Pedang Naga Kemala Jilid 23

Sonny Ogawa

Pedang Naga Kemala Jilid 23 karya Kho Ping Hoo - KALAU dilanjutkan perkelahian ini, banyak kemungkinan Kui Eng akan kalah, karena dia tahu bahwa Kiki adalah seorang yang ahli bermain di air. Dan dalam perjalanan seorang diri ini, Ci Kong membanding-bandingkan para gadis yang pernah dikenalnya dan yang kesemuanya menarik hatinya.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Mulai Lian Hong, lalu Kui Eng, Kiki, dan Ceng Hiang. Mereka semua memiliki kepribadian yang amat menarik dan memiliki ciri khas masing-masing yang mengagumkan. Lian Hong seorang gadis sederhana, pendiam namun cerdik dan gagah. Matanya yang lebar itu merupakan suatu keindahan tersendiri yang khas. Kui Eng amat manis, dengan mata yang tajam, sikap yang manja dan galak, akan tetapi gagah perkasa dan mulutnya yang merupakan keindahan dengan memiliki daya tarik yang luar biasa.

Lincah dan garang, namun gagah. Kiki nakal dan manja, juga lucu dan galak, akan tetapi di balik kegalakannya itu, hatinya lembut sekali. Tahi lalat di pipinya membuat dia nampak semakin jelita. Kemudian Ceng Hiang. Betapa cantik jelitanya puteri pangeran itu! Paling cantik di antara mereka semua. Begitu anggun, cantik dan agung. Lebih lagi, ia murid keturunan keluarga Pulau Es. Sungguh mengagumkan sekali.

Dan keempatnya adalah gadis-gadis perkasa yang berjiwa pendekar, bahkan juga menentang kelaliman. Mereka bagaikan batu-batu kemala yang sudah tergosok dan kemilauan, mempunyai daya tarik yang khas, dan masing-masing merupakan seorang gadis yang istimewa sehingga akan sukarlah kiranya kalau dia disuruh memilih siapa di antara mereka yang paling menarik hatinya.

“Uuhh, engkau ini siapa berani menilai-nilai anak gadis orang...”

Ci Kong tersadar dan mencela diri sendiri. Belum tentu ada di antara mereka yang sudi padamu! Ia teringat akan keadaan diri sendiri yang sebatang kara, miskin dan tempat tinggalpun tidak punya. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana dia berani memikirkan diri seorang gadis? Tak tahu diri, makinya kepada diri sendiri, dan diapun melanjutkan perjalanan dengan lesu.

* * *

“Tidak salah lagi, inilah gambar kuil Siauw-lim-si!” kata Tee-tok setelah San-tok memperlihatkan gambar peta itu. “Lihat, bukankah gambar di kiri ini adalah tebing dimana terdapat guha-guha besar itu?”

“Benar, akupun teringat sekarang,” kata Hai-tok.

“Aku pernah ke sana melalui daerah di utara ini, yang dilukiskan penuh dengan hutan dan banyak terdapat jurang yang curam di situ!” San-tok mengangguk-angguk.

“Cocok dengan dugaanku. Harta pusaka itu tersimpan di wilayah Siauw-lim-si, sungguh aneh sekali! Akan tetapi sungguh kebetulan, karena dengan demikian, tentu akan lebih mudah lagi untuk menemukannya, dengan banTuan Siauw-bin-hud.”

Dengan penuh harapan, tiga orang Kakek sakti ini segera menuju ke Siauw-lim-si. Akan tetapi, kedatangan mereka itu disambut dengan alis berkerut oleh para pimpinan Siauw-lim-si. Thian He Hwesio, ketua Siauw-lim-si, maklum bahwa tiga orang di antara Empat Racun Dunia ini sekarang bersatu atau bekerja sama dengan paman gurunya, Siauw-bin-hud.

Mereka kini menjadi pimpinan pemberontak yang melakukan perjuangan menentang pemerintah penjajah. Dia sendiri bersikap agak lunak walaupun di dalam hatinya, tentu saja Hwesio ini tidak suka kepada tokoh-tokoh sesat itu. Akan tetapi tiga orang sutenya yang menjadi pembantu pembantunya, rata-rata bersikap keras dan secara berterang memperlihatkan sikap tidak senang kepada tiga orang Kakek itu.

Melihat sikap tiga orang sutenya, Thian He Hwesio diam saja tidak banyak cakap ketika menyambut tiga orang Kakek itu. Mereka berempat itu menyambut di luar kuil di halaman depan yang luas. Ketika tiga orang Kakek tadi muncul, para murid Siauw-lim-pai bergegas melapor ke dalam, dan empat orang pimpinan itupun segera keluar menyambut karena khawatir bahwa kedatangan para datuk sesat itu akan membuat keributan.

“Keperluan apakah yang mendorong sam-wi (kalian bertiga) untuk datang mengunjungi kuil kami yang butut ini?” demikian Thian He Hwesio menyambut mereka dengan ucapan dan sikap serius. San-tok yang mewakili teman-temannya segera menjawab sambil tersenyum ramah.

“Kami bertiga datang untuk bertemu dengan Siauw-bin-hud, karena kami ingin membicarakan hal yang amat penting dengan dia mengenai urusan perjuangan.”

“Omitohud... kedatangan sam-wi sungguh tidak kebetulan sekali.” Kata Thian He Hwesio dengan sikap biasa, walaupun seperti tiga orang pembantunya, dia juga merasa tidak enak melihat sikap tiga orang itu yang sama sekali tidak menghormati nama paman guru mereka, Siauw-bin-hud, seolah-olah Kakek sakti dan Siauw-lim-pai itu seorang sahabat mereka saja!

“Susiok Siauw-bin-hud kini sedang bertapa dan sama sekali tidak boleh diganggu oleh siapapun juga atau urusan apapun juga.”

Tiga orang datuk sesat itu terkejut dan saling pandang, kemudian San-tok berkata. “Akan tetapi kedatangan kami ini penting sekali, mengenai harta karun yang kami cari bersama Siauw-bin-hud untuk membiayai perjuangan! Kami sudah menemukan rahasia itu, dan kami ingin berunding dengan Siauw-bin-hud mengenai pengambilan harta karun itu!”

Para pimpinan Siauw-lim-pai adalah Hwesio-hwe-sio yang beribadat, yang selalu mencari jalan bersih. Oleh karena itu, tentu saja mereka tidak suka berdekatan, apalagi bekerja sama dengan golongan sesat, terutama sekali dengan datuk-datuk sesat seperti Empat Racun Dunia. Bahkan mereka menganggap sebagai tugas mereka untuk menentang dan kalau mungkin membasmi golongan sesat untuk menyelamatkan manusia dari ancaman mereka.

Maka biarpun dengan dalih perjuangan, tetap saja mereka tidak setuju kalau harus bekerja sama dengan orang-orang macam Empat Racun Dunia. “Kalian bertiga sudah mendengar apa yang dikatakan toa-suheng sebagai ketua Siauw-lim-pai,” tiba-tiba Thian Khi Hwesio berkata dengan sinar mata tajam. “Susiok sedang bertapa dan tidak boleh diganggu, dan kami harap sam-wi tidak memaksa. Kembalilah saja kalau susiok sudah keluar dari pertapaannya!”

“Tapi, Siauw-bin-hud sendiri yang mengajak kami bekerja sama dalam perjuangan! Dan urusan harta karun ini penting sekali untuk perjuangan. Untuk urusan ini, sewaktu-waktu tentu Siauw-bin-hud akan menerima kami, dan kalian, Hwesio-Hwesio Siauw-lim-si, tidak berhak melarang kami!” San-tok mendesak.

Kini Thian Khi Hwesio melangkah ke depan. “Sudah kami katakan, kalian tidak boleh memaksa!”

“Aku ingin bicara dengan ketua Siauw-lim-pai!” San-tok menuding ke arah Thian He Hwesio.

“Hemm, pinceng yang bertugas mengenai urusan luar, dan suheng Thian Tek Hwesio ini yang menjadi kepala rumah tangga. Kami berdua yang berhak untuk berurusan dengan para tamu dari luar!” kata pula Thian Khi Hwesio , dan kini Thian Tek Hwesio yang pendek kecil juga sudah melangkah maju. San-tok menjadi penasaran sekali.

“Hei... Hwesio -Hwesio lancang! Siauw-bin-hud sendiri sudah menerima kami sebagai teman-teman seperjuangan, akan tetapi mengapa kalian tidak dapat menerima kami sebagai sahabat?”

“Urusan Susiok Siauw-bin-hud dengan kalian adalah urusan pribadi susiok, sama sekali bukan utusan Siauw-lim-pai. Kalau susiok ada, maka kami sama sekali tidak berhak mencampuri!”

“Hemmm, sungguh tinggi hati!” Kini Hai-tok juga ikut bicara, suaranya mengandung kemarahan. “Hei, Hwesio-Hwesio Siauw-lim-pai! Biarpun golongan kami berbeda dengan golongan kalian, akan tetapi sudah kami sepakati dengan Siauw-bin-hud bahkan untuk urusan perjuangan, kita bekerja sama! Apakah kalian Hwesio -Hwesio Siauw-lim-pai tidak merestui perjuangan menentang pemerintah penjajah?”

