Pedang Naga Kemala Jilid 22

Sonny Ogawa

Pedang Naga Kemala Jilid 22 karya Kho Ping Hoo - DENGAN tubuh diganduli buntalan-buntalan itu, sehingga jalannya juga montang-manting, dia mengikuti dua orang majikannya pergi ke ruangan besar dimana telah berkumpul semua tamu yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang itu. Semua tamu memandang ke arah Kui Eng, karena kehadiran gadis yang demikian cantiknya memang merupakan hal yang merupakan hiburan besar bagi mereka yang sedang panik ketakutan.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Ruangan itu dikepung oleh beberapa orang anak buah pasukan yang memegang golok di tangan kanan, dengan sikap galak mereka memandangi orang-orang itu. Setelah semua tamu berkumpul, masuklah ke ruangan itu komandan yang memimpin pasukan keamanan, dan diam-diam Ci Kong terkejut bukan main. Cepat dia berbisik di dekat Lian Hong dan Kui Eng.

“Lee Song Kim... murid Hai-tok...” Lian Hong dan Kui Eng mengerutkan alisnya. Mereka sudah mendengar dari Ci Kong siapa adanya Lee Song Kim ini. Seorang murid dari Hai-tok, murid tersayang, akan tetapi kemudian murid ini telah murtad, menjadi kaki tangan pemerintah Ceng, bahkan penggerebekan di guha-guha tepi pantai ketika Hai-tok mengadakan pesta itupun merupakan hasil pengkhianatan pemuda ini.

Lian Hong dan Kui Eng memperhatikan dan kebetulan pada saat itu, Song Kim yang sedang menyapu orang-orang yang dikumpulkan itu dengan pandang matanya, melihat Kui Eng dan wajahnya yang tampan nampak berseri, sinar matanya menjadi tajam. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dia tertarik sekali. Memang, siapa orangnya yang tidak akan tertarik kepada gadis yang cantik jelita itu?

Apa lagi Lee Song Kim, pemuda yang berwatak kejam, cabul dan mata keranjang itu! Maka, kini dia melangkah menghampiri dan dapat dibayangkan betapa tegang rasa hati Ci Kong ketika melihat komandan muda itu kini memandang kepadanya, lalu ke arah buntalan-buntalan yang bergantungan di pundaknya. Tentu saja Ci Kong merasa khawatir kalau-kalau Song Kim mengenalnya. Memang baru dua kali dia bertemu dengan Song Kim.

Yang pertama ketika dia menyelamatkan Kiki di pantai yang akan diperkosa pemuda laknat itu. Akan tetapi walaupun mereka sudah berkelahi, ketika itu cuaca remang-remang dan Song Kim tentu tidak melihatnya dengan jelas. Pertemuan yang kedua kalinya juga hanya singkat saja. Agaknya Song Kim mengenalnya dan karena takut rahasianya di pantai dahulu itu dibuka, maka pemuda laknat itupun lalu melarikan diri.

Kini, dia menyamar sebagai pelayan, dengan alis yang sudah dirubah bentuknya, dengan muka dan leher yang menjadi kecoklatan dan pakaian yang seperti seorang pelayan. Tak mungkin Song Kim mengenalnya. Akan tetapi melihat betapa komandan itu memandang kepadanya penuh perhatian, berdebar juga rasa jantung dalam dada Ci Kong! Karena berada di dekat Kui Eng, Song Kim hendak berlagak dan memperlihatkan kekuasaannya.

“Hei kau!” bentaknya sambil menuding ke arah Ci Kong. “Apa yang kau bawa itu? Kenapa tidak ditinggal di kamar saja?”

Dengan tubuh gemetar Ci Kong berkata. “Maaf maafkan saya, Tuan besar. Saya saya mendengar ada orang-orang jahat, maka saya khawatir barang-barang ini hilang.”

Sudah menjadi kebiasaan para anak buah Song Kim kalau melakukan pembersihan, mereka itu benar-benar melakukan “Pembersihan” terhadap berang-barang berharga dan rumah yang sedang digeledah. Song Kim tahu akan hal ini, maka merasa diejek oleh ucapan laki-laki yang berpakaian pelayan itu.

“Apa kau bilang? Siapa penjahat?” Melihat betapa komandan muda itu marah-marah, Kui Eng yang sudah dapat menangkap pandang mata komandan itu tadi kepadanya, cepat melangkah maju.

“Maaf, Ciangkun. Barang-barang itu adalah milik kami, dan dia adalah pelayan kami. Akong, taruh saja barang-barang itu di atas lantai.” Suara merdu ini membuat Song Kim memutar tubuhnya dan wajahnya berseri kembali. Tak disangkanya bahwa pelayan itu adalah pelayan wanita cantik ini. Pada saat itu, Lian Hong juga melangkah maju memberi hormat.

“Maaf, Ciangkun. Memang benar bahwa barang-barang itu milik adik saya dan saya, hanya bekal pakaian. Dia adalah pelayan kami, karena tidak tahu, tadi dia membawa barang-barang itu ke sini.”

Makin girang hati Song Kim mendengar hal itu. Wanita cantik itu adalah adik pemuda tampan ini. Mereka nampak kaya raya dengan pakaian mewah, pikirnya. Diapun balas menjura dan berkata. “Ahh, tidak mengapa kalau begitu. Sebaliknya, maafkan kami kalau kami telah mengganggu. Kami hanya melaksanakan tugas, melakukan pembersihan karena di Kota Raja terdapat banyak orang-orang jahat yang menyelundup masuk.”

“Ihhh, mengerikan!” Kui Eng berlagak dan dengan sikap manja memegang lengan kakaknya.

“Kalau begitu, kita cepat-cepat pulang saja...”

“Harap jangan takut, nona... kalau ada saya di sini, nona akan aman. Percayalah, saya akan menjaga keselamatan nona.”

“Aih, Ciangkun sungguh baik hati sekali. Terima kasih, Ciangkun,” kata Kui Eng dengan sikap manis, diiringi kerling tajam dan senyum dikulum.

Tentu saja Lee Song Kim menjadi semakin tertarik. Kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia di saat itu juga merangkul dan menciumi muka yang cantik jelita itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan belasan orang prajurit mendorong-dorong lima orang laki-laki memasuki ruangan itu.

“Lee-Ciangkun, mereka ini hendak melarikan diri dari rumah penginapan!” seorang prajurit melapor.

“Apa? Kalian ini tentu mata-mata jahat! Hayo mengaku, kalian siapa dan mau apa berada di sini, mengapa pula hendak melarikan diri ketika datang pembersihan! Awas, kalau kalian tidak mau mengaku, kalian akan disiksa!” teriak Lee Song Kim, semakin angkuh saja karena dia sedang berlagak di depan wanita cantik.

Semua orang mengira bahwa lima orang laki-laki itu tentu akan menjadi ketakutan dan minta ampun. Akan tetapi ternyata kenyataan sama tekali tidak demikian. Lima orang itu bahkan saling pandang, saling memberi isyarat dan tiba-tiba saja mereka maju menyerang Lee Song Kim. Perwira muda itu cepat mengelak dan menangkis, dan para tamu menjadi panik sekali.

Ketika para prajurit hendak turun tangan, terdengar Song Kim berseru. “Kalian jangan membantu, biarkan aku sendiri menghadapi lima ekor tikus ini! Dan para tamu semua jangan ribut, lihat... kusuguhkan tontonan yang menarik!”

Lee Song Kim tentu saja bukan orang bodoh, dan ketika lima orang tadi bergerak menyerangnya, dia sudah dapat mengukur kemampuan mereka. Mereka berlima itu hanyalah orang-orang yang mengandalkan tenaga besar saja, namun tidak memiliki ilmu silat yang berarti. Karena dia yakin akan mampu mengalahkan mereka, maka diapun ingin sekali memperlihatkan kepandaiannya untuk berlagak di depan para tamu penginapan, terutama sekali di depan Kui Eng yang telah menarik perhatiannya.

Lima orang itupun nampaknya sudah nekat. Tempat itu sudah dikurung oleh pasukan yang bersenjata lengkap. Mereka tidak akan mampu melarikan lagi. Andaikata dapat membobol keluar kepungan, merekapun akan sulit untuk dapat keluar dan Kota Raja. Maka, kini mereka hendak nekat dan mengamuk, sebelum mereka roboh, mereka akan membunuh prajurit pemerintah sebanyaknya dan terutama sekali perwira muda ini.

Melihat betapa perwira muda itu melarang para prajurit mengeroyok, dan kini prajurit itu berdiri tegak dengan sikap sombong di tengah-tengah ruangan, lima orang itu lalu mengepungnya dan bergerak mengitarinya, mencari-cari lowongan untuk dapat menyerang si perwira yang sombong. Song Kim hanya berdiri dan bertolak pinggang, tersenyum-senyum menghadap ke arah Kui Eng.

Dan Kui Eng juga dengan cerdik sekali memasang sikap yang penuh kagum memandang kepada perwira itu. Tadi Lian Hong berbisik kepadanya bahwa mungkin sekali mereka bisa mendapatkan rahasia dan perwira muda itu. Maka, melihat betapa perwira itu tertarik kepadanya, Kui Eng sengaja hendak menjatuhkannya agar mereka dapat berkenalan dan terdapat kemungkinan mengorek keterangan dan perwira itu.

“Heiiittt!” Tiba-tiba seorang di antara lima orang laki-laki gagah yang berada di belakang tubuh Song Kim, menyerang dengan tubrukan. Kedua tangannya mencengkeram ke arah leher, agaknya hendak mencekik dan belakang. Seperti aba-aba saja, teriakan itu disusul oleh gerakan empat orang temannya yang juga sudah menyerang dari berbagai jurusan. Ada yang mencengkeram, ada yang menghantam kepala ada pula yang menendang.

Namun, Song Kim bersikap tenang saja. Tubuhnya bergerak, kedua kakinya melangkah ke sana-sini dengan amat gesitnya, dan serangan lima orang itu semua tidak mengenai sasaran. Lima orang itu merasa penasaran dan mereka melanjutkan serangan bertubi-tubi. Namun, dengan gin-kang yang istimewa, Lee Song Kim mengatur langkah-langkahnya dan semua serangan itupun gagal. Jangankan mengenai tubuhnya, menyentuh ujung jubahnyapun tidak.

Para prajurit tertawa-tawa melihat betapa komandan mereka mempermainkan lima orang itu. Mereka semua sudah maklum akan kelihaian Lee Song Kim, dan kini mereka tahu bahwa komandan mereka itu sengaja mempermainkan lawan-lawannya dan memperlihatkan kebolehannya.

“Ha-ha, kalian kiranya hanya lima ekor tikus yang tiada gunanya! Kalian tentu mata-mata dan pemberontak, bukan?” sambil mengelak ke sana-sini, Song Kim berkata dengan suara lantang.

Akan tetapi lima orang itu tidak menjawab, melainkan menyerang terus dengan penuh kegarangan. Mereka maklum bahwa mereka tentu akan mati semua, akan tetapi semangat mereka tidaklah mengendur dan walaupun mereka tahu bahwa perwira muda ini ternyata lihai bukan main, mereka tidak menjadi jerih dan tidak sudi untuk mengaku atau menyerah.

