai... pengantin lelaki? suhengku, bukan?” sergahnya kemudian dengan nada tetap marah-marah.
“Haaah...?” Liu Wan berdesah kaget. Mulutnya ternganga, matanya melotot. “Sungguh mati aku tak bermaksud mengatakan seperti itu! Sumpah!”
Kini giliran Tio Ciu In yang tercengang keheranan. “Kau tidak bermaksud mengatakan seperti itu? Lalu... Lalu apa yang hendak kau katakan?” suara Tio Ciu In merendah. Wajahnya menjadi pucat.
Mendadak air muka Liu Wan menjadi merah padam. Sikapnya menjadi kikuk dan kemalu-maluan, persis seperti pengantin yang sedang dipertemukan di depan tamu.
“Apa...? Apa yang hendak kau katakan tadi?” Tio Ciu In mendesak penasaran.
Sambil cengar-cengir Liu Wan memandang Tio Ciu In. Masih kelihatan rasa takutnya kalau-kalau gadis itu akan menjadi marah lagi. “Aku tadi ingin mengatakan bahwa... pengantin prianya adalah aku sendiri!” akhirnya pemuda itu berani juga mengatakannya.
Wajah yang putih mulus itu tiba-tiba berubah menjadi merah seperti udang direbus. Tanpa mengatakan apa-apa lagi pintu kamarnya dibanting.
“Ciu-moi... Ciu-moi! Maafkanlah aku!” Liu Wan berseru sambil berusaha membuka pintu itu dari luar, tapi tidak bisa. Tio Ciu In menguncinya dari dalam.
“Wah, gawat...! Dia benar-benar marah sekarang! Huh... Inilah akibatnya kalau orang suka bergurau!” Liu Wan menggerutu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dengan lesu pemuda itu melangkah meninggalkan kamar Tio Ciu ln. Wajahnya yang semula cerah dan gembira itu kini kelihatan susah dan sedih. Hatinya sungguh-sungguh amat menyesal telah menggoda Tio Ciu In tadi. Seharusnya dia tidak omong sembarangan di depan Tio Ciu In yang sedang bersusah hati karena kehilangan adiknya itu.
“Tapi apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur. Mulutku ini kadang-kadang memang terlalu ceriwis, sehingga sering membuat gara-gara.” Liu Wan lalu melangkah ke ruang makan.
Di ruangan yang luas itu sudah banyak orang, sebagian besar adalah tamu-tamu yang menginap di rumah penginapan itu sendiri. Rata-rata mereka telah bersiap-siap untuk meninggalkan penginapan itu. Ada yang hendak meneruskan perjalanannya, ada pula yang akan pulang ke kampung setelah menyaksikan perayaan Tahun Baru yang sangat meriah kemarin.
“Tuan Liu...! Ah, hampir saja kami kehilangan jejak Tuan tadi malam. Untunglah ada seorang teman kami yang melihat Tuan masuk ke penginapan ini.” tiba-tiba terdengar suara orang menegur.
Liu Wan menoleh. Seorang pemuda gagah bangkit dari kursinya dan bergegas menghampiri dirinya. Liu Wan segera mengenalnya sebagai Ku Jing San, pemuda yang ditemuinya tadi malam di Kuil Pek-hok-bio. “Oh, saudara Ku Jing San rupanya. Bagaimana saudara Ku tahu aku menginap di sini?” Liu Wan menyambut teguran pemuda itu dengan ramah pula.
“Ah, mudah saja. Bukankah di kota ini banyak anggota Kai-pang yang berkeliaran? Tuan Liu marilah kita duduk semeja saja di sana. Nanti kuperkenalkan dengan suhengku. Dia baru saja datang di kota ini beberapa saat yang lalu. Dia ingin sekali berkenalan dengan Tuan Liu, sekalian mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan Tuan membebaskan Sumoi kami.”
Liu Wan memandang ke meja yang ditunjuk oleh Ku Jing San. Di sana telah berdiri seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap bersama Song Li Cu. Mereka berdua tampak tersenyum menantikan kedatangannya. Liu Wan menjadi kikuk dan tidak enak hati.
“Wah, saudara Ku terlalu membesar-besarkan masalah sepele seperti itu. Aku malah menjadi malu...” Liu Wan menggerutu, tapi terpaksa menurut saja ketika lengannya ditarik Ku Jing San ke mejanya.
Pemuda bertubuh tinggi tegap itu memberi hormat kepada Liu Wan dan mempersilakan Liu Wan untuk duduk di depannya. Dengan berat hati Liu Wan terpaksa mengikuti saja kemauan mereka. “Maaf, kami telah mengganggu saudara Liu Wan pagi ini.” Pemuda tinggi tegap itu membuka pembicaraan. “Perkenalkan, aku yang rendah adalah saudara seperguruan tertua dari Ku Jing San dan Song Li Cu ini. Namaku Kwe Tek Hun. Atas nama adik-adikku ini aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saudara Liu Wan tadi malam.”