“Urusan perjuangan kami adalah urusan kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian,” jawab Thian Khi Hwesio angkuh.

“Kalian datang untuk berurusan dengan susiok Siauw-bin-hud, dan beliau sedang bertapa. Apalagi yang harus diributkan? Kalian kembali saja kalau beliau sudah keluar, bukankah jawaban dan sambutan kami ini sudah tepat dan adil?”

“Wah-wah, agaknya kalian Hwesio-Hwesio Siauw-lim-pai ini tidak tahu akan pentingnya urusan. Dengarlah! Kami bersama Siauw-bin-hud sudah sepakat untuk bekerja sama dan mendapatkan harta karun yang menjadi rahasia Giok-liong-kiam. Harta karun itu akan kami pergunakan untuk biaya perjuangan. Dan sekarang, kami telah mengetahui rahasianya dan tempat harta karun itu berada di sekitar pegunungan ini! Nah, bukankah itu penting sekali untuk dilaporkan kepada Siauw-bin-hud?”

Diam-diam empat orang pimpinan Siauw-lim-pai itu terkejut mendengar ini. Harta karun dari Giok-liong-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang kang-ouw itu berada di sekitar pegunungan mereka? Akan tetapi, mereka tentu saja bukan orang-orang yang masih mengejar harta, apalagi kalau harta karun itu dicari untuk dipergunakan sebagai biaya perjuangan, mereka sama sekali tidak ingin menghalangi.

Akan tetapi, karena yang hendak mencari adalah datuk-datuk sesat sedangkan Siauw-bin-hud masih bertapa, merekapun tidak rela membiarkan para datuk sesat itu untuk berkeliaran di daerah atau wilayah kekuasaaan Siauw-lim-pai.

“Betapapun penting, namun urusan itu adalah urusan susiok pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai. Oleh karena itu, tetap saja kami minta agar sam-wi kembali saja kelak kalau susiok sudah keluar dan berkenan menerima tamu!” kata Thian Khi Hwesio dengan suara tegas, dan tiga orang Hwesio tua yang lain mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

“San-tok, kenapa mesti ladeni Hwesio-Hwesio yang cerewet seperti nenek-nenek ini?” Tiba-tiba Tee-tok berseru kehabisan sabar. “Kita tinggalkan saja mereka dan Siauw-bin-hud, dan mari kita cari sendiri harta itu, habis perkara!”

“Nanti dulu!” Thian Tek Hwesio yang bertubuh pendek kecil berseru. “Pegunungan ini termasuk wilayah kekuasaan kami, dan kalian tidak boleh sembarangan saja melanggarnya dan membikin kacau tanpa seijin kami. Dan sebelum susiok keluar dari pertapaannya, kami tidak mengijinkan siapapun juga mengganggu ketenteraman wilayah kami!”

Hai-tok marah sekali. “Eh, Hwesio-Hwesio cerewet! Sejak kapan kalian menguasai gunung? Yang menjadi milik kalian adalah bangunan kuil dan pekarangannya, bukan seluruh pegunungan ini!”

“Pinceng tetap melarang!” bentak Thian Tek Hwesio, yang dibenarkan oleh Thian Kong Hwesio.

“Dan kami tetap akan mencari di sekitar sini!” Hai-tok juga membentak dan kedua pihak sudah saling melotot.

“Omitohud...! Harap kalian jangan bersikeras!” tiba-tiba Thian He Hwesio berkata kepada tiga orang sutenya. “Asalkan mereka itu tidak mengganggu ketenteraman kuil kita, kalau mereka mau mencari di pegunungan ini, apa salahnya?”

“Toa-suheng... kalau kita membiarkan saja datuk-datuk sesat berkeliaran di sini dan berbuat sesuka hati mereka, lalu apa akan kata dunia kang-ouw? Kita akan ditertawakan... dan dalam waktu singkat, semua golongan sesat akan datang berkeliaran di daerah kita tanpa minta perkenan kita terlebih dahulu.”

“Siancai, pinceng harap para sute akan menahan kesabaran diri,” kata pula Thian He Hwesio.

“Kita harus dapat membeda-bedakan orang. Bagaimanapun juga, kita mengetahui bahwa memang ada hubungan antara susiok dengan ketiga tamu ini. Asalkan mereka tidak mengganggu kuil dan tidak memasuki pagar tembok yang mengelilingi tempat kediaman kita, biarkanlah mereka mencari apa yang mereka namakan harta karun itu.”

Karena ketua Siauw-lim-pai sendiri yang berkata demikian, maka biarpun dengan muka muram dan tidak senang, Thian Tek Hwesio , Thian Kong Hwesio dan Thian Khi Hwesio tidak berani membantah lagi. San-tok, Tee-tok dan Hai-tok juga tidak memperdulikan mereka lagi.

Tanpa pamit, mereka yang juga merasa mendongkol karena tidak dapat berjumpa dengan Siauw-bin-hud, keluar dan pekarangan itu. Pintu gerbang depan segera ditutup oleh para Hwesio setelah mereka keluar, seolah-olah menjadi tanda bahwa setelah keluar, mereka sama sekali tidak diperkenankan untuk masuk lagi.

San-tok yang memimpin dua orang temannya, lalu mulai mencari-cari. Akan tetapi belum lama mereka berkeliaran di lereng pegunungan itu, tiba-tiba muncul tiga orang Hwesio yang bukan lain adalah Thian Kong Hwesio, Thian Tek Hwesio dan Thian Khi Hwesio! Melihat tiga orang Hwesio pembantu ketua Siauw-lim-pai yang tadi memperlihatkan sikap tidak setuju akan niat mereka untuk mencari harta pusaka di daerah itu, San-tok, Tee-tok dan Hai-tok memandang dengan marah.

“Mau apa lagi kalian bertiga datang menemui kami?” San-tok berkata dengan sikap marah, karena dia dapat menduga bahwa tiga orang Hwesio ini tentu datang bukan dengan maksud baik terhadap mereka.

“Kami datang untuk menyatakan bahwa kami merasa penasaran dan tidak setuju melihat kalian berkeliaran disini melanggar wilayah kami,” kata Thian Khi Hwesio.

“Eh? Kalian mau apa? Bukankah tadi ketua Siauw-lim-pai telah memberi persetujuan kepada kami?” bentak San-tok.

“Kalian jelas melanggar wilayah kami, akan tetapi karena toa-suheng yang menjadi ketua Siauw-lim-pai sudah memberikan persetujuan, kamipun tidak akan mengingkarinya. Akan tetapi hendaknya kalian bertiga mengetahui bahwa kami di Siauw-lim-pai mempunyai peraturan-peraturan! Satu di antaranya adalah bahwa siapapun yang hendak memaksakan kehendaknya melanggar peraturan Siauw-lim-pai, harus dapat mengalahkan kami lebih dulu.”

“Keparat! Kalian menantang kami?” bentak San-tok.

“Bukan menantang. Akan tetapi, kita semua semenjak kecil berkecimpung dalam dunia persilatan. Namun kami lebih suka mempergunakan perundingan dan jalan damai. Akan tetapi kalau perundingan dan jalan damai itu tidak dapat tercapai, terpaksa kami mempergunakan ilmu silat untuk menentukan. Nah. Sekarangpun menghadapi kalian, kami menemui jalan buntu dan hanya ilmu silat yang akan menentukah siapa di antara kita yang harus mengalah.”

“Maksudmu bagaimana, Hwesio?” bentak San-tok yang mewakili dua orang temannya.

“Mengingat bahwa kalian datang bertiga, kami pun datang bertiga. Mari kita tentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Kalau kalian dapat mengalahkan kami... kami akan mengalah dan membiarkan kalian berkeliaran di wilayah kami tanpa kami ganggu. Akan tetapi kalau kami dapat mengalahkah kalian, kami harap kalian pergi dan sini dan jangan mengganggu kami lagi.”

Tiga orang datuk sesat itu memang memiliki watak aneh dan suka sekali berkelahi. Kini, menghadap tantangan tiga orang Hwesio itu, timbul kegembiraan hati mereka untuk menguji. Mereka tahu bahwa sebagai pimpinan Siauw-lim-pai, tentu tiga orang itu memiliki ilmu silat yang lihai sekali. Akan tetapi mereka tidak takut, sebaliknya malah merasa gembira karena semakin tangguh pihak lawan, semakin menggembirakan.

“Baik... mari kita mulai saja!” Hai-tok sudah membentak, dan Kakek yang tinggi besar, mukanya merah dan bersikap gagah perkasa ini, sudah melangkah maju.

“Kita mau keroyokan tiga lawan tiga, ataukah satu lawan satu?”

Melihat Hai-tok yang bertubuh tinggi besar, Thian Kong Hwesio yang juga berperawakan tinggi besar sudah melangkah maju menghadapinya. “Tidak perlu...” katanya. “Kita bertanding satu lawan satu, dan karena jumlah kita masing-masing bertiga, maka tentu akan ada ketenTuan siapa kalah siapa menang.”

“Bgus!” kata Hai-tok. “Yang menang dua kali berarti menang. Nah, majulah, kita buka pertandingan ini!” Berkata demikian, Hai-tok sudah mengeluarkan tongkat emasnya, lalu berkata. “Kita bertangan kosong ataukah menggunakan senjata?”