Sementara itu, Ci Kong memandang dengan jantung berdebar. Beberapa kali dia mengepal tinjunya. Liang Hong melihat ini dan diam-diam mengedipkan matanya mencegah agar pemuda itu tidak melakukan sesuatu. Ia sendiripun khawatir melihat lima orang itu, akan tetapi lima orang itu sungguh tak tahu diri. Dengan kepandaian seperti itu, mereka berani menjadi mata-mata memasuki Kota Raja!

Kalau ia dan kawan-kawannya turun tangan menolong lima orang itu, berarti tugas mereka akan gagal dan mereka belum tentu dapat menyelamatkan lima orang itu keluar dari Kota Raja. Bahkan keadaan mereka bertiga sendiri akan terancam! Ci Kong mengerti akan hal ini, dan biarpun hatinya merasa penasaran sekali melihat lima orang pejuang itu dipermainkan, namun dia hanya mengepal tinju dan mengertak gigi.

“Kalian tikus-tikus bandel. Rasakan ini!” Dan kini tiba-tiba Lee Song Kim menggerakkan tangan balas menampar.

“Plakk!” Seorang di antara para pengeroyok itu terplanting roboh tak mampu bangkit kembali. Tulang rahangnya patah-patah dan kini mukanya menggembung dan dia berkelojotan setengah pingsan.

Dengan kecepatan yang luar biasa, Song Kim lalu berkelebatan membagi pukulan dan sekejap mata saja, empat orang pengeroyok lainnya juga roboh dan tidak mampu bangkit kembali. Lee Song Kim tersenyum, menepuk-nepuk kedua tangan dan pakaiannya seperti orang membersihkan debu, mengerling ke arah Kui Eng.

“Nah, lihatlah, nona. Kalau ada penjahat-penjahat mengganggu nona, akan kurobohkan seperti itu.” Lalu dengan suara galak, dia memerintahkan prajuritnya untuk menyeret lima orang itu dan memaksa mereka agar mengaku siapa mereka dan apa tujuan mereka menyelundup ke Kota Raja. Lee Song Kim lalu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap semua tamu, juga kamar-kamar mereka.

“Kamar kongcu dan Siocia ini bersama pengawalnya tidak usah diperiksa, mereka adalah orang baik-baik,” tambahnya.

Kini Kui Eng menyembunyikan ketegangan hatinya dan iapun tersenyum kepada Lee Song Kim setelah tubuh lima orang itu digusur pergi. “Aihh, Ciangkun sungguh gagah perkasa!” Ia memuji.

Dan tentu saja Song Kim girang bukan main mendengar pujian ini, yang baginya merupakan tanda bahwa agaknya dia tidak bertepuk tangan sebelah karena nona inipun kagum kepadanya! Hal ini tidak mengherankan hatinya, karena sudah terbiasa bagi Song Kim bahwa setiap orang wanita akan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya!

“Aihh, hal itu tidak ada artinya, nona. Mereka hanya tikus-tikus kecil tidak ada artinya. Biar ada lima puluh orang seperti mereka, aku akan mampu mengalahkan mereka semua. Kalau boleh aku berkenalan dengan kalian, siapakah nama nona dan siapa pula nama kakak nona, dimana ji-wi tinggal?”

Kini Kui Eng memasang aksi malu-malu kucing. “Ihh... Ciangkun tanya saja kepada kakakku ini.” Kui Eng memang nakal. Sebetulnya, ia tidak suka bercakap-cakap dengan Song Kim dan kini ia sengaja mengoperkan tugas itu kepada Lian Hong!

Terpaksa Lian Hong yang memberi keterangan. “Nama saya Bi Seng dan adik saya ini bernama Bi Hwa, kami she Liem dan tinggal di Thian-cin, akan tetapi kedua orang tua kami sudah pindah dan kembali ke kampung kami, di luar kota Thian-cin. Orang tua kami dikenal sebagai Liem Wan-gwe di Thian-cin.”

Tentu saja semua itu hanya nama-nama khayal belaka. Lian Hong sengaja mempergunakan she Liem, she yang dipunyai banyak orang, dan di Thian-cin atau di kota manapun, sudah pasti terdapat Liem Wan-gwe (hartawan Liem), bukan hanya seorang saja.

“Ah, kiranya Liem-kongcu dan Liem-Siocia adalah orang-orang muda hartawan yang sedang pesiar ke Kota Raja, begitukah?” tanya Song Kim ramah. Dua orang itu mengangguk membenarkan.

“Saya bernama Lee Song Kim dan menjadi seorang komandan pasukan keamanan di Kota Raja.”

Kini para prajurit setelah selesai melakukan pemeriksaan, tentu saja dengan mengantongi barang-barang berharga seperti biasanya, sudah berkumpul di situ dan membuat laporan kepada Lee Song Kim bahwa semuanya beres, tidak ada yang mencurigakan di antara para tamu kecuali lima orang yang sudah ditangkap tadi. Song Kim menghadapi kakak beradik itu.

“Sungguh sayang bahwa terpaksa saya harus pergi menyelesaikan tugas. Sebetulnya masih ingin sekali saya bercakap-cakap dengan ji-wi yang ramah. Bagaimana kalau saya mengundang ji-wi untuk datang berkunjung ke rumah saya? Saya ingin mengundang ji-wi makan siang pada hari esok, dan saya sangat mengharapkan ji-wi tidak akan keberatan.”

“Aih, Ciangkun sungguh baik sekali...” kata Kui Eng dengan suara merdu. “Kami hanya akan mengganggu waktu yang berharga dari Ciangkun saja,” kata Lian Hong, dengan sikap wajar orang yang sungkan.

“Tidak, sama sekali tidak, Liem-kongcu. Ji-wi tidak akan mengganggu, bahkan akan menyenangkan hati saya.”

“Akan tetapi... tentu akan mengganggu Lee Hu-jin (Nyonya Lee),” kata pula Lian Hong. Lee Song Kim tertawa. Ketawa yang diatur agat kelihatan tampan dan sopan.

“Ha-ha-ha! Hu-jin mana yang akan terganggu? Saya masih belum mempunyai isteri, seperti juga Liem-kongcu dan Liem-Siocia...” Berkata demikian, Song Kim memandang wajah gadis itu dengan penuh tantangan.

Dan Kui Eng dengan cerdik dapat mengubah kemarahan menjadi sikap malu-malu dan iapun menundukkan mukanya yang menjadi merah. Bukan merah malu sebenarnya, melainkan merah karena marah.

“Baiklah kalau begitu, Lee-Ciangkun. Besok siang menjelang tengah hari, kami akan berkunjung ke rumah Ciangkun. Akan tetapi... dimanakah gedung tempat tinggal Ciangkun?” tanya Lian Hong.

“Tidak jauh dari istana!” kata Song Kim bangga. “Di sebelah timur pintu gerbang utara. Kalau jiwi sampai di pintu gerbang istana sebelah utara dan bertanya kepada siapa saja dimana rumah komandan she Lee ini, tentu semua orang akan dapat menunjukkannya.”

Mereka berpisah setelah sekali lagi Song Kim minta agar besok siang mereka benar-benar datang berkunjung. Setelah pasukan itu pergi, barulah semua tamu kembali ke kamar masing-masing dan barulah mereka yang merasa kehilangan barang-barang berharga itu berseru kaget. Akan tetapi, siapakah yang berani membuat ribut karena kehilangan itu?

Sudah jelas bahwa pasukan yang memasuki dan menggeledah kamar mereka, hanya anak buah pasukan itu. Jelas bahwa pasukan itulah yang mencuri barang-barang berharga mereka. Ribut-ribut soal barang, jangan-jangan malah akan menyeret tubuh mereka masuk penjara. Karena itu, mereka yang kehilangan diam saja dan hanya mengeluh dan menangis.

Setibanya di kamar Lian Hong, Kui Eng mengepal tinju. “Bedebah keparat! Ihh, betapa ingin aku menampar mulutnya sampai remuk!”

“Tenanglah, Enci Eng. Siapa orangnya tidak muak melihat mukanya, akan tetapi kita harus pandai bersandiwara. Aku yakin bahwa engkau akan dapat mengorek rahasia penting dan orang she Lee itu...” kata Lian Hong.

“Hemm, enak saja engkau berkata demikian, Hong-moi, karena akulah yang menjadi perempuan dan menjadi incarannya. Bagaimana kalau sampai dia bersikap keterlaluan dan kurang ajar?”

“Kita hajar dan bunuh saja si keparat itu!” Tiba-tiba Ci Kong juga memasuki kamar Lian Hong berseru. Dia sudah sejak tadi menahan-nahan kedongkolan hatinya terhadap Lee Song Kim. Apalagi ketika dia mengingat betapa lima orang tadi, para pejuang, tentu akau tewas di bawah siksaan orang-orang komandan itu.

“Ci Kong, harap engkau bersabar pula. Memang tugas kita ini sukar sekali. Aku sendiripun lebih senang kalau melakukan tugas dimana kita hanya mempergunakan kaki tangan untuk melawan musuh. Akan tetapi tugas kita sekali ini adalah menggunakan otak, bersiasat dan harus cerdik, dan dapat menahan emosi. Kalau tidak, kita akan gagal sama sekali. “Jangan kau khawatir, Enci Eng. Kalau dia hendak kurang ajar, engkau tentu dapat mencegahnya dengan sikapmu. Kalau dia bertindak kasar, hendak menggunakan kekerasan, selain engkau tidak takut kepadanya, di dekatmu ada aku dan Ci Kong.”

“Hemm, kuharap saja dia bertindak kasar terhadap Kui Eng, agar aku dapat menghancurkan kepalanya!” kata pula Ci Kong. Pemuda ini biasanya pendiam dan sabar, akan tetapi peran yang dipegangnya selama ini membuat dia seringkali kehilangan kesabaran!

Pada keesokan harinya, menjelang tengah hari, dengan menumpang sebuah kereta sewaan, Lian Hong dan Kui Eng dikawal oleh Ci Kong, datang berkunjung ke rumah gedung Lee Song Kim. Tidak sukar menemukan rumah gedung mungil ini. Ternyata Lee Song Kim, dalam waktu singkat saja telah dapat merebut kedudukan yang baik, mendapat kepercayaan besar dari panglima pasukan keamanan, bahkan dia pernah diperkenalkan kepada kaisar sendiri oleh panglima itu dan menerima pujian kaisar.

Untuk kesempatan ini, Kui Eng mengenakan pakaian yang amat indah. Sutera biru muda itu, dengan hiasan sulaman emas dan merah, sungguh membuat ia nampak cantik bukan main. Rambutnya digelung tinggi, dan sisanya diikat dengan pita, dikepang dua, dan ia memakai minyak wangi.

Juga Lian Hong mengenakan pakaian baru, bahkan Ci Kong juga mengenakan baju yang baru sehingga walaupun bajunya itu masih menunjukkan bahwa dia hanya seorang pelayan, namun dia cukup bersih, bahkan tampan! Akan tetapi dia tidak lupa untuk menambah warna kecoklatan pada mukanya, lehernya dan kedua tangannya yang tidak tertutup pakaian.

Karena kusir kereta sewaan tahu bahwa dia membawa penumpang yang menjadi tamu-tamu dan Lee-Ciangkun, maka dengan gembira dia memasuki kereta itu melalui pintu gerbang. Para prajurit yang berjaga di luar pintu, sudah diberitahu oleh Song Kim sehingga mereka menyambut kereta itu dan mempersilahkannya masuk tanpa melakukan pemeriksaan lagi.