Liu Wan tersenyum dan melirik ke arah Song Li Cu, tapi yang dilirik sedang asyik mengawasi Twa-suhengnya yang gagah ganteng itu. “Ah, saudara Kwe... Kau keliru! Aku sama sekali tidak merasa telah membantu saudara Ku Jing San dalam membebaskan Nona Song Li Cu. Dia sendirilah yang sebenarnya telah membebaskan sumoinya. Aku hanya kebetulan saja di sana, karena aku juga sedang mencari adikku yang hilang.” Liu Wan cepat menyanggah perkataan Kwe Tek Hun.
Sambil berkata Liu Wan menepuk pundak Ku Jing San, seakan-akan hendak mengatakan bahwa yang sebenarnya sangat berjasa di dalam pembebasan Song Li Cu itu adalah Ku Jing San sendiri Bukan dirinya.
Ku Jing San tampak tersipu, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sangat senang dan bangga mendengar perkataan tersebut. Berkali-kali matanya yang polos jujur itu menatap ke arah sumoinya, walaupun Song Li Cu sendiri tampak acuh tak acuh terhadapnya. Gadis cantik itu masih tetap memandangi Kwe Tek Hun yang tampan dan gagah. Diam-diam Liu Wan menghela napas. Ia melihat sesuatu yang kurang serasi di antara mereka. Tampaknya ada jalinan cinta segitiga yang ruwet di antara tiga saudara seperguruan itu.
“Cinta... cinta kau memang aneh. Kadang-kadang kau bisa membuat orang merasa sangat berbahagia. Namun sering kali pula kau membikin orang menjadi sangat menderita. Hemmmmmmmmm...!” Liu Wan mengeluh di dalam hati.
Melihat tamunya termenung diam seperti sedang memikirkan sesuatu, Kwe Tek Hun cepat menghibur. “Saudara Liu, bagaimanapun juga kami tetap menganggap bahwa kau telah membantu kami membebaskan Song Li Cu. Dan untuk membalas kebaikan saudara Liu itu kami telah berjanji pula akan membantu mencari adik saudara Liu yang hilang. Bahkan kami juga akan meminta pertolongan orang-orang Tiat-tung Kai-pang untuk mencarinya.”
Wajah Liu Wan menjadi cerah dengan tiba-tiba. Usul Kwe Tek Hun itu benar-benar amat bagus dan menggembirakan hatinya. Dengan pertolongan orang-orang Kai-pang, jejak Tio Siau In tentu akan mudah diketahui. Bukankah ratusan anggota Tiat-tung Kai-pang yang ada di daerah itu. setiap harinya selalu tersebar di segala tempat? Bukan mustahil salah seorang di antaranya pernah melihat kepergian Tio Siau In.
“Terima kasih, saudara Kwee... terima kasih. Aku sungguh-sungguh sangat gembira dan berterima kasih sekali bila saudara Kwe dan kawan-kawan dari Tiat-tung Kai-pang mau membantu aku mencari adikku.”
Kwe Tek Hun tersenyum puas. “Bagus. Kalau begitu mau tunggu apa. Lagi? Marilah kita sekarang menemui Jeng-bin Lokai (Pengemis Tua Bermuka Seribu) yang kebetulan berada di kota ini. Nanti aku yang akan berbicara kepadanya.”
“Jeng-bin Lokai...? Siapakah dia?” Liu Wan bertanya pelan.
“Dia adalah Hu-pangcu (Wakil Ketua) Tiat-tung Kai-pang. Kepandaiannya amat tinggi, terutama di bidang berdandan dan menyamar, sehingga ia dijuluki orang Jeng-bin Lokai. Dia pulalah yang telah mendandani Ku Jing San tadi malam.”
“Apakah dia juga ikut datang di kuil Pek-hok-bio tadi malam?”
“Benar. Dia memang ikut memimpin anak buahnya di halaman kuil itu. Bahkan dia sempat mengutarakan kekagumannya ketika Tuan Liu dengan amat berwibawa menghentikan pertempuran dari atas pendapa. Namun ketika dia ingin bersua dan berkenalan, ternyata Tuan Liu sudah pergi.” Ku Jing San yang sejak duduk di kursi tadi hanya berdiam diri saja, tiba-tiba menjawab pertanyaan Liu Wan.