Sikap ini dinilai gagah oleh lawannya. Thian Kong Hwesio , sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai, adalah seorang ahli ilmu silat tangan kosong, maka diapun cepat menjawab. “KaIian adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan susiok Siauw-bin-hud, dan kami menantang kalian bukan karena permusuhan, melainkan karena hendak menegakkan peraturan Siauw-lim-pai. Kita hanya mengadu ilmu, bukan mengadu nyawa, jadi sebaiknya tanpa senjata!”

“Ha-ha, dengan atau tanpa senjata, bagiku sama saja!” kata Hai-tok. Dan sekali menggerakkan tongkatnya, tongkat itupun meluncur ke samping dan menancap sampai menembus sebatang pohon yang besarnya dua kali manusia.

Melihat tenaga sambitan yang hebat ini, diam-diam Thian Khi Hwesio merasa kagum dan tahulah bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki tenaga kuat. “Nanti dulu!” tiba-tiba Thian Tek Hwesio yang pendek kecil berkata. Thian Tek Hwesio adalah orang terdekat dengan ketua Siauw-lim-pai dan sebagai kepala rumah tangga, tentu saja dia merupakan orang pertama yang bertanggung jawab terhadap pertandingan itu. “Karena kita tidak saling bermusuhan, maka pertandingan ini harus dibatasi. Masing-masing tiga puluh jurus saja, dan selama tiga puluh jurus, masing-masing tentu tahu siapa yang lebih kuat, asalkan mau jujur.”

“Ha-ha-ha! Tiga puluh jurus sudah cukup bagiku,” kata Hai-tok.

Dua orang Kakek bertubuh tinggi besar itu sudah saling berhadapan dan memasang kuda-kuda masing-masing. Empat orang Kakek yang lain menjadi penonton dan juga mencurahkan perhatian, karena merekapun dapat menjadi penilai yang baik untuk melihat siapa di antara kedua orang itu yang akan muncul sebagai pemenang. Bagi mereka yang sudah memilih tingkat kepandaian tinggi, menang kalahnya seseorang dalam pertandingan dapat mereka nilai dengan melihat jalannya pertandingan, walaupun belum ada yang roboh.

“Lihat serangan!” Hai-tok tanpa sungkan-sungkan lagi lalu membuka serangan, dan begitu menyerang, dia sudah memainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan, yaitu Thai-lek Kim-kong-jiu!

Hebat dan dahsyat sekali pukulannya ketika dia membuka serangan. Pukulan tangannya mendatangkan angin yang menyambar kuat, dan bahkan terdengar suara berdesing ketika tangan yang terbuka dan lebar itu meluncur ke arah dada lawan. Thian Kong Hwesio maklum akan kehebatan lawan, maka diapun cepat mengelak dan balas menyerang.

Terjadilah serang-menyerang dan keduanya ternyata mempergunakan tenaga sin-kang yang amat kuat sehingga angin menyambar-nyambar dan suara pukulan berdesingan. Keduanya sama-sama bersikap hati-hati dan selalu mengelak sehingga lewat dua puluh jurus, belum juga ada di antara mereka yang mengadu tenaga! Gerakan mereka begitu mantap sehingga semua pukulan dapat dielakkan dengan geseran-geseran dan langkah-langkah kaki yang tegap dan tepat.

Mereka berdua maklum bahwa karena semua serangan masing-masing tidak pernah menemui sasaran, maka biarpun sudah hampir mencapai tiga puluh jurus, di antara mereka belum ada yang nampak mendesak atau terdesak. Maka, tepat pada jurus ke tiga puluh, keduanya sengaja hendak mengadu tenaga.

“Haiiiitttt...!” Hai-tok Tang Kok Bu mengeluarkan suara melengking, dan kedua tangannya yang terbuka melakukan pukulan mendorong dengan pengerahan tenaga sin-kang dari Thai-lek Kim-kong-jiu!

Thian Kong Hwesio juga ingin mengambil penenTuan kalah menang, maka diapun mengeluarkan teriakan panjang. “Hiaaatttt...!” Dan kedua tangannya juga mendorong ke depan menyambut kedua tangan lawan.

“Bressss...!!” Dua tenaga yang dahsyat melalui dua pasang tangan itu, bertemu di udara dan akibatnya, dua orang Kakek tinggi besar itu terdorong mundur, masing-masing sampai lima langkah dan mereka berdua saling pandang dengan mata terbelalak dan muka sedikit pucat.

“Omitohud, engkau kuat sekali, Hai-tok!” kata Thian Kong Hwesio dan diapun menjatuhkan diri bersila dan memejamkan mata.

“Ahh, engkaupun tidak kalah kuat, Thian Kong Hwesio!” Hai-tok berkata sejujurnya dan diapun harus cepat bersila untuk menghimpun hawa murni agar jangan sampai menderita luka dalam yang parah akibat benturan tenaga raksasa tadi.

Empat orang Kakek yang lain dapat menilai bahwa dua orang Kakek tinggi besar itu sama kuat dalam pertandingan tadi. Thian Tek Hwesio lalu melangkah maju disambut oleh Tee-tok. Memang lucu pertandingan itu. Kalau tadi Thian Kong Hwesio yang tinggi besar ditandingi oleh Hai-tok yang juga bertubuh tinggi besar, maka kini Thian Tek Hwesio yang kecil pendek ditandingi pula oleh Tee-tok yang juga bertubuh kecil pendek!

“Wah, aku tidak bisa meninggalkan tongkat butut dan tasbehku seperti yang dilakukan Hai-tok tadi. Maka, Hwesio yang baik, perkenankan aku tetap memegang tasbeh dan tongkatku ini,” kata Tee-tok kepada Thian Tek Hwesio.

“Silahkan. Bagi pinceng, sama saja bahayanya kaki tanganmu dan kedua senjatamu itu,” jawab Hwesio kecil pendek itu yang sudah memasang kuda-kuda.

“Bgus! Engkau jujur, Hwesio! Sambutlah ini!” Tee-tok juga tanpa sungkan-sungkan lagi sudah menyerang dan tongkat butut hitam itu sudah lenyap berubah menjadi sinar hitam yang cepat sekali gerakannya, disusul sinar hitam tasbehnya yang mengirim serangan susulan! Hebat memang kecepatan gerakan dari Tee-tok ini.

Akan tetapi, dia memperoleh lawan yang seimbang, karena Thian Tek Hwesio yang menjadi kepala rumah tangga kuil Siauw-lim-si itupun terkenal sekali karena ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang istimewa. Dan tubuh mereka berkelebatan ketika mereka saling serang, sukar diikuti oleh pandang mata orang biasa. Hanya empat orang Kakek teman mereka saja yang mampu mengikuti jalannya pertandingan itu.

Dua orang Kakek pendek kecil itu memang memiliki kecepatan gerakan yang sama, dan mereka juga saling serang dengan seimbang. Tee-tok memainkah ilmu tongkatnya yang hebat, yaitu Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa). Dan biarpun susah sekali baginya untuk dapat mendesak lawan, akan tetapi serangan berganda dengan tasbeh dan tongkatnya, pada jurus ketiga puluh, membuat tongkatnya berhasil merobek ujung jubah yang dipakai Thian Tek Hwesio! Keduanya lalu melompat ke belakang.

Dan Thian Tek Hwesio menjura sambil berkata. “Pin-ceng mengaku kalah.”

Sebetulnya, kalau mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh sebagai dua orang musuh, tidak akan mudah bagi Tee-tok untuk dapat mencapai kemenangan. Dan tongkatnya yang berhasil merobek jubah tadipun belum dapat dianggap sebagai kemenagan, karena robeknya baju tidak membahayakan diri pemakainya.

Namun, Thian Tek Hwesio dengan jujur mengaku kalah, karena betapapun juga, dia belum dapat melakukan apa-apa sedangkan bajunya sudah robek. Hal ini dapat diartikan bahwa dia terdesak dan kalah cepat oleh gerakan tongkat, sehingga tidak mampu menghindarkan ujung bajunya dari sambaran tongkat. Kini Thian Khi Hwesio melompat maju, dihadapi oleh San-tok yang tersenyum.

“Thian Khi Hwesio ... engkau harus dapat mengalahkan aku, baru keadaan kita sama. Kalau tidak, berarti pihak kalian yang kalah, dan kalian harus memperbolehkan kami mencari harta itu di sekitar pegunungan ini tanpa gangguan orang-orang Siauw-lim-pai.”

“Hemm, majulah, San-tok... dan kita sama lihat saja!” kata Hwesio itu sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. San-tok juga mengeluarkan kipasnya, senjatanya yang paling istimewa dan diapun mengeluarkan bentakan lalu menyerang terlebih dahulu. Kipasnya menyambar dahsyat ke arah muka lawan, disusul totokan gagang kipas yang menghunjam ke bawah menuju dada.

Akan tetapi, dengan gesit dan mantap, Thian Khi Hwesio dapat mengelak, lalu membalas serangan itu dengan jurus silat Harimau. Kedua tangannya mencakar-cakar dengan dahsyatnya, bahkan dikombinasikan dengan tendangan-tendangan maut. San-tok harus memainkan kipasnya dengan cepat, dan diapun segera mainkan Pek-liong Kwi-san (Kipas Setan Naga Putih).