Lee Song Kim sendiri yang keluar menyambut dari dalam gedungnya, dan melihat pemuda itu, hampir saja Ci Kong tertawa. Pemuda yang kemarin menjadi komandan dengan pakaian perwira yang gagah, berubah menjadi seorang pemuda pesolek! Wajahnya yang tampan nampak bersih sekali seperti dibedaki, alisnya jelas ditambahi penghitam alis, dan bibirnya juga memiliki warna merah yang tidak wajar!

Benar-benar seorang muda yang pesolek! Topinya adalah topi yang biasa dipakai oleh kongcu-kongcu bangsawan, dan yang lucu adalah jubahnya. Jubah itu berwarna merah, berkembang dan bertuliskan huruf REZEKI, seperti yang biasa dipakai oleh bangsawan-bangsawan kaya raya dan berkedudukan tinggi, atau seperti pakaian seorang pengantin pria!

“Wah, sungguh saya merasa berbahagia sekali menerima kunjungan ji-wi. Sungguh ji-wi merupakan dua orang muda yang tepat memegang janji. Silahkan masuk, nona, silahkan, kongcu. Mari kita langsung saja ke ruangan makan, karena saya telah mempersiapkan hidangan untuk memberi selamat kepada ji-wi. Mari... silahkan!"

Dengan amat ramahnya, Lee Song Kim mengajak dua orang tamunya masuk ke dalam. Tanpa mengeluarkan suara apapun, Ci Kong mengikuti dua orang temannya, dengan sikap membungkuk-bungkuk seperti layaknya sikap seorang pelayan yang sungkan-sungkan dan malu-malu. Melihat betapa pelayan itu ikut masuk, Song Kim mengerutkan alisnya, akan tetapi dengan sikap ramah dia berkata kepada Lian Hong.

“Liem-kongcu, sebaiknya pelayanmu itu biar menanti di luar, nanti kusuruh pelayan-pelayanku untuk menjamunya.”

“Maaf, Lee-Ciangkun. Kalau boleh, biarlah dia ikut untuk melayani kami. Dia pelayan kami sejak kecil, sehingga kami menganggapnya seperti keluarga sendiri saja, dan kami akan merasa kaku tanpa dia yang melayani. Dia harus selalu dekat kami agar mudah kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan sesuatu.” Lian Hong berkata dengan balus.

Song Kim memandang ke arah Kui Eng, dan gadis inipun mengangguk. “Benar, Ciangkun. Kalau tidak ada Akong yang melayani, kami akan merasa kaku.”

Mendengar ucapan Kui Eng itu, terpaksa Song Kim membiarkan Ci Kong ikut masuk ke dalam gedungnya. Mereka langsung diajak memasuki ruangan makan dimana telah tersedia meja bundar yang besar, dan ruangan itu sudah terhias dengan indah, penuh dengan bunga-bunga dan kertas berwarna, seolah-olah Tuan rumah memang mengadakan pesta saja.

Yang menarik perhatian tiga orang pendekar muda itu adalah bahwa rumah itu benar-benar kosong, tidak ada anggauta keluarga Lee Song Kim, kecuali para pelayan yang terdiri dari pria-pria muda dan gadis-gadis muda, tampan dan cantik mereka itu. Song Kim mempersilahkan Lian Hong dan Kui Eng untuk duduk berhadapan dengannya di meja bundar.

Sedangkan Ci Kong yang tahu diri hanya berdiri di pinggiran, tidak berani mendekati meja, dan menonton saja betapa dua orang temannya itu mulai dijamu dengan hidangan-hidangan yang serba mahal dan lezat, dan diapun hanya melayani dengan menuangkan arak untuk kongcu dan Siocianya, lalu mundur lagi.

Tentu saja beberapa kali dia harus menelan ludah sendiri melihat betapa dua orang itu makan dengan enaknya, bahkan Kui Eng yang nakal itu beberapa kali memuji-muji kelezatan makanan, terutama sekali bakmi dan bakso yang dihidangkan.

Padahal mi bakso merupakan makanan kegemaran Ci Kong! Song Kim gembira bukan main mendengar pujian Kui Eng, dan dia menjamu kedua orang tamunya itu dengan sikap ramah. Setelah selesai makan, Lee Song Kim lalu mengajak dua orang tamunya itu menuju ke taman bunga di belakang ruangannya.

“Di dalam panas sekali, mari kita mencari angin di taman bungaku yang sedang penuh bunga, hawanya sejuk dan segar,” katanya. Memang taman bunga itu indah, penuh dengan bunga-bunga beraneka warna dan taman itu terawat. Lian Hong memberi isyarat kepada Kui Eng dengan sentuhan tangan, lalu dara ini sengaja berkata sambil menuding ke arah belakang taman.

“Aihh, di sana ada sekumpulan bunga seruni yang paling kusuka. Lee-Ciangkun, bolehkah saya melihat-lihat ke sana?” Mendengar ini, Song Kim girang sekali. Pada saat itu, Kui Eng sudah duduk di atas sebuah bangku menikmati keindahan serumpun bunga mawar di depannya.

“O... tentu saja boleh, silahkan, Liem-kongcu! Silahkan!”

“Marilah, Akong, kau temani aku melihat-lihat bunga seruni di sana!” kata Lian Hong sambil lalu, kemudian bersama Ci Kong meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan Tuan rumah.

Memang ia sengaja melakukan ini untuk memberi kesempatan kepada Kui Eng bercakap-cakap berdua saja dengan Tuan rumah, sehingga Kui Eng akan dapat berusaha mengorek keterangan dan perwira muda itu. Setelah berada di bagian belakang kebun, di kumpulan bunga seruni yang sedang mekar semerbak itu, Ci Kong mengomel.

“Lian Hong, apakah tidak berbahaya meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan laki-laki hidung belang itu?”

“Ssttt, jangan begitu, Ci Kong. Dia akan mampu berbuat apa terhadap Kui Eng? Jangan lupa, Kui Eng memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan kita, dan kurasa ia akan mampu mengendalikan Lee Song Kim kalau laki-laki itu akan melakukan hal yang tidak pantas. Pula, kita berada di sini, tidak begitu jauh, bukan? Biarlah Kui Eng memperoleh kesempatan untuk menguras keterangan darinya.”

Ci Kong diam saja, hanya alisnya berkerut. Dia tahu benar siapa adanya perwira muda itu. Seorang laki-laki yang amat keji, bahkan sumoinya sendiri, Kiki, hampir saja menjadi korban kekejiannya dan diperkosanya. Mengingat akan hal itu, dia benci sekali terhadap Song Kim, dan kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia pada saat itu juga menyerang Song Kim dan membunuhnya!

l Sementara itu, Kui Eng yang mengerti bahwa dua orang kawannya itu sengaja membiarkan ia berdua dengan Tuan rumah agar ia dapat mencoba untuk mengorek rahasia, segera berkata. “Aihh, begini indah taman bungamu, Ciangkun. Duduk di sini, aku merasa seolah-olah dunia ini begini indah dan aman tenteram. Akan tetapi kalau aku teringat akan peristiwa malam tadi, aku merasa ngeri. Lee-Ciangkun, sebenarnya apakah yang telah terjadi maka engkau dan pasukanmu harus melakukan pembersihan seperti itu?”

Sejak tadi Song Kim memandang gadis itu dengan penuh kagum. Seorang gadis yang amat cantik jelita. Dan kaya raya pula! Kalau dia dapat mempersunting gadis ini, alangkah akan senang hatinya. Bukan saja mendapatkan seorang isteri yang cantik manis, akan tetapi kaya raya pula! “Ah, keadaan sekarang amat kacau, nona. Di luar tempat ini banyak berkeliaran orang jahat dan mata-mata pemberontak.”

“Pemberontak? Aih, aku sudah banyak mendengar tentang itu, Ciangkun. Dari Ayahku, aku banyak mendengar tentang Perang Candu di selatan, dan tentang orang-orang kulit putih, tentang pemberontakan-pemberontakan yang timbul. Bhkan sebelum aku berangkat, aku mendengar Ayah mendongeng tentang sebuah pusaka yang diperebutkan, harta pusaka yang amat besar nilainya, dan kabarnya harta pusaka itu terjatuh ke tangan orang-orang sakti yang kabarnya akan dipergunakan untuk pemberontakan. Benarkah itu?”

Diam-diam Song Kim terkejut mendengar ini, akan tetapi ketika dia melihat wajah yang polos itu, dia tidak jadi curiga dan diapun maklum bahwa berita tentang Giok-liong-kiam yang terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia sudah tersebar luas. Dia sendiripun sedang berusaha mati-matian, dengan menyebar mata-mata dan kaki tangannya, untuk mengamati para tokoh itu. Pemerintah sudah bertekad untuk merampas harta pusaka yang tersimpan rahasianya dalam pedang pusaka Giok-liong-kiam. Dan gadis ini tentu hanya mendengar hal itu seperti dongeng saja.

“Memang benar! Ada harta karun yang amat besar nilainya, kini terancam akan terjatuh ke tangan orang-orang jahat yang hendak mengadakan pemberontakan.”

“Ihhh! betapa mengerikan kalau sampai mereka berhasil, menguasai harta itu dan mengadakan pemberontakan, tentu keadaan negara akan menjadi kacau. Dan mungkin keluargaku harus mengungsi ke Kota Raja. Aku akan minta kepada Ayah untuk mengungsi ke Kota Raja. Akan tetapi kami tidak mempunyai rumah disini.”

“Jangan khawatir, nona. Aku yang akan menampung keluargamu kalau keluargamu benar-benar ingin mengungsi ke Kota Raja...” katanya dengan senyum dan pandang mata memikat.

“Tapi, Ciangkun. Kalau pemerintah sudah tahu akan hal itu, kenapa pemerintah tidak turun tangan? Kenapa tidak mengirim pasukan dan merampas saja harta pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan para pemberontak?” Dengan cerdik, Kui Eng memancing dengan sikap bodoh dan tidak mengenal persoalan.

“Ah, engkau tidak mengerti, nona. Persoalannya tidaklah sesederhana itu. Kalau pusaka itu berada di tangan penjahat-penjahat biasa, tentu akan mudah. Akan tetapi keadaannya tidaklah demikian.”

“Lee-Ciangkun, engkau membikin aku menjadi bingung. Maukah engkau bercerita untuk melengkapi dongeng dari Ayah? Siapa sih yang menguasai harta pusaka itu, dan kenapa kau bilang bahwa tidak mudah untuk merampas agar harta itu tidak dipergunakan memberontak?”

Song Kim tersenyum. “Sebetulnya ini rahasia yang tidak boleh kuberitahukan orang lain.”

“Aih, kalau Ciangkun menganggap aku orang lain, bukan sahabat baik, tak usah diceritakan...” kata Kui Eng sambil cemberut. Song Kim semakin tertarik. Kalau cemberut, gadis ini menjadi semakin manis saja. Memang Kui Eng memiliki kelebihan di sekitar mulutnya. Mulut itu manis sekali, sehingga dalam keadaan bagaimanapun, cemberut atau tersenyum, tetap saja nampak manis.

“Kukatakan tadi, kepada orang lain tidak boleh kuceritakan, kalau kepadamu sih tidak apa-apa, nona. Akan tetapi sebelum aku bercerita, engkau harus berjanji dulu.”

“Baik, aku berjanji tidak akan menceritakannya kepada orang lain!”