“Ah, maaf... aku memang segera meninggalkan tempat itu tadi malam. Aku tidak ingin mengganggu...” Suara Liu Wan sekonyong-konyong merendah. Begitu pula halnya dengan tamu-tamu yang lain. Suara percakapan dan obrolan yang ramai di dalam ruangan itu mendadak menurun, bahkan hampir terhenti sama sekali.
Semua mata memandang keluar, ke pintu yang menghubungkan ruang makan tersebut dengan pendapa depan. Seorang gadis remaja yang cantik sekali, berusia antara enam belas atau tujuh belas tahun, dengan pakaian dan perhiasan mahal, tampak melangkah lincah ke dalam ruangan itu. Tubuhnya yang kecil namun berbentuk indah itu melenggang sedikit genit ke arah meja yang kosong.
Sikapnya sangat tenang dan berani, bahkan terasa agak dingin dan penuh percaya diri, sehingga orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tak ada yang berani bersikap kurang ajar. Apalagi ketika gadis cantik itu meletakkan kipasnya di atas meja. Sebuah kipas yang sangat aneh karena kipas tersebut terbuat dari lembaran baja tipis bermata tajam.
Seorang pelayan bergegas menghampiri dan menanyakan keinginan gadis itu. “Kau siapkan makanan apa saja yang paling enak di rumah makanmu ini untuk lima orang lelaki dan seorang wanita, lalu hidangkan di atas meja ini! Nih, kau bawa sekalian uang pembayarannya!” gadis itu berkata nyaring seraya memberikan uang dua tail perak. Suaranya terdengar bening dan merdu sehingga pelayan itu menjadi bengong seperti orang yang kesengsem mendengarkan suara buluh perindu.
Pelayan itu menjadi gugup dan salah tingkah melihat uang sebanyak itu. “Ini... Ini, eh... Ini terlalu banyak, Siocia. Satu tailpun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi meja ini...”
“Sudahlah! kau bawa saja uang ini! Aku memang sengaja membayar dua kali lipat... Tapi ingat...! Kalau masakanmu tidak bisa memenuhi seleraku, nasibmu dan nasib rumah makanmu, ini benar-benar akan menjadi jelek sekali! Nah, pergilah...!”
Mata yang bulat indah itu menatap dingin seperti mengandung ancaman, membuat pelayan itu meremang bulu kuduknya. Entah mengapa sikap gadis cantik itu benar-benar amat berwibawa dan menggiriskan hati. “Ba-baik, Siocia...”
Hampir serentak para pengunjung restoran itu menghela napas panjang. Dalam waktu yang cuma sesaat tadi mereka seperti disuguhi sebuah pemandangan yang menegangkan. Demikian pula halnya dengan Liu Wan dan Kwe Tek Hun bersaudara. Tak terasa sikap dan tingkah laku gadis cantik itu telah mampu merampas dan mempengaruhi perhatian mereka berempat.
“Saudara Kwe mengenal dia?” Liu Wan bertanya perlahan kepada Kwe Tek Hun. Pemuda tinggi tegap itu menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku belum pernah melihat dia. Tapi kipasnya itu...?” tiba-tiba pemuda itu menghentikan kata-katanya.
Matanya memandang ke arah pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan ruang dalam. Semua pengunjung yang sudah mulai mengobrol lagi itu sekonyong-konyong menghentikan pula obrolan mereka seperti halnya Kwe Tek Hun. Pandangan mereka juga tertuju pula ke pintu dalam, ke arah Tio Ciu In yang mendadak keluar menuju ruang makan tersebut.
Tidak seperti biasanya, kali ini Tio Ciu In memang berdandan sedikit luar biasa. Tubuhnya yang tinggi lentur itu dibalut pakaian berwarna hijau muda, sehingga kulitnya yang putih halus itu tampak semakin cerah dan segar dipandang mata. Rambutnya yang biasanya cuma dikepang dan dibiarkan terurai di belakang punggungnya itu sekarang disanggul ke atas seperti layaknya gadis-gadis pingitan. Maka tidaklah mengherankan bila wajahnya yang sudah ayu itu menjadi semakin cantik seperti bidadari.
“Gila! Rasanya seperti bermimpi saja melihat dua bidadari di pagi hari!” seorang tamu yang duduk di sebelah meja Liu Wan berdesah tak terasa.
Ternyata kali ini Kwe Tek Hun juga tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Matanya menatap tak berkedip ke arah Tio Ciu In yang melenggang lembut mendekati mereka berempat. Dan matanya mungkin akan terus melotot kalau Song Li Cu tidak segera menggamit lengannya dengan perasaan tak senang.
“Huh...!” Song Li Cu yang mendadak merasa seperti kehilangan kecantikannya di depan gadis-gadis ayu yang baru saja datang itu bersungut-sungut kesal...