Kipas itu menyambar-nyambar ganas, dan biarpun Thian Khi Hwesio mampu menangkis dan mengelak, namun dia tidak memperoleh banyak kesempatan untuk balas menyerang. Tiga kali serangan San-tok hanya dapat dibalasnya dengan sekali serangan saja, itupun tidak begitu berbahaya. Oleh karena itu, walau dia satu kalipun belum pernah terkena serangan San-tok yang bertubi-tubi datangnya.

Setelah lewat tiga puluh jurus, Thian Khi Hwesio melompat ke belakang dan berkata. “Pinceng mengaku kalah!”

Melihat sikap tiga orang Hwesio itu, San-tok dan dua orang temannya lalu menjura pula, dan San-tok berkata dengan suara lantang. “Ilmu kepandaian sam-wi tidak banyak selisihnya dengan tingkat kami, akan tetapi yang amat mengagumkan hati kami adalah kejujuran yang sam-wi miliki. Kejujuran seperti itu merupakan suatu kegagahan tersendiri yang amat mengagumkan dan belum tentu kami miliki.”

Setelah tiga orang Hwesio itu pergi, tiga orang Kakek datuk sesat ini lalu mulai mempelajari lagi isi peta kuno yang dibawa oleh San-tok. Mereka mendaki sebuah puncak terdekat, dan dari tempat ini mereka dapat melihat keadaan kuil Siauw-lim-si dan daerah sekitarnya. San-tok mengeluarkan petanya dan mereka bertiga bersama-sama mempelajari isi peta.

“Lihat...” kata San-tok sambil mempelajari peta.

“Disini jelas ditunjukkan bahwa batu besar yang berada di depan kuil itu menjadi pusat pengukuran. Tanda panah dan tempat batu itu terletak, menunjuk ke kiri, berarti ke arah belakang kuil. Disini tertulis bahwa dari tanda panah ini, kita harus menempuh jarak lima ratus tombak. Berarti dari depan pintu gerbang, tempat batu itu terletak, kita harus menuju ke belakang sejauh kurang lebih setengah li. Dan melihat bahwa dalamnya kuil itu paling banyak seperempat li, jadi kita akan tiba di belakang kebun kuil itu, padahal di sana yang nampak hanya satu bukit batu!”

“Dan kita tidak mungkin melakukan penyelidikan ke sana, karena kita harus memasuki daerah kuil sebelah dalam tembok pagar. Dan mereka tentu sudah melakukan penjagaan ketat sehingga tak mungkin kita menyusup masuk.” Kata Hai-tok dengan alis berkerut.

“Menurut petunjuk peta, jelas bahwa tempat rahasia itu berada di belakang kebun kuil itu, di daerah bukit batu. Mungkin tersembunyi di sebuah guha, atau setidaknya tentu berada di dalam bukit itu. Bagaimana kita dapat menyelidiki ke sana?” tanya pula Tee-tok.

“Tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara, haruslah kita mencari jalan melalui tebing-tebing karang di belakang kuil!” kata San-tok.

“Wah, mana mungkin? Di sana hanya ada tebing-tebing karang yang curam, penuh dengan guha-guha yang berbahaya.” Tee-tok membantah.

“Justeru guha-guha itulah yang harus kita selidiki! Siapa tahu kita dapat membuat jalan tembusan dari guha-guha itu langsung saja ke selatan menuju ke arah yang ditunjuk peta ini, yaitu di belakang kebun kuil. Mari kita selidiki!” kata San-tok, dan merekapun lalu menuju ke sebelah utara atau sebelah belakang daerah bangunan kuil dan kebunnya.

Memang tidak mudah mencapai tempat itu, yang merupakan tebing curam penuh dengan batu-batu besar dan guha-guha. Mereka segera melakukan penyelidikan. Guha-guha yang banyak terdapat di situ mereka masuki satu demi satu. Akan tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Sampai beberapa hari lamanya mereka melakukan penyelidikan tanpa hasil.

“Tidak ada lain jalan, kita harus membuat terowongan dari dalam guha yang sekiranya tepat menuju ke belakang kebun kuil. Kita harus mencari jalan menembus sampai ke belakang kuil itu,” kata San-tok.

Dua orang temannya setuju karena agaknya hanya itulah jalan satu-satunya. Mulailah tiga orang Kakek itu bekerja keras, menggunakan kepandaian dan kekuatan mereka untuk membongkar batu-batu dan membuat jalan terowongan dari dalam sebuah guha menuju ke selatan, ke arah kuil! Mereka tidak tahu betapa dalam dan jauhnya mereka harus membongkar tanah dan batu, namun mereka bekerja tak mengenal lelah dan pantang mundur. Pada suatu pagi, ketika tiga orang Kakek itu mulai melanjutkan pekerjaan mereka yang berat, tiba-tiba berkelebat bayangan orang.

“Suhu!” Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi menjadi girang ketika mengenal gadis yang datang adalah Lian Hong, murid San-tok. Dua orang Kakek yang lain juga merasa girang. Mereka percaya penuh kepada murid San-tok ini, karena pedang Giok-liong-kiam yang aseli, yang mengandung peta itupun adalah hasil usaha Lian Hong yang mencarinya.

“Di mana Kui Eng? Kenapa ia tidak datang bersamamu?” tanya Tee-tok. Muridnya, Kui Eng, pergi bersama gadis ini dalam usaha mereka melakukan penyelidikan tentang keadaan di Kota Raja, ditemani oleh Ci Kong murid Siauw-bin-hud. Dan sekarang hanya Lian Hong seorang diri yang muncul dan menyusul ke tempat itu.

Dengan singkat Lian Hong menceritakan semua pengalamannya sampai mereka hampir celaka karena penyamaran mereka ketahuan. “Kami terpaksa berpencar mengambil jalan masing-masing agar memecah kekuatan para pengejar.” Lian Hong menutup penuturannya.

“Dan karena aku tahu bahwa suhu bertiga tentu menuju ke sekitar daerah kuil Siauw-lim-si, maka aku segera menyusul ke sini.”

“Huh, gara-gara Siauw-bin-hud tidak mau keluar dan kekerasan kepala para pimpinan Siauw-lim-pai, terpaksa kami harus membuat jalan terowongan yang begini sulit,” kata San-tok.

“Menurut Ci Kong, memang Locianpwe Siauw-bin-hud sedang bertapa. Akan tetapi, ada suatu hal penting yang kami dapatkan, suhu. Yaitu tentang usaha pemerintah Ceng yang diam-diam memasang mata-mata dimana-mana, menyebar orang-orang pandai untuk mengamati gerak-gerik kita semua. Bahkan mengambil siasat untuk membiarkan suhu bertiga mendapatkan harta karun itu, baru mereka akan turun tangan merampas. Karena itu, aku khawatir bahwa gerak-gerik suhu bertiga akan diintai musuh.”

Tiga orang Kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kau kira kami begitu bodoh untuk dapat membiarkan orang melakukan pengintaian terhadap kami?” kata San-tok.

“Jangan khawatir akan hal itu, Hong Hong. Sekarang kau bantulah kami dengan mencarikan alat-alat untuk membuat terowongan tembusan ini agar kami dapat bekerja lebih cepat.”

Lian Hong lalu pergi melaksanakan perintah gurunya. Dan dalam hal ini, tiga orang Kakek dan Empat Racun Dunia itu memang lengah dan terlalu mengagulkan diri sendiri. Mereka merasa aman dan yakin bahwa tidak ada orang berani mengamati mereka! Mereka terlalu memandang rendah pihak lawan, sehingga mereka sama sekali tidak tahu bahwa jauh sebelum mereka tiba di Siauw-lim-si, tempat itu sudah berada dalam pengawasan dan pengamatan orang siang malam!

Dengan sendirinya, semua gerak-gerik mereka semenjak mereka tiba di pegunungan itu, tidak lepas dan pengamatan orang. Setelah Lian Hong memperoleh alat-alat seperti sekop, linggis dan lain-lain, dan gadis itu membantu tiga orang Kakek, maka pekerjaan mereka dapat berjalan semakin lancar dan terowongan itu menjadi semakin dalam. Kurang lebih sebulan mereka bekerja dan akhirnya usaha merekapun berhasil!

Pada suatu siang, hantaman linggis mereka menjebolkan batu terakhir, dan merekapun tiba di tempat yang luas, ruangan bawah tanah yang amat luas! Tentu saja mereka menjadi girang bukan main. Dengan hati-hati, empat orang itu lalu merangkak memasuki lubang yang mereka buat itu ke dalam ruangan yang luas.

Ternyata ruangan luas itupun merupakan sebuah terowongan yang lebar dan dalam. Mereka bertiga, San-tok di depan, ditemani Lian Hong, sedangkan dua orang Kakek yang lain mengikuti di belakang, terus maju dan setelah mereka mengikuti jalan berbelok-belok dan naik-turun menelusuri guha yang merupakan terowongan berliku-liku, sampailah mereka pada sebuah ruangan besar berlantai batu-batu raksasa yang menonjol di antara jurang-jurang terjal di dalam perut gunung yang gelap.