“Ha-ha, bukan itu, nona. Akan tetapi berjanjilah bahwa besok malam engkau dan kakakmu akan datang menghadiri pesta yang akan kuadakan di dalam taman ini. Yang akan hadir hanyalah rekan-rekan dan tokoh-tokoh di Kota Raja. Maukah engkau berjanji akan hadir?”

Biar disuruh berjanji apapun, tentu Kui Eng akan menyanggupi, karena ia ingin sekali mendengar rahasia yang sudah berada di ujung bibir Tuan rumah ini. “Baiklah, kalau tiada halangan sesuatu, aku dan koko akan hadir besok malam.”

“Nah, sekarang akan kuceritakan kepadamu, dan biarlah aku duduk di dekatmu agar suara bisikanku dapat kau dengar, nona. Hal ini tidak boleh didengar orang lain.” Tanpa menanti persetujuan Kui Eng, pemuda itu lalu duduk di dekat Kui Eng, di atas bangku!

Kui Eng terkejut. Dalam keadaan biasa, ia tentu akan marah sekali. Akan tetapi ia hanya menggeser tubuhnya agak minggir agar jangan terlalu dekat dengan tubuh pemuda itu yang bau harum semerbak karena terlalu banyak memakai minyak wangi.

“Nona Liem, pusaka yang diperebutkan itu merupakan sebuah pedang pusaka yang disebut Giok-liong-kiam. Dahulu pedang itu diperebutkan karena dianggap sebagai lambang kegagahan, dan siapa yang memiliki pedang itu dianggap sebagai jagoan nomor satu di dunia persilatan. Akan tetapi kemudian, orang mendapat kabar bahwa pedang itu menyembunyikan rahasia tempat penyimpanan harta karun yang amat besar! Perebutan menjadi lain lagi sifatnya. Pemerintah juga mendengar bahwa harta karun itu akan dipergunakan oleh orang-orang jahat untuk membiayai pemberontakan. Oleh karena itu, pemerintah sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa pedang itu terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia, yaitu tokoh tokoh dunia persilatan.”

Diam-diam Kui Eng merasa geli mendengar ini. Kalau saja pemuda perwira ini tahu bahwa ia adalah murid Tee-tok dan Lian Hong murid San-tok, bahkan Ci Kong yang menjadi pelayan itu adalah murid Siauw-lim-pai, tentu Song Kim akan dapat mati berdiri saking kagetnya. Semua yang diceritakan itu tentu saja diketahuinya dengan baik.

“Kalau sudah diketahui, kenapa pemerintah tidak mempergunakan pasukan saja untuk menangkap mereka dan merampas pedang itu?” Ia berkata untuk memperlihatkan bahwa ia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Song Kim tersenyum lebar. “Wah, tidak semudah itu, nona. Engkau tahu siapa adanya Empat Racun Dunia itu. Mereka adalah orang-orang yang sakti seperti iblis, dan tidak mudah menangkap mereka. Pemerintah sudah turun tangan, mencoba untuk menyerbu tempat tinggal dua orang di antara mereka, namun hanya mampu membuat sarang mereka kocar-kacir, akan tetapi tidak mampu menangkap mereka.”

“Ihh...!” Kui Eng pura-pura kaget. “Mengerikan sekali! Kalau begitu, apakah pemerintah harus diam saja membiarkan mereka mendapatkan harta karun dan mempergunakan harta itu untuk memberontak?”

Perwira itu menggeleng kepala dan tersenyum. “Kami tidaklah sebodoh itu, nona. Kini kami sudah menyebar mata-mata dimana-mana, mengawasi gerak-gerik mereka. Bahkan kami akan membiarkan Empat Racun Dunia itu mencari dan menemukan harta pusaka itu lebih dahulu. Setelah ditemukan, barulah kami akan menyergap mereka dan merampas harta pusaka itu. Kalau kini kami merampas Giok-liong-kiam pun percuma saja, kami belum tentu akan bisa mendapatkan rahasia tersembunyi yang menunjukkan tempat penyimpanan harta karun itu.”

Diam-diam Kui Eng terkejut bukan main, akan tetapi juga girang. Kiranya pemerintah mempunyai siasat seperti itu! Ia harus cepat-cepat memberitahukan hal itu kepada gurunya. Akan tetapi, gurunya sudah pergi bersama San-tok dan Hai-tok! Mungkinkah orang-orangnya pemerintah akan dapat membayangi tiga orang Kakek itu? Ia tidak percaya ada orang-orang mampu membayangi mereka tanpa mereka ketahui. Betapapun juga, berita ini amat penting.

“Nah, begitulah. Jangan kau khawatir, nona. Pemerintah tidak akan tinggal diam bersandiwara dan mengambil sikap malu, dan adalah menjadi tugas kewajibanku untuk merampas harta karun itu.”

“Aih, kiranya engkau memiliki kedudukan yang amat penting dan tugas yang amat berat, Lee-Ciangkun. Kuharap saja engkau akan berhasil.”

Song Kim bangkit berdiri. “Aku pasti akan berhasil berkat doamu, Liem-Siocia! Engkau sungguh baik sekali mendoakan aku, dan untuk tanda terima kasihku, terimalah setangkai bunga mawar ini sebagai tanda persahabatan dan terima kasih!” Lee Song Kim memetik setangkai bunga mawar merah dan memberikannya kepada Kui Eng!

Gadis ini tentu saja merasa marah di dalam hatinya, karena pemberian setangkai bunga mawar dapat diartikan pernyataan cinta. Akan tetapi ia malu. “Aihhh, mana aku berani menerimanya, Ciangkun?” iapun nampak malu-malu.

Pada saat itu, Lian Hong dan Ci Kong sudah kembali dari belakang taman, dan melihat betapa Lee Song Kim merayu Kui Eng yang duduk kemalu-maluan, Ci Kong memandang dengan mata melotot. Dia teringat bahwa Song Kim adalah seorang penjahat cabul yang suka mempermainkan wanita, dan kini penjahat itu merayu Kui Eng.

Ingin dia meloncat dan menerkam pemuda jai-hwa-cat itu. Song Kim memetik bunga mawar untuk diberikan kepada Kui Eng, dan perbuatannya memetik bunga mawar itu mengingatkan Ci Kong akan kelakuannya sebagai seorang jai-hwa-cat (pemetik bunga atau pemerkosa)!

Melihat betapa Ci Kong memandang dengan mata melotot, Lian Hong lalu menyentuh lengannya dan mengedipkan matanya, bermaksud menyabarkan pemuda itu. Lian Hong merasa betapa hatinya tidak enak. Ada rasa iri di dalam hatinya. Ia mengira bahwa Ci Kong cemburu dan ini menandakan bahwa Ci Kong mencinta Kui Eng!

Karena tangannya ditarik-tarik dan ketika dia menoleh dia melihat Lian Hong mengedipkan mata dan tersenyum, Ci Kong teringat lagi akan peran yang dipegangnya, dan diapun bersikap biasa lagi, akan tetapi dia batuk-batuk. Mendengar batuk-batuk ini, Kui Eng bangkit berdiri tanpa menerima bunga mawar itu, dan Song Kim juga memutar tubuhnya sambil tersenyum.

“Ah, apakah Liem-kongcu sudah menikmati bunga-bunga seruni itu?” tanyanya, sedikitpun tidak merasa malu walaupun dia tahu bahwa sikapnya terhadap Liem-Siocia yang merayu tadi tentu ketahuan oleh pemuda itu dan pelayannya.

“Sudah cukup, Lee-Ciangkun. Tamanmu memang indah sekali.”

“Liem-kongcu, adikmu tadi telah menyanggupi dan berjanji akan datang pada pesta yang akan kuadakan besok malam di taman ini!”

Lian Hong memandang kepada Kui Eng dan gadis inipun mengangguk. “Benar, koko. Lee-Ciangkun mengundang kita dan aku sudah menyanggupi. Tentu pesta itu akan meriah sekali.”

Lian Hong pura-pura menarik napas panjang. “Ah, sebetulnya besok malam aku ingin mengajakmu nonton wayang. Akan tetapi karena kau sudah berjanji kepada Lee-Ciangkun, baiklah, kita akan datang besok malam.” Lian Hong lalu berpamit dan menghaturkan terima kasih kepada Song Kim dan berjanji besok malam akan hadir dalam pesta itu.

Song Kim dengan gembira sekali mengantar mereka sampai ke luar gedung, beberapa kali matanya yang tajam itu menatap ke wajah Kui Eng, akan tetapi selalu menunduk dan pura-pura tidak melihat isyarat yang terpancar dari pandang mata itu.

Setelah tiba di rumah penginapan, Ci Kong mengepal tinju. “Bedebah! Engkau harus berhati-hati terhadap jai-hwa-cat itu, Kui Eng!”

“Huh, memangnya kenapa?” Kui Eng mengejek. “Apa kau kira aku akan mudah begitu saja jatuh terhadap bujuk rayu seekor buaya seperti dia? Akan tetapi, dia telah menceritakan sesuatu yang amat penting bagi kita!”

“Aih, benarkah engkau berhasil, Enci Eng? Apa yang diceritakannya?”

Kui Eng lalu menceritakan tentang segala yang didengarnya dan Song Kim. Lian Hong terkejut bukan main mendengar bahwa pemerintah sengaja hendak membiarkan Empat Racun Dunia menemukan harta karun, baru akan disergap. “Aih. kalau begitu... aku harus cepat-cepat memberitahukan suhu!”

“Tenanglah, Hong-moi. Tadinya akupun terkejut dan berpikir seperti engkau. Akan tetapi, kukira tidak perlu tergesa-gesa. Andaikata benar dia mengirim mata-mata untuk menyelidiki dan mengamati semua gerak-gerik guru-guru kita, akan tetapi siapakah yang akan mampu membayangi gurumu, guruku, dan juga Locianpwe Hai-tok?

“Aku tidak percaya akan ada yang mampu membayangi dan mengikuti mereka tanpa mereka ketahui. Sebaiknya kalau kita menanti sampai besok malam. Siapa tahu besok malam kita akan mendengar hal-hal penting lain lagi.”

Ci Kong mengangguk-angguk. “Kui Eng benar. Memang perjalanan tiga orang Locianpwe itu tak mungkin dapat dibayangi orang tanpa mereka tahu. Agaknya pemerintah belum tahu bahwa rahasia itu sudah berada di tangan ketiga Locianpwe yang sekarang sedang mencarinya.”

“Akan tetapi engkau jangan seperti yang sudah-sudah, memperlihatkan muka marah terhadap Lee Song Kim!” kata Lian Hong.

“Habis, aku benci sekali melihat tampangnya!” kata Ci Kong sebal.

“Aih, kalau engkau bersikap seperti itu, apa artinya kita bertiga susah-susah melakukan penyamaran?” Kui Eng mencela. “Kita harus dapat bersikap cerdik dan menahan emosi, Ci Kong. Kau kira bagianku ini ringan dan mudah? Huh, kau tidak tahu betapa muaknya aku duduk di dekatnya, dan hidungku penuh dengan bau wangi-wangi itu. Rasanya ingin muntah saja!”

Mendengar ini, Lian Hong tertawa dan Ci Kong juga tertawa. “Baik, maafkanlah aku, Kui Eng. Biar aku mengaku bahwa dalam penyamaran ini, engkaulah yang paling berhasil, dan engkaulah yang paling berjasa.” Ci Kong menjura.

“Cih, siapa minta dipuji!” Kui Eng mendengus dengan sikap manja dan kembali Lian Hong tertawa.