Ada cahaya masuk melalui lorong-lorong yang nampaknya aneh dan amat besar, seperti berada di dalam bangunan raksasa saja. Beberapa garis sinar matahari yang menembus celah-celah dinding merupakan jendela-jendela raksasa yang menenerangi ruangan yang luas sekali itu. Dengan amat hati-hati, San-tok berlompatan dari batu ke batu, mengerahkan gin-kangnya, diikuti oleh Lian Hong, Tee-tok dan Hai-tok.

Mereka harus berhati-hati sekali, karena sekali terpeleset dari batu raksasa yang mereka injak, tubuh mereka akan terjatuh ke dalam jurang yang entah berapa dalamnya karena tidak nampak. Ruangan luas itupun penuh dengan halimun yang agaknya masuk pula melalui jendela, membuat tempat itu menjadi menyeramkan sekali.

Mereka berjalan terus ke depan, dengan amat hati-hati, dan tiba-tiba saja batu-batu besar yang mereka lalui itu terhenti dan terputus. Di depan mereka terdapat jurang menganga mengerikan. Dari depan nampak segaris cahaya yang aneh dan tiba-tiba San-tok berseru keras.

“Hei, lihat... siapa itu?” Semua orang memandang ke depan dengan mata terbelalak, karena penglihatan di depan mereka itu sungguh luar biasa sekali.

Nampak sebuah arca dari batu yang amat besar, tinggi dan besarnya ada lima orang. Arca seorang Kakek berkepala gundul akan tetapi mukanya penuh kumis dan brewok, berwibawa, dan nampak betapa arca itu adalah arca seorang Kakek yang tentu berilmu tinggi. Arca itu duduk dengan kedua telapak kaki saling bertemu, dan kedua tangan di atas pangkuan.

Dan di antara kedua tangan raksasa itu terdapat sebuah peti kuning. Yang amat mengherankan hati empat orang itu adalah ketika melihat seorang Kakek gundul bertubuh gendut duduk bersila di belakang peti, di atas pangkuan arca, dan Kakek itu bukan lain adalah Siauw-bin-hud yang agaknya bersamadhi dengan wajah seperti biasa, cerah oleh senyumnya. Arca itu memang sangat luar biasa. Agaknya dibuat dari sebuah bukit batu karang, dipahat secara istimewa terus ke bawah.

Dan arca itu nampak duduk di atas batu karang yang persegi. Sulit dibayangkan bagaimana orang dapat membuat arca seperti itu! Antara batu-batu yang diinjak oleh empat orang itu dan batu persegi yang diduduki arca, terdapat jurang yang amat dalam, dan jaraknya tidak kurang dari se puluh meter. Melihat betapa Siauw-bin-hud sudah berada di tempat itu dan di depannya terdapat sebuah peti, tiga orang Kakek itu menjadi marah sekali.

Tanpa memeriksa sekalipun, mereka dapat menduga bahwa peti itulah yang dimaksudkan oleh tanda peta pusaka Giok-liong-kiam. Peti itulah yang berisi harta pusaka, dan ternyata Siauw-bin-hud telah berada di situ. Kakek Siauw-lim-pai itu ternyata telah mengkhianati mereka, telah lebih dahulu menentukan tempat rahasia itu dan agaknya bermaksud memiliki harta itu untuk diri sendiri.

“Hei, Siauw-bin-hud! Tidak kami sangka bahwa engkau telah mendahului kami, dan ternyata engkaupun sama saja dengan mereka yang memperebutkan harta, hendak memiliki sendiri harta pusaka itu. Engkau Hwesio palsu, tidak ada bedanya dengan Thian-tok!” Teriak San-tok dengan marah, dan hilanglah kebiasaannya yang suka bergembira dan berkelakar itu. Dia marah sekali, seperti juga Hai-tok dan Tee-tok.

“Siauw-bin-hud! Bicaramu tentang perjuangan melawan penjajah, kiranya hanya bual kosong belaka! Kami yang dikenal sebagai datuk-datuk sesat, kiranya masih lebih bersih dari pada kamu yang berkepala gundul dan berjubah pendeta!” teriak Hai-tok sambil mengepal tinju.

“Hei, Hwesio palsu Siauw-bin-hud, kalau engkau masih pura-pura tidur, kami terpaksa akan meloncat ke situ dan menghajar kepala gundulmu!” teriak Tee-tok sambil mengacung-acungkan tongkat bututnya.

Siauw-bin-hud membuka kedua matanya, dan mulutnya yang memang sudah tersenyum itu kini terbuka lebar, tersenyum cerah dan matanya memandang kepada empat orang itu bergantian. “Omitohud!” serunya seperti orang terheran-heran. “Bagaimana kalian bisa tiba di sini? Sungguh mengherankan!”

“Hwesio palsu! Jangan pakai pura-pura heran lagi! Kami bersusah payah, sebulan lebih membongkar batu-batu karena ulah pimpinan Siauw-lim-si, dan kini setelah kami berhasil sampai di sini, ternyata harta pusaka itu telah berada dalam pelukanmu. Katakan saja bahwa engkau menantang kami!” teriak San-tok. Tiga orang Kakek itu sungguh merasa marah bukan main, mengira bahwa Siauw-bin-hud sengaja mempermainkan mereka.

“Siancai! Pinceng sungguh tidak mengerti mengapa sikap kalian bertiga begitu marah-marah kepada pinceng? Nona, engkau yang masih muda dan tidak berkepala batu seperti mereka, coba ceritakan mengapa tiga orang tua bangka ini marah-marah seperti kemasukan setan.”

Lian Hong lebih percaya kepada Siauw-bin-hud dari pada tiga orang Kakek itu. Ia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalahpahaman di sini. Cepat ia menjura dan berkata dengan suara halus. “Locianpwe, harap diketahui bahwa tiga orang Locianpwe ini melakukan pencarian terhadap harta pusaka menurut petunjuk peta yang terdapat dalam Giok-liong-kiam aseli. Dan peta itu menunjukkan bahwa harta pusaka itu berada di sekitar tempat ini. Akan tetapi, ketika mereka datang ke kuil Siauw-lim-si hendak bertemu dengan Locianpwe, para pimpinan Siauw-lim-si menolak, bahkan mengajak ketiga Locianpwe ini mengadu ilmu.

“Kemudian, para pimpinan Siauw-lim-si hanya membolehkan kami mencari di luar tembok pagar pekarangan Siauw-lim-si. Terpaksa kami membongkar gunung melalui guha-guha di belakang kuil. Sebulan lebih kami bekerja mati-matian, dan hari ini berhasil menembus ke sini. Ternyata Locianpwe sudah berada disini dan... dan... harta itu... peti itu...”

Siauw-bin-hud tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Kiranya begitu? Sudah puluhan tahun tempat ini menjadi tempat pinceng bertapa! Tempat ini dahulu dibuat oleh sucouw Tat Mo Couwsu, bahkan arca itu kabarnya adalah arca dirinya. Pinceng seringkali berdekatan dengan arca ini dan juga peti ini, akan tetapi pinceng selalu menganggap peti ini hanya pelengkap saja dari arca.

“Hati pinceng tidak pernah dikotori keinginan akan harta, maka tidak pernah memeriksa apakah peti ini ada isinya ataukah tidak. Jadi kiranya, peti inikah yang dimaksudkan harta karun dalam rahasia Giok-liong-kiam itu? Ha-ha-ha-ha... sungguh lucu, bertahun-tahun setiap hari berada di depan pinceng!”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, disusul oleh letusan-letusan dan ledakan-ledakan yang mendatangkan suara bergema dan mengaung di tempat itu. Siauw-bin-hud yang melihat betapa ada peluru beterbangan dan hampir mengenai kepalanya, ia pun terkejut sekali.

“Omitohud...! Tempat ini kemasukan orang-orang jahat!” serunya, dan tiba-tiba tubuhnya sudah melayang ke depan, dan dia berdiri di dekat tiga orang Kakek dan Lian Hong.

Selagi mereka terheran dan terkejut, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan, nampak ratusan batang anak panah menyambar-nyambar ke arah kiri dari mana tadi datang peluru-peluru dan terdengar ledakan-ledakan.

“Pasukan pemerintah Ceng!” terdengar suara nyaring dan bergema di dalam ruangan bawah tanah itu.

“Kami yang lebih dulu menemukan harta karun!” Suara itu datang dari kiri, dan ketika empat orang Kakek dan Lian Hong memandang ke kiri, yang nampak hanyalah bayangan-bayangan orang bersembunyi di balik batu-batu dan nampak pula ujung senapan yang dipasangi bayonet. Beratus-ratus jumlahnya!

“Hei, kalian pasukan asing! Kami yang datang lebih dahulu dan harta pusaka itu adalah hak milik kami! Kalian orang-orang asing tidak berhak dan pergilah!” teriakan ini terdengar dari sebelah kanan.

Ketika lima orang itu memandang ke arah sana, di belakang batu-batu besar nampak ujung topi ratusan orang prajurit pemerintah Ceng yang bersenjata tombak, golok dan anak panah.

“Hemm, kita lihat saja siapa yang akan berhasil mendapatkan harta pusaka itu!”