Diam-diam Lian Hong menduga-duga, apakah di antara kedua orang muda ini terdapat jalinan cinta kasih di luar kesadaran mereka. Ia sendiri merasa kagum dan suka kepada Ci Kong. Akan tetapi cinta? Ia sendiri tidak tahu, karena ia tidak mengerti bagaimana sesungguhnya cinta itu.

Malam itu, di taman bunga di belakang gedung Lee Song Kim, sudah dihias dengan meriah. Lampu-lampu gantung dipasang di pohon-pohon dan di tiang-tiang sehingga suasana dalam taman itu cukup terang dan amat indah. Meja-meja diatur di antara rumpun-rumpun bunga, dan tamu yang jumlahnya kurang lebih dua puluh lima orang sudah menuju meja-meja yang diatur dengan nilai seni yang tinggi di antara bunga-bunga yang harum.

Song Kim memang sengaja menjamu para rekan dan pembantunya sambil mengumpulkan laporan mereka, dan tentu saja karena diapun ingin menyenangkan kakak beradik Liem yang baru dikenalnya itu.

Ketika Lian Hong, Kui Eng dan Ci Kong muncul, dia sendiri yang menyambut tamu baru ini dan mengantar mereka ke sebuah meja yang memang sudah sejak sore tadi dia persiapkan untuk Kui Eng dan kakaknya. Bahkan untuk Ci Kong disediakan sebuah bangku yang ditaruh tidak terlalu jauh dari meja itu. Serombongan pemain musik berikut penyanyi-penyanyinya memeriahkan suasana dalam pesta kecil itu.

Dan keramaian ini, tak dapat dicegah lagi mengundang kerumunan banyak penonton di luar pagar taman. Mereka adalah penduduk di sekitarnya yang ingin nonton keramaian, mendengarkan musik dan nyanyian. Penjaga-penjaga yang berjaga di luar taman mencegah mereka mendesak terlalu dekat pagar dan mengamati mereka agar jangan ada yang mengadakan kekacauan mengganggu pesta Lee-Ciangkun.

“Aih, Liem-Siocia sungguh pantas sekali memakai pakaian merah muda,” demikian sambutan Song Kim yang pandai merayu ketika dia mengantar kakak beradik ini ke sebuah meja yang dipersiapkan untuk mereka, agak di pinggir.

Karena para penonton di luar pagar itu berada di tempat gelap, maka wajah mereka tidak begitu nampak sehingga tidak akan mengganggu para tamu yang berada di dalam taman. Suasana meriah sekali dengan adanya musik suling dan yang-kim yang mengikuti suara nyanyian merdu.

Suara ini diseling dengan suara ketawa, suara beradunya cawan arak dan sumpit pada mangkok, dan suara orang bicara. Setelah menyalami para tamunya satu demi satu, bicara sambil bersendau-gurau dengan mereka, akhirnya Lee Song Kim duduk menemani Lian Hong dan Kui Eng.

“Aih, biarpun hanya kecil-kecilan, lelah juga mempunyai kerja pesta seperti ini, harus melayani dan menjumpai para tamu. Aku lebih senang duduk disini bersama ji-wi,” katanya sambil menarik napas panjang, agaknya merasa lega bahwa akhirnya dia dapat duduk di dekat Kui Eng.

“Pestamu ini biarpun kecil tapi meriah sekali, Ciangkun. Hidangannya serba istimewa dan lezat.” Kui Eng memuji.

“Hemm, araknya sedap.” tambah Lian Hong.

“Ah, terima kasih atas pujian ji-wi. Sebetulnya, dalam kesempatan ini aku ingin bicara urusan penting sekali dengan Liem-kongcu dan Liem-Siocia, akan tetapi, hemm... sukar sekali mengatakan isi hatiku.” Song Kim nampak meragu.

“Ciangkun, di antara kita yang sudah menjadi sahabat baik, kenapa masih ragu-ragu dan sungkan lagi?” Kui Eng sengaja memancing dengan sikap berani.

“Kalau Ciangkun hendak bicara, katakanlah, kami siap mendengarkan,” tambah Lian Hong sambil menduga-duga, persoalan penting apakah yang akan dibicarakan oleh Tuan rumah itu.

Song Kim kembali ragu-ragu, akhirnya menarik napas panjang. “Nanti dulu, biar aku mengajak paman Loa ke sini, dia adalah wakilku dalam segala hal penting. Harap ji-wi suka tunggu dulu, aku mau menghubungi paman Loa dan bicara dengan dia. Sebentar aku kembali dan memperkenalkan dia dengan ji-wi.”

Berkata demikian, Song Kim bangkit lagi, menjura dan meninggalkan meja itu, diikuti pandang mata tiga orang muda itu yang melihat betapa Song Kim berhenti-henti di meja-meja tamu karena ditegur oleh para tamu. Ci Kong yang sejak ladi merasa tidak enak, kini bangkit dan menghampiri meja, berkata lirih sekali kepada Kui Eng.

“Hati-hatilah, jangan terlalu ramah kepadanya. Engkau seperti memberi hati kepadanya, dan aku khawatir, dia akan melakukan hal yang bukan-bukan terhadap dirimu.”

Melihat betapa Ci Kong kelihatan cemburu, Kui Eng tertawa dan menutupi mulutnya dengan gaya genit dibuat-buat. Lalu ia menuding ke arah mangkok di depannya. “Nah, kau lihat, masakan yang satu ini lezat bukan main. Mau coba?”

Ia lalu mengambilkan potongan-potongan daging dan sayur, memasukkannya ke dalam sebuah mangkok kosong dan memberikannya kepada Ci Kong. Pemuda ini mendongkol sekali, akan tetapi karena tiba-tiba dia melihat betapa ada mata dari balik pagar, mata para penonton di luar mengamati mereka, diapun terpaksa menerima mangkok itu, duduk kembali ke atas bangkunya dan melanjutkan makan.

Di depannya terdapat meja kecil biarpun hanya makan sendirian, diapun tadi menerima hidangan di atas meja itu. Memang lezat hidangan yang disuguhkan Kui Eng, berbeda dengan masakan yang berada di depannya. Kembali dia merasa mendongkol. Agaknya, hidangan untuknya adalah hidangan kelas dua saja, berbeda dengan hidangan untuk Kui Eng dan Lian Hong yang kelas satu!

Sikap Kui Eng memberi makanan kepada Ci Kong tadi, ternyata memang diikuti oleh sepasang mata yang menjadi milik seorang gadis yang bersembunyi di antara para penonton di luar pagar. Sepasang mata yang tajam sekali, mata seorang gadis yang berpakaian serba hitam sehingga tidak begitu nampak di dalam kegelapan, apalagi di antara banyak penonton.

Gadis ini berpakaian serba hitam dan ringkas, rambutnya awut-awutan sebagian menutupi mukanya. Agaknya disengaja untuk menyembunyikan mukanya ketika ia menyusup di antara penonton untuk ikut menonton pesta di taman itu. Siapakah adanya gadis yang berada di luar pagar taman itu? Ia bukan lain adalah Tang Ki atau Kiki, puteri Hai-tok Tang Kok Bu!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kiki datang ke Kota Raja membawa kitab-kitab lama dan telah berhasil menyerahkan kitab-kitab itu kepada Pangeran Ceng, bahkan ia kemudian diangkat saudara oleh Ceng Hiang, puteri Pangeran Ceng. Setelah mempelajari sebuah kitab pelajaran silat peninggalan Tat Mo Couw-su yang sudah diterjemahkan oleh Pangeran Ceng, Kiki lalu pulang ke Pulau Naga untuk membuat laporan kepada Ayahnya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika Kiki melihat pulau itu sudah kosong dan ia bertemu dengan seorang bekas anak buahnya yang mengabarkan bahwa pulau itu sudah diserbu oleh pasukan pemerintah yang banyak jumlahnya sehingga terpaksa Hai-tok melarikan diri ke darat.

“Siapa lagi kalau bukan si laknat Song Kim yang melakukan ini!” Kiki mengepal tinju dan dengan hati penuh kemarahan, ia kembali ke Kota Raja dengan niat untuk mencari Song Kim dan membalas dendam! Biarpun tadinya ia sudah dicegah oleh Ceng Hiang yang mengatakan bahwa seorang diri saja tak mungkin ia memusuhi Song Kim yang memiliki pasukan besar, namun kemarahannya membuat gadis ini nekat.

Demikianlah, ia melakukan penyelidikan ke rumah Lee Song Kim pada malam itu, dan kebetulan sekali pada malam hari itu, Lee Song Kim mengadakan pesta kecil di taman bunganya. Kiki menyusup di antara para penonton di luar pagar dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika ia mengenal Ci Kong berada pula di antara para tamu, akan tetapi pemuda itu mengenakan pakaian seperti seorang pelayan, melayani dua orang tamu, seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan.

Dengan heran, ia melihat pula Song Kim bercakap-cakap dengan gadis dan pemuda itu, dan Ci Kong hanya memandang dengan sikap seorang pelayan. Ia menduga bahwa tentu gadis cantik itu merupakan pacar Song Kim, karena sikap gadis itu demikian memikat dan sikap Song Kim demikian penuh bujuk rayu.

Ketika Song Kim meninggalkan meja itu, dan ia melihat betapa gadis cantik dan yang pakaiannya jelas merupakan seorang gadis yang amat kaya raya itu mengambilkan makanan dalam mangkuk dan memberikannya kepada Ci Kong, dengan sikap yang genit, ia merasa benci sekali kepada gadis itu!

Biarpun ia tidak dapat mendengarkan percakapan mereka, namun di bawah sinar lampu, ia melihat betapa sikap gadis cantik itu genit sekali, dan sebaliknya Ci Kong nampak kesal dan menahan kemarahan. Huh, seorang gadis yang tidak mengenal malu sama sekali, pikir Kiki.

Ia seorang gadis yang cukup berakal. Tidak mau ia menurutkan nafsu kemarahan lalu menyerbu ke tempat itu. Ia tahu betapa lihainya Song Kim, dan tentu tempat itu penuh dengan teman-teman Song Kim yang lihai. Dan melihat hadirnya Ci Kong di situ, iapun terheran-heran. Apakah pemuda Siauw-lim-pai itu kini telah terpikat dan menjadi sekutu Song Kim? Sungguh celaka kalau begitu.

Akan tetapi, ia tidak percaya dan ia melihat bahwa pemuda itu menyamar sebagai seorang pelayan. Wajahnya menjadi demikian kehitaman, kulitnya berubah dan setelah ia memandang lebih teliti, ia melihat pula bahwa wajah pemuda itu agak berubah. Ia tadi, seketika mengenal Ci Kong dari sinar matanya. Jarang ada orang memiliki mata seperti itu, dan sekali pandang saja, ia mengenal mata itu dan tahu bahwa orang itu adalah Tan Ci Kong!

Tentu pemuda itupun seperti ia, melakukan penyelidikan dan kini berhasil menyusup di antara tamu dengan jalan menyamar! Ah, kenapa ia tidak melakukah hal secerdik itu? Kalau ia menyamar lalu dapat berdekatan dengan Song Kim dan tiba-tiba menyerang, tentu ia akan berhasil membunuh manusia laknat itu!

Sementara itu, tak lama kemudian muncul lagi Song Kim, kini bersama seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang berpakaian seperti seorang sasterawan. Laki-laki ini bermuka sempit dan meruncing seperti muka tikus, dengan mata sipit, akan tetapi sikapnya demikian menarik dan merendahkan diri, menjilat-jilat seperti seekor anjing yang mencari muka pada majikannya.