Terdengar ledakan-ledakan senapan dari kiri yang dibalas dengan sama gencarnya oleh pihak tentara Ceng dengan anak panah mereka. Terjadilah pertempuran yang seru antara tembakan-tembakan senapan dan hujan anak panah dan kanan kiri.

Melihat ini, Siauw-bin-hud, San-tok, Tee-tok, Hai-tok dan Lian Hong, terpaksa harus berlari mencari tempat perlindungan di balik batu-batu besar. Sambaran peluru-peluru dan anak panah itu terlalu gencar dan terlalu berbahaya bagi mereka sekalipun. Setelah berada di tempat perlindungan di balik batu-batu besar, Siauw-bin-hud berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Omitohud, kiranya pasukan asing dan pasukan Ceng sudah menyerbu pula tempat ini. Agaknya pemerintah Ceng menyerbu melalui kuil, dan pasukan asing menyerbu melalui jalan terowongan yang kalian buat! Dan mereka semua hendak merebut peti itu! Anehnya, pinceng sendiri sama sekali tidak pernah menduga bahwa peti yang dipangku arca itulah yang terisi harta karun itu. Akan tetapi, benarkah itu?”

“Kurasa benar, Siauw-bin-hud. Menurut petunjuk peta yang disimpan sebagai rahasia pedang Giok-liong-kiam, memang di sinilah tempatnya. Dan dimana lagi disimpannya harta pusaka itu kalau tidak di dalam peti yang dipangku oleh arca besar itu?” kata San-tok dengan yakin.

Ruangan itu kini penuh asap dan ledakan-ledakan senapan. Keadaan menjadi gelap dan membuat mata terasa pedas, bahkan terdengar banyak di antara para pasukan kedua pihak batuk-batuk.

“Kita harus turun tangan,” bisik Siauw-bin-hud. “Kalau tidak, pertempuran itu tentu akan berlarut-larut dan akhirnya harta itu akan terjatuh ke tangan satu di antara mereka. Pinceng tidak boleh menentang pasukan Ceng, karena hal itu akan mengakibatkan dimusuhinya Siauw-lim-si yang memang sudah dianggap suka memberontak oleh pemerintah.

“Kini kita membagi tugas. Kalian bertiga, San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, menerjang ke kanan, hajar pasukan pemerintah Ceng agar mereka itu mundur, sedangkan pinceng dan nona ini akan mendesak pasukan asing agar mundur keluar dan sini. Kalau kita lakukan secara berbareng, tentu kedua pihak menjadi kacau dan mudah-mudahan berhasil mendesak mereka mundur. Dan setelah mereka mundur, kita mengambil peti itu dan pergi dari sini melalui jalan rahasia yang pinceng kenal.”

Tiga Kakek itu menganguk-ngangguk. “Rencanamu bagus sekali, Siauw-bin-hud. Dan maafkan persangkaan kami tadi...” kata San-tok.

Tiga orang Kakek itu lalu berloncatan dan menyelinap di antara batu-batu, lalu membuat sergapan ke kanan dimana berkumpul pasukan pemerintah Ceng yang ratusan orang banyaknya. Sebaliknya, Siauw-bin-hud ditemani oleh Lian Hong, menyelinap ke kiri dan mereka berdua juga melakukan penyergapan kepada pasukan asing. Terjadilah kekacauan di kedua pihak.

Biarpun Siauw-bin-hud dan Lian Hong hanya merobohkan para serdadu itu tanpa membunuh mereka, tidak seperti amukan tiga orang datuk sesat yang menyebar maut, namun para prajurit asing menjadi panik dan ketakutan ketika tiba-tiba saja teman-teman mereka roboh bergelimpangan tanpa mereka ketahui sebabnya.

Siaw-bin-hud dan Lian Hong bergerak dengan amat cepat dari balik batu-batu besar. Selagi keadaan di kedua pihak amat kacau karena amukan lima orang itu, dan ruangan menjadi semakin gelap oleh asap senapan, dari kanan menyelinap sesosok tubuh yang berpakaian seperti seorang prajurit pasukan Ceng. Akan tetapi gerakannya cepat bukan main ketika dia menyusup-nyusup itu.

Keadaan demikian kacau sehingga tidak ada yang melihat gerakan sosok tubuh ini, apalagi ketika orang itu kadang-kadang melepaskan sebuah benda yang mengeluarkan asap yang menyakitkan mata. Orang itu terus menyelinap, dan dengan loncatan ringan dia menyeberang dan tiba di atas batu persegi yang diduduki arca. Dia menyelinap di dalam lubang di antara kaki arca dari mana keluar cahaya matahari, dan lenyaplah tubuhnya masuk ke bawah arca!

Sementara itu, pertempuran masih terus berlangsung dengan hebatnya. Pihak pasukan asing mengira bahwa yang merobohkan banyak prajurit secara aneh dan bersembunyi itu tentulah orang-orang pandai yang berpihak kepada pasukan Ceng, sebaliknya pasukan Ceng yang diamuk oleh tiga orang Kakek sakti itupun menduga bahwa orang-orang pandai itu tentu berpihak kepada pasukan asing.

Hal ini membuat kedua pihak merasa jerih. Terlalu banyak pasukan yang berada di depan sudah roboh. Apalagi pasukan tentara Ceng yang melihat betapa prajurit-prajurit mereka roboh dan tewas dalam keadaan yang mengerikan. Sementara itu, tak seorangpun melihat betapa sosok tubuh yang tadi menyelinap masuk ke bawah arca, kini sudah keluar lagi sambil membawa buntalan yang coba ditutupnya dengan baju prajuritnya.

Dan diapun dengan kecepatan luar biasa sudah menyelinap lagi di antara batu-batu dan menghilang ke arah kanan, dimana terdapat banyak sekali pasukan pemerintah Ceng. Peristiwa itu terjadi dengan amat cepatnya, tertutup oleh asap yang tebal, dan tidak ada orang melihatnya karena semua orang terlibat dalam pertempuran.

Serbuan yang dilakukan oleh lima orang itu membuat pasukan kedua pihak kocar-kacir dan akibatnya merekapun terpaksa keluar dari dalam ruangan itu sambil membawa teman-teman yang terluka dan meninggalkan teman-teman yang telah tewas.

Setelah kedua pihak mundur dan keluar dan ruangan yang semakin penuh dengan asap itu, Siauw-bin-hud lalu mengajak empat orang itu meloncat ke atas batu persegi. Mereka berlima lalu mendekati peti, dan Siauw-bin-hud dibantu oleh San-tok, membuka tutup peti.

“Omitohud!”

“Celaka...!” teriak San-tok ketika dia melihat bahwa peti itu telah kosong! Di dasar peti terdapat lubang yang agaknya baru saja dibuat orang! Dan yang tertinggal di dalam peti hanyalah sehelai kertas yang sudah tua sekali dengan tulisan huruf-huruf yang sudah kabur. Dengan suara jelas, Siauw-bin-hud membaca tulisan itu.

Kiranya tulisan kuno itu menyatakan bahwa sebanyak tiga perempat bagian harta karun itu telah dipergunakan untuk menyelamatkan banyak sekali orang ketika terjadi bencana kelaparan selama beberapa tahun di daerah barat, yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Surat itu ditandatangani oleh orang yang menamakan dirinya Ceng Sim (Hati Bersih).

“Diambil untuk menyelamatkan rakyat sebanyak tiga perempat, lalu mana sisanya yang seperempat lagi?” Hai-tok berseru dengan marah.

“Lihat! Lubang di dasar peti ini baru saja dibuat orang!” kata Siauw-bin-hud yang segera melakukan pemeriksaan.

“Hemm, dia tentu mengambil jalan melalui lubang di antara kaki arca ini. Ah, tentu ketika terjadi keributan tadi, dia telah melakukannya. Sungguh cerdik bukan main. Seperempat bagian itu masih banyak sekali kukira. Lihat, menurut surat-surat peninggalan ini, tiga perempat bagian saja dapat dipergunakan menyelamatkan orang-orang sebanyak berjuta-juta penduduk dari dua propinsi yang dilanda bencana kelaparan karena serangan belalang. Siapa yang berani mengambilnya?”

Tiga orang Kakek itu saling pandang. “Hemm... kalau kami tidak melihat sendiri engkau membantu kami menghalau pasukan, tentu kami akan menuduhmu main-main, Siauw-bin-hud,” kata Tee-tok.

“Tidak perlu tuduh-menuduh dalam hal ini,” kata Lian Hong. “Kalau Locianpwe Siauw-bin-hud hendak mengambil sendiri harta pusaka itu, tentu tidak perlu berpura-pura dan sudah lama membawanya pergi bersama petinya, dan tidak meninggalkan bekas-bekasnya. Tentu ada orang lain yang memanfaatkan keadaan ribut-ribut tadi untuk melarikan isi peti secara cerdik sekali.”

Tiga orang Kakek itu mengangguk dan Siauw-bin-hud menarik napas panjang. “Omitohud! Agaknya memang Tuhan belum menghendaki jatuhnya pemerintah penjajah Mancu, sehingga usaha kita mencari dana menjadi gagal di saat terakhir. Dan tempat ini menjadi kotor oleh pertempuran tadi. Lihat!” kata Siauw-bin-hud dengan muka penuh penyesalan. Dia menuding ke arah mayat yang bergelimpangan, ada puluhan banyaknya, baik yang tewas oleh amukan tiga orang Kakek itu maupun yang tewas oleh peluru dan anak panah.