Song Kim tersenyum ketika memperkenalkan laki-laki itu. “Inilah paman Loa, Liem-kongcu dan Liem-Siocia. Dia adalah orang kepercayaanku dan suka kuutus untuk mengerjakan hal-hal yang teramat penting. Paman Loa, inilah Liem-Siocia dan kakaknya Liem-kongcu.”

“Ah, kongcu dan Siocia yang mulia, mata yang tua ini sungguh beruntung sekali dapat bertemu dan melihat wajah Siocia yang cantik seperti bidadari dan kongcu yang tampan. Semoga ji-wi diberi berkah panjang umur dan banyak rejeki!” katanya sambil menjura dengan dalam sekali sampai dahinya hampir menyentuh tanah.

Biarpun merasa sebal, Lian Hong dan Kui Eng membalas penghormatan orang ini dan Ci Kong hampir saja tertawa saking geli hatinya. “Aih, engkau terlalu memuji, paman Loa,” kata Lian Hong.

Akan tetapi mata yang sipit itu kini memandang wajah Ci Kong dan agaknya dia dapat melihat bahwa Ci Kong merasa geli hatinya. “Dan dia ini, orang yang gagah ini siapakah?” tanyanya sambil menuding ke arah Ci Kong.

“Dia adalah Ci Kong, pelayan kami,” kata Lian Hong dengan cepat.

“Hah, seorang pelayan? Pelayan ji-wi? Baik sekali! Sobat Akong, harap engkau dapat menikmati makan minum disini, dan kenallah aku sebagai Loa Lo-ya (Tuan tua Loa), dan jangan khawatir, nanti kuberi bekal beberapa hadiah untukmu.”

Tentu saja Ci Kong merasa sebal sekali, akan tetapi dia tidak berarti memperlihatkan sikapnya, hanya mengangguk tanpa bicara. Walaupun sikap ini dianggap kurang hormat, tanpa ucapan terima kasih, namun orang she Loa itu agaknya tidak menjadi kecil hati. Dengan sikap ramah, dia lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan mereka.

“Harap ji-wi maafkan kehadiran saya ini, akan tetapi sesungguhnya saya merasa amat kasihan kepada Lee-Ciangkun yang minta kepada saya untuk bicara dengan ji-wi. Lee-Ciangkun merasa sungkan untuk bicara sendiri, maka mengutus saya untuk mewakilinya bicara dengan ji-wi, terutama dengan Liem-Siocia. Sebelumnya harap Siocia sudi memaafkan saya. Tentu Siocia cukup baik hati untuk dapat memaafkan seorang tua seperti saya ini kalau saya lancang bicara, bukan?”

Hati Kui Eng semakin sebal. Laki-laki ini amat cerewet, pantasnya bukan laki-laki, melainkah seorang nenek-nenek. Akan tetapi ia memaksa diri tersenyum. “Tidak mengapa, paman. Bicaralah, dan kepentingan apakah yang hendak disampaikan Lee-Ciangkun melalui paman?”

Berkata demikian, Kui Eng memandang ke arah Lee Song Kim, dan perwira muda itu kelihatan malu-malu! Tentu saja sikap Lee Song Kim ini hanya aksi belaka, walaupun tak dapat disangkal bahwa dia merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis hartawan ini, bukan sekedar timbul berahi melihatnya seperti biasanya kalau dia melihat gadis cantik.

“Begini, Liem-Siocia. Dan Liem-kongcu, maafkan kalau saya lancang mengajak adikmu bicara.”

“Tidak mengapa... bicaralah, paman,” kata Lian Hong.

“Hemm... sebelumnya, saya ingin bertanya, apakah ji-wi ini merupakan kakak beradik berdua saja? Maksud saya, apakah tidak ada saudara yang lain?”

“Kami hanya berdua saja,” kata Kui Eng, hatinya sebal akan tetapi juga geli melihat sikap menjilat-jilat seperti itu.

“Dan berapakah usia Liem-Siocia tahun ini? Shio apa?”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Akan tetapi ia teringat bahwa ia sedang bermain sandiwara, maka iapun menjawab. “Usiaku tahun ini sembilanbelas tahun, shio Kelenci.”

“Wah, sembilanbelas tahun, shio Kelenci! Sungguh tepat! Sama benar! Lee-Ciangkun juga berusia sembilanbelas tahun, mungkin beberapa bulan lebih tua karena beliau shio Harimau.”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Sejak tadi ia sudah merasa muak dan tidak senang kepada orang ini, akan tetapi ditahan-tahannya. “Hemm, apakah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan menanyakan usia segala itu?”

Orang she Loa itu agaknya tidak tahu bahwa gadis itu sudah marah, dan dengan mulut masih menyeringai, memperlihatkan gigi yang keropos dan hitam-hitam karena biasa menghisap tembakau dan madat, dia berkata.

“Maksud baik sekali, Siocia. Maksud yang suci dari Lee-Ciangkun. Maaf, kami yakin bahwa Siocia tentu belum bertunangan dengan pria lain bukan?”

Kui Eng kini maklum kemana tujuan percakapan itu. Kiranya Lee Song Kim bermaksud untuk meminangnya. Hampir saja ia tertawa dan merasa betapa lucunya. Ia berperan sebagai gadis kaya dan sengaja memikat perwira itu agar membocorkan rahasia negara, tidak tahunya perwira itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan ingin meminangnya menjadi isterinya! Biarpun hatinya merasa semakin sebal, ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan orang she Loa itu. Orang she Loa itu makin memperlebar senyumnya sehingga semua gigi yang kehitaman itu nampak.

“Bgus sekali! Ciangkun kita inipun masih belum pernah menikah. Saya diberi tugas untuk mengajukan pinangan kepada orang tua Liem-Siocia, akan tetapi sebelum itu, Lee-Ciangkun ingin sekali memperoleh keyakinan lebih dahulu bahwa Siocia masih belum ada yang punya, dan bahwa Siocia dan kongcu sudah menyetujui. Dan kau , sobat... harap kau suka membantu kami dan suka menceritakan hal yang baik-baik dari Lee-Ciangkun kepada Liem wan-gwe sekeluarga di sana.”

Berkata demikian, orang she Loa ini sudah mengeluarkan tiga keping uang emas dan memberikannya kepada Ci Kong dengan sikap yang royal sekali. Ci Kong sudah tidak mampu menahan kemarahannya. Penyamaran itu sudah melampaui batas kesabarannya karena dihadapkan dengan suasana yang amat menyinggung kehormatan dan perasaannya.

“Makanlah sendiri!” bentaknya sambil menolak tangan yang menyerahkan uang ini dan tangan kirinya menyambit dengan sebuah mangkok.

“Prokk!” Mangkok berisi sayur-sayuran itu melayang dan tepat menghantam mulut orang she Loa yang sedang terbuka.

Demikian kerasnya sambitan itu sehingga mangkok itu memaksa masuk ke mulut, masuk separuhnya dan kuahnya muncrat memenuhi muka. Orang she Loa itu kebingungan, hanya mengeluarkan suara “Ak-ak-uk-uk”, berusaha melepaskan mangkok dan mulutnya, dan darah mengucur keluar bersama kuah karena giginya telah patah semua, juga bibirnya hancur.

Kui Eng dan Lian Hong melihat hal ini, maklum bahwa penyamaran mereka bertiga tiada gunanya lagi. Kui Eng hendak melampiaskan rasa sebalnya kepada Song Kim yang juga terbelalak karena heran dan kagetnya melihat betapa pelayan tamu-tamunya itu tiba-tiba menyerang orang kepercayaannya seperti itu. Maka tanpa banyak cakap lagi, Kui Eng juga sudah menubruk ke depan dan menyerang Song Kim dengan pukulan yang kuat sekali ke arah dada!

Makin kagetlah rasa hati Song Kim karena dia melihat betapa kuatnya pukulan gadis yang menjatuhkan hatinya itu menuju dadanya. Dia cepat menangkis karena betapapun dia masih memandang rendah dan tidak percaya bahwa gadis itu dapat memiliki kepandaian tinggi, ketika menangkis dia hanya menggunakan setengah saja dan tenaganya.

“Dukkk!” Dan akibat dari penggunaan tenaga yang hanya setengahnya itu, tubuh Song Kim terdorong dan terlempar ke belakang, menabrak semak-semak di belakangya!

Barulah dia kaget setengah mati dan maklum bahwa ternyata gadis kaya raya itu memiliki tenaga sin-kang yang hebat. Cepat dia berteriak kepada para pengawal karena kini dia dapat menduga bahwa tiga orang tamunya ini adalah musuh-musuh yang melakukan penyelidikan dengan menyamar! Dan diapun kini sudah teringat bahwa wajah pelayan itu seperti pernah dilihatnya.

Ketika dia memandang dan bertemu pandang dengan mata Ci Kong, jantungnya berdebar keras dan kini teringatlah dia! Pemuda itu yang pernah menolong Kiki! Ah... betapa bodohnya dia karena tergila-gila kecantikan gadis kaya raya yang mengaku sebagai Liem-Siocia itu, dia seperti telah menjadi buta dan tidak menaruh curiga kepada mereka.

Lee Song Kim bersuit keras dan segera pasukannya datang mengepung, juga di antara para tamu terdapat para pembantunya dan rekannya yang pandai ilmu silat, sehingga sebentar saja, Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng sudah dikepung. Dan kini, melihat gerak-gerik Liem-kongcu, Song Kim dapat melihat pula bahwa pemuda yang mengaku sebagai pemuda hartawan itu adalah seorang wanita!

Pantas begitu tampan dan halusnya! Apalagi ketika dia melihat Lian Hong sudah mengeluarkan sebatang kipas, diapun dapat menduga bahwa gadis itu tentulah murid San-tok! Kui Eng juga sudah mencabut sebatang pedang yang tadinya disembunyikan di balik bajunya yang mewah dan lebar panjang. Hanya Ci Kong yang tidak biasa mempergunakan senjata, kini bersiap siaga dengan kedua tangan kosong saja.

“Tangkap mata-mata, hidup atau mati!” bentak Lee Song Kim sambil mencabut pedangnya.

Tiga orang muda itu lalu dikeroyok dan mereka pun mengamuk. Begitu mereka bergerak, enam orang prajurit pengawal roboh! Tentu saja Song Kim merasa kaget sekali dan dia makin yakin bahwa tiga orang ini adalah orang-orang yang lihai, mungkin diutus oleh Empat Racun Dunia untuk melakukan penyelidikan. Dan mengingat betapa dia sudah menceritakan rahasia dan rencana pemerintah terhadap Empat Racun Dunia, dia menjadi semakin gelisah.

“Kepung, jangan biarkan mereka lolos!” katanya, dan diapun menerjang ke arah Ci Kong.

Murid Siauw-lim-pai itu mengelak. “Jahanam busuk seperti engkau ini harus dilenyapkan dari dunia!” bentak Ci Kong.

Kini Song Kim tidak merasa ragu lagi. Inilah pemuda yang sudah dua kali menolong dan membantu Kiki menghadapinya pertama kali di pantai, dan kedua kalinya di hutan ketika dia menyerang Kiki di depan Ceng Hiang itu. Maka marahlah dia dan pedangnya diputar dengan cepat, diapun menyerang secara bertubi-tubi ke arah Ci Kong yang harus mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan balas menyerang.