“Mari kita keluar. Tempat ini harus diruntuhkan agar menjadi kuburan mereka.” Biarpun hati mereka merasa kesal dan kecewa karena harta pusaka itu ternyata sudah diambil orang, yang tiga perempat bagian sudah dipergunakan orang ratusan tahun yang lalu untuk menolong rakyat dari bencana kelaparan, dan yang seperempat, sisanya, baru saja dicuri orang yang lihai.

Namun tiga orang Kakek itu terpaksa mengikuti Siauw-bin-hud ke luar dari tempat itu mengambil jalan rahasia, sebuah terowongan kecil yang nampak setelah sebuah pintu rahasia di dinding batu itu terbuka. Mereka memasuki terowongan dan akhirnya keluar dari sebuah guha di belakang kuil.

Kakek pendeta itu lalu menarik sebuah rantai besar, dan segera terdengar suara gemuruh di dalam bukit itu, tanda bahwa tempat dimana terdapat arca raksasa tadi telah runtuh dan menimbun semua yang berada di dalamnya, termasuk mayat-mayat yang bergelimpangan. Pasukan Ceng dan pasukan asing yang melihat betapa pintu-pintu ke arah terowongan menjadi tertutup oleh batu-batu yang menggelinding keluar dari dalam ruangan, terkejut dan cepat menjauhi tempat itu.

Mereka kembali ke tempat masing-masing dengan tangan hampa, bahkan kehilangan banyak anggauta, terutama sekali pihak pasukan Ceng karena banyak anak buah mereka tewas oleh amukan tiga orang Kakek sakti. Setelah tiba di atas, San-tok, Lian Hong, Tee-tok dan Hai-tok lalu berpamit kepada Siauw-bin-hud.

“Usaha kita gagal, terpaksa kami akan bergerak menentang penjajah dengan kekuatan seadanya!” kata San-tok.

“Omitohud... pinceng juga menyesal sekali. Apalagi karena agaknya akan sukar untuk mencari siapa pencuri harta karun itu. Betapapun juga, pinceng akan menasihatkan para murid Siauw-lim-pai untuk menunjang gerakan kalian menentang pemerintah penjajah. Kalau seluruh rakyat dapat digerakkan, pinceng percaya bahwa pemerintah penjajah akan dapat digulingkan dan diusir dari tanah air. Pinceng yang sudah tua dan tidak mau bertempur lagi, hanya akan membantu dengan doa-doa pinceng.”

Merekapun pergi dan saling berpisah. San-tok pergi bersama muridnya, Tee-tok dan Hai-tok juga pergi dengan saling berjanji akan mengadakan kontak satu sama lain, dan terutama akan melakukan gerakan di selatan di daerah Kanton, dan di utara di daerah Propinsi Hok-kian.

Semenjak terjadinya peristiwa perebutan harta karun di ruangan dalam perut bukit di belakang kuil Siauw-lim-pai yang kemudian lenyap dicuri orang tanpa ada yang mengetahui, Maka pemberontakan terjadi dimana-mana.

San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, makin meramaikan pemberontakan. Juga murid-murid mereka tidak mau ketinggalan, menggerakkan orang-orang segolongan yang menentang pemerintah penjajah. Perang kecil-kecilan terjadi, pemberontakan berkobar-kobar dimana-mana.

Pasukan pemerintah Ceng menjadi sibuk sekali karena dimana-mana mereka menemui perlawanan dan tentangan. Bahkan pasukan kulit putih juga menjadi semakin terdesak karena sudah seringkali markas mereka diserbu pada malam hari yang gelap dan sunyi, apalagi kalau sedang hujan. Juga patroli-patroli mereka harus diperkuat karena seringnya pasukan kecil mereka disergap di dalam perjalanan di waktu malam.

Keadaan menjadi semakin kacau. Biarpun pemberontakan-pemberontakan kecil itu berdalih membela rakyat dan tanah air, namun akibat dari kekacauan-kekacauan yang timbul karena pemberontakan-pemberontakan itu, yang paling menderita adalah rakyat kecil! Pemerintah semakin mudah curiga sehingga banyak rakyat tidak berdosa menjadi korban keganasan pasukan pemerintah yang membabi buta.

Juga pihak pemberontak selalu mencurigai rakyat yang tidak berpihak kepada mereka, menuduh rakyat yang tidak memihak mereka sebagai mata-mata pemerintah penjajah, dan para pemberontak yang menamakan diri pejuang-pejuang itu tidak segan-segan untuk menyiksa atau bahkan membunuh mereka yang dituduh menjadi mata-mata.

Tak dapat disangkal lagi dan sudah terbukti berulang kali dalam sejarah di bagian manapun di dunia ini, setiap terjadi perang, apapun dalih perang itu, sudah pasti yang menjadi korban utama adalah rakyat jelata! Dan setiap terjadi perang, maka kekerasan merajalela, manusia-manusia menjadi mata gelap dan kehilangan perikemanusiaan mereka.

Yang ada hanyalah bunuh membunuh, dibunuh atau membunuh! Hukum tidak dihiraukan lagi. Keadilan dan kebenaran terinjak-injak. Yang ada hanyalah memperebutkan kemenangan dengan cara bagaimanapun juga. Perang merupakan peristiwa terkutuk dan menjadi puncak dari pada pelepasan nafsu keganasan manusia. Dengan amat cerdik dan liciknya, setan-setan perang membangkitkan semangat rakyat demi tanah air, demi bangsa.

Bahkan ada kalanya setan-setan perang mempergunakan bujukan demi agama, demi kebenaran dan demi keadilan! Betapa menyedihkan! Manusia saling membenci, saling bunuh demi agama yang sama sekali tidak membenarkan pembunuhan dan kebencian. Manusia saling membunuh demi kebenaran, padahal membunuh itu sudah menyimpang dari kebenaran. Semua ini menyedihkan, namun terjadi berulang kali sampai saat ini!


Semangat rakyat didorong menuju ke pemberontakan oleh ulah orang-orang kulit putih. Karena mereka, dengan persetujuan pemerintah Ceng yang lemah, kini semakin berkuasa dan merajalela di kota-kota besar dan bandar-bandar besar.

Pemerintah Ceng nampak semakin lemah saja menghadapi orang-orang kulit putih. Rakyat menjadi semakin tertekan dan kemarahan menimbulkan pemberontakan dimana-mana. Pada suatu sore di pelabuhan Kanton. Seperti biasa, puluhan orang, hampir seratus orang kuli yang masih muda-muda dan bertubuh tegap dan kuat, bekerja di pelabuhan, mengangkut barang-barang milik orang-orang kulit putih.

Ada yang menurunkan peti-peti dari kapal, ada pula yang mengangkat barang-barang rempah-rempah dan lain-lain ke atas kapal yang lain. Memang orang kulit putih memperoleh keuntungan besar dalam penjelajahan mereka ke daratan Cina. Mereka mendatangkan barang-barang dari luar negeri, mengangkut rempah-rempah dan sutera-sutera halus dari daratan dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Akan tetapi tidak seperti biasanya, kuli-kuli angkut itu nampak gelisah dan marah. Pagi tadi, ada dua orang di antara mereka yang ditahan dan dipukuli oleh serdadu kulit putih. Mereka itu ditangkap karena mencuri segulung kain sutera. Mereka ditangkap, mengaku sambil menangis bahwa mereka melakukan hal itu karena terpaksa, karena keponakan mereka sakit keras dan membutuhkan uang untuk pembeli obat. Dua orang itu adalah kakak beradik.

Para kuli gelisah karena sampai sore, dua orang itu belum dibebaskan dan menurut kabar, mereka itu dipukuli dan disiksa setengah mati. Akhirnya, mereka tidak tahan lagi, dan pada saat serdadu bule membunyikan bel tanda bahwa pekerjaan berakhir, mereka semua beramai-ramai menghadap ke kantor, menuntut agar dua orang yang ditahan itu dibebaskan.

“Mereka memang bersalah, akan tetapi mereka sudah menerima hukuman. Mereka boleh saja dikeluarkan, akan tetapi tidak perlu ditahan terus,” demikian tuntutan mereka.

Melihat kerumunan puluhan orang kuli itu di depan kantor, komandan jaga, seorang perwira muda kulit putih menjadi marah dan juga khawatir kalau-kalau mereka melakukan pemberontakan.

“Pergi kalian! Urusan dua orang tahanan itu adalah urusan kami, kalian tidak boleh mencampuri. Pergi atau kami akan menggunakan kekerasan!” bentak perwira itu.

Para kuli menjadi semakin penasaran. Mereka malah mogok, duduk di depan kantor dan mengacung-acungkan tinju. “Kami tidak akan pergi sebelum dua orang kawan kami dibebaskan!”