Akan tetapi, betapapun lihainya tiga orang pendekar muda itu, kini kepungan menjadi semakin ketat karena datangnya sejumlah pasukan pembantu. Mereka bertiga kini dikepung oleh rekan-rekan Song Kim yang merupakan jagoan-jagoan Kota Raja yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga tidak semudah ketika merobohkan para prajurit tadi bagi tiga orang pendekar itu.

Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, keadaan mereka tentu akan terancam bahaya. Mereka berada di Kota Raja, dan kalau terus menerus datang balatentara berupa pasukan-pasukan, dan jagoan-jagoan Kota Raja, mereka akan terancam malapetaka.

“Mari kita pergi!” teriak Ci Kong kepada dua orang gadis itu. Akan tetapi bicara mudah, tetapi melaksanakannya yang sukar, karena kepungan para jagoan itu ketat sebali. Apalagi di luar kepungan para jagoan itu masih terdapat kepungan pasukan yang berlapis-lapis!

Tiba-tiba terjadi keributan di luar kepungan, dan kepungan para pasukan itu menjadi kacau-balau dan membuyar. Kiranya ada orang yang mengamuk di sebelah luar kepungan dan membuyarkan kepungan ini. Melihat betapa kepungan itu terbuka, Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng tidak mau menyia-nyiakannya. Itulah jalan keluar, dan mereka lalu menggerakkan kaki tangan membuat para pengeroyok mundur, dan mereka lalu meloncat dan menerobos kepungan yang sudah terbuka dan membuyar itu.

“Kejar! Tangkap mereka!” bentak Song Kim sambil mengejar. Rekan-rekannya juga ikut mengejar, demikian pula para prajurit. Keadaan menjadi kacau-balau.

Para rerajurit lari ke sana-sini, bersimpang siur karena mereka tentu saja tidak dapat mengejar tiga orang muda yang berloncatan dengan cepatnya itu dan tidak tahu harus mengejar kemana. Yang dapat mengejar dan tidak tertinggal terlalu jauh hanyalah Lee Song Kim dan beberapa orang rekannya saja. Melihat betapa Lee Song Kim dan beberapa orang jagoan Kota Raja terus mengejar, Ci Kong segera berkata kepada dua orang gadis itu.

“Kita harus berpencar, mengambil jalan masing-masing, dan kita laporkan semua hasil penyelidikan kita kepada suhu masing-masing.”

Dua orang gadis itu setuju, dan Lian Hong berkata. “Biar aku mengambil jalan utara, Enci Eng mengambil jalan timur, dan Ci Kong melalui pintu selatan. Selamat berpisah!” Lian Hong lalu memutar tubuhnya utara, Kui Eng juga lari ke timur, dan Ci Kong membalik ke arah selatan.

Melihat betapa tiga orang itu berpencar, Song Kim menjadi bingung. Akan tetapi dasar mata keranjang, dia berpikir bahwa yang terpenting adalah menawan Kui Eng, maka diapun terus melakukan pengejaran terhadap Kui Eng tanpa memperdulikan yang lain. Para rekannya juga terpencar, ada yang mengejar ke utara, ada yang ke selatan. Akan tetapi mereka itu merasa jerih terhadap orang yang mereka kejar, sehingga ketika Lian Hong dan Ci Kong berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka tidak melanjutkan pengejaran mereka.

Demikian pula dengan Song Kim. Tak disangkanya bahwa Kui Eng dapat berlari cepat sekali, meloncati pagar tembok yang amat tinggi dan keluar dari Kota Raja. Dia merasa jerih karena khawatir kalau-kalau di luar tembok Kota Raja, gadis itu mempunyai kawan-kawan yang lihai, sedangkan dia hanya seorang diri saja. Maka dengan uring-uringan, dia kembali ke Kota Raja untuk mempersiapkan pasukan besar, dan dengan pasukan ini dia akan melakukan pengejaran dan pencarian.

Kui Eng berlari secepatnya dan malam yang gelap membantunya. Setelah tiba di luar kota Tang-san, di tepi Kanal Besar yang menyambung aliran Sungai Huang-ho dan Yang-ce-kiang di selatan, sampai ke Tang-san dekat Kota Raja, malam sudah menjadi pagi.

Ia merasa lega bahwa tidak nampak seorangpun pengejar lagi dan iapun berhenti di tepi sungai kanal itu untuk beristirahat. Matahari naik semakin tinggi di timur dan Kui Eng lalu bangkit dari istirahatnya, bermaksud untuk melanjutkan perjalanan. Karena tidak merasa perlu menyamar lagi, ia menanggalkan pakaian mewah yang hanya merupakan pakaian sebelah luar saja, sedangkan di dalam adalah pakaiannya yang biasa dan iapun melepaskan sanggulnya dan mengikat rambutnya dengan pita.

Kini ia berubah menjadi seorang gadis kang-ouw yang suka melakukan perjalanan jauh seorang diri, berpakaian ringkas. Pakaian gadis kaya itu ia lemparkan ke dalam air sungai, dan perhiasan-perhiasan emas permata yang tadinya dipakainya, ia simpan ke dalam saku bajunya.

“Kau perempuan genit menjemukan!” Tiba-tiba terdengar ada orang membentak.

Kui Eng terkejut sekali, akan tetapi juga terheran-heran karena yang membentak itu adalah seorang wanita. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang sebaya dengannya, cantik manis dan gagah, akan tetapi sinar matanya menunjukkan bahwa gadis itu galak dan sedang marah. Tentu saja Kui Eng yang juga memiliki watak galak dan keras hati itu, menjadi merah mukanya, ketika datang-datang, gadis yang tak dikenalnya itu memakinya.

“Eh, eh, apakah engkau ini orang gila?” Ia membalas. “Datang-datang memaki orang!”

Gadis itu bukan lain adalah Kiki! Malam tadi ia berada di antara kerumunan penonton di luar pagar taman bunga Lee Song Kim. Melihat bekas suhengnya, orang yang hampir saja memperkosanya, ia sudah marah sekali. Akan tetapi ia tidak bodoh dan tidak mau dengan nekat menyerang di tempat itu.

Dan hatinya semakin mendongkol melihat sikap gadis cantik berpakaian mewah itu yang jelas memikat Song Kim dengan gerak-geriknya, dan juga melihat betapa gadis itu bersikap demikian akrab dan manis terhadap Ci Kong! Kenapa Ci Kong mau bersahabat dengan gadis yang sudah lirak-lirik dan senyum-senyum terhadap Lee Song Kim itu?

Ketika terjadi keributan, Kiki hanya melihat betapa Ci Kong menyerang laki-laki bermuka tikus itu dan kemudian timbul perkelahian di dalam taman. Ia mengira bahwa tentu penyamaran Ci Kong ketahuan. Ia menjadi bingung. Untuk meloncat dan membantu di dalam, amat berbahaya, akan tetapi tentu saja ia tidak dapat membiarkan Ci Kong dikepung dan dikeroyok begitu saja tanpa membantu.

Maka, melihat kepungan yang ketat, ia lalu mengamuk di sebelah luar kepungan, menyerang para prajurit pengawal yang mengepung sehingga bagian itu buyar dan terbuka, kemudian ia sendiri cepat melarikan diri karena berada terlalu lama di situ dapat membahayakan dirinya sendiri. Ia berlari cepat dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Kemudian, dengan gerakannya yang lincah, iapun lari keluar dan pintu gerbang sebelah timur.

Kiki tidak tahu bahwa Kui Eng juga melarikan diri melalui pintu sebelah timur, maka ketika agak jauh dari pintu gerbang itu, ia melihat Kui Eng berlarian, diam-diam ia membayangi dan jauh. Ia merasa heran dan terkejut melihat betapa gadis yang berpakaian mewah dan bersikap genit itu dapat berlari secepat itu. Rasa penasaran membuat ia membayangi terus.

Dan pada pagi hari itu, melihat Kui Eng membuang pakaiannya dan berganti pakaian, Kiki muncul dan begitu muncul ia lalu memaki gadis itu karena masih teringat olehnya betapa gadis yang kelihatannya suka kepada Song Kim dan membalas rayuannya itu, juga agaknya mempergunakan kecantikannya untuk merayu Ci Kong. Kiki adalah seorang gadis yang berdarah panas, seperti juga Kui Eng. Ketika mendengar Kui Eng memakinya gila, iapun marah sekali!

“Engkaulah yang gila, engkau gila laki-laki!” bentaknya, dan Kiki sudah mencabut pedangnya.

Kui Eng terkejut melihat gadis yang galak itu mencabut pedang, terkejut dan juga merasa penasaran sekali. Gadis ini sungguh amat menghinanya, mengatakan ia gila laki-laki! Kalau bukan gadis yang miring otaknya, tentu seorang gadis yang menjadi mata-mata dari pemerintah dan sengaja mencari perkara atau... ah, kini ia dapat menduganya. Agaknya gadis ini adalah pacar dan Lee Song Kim yang merasa cemburu melihat ia bergaul dengan akrab bersana perwira muda itu!

“Persetan! kau kira aku takut melihat pedangmu yang seperti pisau dapur itu?” bentaknya.

“Makanlah pisau dapur ini!” Kiki balas membentak dan ia pun menyerang dengan dahsyat sekali. Pedangnya mengeluarkan mendengung, berubah menjadi kilatan sinar yang menyilaukan mata, menyambar ke arah leher Kui Eng.

“Ihhh...!” Kui Eng terkejut bukan main, dan cepat ia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali untuk menyelamatkan diri, tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis galak itu memiliki ilmu pedang yang demikian hebat dan berbahayanya. Maka iapun cepat mencabut pedangnya sendiri.

Kiki tersenyum mengejek. “Engkau jerih menghadapi pisau dapurku?”

“Tak perlu banyak cerewet, agaknya engkau sudah bosan hidup! Lihat pedangku!” Kui Eng membentak marah dan iapun cepat memainkan Ilmu Tongkat Ciu-beng Hek-pang dengan pedangnya. Ilmu tongkat yang dimainkan dengan pedang itu menjadi aneh sekali, dan Kiki yang diserang secara bertubi-tubi dengan gaya yang aneh namun amat berbahaya itu, juga terkejut.

Iapun sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis yang pandai berlari cepat itu, ternyata juga amat lihai ilmu pedangnya, lihai dan aneh pula. Kiki adalah seorang gadis yang amat cerdik. Begitu berkelahi selama belasan jurus saja, tahulah ia bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai dan memiliki tingkat kepandaian yang tidak berada di bawah tingkatnya sendiri!

Sayang bahwa ia belum sempat melatih ilmu barunya Hui-thian Yan-cu, dan agaknya kalau ia menandingi lawan ini dengan ilmu-ilmu dari Ayahnya, biarpun belum tentu ia kalah, namun takkan mudah ia memperoleh kemenangan. Gadis lawannya ini memiliki ilmu pedang yang aneh dan cepat, juga memiliki tenaga sin-kang yang sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Kiki lalu menggunakan akal, dan ketika Kui Eng menyerang dengan tusukan cepat sehingga pedangnya menjadi sinar menyambar, ia sengaja meloncat ke kanan agak jauh sehingga ia terpeleset dan jatuh ke bawah! Akan tetapi ia jatuh berdiri di dalam air di tepi sungai kanal itu. Air hanya menjilat sampai ke lututnya. Melihat Kui Eng menjenguk dan atas, ia tersenyum mengejek.

“Perempuan genit, beranikah engkau turun kesini dan melawanku di sini!” tantangnya. Kui Eng merasa mendapat angin. Ia telah berhasil membuat lawannya terjatuh ke bawah, dan biarpun lawan itu belum terluka, sedikitnya hal itu menunjukkan bahwa ia berhasil mendesaknya. Mendengar tantangan itu, tentu saja ia menjadi marah.

“Kenapa tidak berani? Sampai ke api nerakapun untuk melawanmu, aku tidak akan takut!” bentaknya sambil meloncat turun dan memutar pedangnya.

Kiki menyambut sambil tersenyum. “Bersiaplah untuk minta ampun setelah kau kubenamkan ke dalam air!” Sambil berkata demikian, ia terus saja menyerang dan ternyata gerakannya luar biasa gesitnya, padahal mereka berkelahi dengan tubuh terendam air sampai setinggi lutut.

Kui Eng cepat menangkis dan diam-diam gadis ini terkejut sekali. Kenapa setelah berada di air, lawannya menjadi semakin ganas dan gesit? Ia sama sekali tidak tahu bahwa lawannya adalah puteri Hai-tok (Racun Lautan) yang sejak kecil sudah biasa berkecimpung di dalam air!

Gadis ini memang mempunyai ilmu di dalam air yang istimewa! Ia lebih berbahaya kalau berada di air dari pada di darat! Karena gerakan kakinya terganggu oleh air, tidak seperti Kiki yang enak saja berloncatan di air, Kui Eng segera terdesak hebat. Juga air yang berombak itu membuat Kui Eng menjadi gugup.

“Heh-heh... sebentar lagi engkau akan kupaksa bertiarap di dalam air!” Kiki mengancam dan mengejek.

Pada saat yang gawat bagi Kui Eng itu, tiba-tiba muncul Ci Kong di tepi sungai kanal. “Heiiii... tahan dulu. Hentikanlah perkelahian itu, kalian adalah teman-teman sendiri...!” teriak Ci Kong sambil mengangkat kedua lengannya ke atas dan lari menghampiri dua orang gadis yang berkelahi mati-matian itu.

Melihat munculnya Ci Kong, dua orang gadis itu menahan pedang mereka dan menoleh, memandang kepada Ci Kong dengan alis berkerut. “Huh! Teman sendiri? Aku tidak merasa mempunyai teman seperti ini!” Kata Kiki marah.

“Akupun tidak mempunyai teman yang miring otaknya ini!!” Kui Eng balas memaki.

“Sabarlah, tenanglah. Dan kalian naiklah ke sini, nanti aku yang akan memberi keterangan yang jelas!”

Dua gadis itu berloncatan naik, akan tetapi masih memegang pedang masing-masing, karena kalau keterangan Ci Kong tidak memuaskan, mereka akan melanjutkan perkelahian yang belum ada ketenTuannya siapa menang siapa kalah itu. Ci Kong memandang kepada mereka dan tersenyum. Tentu saja dia mengenal watak kedua orang gadis ini. Watak yang galak dan lincah, ganas kalau sudah marah, namun keduanya memiliki kegagahan seperti pendekar wanita, walaupun keduanya adalah puteri dan murid datuk-datuk sesat!

“Kenapa kau senyum-senyum, Ci Kong!” Kui Eng membentak, masih marah sekali karena tadi hampir saja ia celaka karena dipancing dengan perkelahian di air.

“Awas, Ci Kong, kalau engkau berat sebelah, aku takkan sudi mendengar penjelasanmu, dan kau boleh membantunya untuk mengeroyokku, aku tidak takut!"

“Huh! Siapa akan mengeroyok? Kau kira aku takut kepadamu?” Kui Eng membentak marah.

“Aihh tenanglah, dan dinginkan dulu kepala kalian. Hati boleh panas akan tetapi kepala harus dingin. Sekarang aku akan bertanya lebih dulu kepadamu, Kui Eng. Kenapa engkau sampai berkelahi dengannya?”

“Ia yang mulai! Aku melarikan diri sampai ke sini dan beristirahat. Eh... ia tahu-tahu muncul dan memaki-makiku. Siapa tidak menjadi marah! Bahkan ia menantangku, tentu saja kulayani!” kata Kui Eng dengan suara lantang penuh kemarahan.

Ci Kong kini menghadapi Kiki. “Dan bagaimana dengan engkau, Kiki? Benarkah apa yang dikatakan Kui Eng tadi? Dan mengapa pula engkau datang-datang memaki-maki padanya dan menantang berkelahi?”

Kiki cemberut. “Semalam aku melihat gadis ini memikat hati Lee Song Kim. Tentu ia pacarnya! Ketika engkau membuat ribut di taman itu dan terkepung, aku mengacau dari luar sehingga kepungan membuyar dan engkau dapat melarikan diri. Aku sudah berada di luar Kota Raja ketika aku melihat gadis ini berlari-larian. Aku yakin ia melakukan pengejaran terhadap dirimu, gadis ini tentu pacar Lee Song Kim. Maka aku lalu memaki dan menantangnya!”

Kiki tentu saja tidak mau menceritakan bahwa sikap Kui Eng terhadap Ci Kong dalam taman itu yang akrab, dan memberikan sayur dan daging dalam mangkuk yang membuat ia merasa cemburu dan marah!

Mendengar keterangan dua orang gadis itu, Ci Kong tertawa. “Ha-ha, kiranya hanya karena salah paham saja, dan salah sangka ini timbul darimu, Kiki. Ketahuilah bahwa ia ini adalah Kui Eng, murid tunggal dari Tee-tok Locianpwe! Dan Kui Eng, ia adalah Tang Ki, puteri tunggal dari Locianpwe Hai-tok. Ayah dan guru kalian bekerja sama sebagai sahabat dalam satu perjuangan, dan kalian saling hantam sendiri. Bagaimana ini? Kiki, engkau salah sangka dan sepatutnya kalau engkau mengaku salah dan mina maaf.”

Akan tetapi Kiki mengerutkan alisnya, biarpun ia terkejut juga mendengar bahwa lawannya itu adalah murid tunggal Tee-tok! “Akan tetapi, ia... ia kulihat begitu akrab dengan Song Kim, musuh kita!”

“Tentu saja! Ketahuilah bahwa kami bertiga, aku, Kui Eng, dan Lian Hong bertugas melakukan penyelidikan ke Kota Raja. Kui Eng ini menyamar sebagai seorang gadis kaya raya, Lian Hong menyamar sebagai kakaknya, dan aku sendiri menyamar sebagai pelayan mereka. Kami bertemu dengan Song Kim dan melihat dia tertarik kepada Kui Eng, maka kami pergunakan kelemahannya untuk mengorek rahasia pemerintah.

“Dan kami berhasil, sampai-sampai bekas suhengmu yang laknat itu benar-benar jatuh cinta kepada Kui Eng dan melamarnya! Kami bertiga memberontak dan melarikan diri berkat bantuanmu dari luar yang tidak kami ketahui. Sikap Kui Eng terhadap Song Kim itu adalah sandiwara.”

“Ohhh...!” Kiki sadar akan kekeliruannya dan memandang kepada Kui Eng yang juga memandang kepadanya, dan keduanya tersenyum.

“Ayah dan guru kalian sedang bekerja sama demi perjuangan menghadapi pemerintah penjajah, akan tetapi kalian di sini saling hantam, berkelahi mati-matian. Padahal, dalam keadaan seperti ini, kita harus menggalang persatuan. Kalau kita berkelahi sendiri karena urusan sepele, tentu akan melemahkan kekuatan kita. Apalagi di antara kalian hanya terjadi salah paham saja, bahkan andaikata ada urusan yang sungguh-sungguh sekalipun, kepentingan pribadi harus dikesampingkan dulu demi perjuangan dan persatuan.”

“Kalau begitu, aku yang bersalah kepadamu, Enci Ciu Kui Eng. Aku minta maaf...” kata Kiki dengan jujur.

Kui Eng merangkulnya. “Sudahlah, adik Kiki. Itu hanya merupakan kesalahpahaman saja, dan tidak aneh kalau engkau benci kepadaku karena mengira bahwa aku adalah kaki tangan Lee Song Kim.”

“Nah, begitu baru benar...” kata Ci Kong dengan hati lega. Kalau dua orang gadis ini sampai bermusuhan, tentu akibatnya hebat, bukan hanya mereka yang tersangkut, bahkan mungkin Ayah dan guru mereka akan terlibat. Dia teringat akan sikapnya seperti orang yang cemburu ketika masih menyamar sebagai pengawal, maka diapun berkata kepada Kui Eng dalam kesempatan itu.

“Kui Eng, pengalaman kita menyamar itu amat berat terasa olehku. Melihat betapa Song Kim yang pernah berlaku keji terhadap Kiki, mengingat akan kekejamannya dan kejahatannya, dan dia mendekatimu, sungguh membuat aku kadang-kadang hampir tak dapat menahan kemarahan hatiku. Maka, kuharap engkau tidak marah dan berkecil hati kalau pada walau itu aku kadang-kadang seperti orang marah-marah, Kui Eng.”

Kui Eng tersenyum. “Dan kau maafkan aku yang selalu menggodamu sebagai seorang pelayan kami.”

Kiki yang mendengarkan percakapan itu, diam-diam merasa lega, karena ia tahu bahwa keakraban yang diperlihatkan Kui Eng ketika memberikan makanan itu hanyalah kenakalan gadis itu saja yang hendak menggoda Ci Kong. Iapun merasa heran sekali terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia merasa tidak enak dan iri melihat Ci Kong akrab dengan gadis lain? Apakah yang telah terjadi di dalam hatinya terhadap pemuda ini?

“Sekarang, sebaiknya kita mengambil jalan masing-masing. Kui Eng, engkau tentu akan secepat mungkin menyusul gurumu untuk mengabarkan apa yang telah kita alami, dan kurasa Lian Hong juga demikian. Dan engkau, Kiki, sebenarnya engkau hendak kemanakah?”

“Aku baru saja pulang ke Pulau Naga, dan ternyata pulau itu telah diserbu oleh pasukan pemerintah, Ayah sudah pergi entah kemana.”

“Kami tahu akan penyerbuan itu, kami mendengar dari Lee Song Kim yang membuka semua rahasia pemerintah kepada Kui Eng,” kata Ci Kong.

“Dan Ayahmu bersama guru Lian Hong, San-tok Locianpwe, dan guru Kui Eng, Tee-tok Locianpwe, sedang pergi untuk mencari harta karun.”

“Ah, kalau Ayahku pergi bersama guru Enci Eng, biarlah aku ikut bersama Enci Eng saja untuk meriyusul Ayah,” kata Kiki.

Kui Eng menyambutnya dengan gembira. “Memang sebaiknya demikian sehingga kalau para orang tua itu membutuhkan bantuan, kami dapat segera membantu,” kata Kui Eng.

“Baiklah, aku sendiri akan kembali ke Siauw-lim-si, melapor kepada para suhu dan menanti sampai Kakek guru Siauw-bin-hud keluar dari ruangan pertapaannya.”

Mereka lalu berpisah, Kui Eng pergi bersama Kiki, dan Ci Kong pergi seorang diri. Pemuda ini masih tersenyum-senyum kalau membayangkan betapa dua orang gadis itu yang sekarang menjadi sahabat akrab, tadi saling serang mati-matian. Diam-diam diapun memuji kecerdikan Kiki yang memancing Kui Eng berkelahi di air...

Jilid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.