Mereka mulai berteriak-teriak dan hal ini membuat perwira itu menjadi panik. Dia segera menghubungi markas dan sekitar lima puluh orang bekas anak buah Harimau Terbang yang kini berada di bawah pimpinan Peter Dull, dikirim ke tempat kerusuhan itu. Peter Dull sendiri tidak muncul karena peristiwa itu dianggapnya remeh dan cukup untuk diselesaikan oleh sersan bule itu dan anak buahnya saja.

Ketika pasukan Harimau Terbang datang ke tempat itu, para kuli masih mogok duduk di depan kantor. Sersan bule lalu memerintahkan mereka pergi lagi. “Pergi kalian, kalau tidak, terpaksa kami akan bertindak!”

Lima orang di antara mereka yang menjadi pimpinan, bangkit dan mengacungkan tangan terkepal ke atas. “Kami tidak akan pergi tanpa dua orang kawan kami yang tertahan!”

“Tangkap lima orang itu!” perintah sang sersan, dan beberapa orang anggauta pasukan Harimau Terbang dengan sikap bengis lalu melangkah maju hendak menangkap lima orang itu.

Akan tetapi, para kuli yang jumlahnya hampir seratus orang itu serentak bangkit melindungi lima orang kawan mereka. Melihat ini, sersan itu menjadi marah. Dia mencabut pistolnya dan berteriak. “Hajar anjing-anjing pemberontak itu! Pukuli mereka sampai babak belur!”

Mendengar perintah ini, pasukan Harimau Terbang yang sikapnya seperti anjing-anjing pemburu yang diperintah majikan mereka, langsung saja menyerbu, dan karena mereka adalah orang-orang yang sudah dilatih ilmu silat dan sudah biasa berkelahi, maka biarpun kawanan kuli angkut itu bertubuh kuat dan nekat, tentu saja para kuli ini bukan lawan para pasukan Harimau Terbang.

Terjadilah perkelahian yang berat sebelah karena kuli-kuli angkut itu menderita pukulan-pukulan sampai mereka jatuh bangun. Sersan itu sendiri mengacung-acungkan pistolnya, siap membidik kalau dirinya diserang atau kalau sampai pasukankannya kalah. Hampir seratus orang kuli itu tentu akan luka-luka semua kalau saja pada saat itu tidak muncul seorang gadis yang mengamuk bagaikan seekor naga menyambar-nyambar!

Setiap kali tangannya menampar, kakinya menendang, tentu roboh seorang perajurit Harimau Terbang! Sepak terjangnya menggiriskan sekali! Padahal, ia adalah seorang gadis yang cantik manis, dengan sepasang mata yang amat tajam dan usianya belum ada dua puluh tahun. Ia adalah Ciu Kui Eng, gadis yatim piatu murid Tee-tok yang gagah perkasa itu.

Ketika tadi Kui Eng kebetulan lewat dan melihat perkelahian itu, ia segera tahu bahwa para kuli angkut sedang disiksa oleh pasukan orang-orang yang menjadi anjing penjilat orang kulit putih. Ia marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi, ia segera terjun ke dalam perkelahian dan mengamuk, merobohkan orang-orang berpakaian seragam bertopi kulit harimau itu.

Biarpun di antara anak buah pasukan itu yang pandai sudah mencoba untuk mengeroyok dan melawan Kui Eng dengan ilmu silat mereka, namun mereka itu masih jauh untuk dapat menandingi Kui Eng, sehingga dalam beberapa gebrakan saja, mereka itu satu demi satu dirobohkan oleh gadis perkasa itu!

Melihat betapa dalam waktu singkat, gadis yang mengamuk seperti kerbau gila itu sudah merobohkan belasan orang anak buah Harimau Terbang, sersan kulit putih itu terkejut bukan main. Tak disangkanya ada seorang gadis sedemikian hebatnya. Karena khawatir kalau-kalau pasukannya kalah semua, dia lalu membentak keras.

“Hai, tahan dan angkat tangan, kalau tidak, kutembak kau, gadis liar!”

Dimaki gadis liar, Kui Eng menjadi marah. Biarpun opsir itu membidikkan pistol kepadanya, ia tidak takut. Dengan gerakan gin-kang yang amat ringan, tubuhnya sudah meluncur ke depan, menghampiri opsir itu. Si sersan terkejut, ingin menembak, akan tetapi gerakan gadis itu terlalu cepat dan tubuh gadis itu meluncur seperti terbang, tahu-tahu sudah menubruk ke arah kakinya.

Opsir itu menendang, akan tetapi tidak cukup cepat dan tahu-tahu tubuhnya terjengkang dan pistolnya dirampas orang! Karena dia terbanting keras ke belakang, kepalanya menghantam tanah agak keras dan diapun terkulai, pingsan karena gegar otak! Kui Eng tidak membuang pistol itu, melainkan menyelipkan di pinggangnya dan iapun terus mengamuk. Orang-orang Harimau Terbang menjadi jerih dan mereka sudah berteriak-teriak agar ada yang melapor ke markas minta bala bantuan.

Kui Eng cukup cerdik. Ia tahu bahwa kalau bala bantuan datang, tentu ia dan para kuli itu akan celaka. “Cepat, kita lari!” teriaknya.

Kuli-kuli angkut itupun tahu diri. Mereka bergembira sekali karena memperoleh bantuan seorang gadis perkasa, dan mereka tadi juga melakukan perlawanan dengan semangat gigih sehingga banyak di antara mereka yang merasa puas sudah dapat menendangi anak buah pasukan Harimau Terbang.

Kini mendengar teriakan Kui Eng, mereka lalu melarikan diri sambil membawa teman-teman yang terluka, setelah tidak lupa menyerbu ke kantor dan membebaskan dua orang teman yang ditahan dan yang telah disiksa menderita luka-luka itu.

Melihat mereka berlarian, Kui Eng merasa khawatir. Melarikan diri bersama demikian banyaknya orang tidaklah mudah dan tentu keadaan mereka akan diketahui lawan. “Kemana kita lari?” teriaknya.

“Mari, Lihiap, ikuti kami!” teriak seorang di antara lima orang yang tadi bertindak sebagai pimpinan.

Mereka berlari terus melalui lorong-lorong dan kampung-kampung tempat tinggal penduduk yang miskin. Akhirnya, mereka memasuki sebuah rumah seperti gudang yang panjang dan tua. Ruangan yang panjang itu mereka masuki dan ternyata ada sebuah tangga turun menuju ke dalam ruangan bawah tanah yang juga panjang dan agak pengap.

Setelah mereka semua memasuki ruangan bawah tanah ini, pintu tembusan itu tertutup secara rahasia dan mereka itu yang berjumlah hampir seratus orang lalu minta agar Kui Eng suka memimpin mereka. Kui Eng berdiri di atas mimbar yang terbuat dan peti-peti ditumpuk dan lima orang pimpinan itu lalu berkata dengan suara keras.

“Mari kita mulai sekarang memberontak terhadap orang kulit putih!”

“Berontaaaakkk...!!” Semua orang mengacungkan kepalan tangan ke atas.

Seorang di antara lima pimpinan, yang tinggi besar dan bersikap kasar, tiba-tiba berseru. “Saudara-saudara, bagaimana kalau kita mengangkat Lihiap ini menjadi pimpinan kita? Akur atau tidak?”

“Akuuuurrr!” Semua orang bersorak dan mengepal tinju ke atas, memandang kepada Kui Eng dengan sinar mata kagum dan penuh harapan.

Kui Eng menjadi terkejut dan serba salah. Memang ia sendiri juga ditugaskan oleh suhunya untuk membantu pemberontakan, terutama pemberontakan terhadap pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi mana mungkin ia, seorang gadis, menjadi pemimpin sekelompok laki-laki yang bertubuh kuat dan bersikap kasar ini? Betapapun juga, ia tahu bahwa mereka ini dapat menjadi anak buah yang patuh dan nekat, dan kalau ia menolaknya, tentu akan melumpuhkan semangat mereka yang sedang berkobar.

“Nanti dulu, kawan-kawan...” kata Kui Eng sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Suasana segera menjadi sirap dan hening, semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Pertama-tama, aku ingin bertanya, mengapa kalian hendak memberontak? Bukankah selama ini kalian menjadi kuli-kuli angkut di kapal-kapal asing itu. Kenapa kalian secara mendadak lalu timbul keinginan untuk berontak?”

Si tinggi besar bermata lebar itu yang menjawab. “Lihiap, bolehkah saya mewakili semua kawan memberi jawaban?”

Melihat betapa semua orang mengangguk tanda setuju, Kui Eng berkata sambil memandang kepada orang tinggi besar itu. “Boleh, katakanlah.”

“Begini, Lihiap. Kami semua sejak dahulu, memang merupakan pekerja-pekerja kasar karena kami tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan halus. Kalau tidak terjadi sesuatu, agaknya kamipun tidak akan memberontak. Akan tetapi, akhir-akhir ini kami seringkali diperlakukan amat tidak adil dan semena-mena oleh orang-orang kulit putih dan antek-anteknya, terutama para anggauta pasukan Harimau Terbang itu.

“Dahulu, sebelum terjadi Perang Candu, kami masih dapat mengharapkan perlindungan dari alat-alat pemerintah. Akan tetapi sekarang, alat-alat pemerintah nampak tunduk pula terhadap orang-orang kulit putih. Kami tidak mempunyai pelindung lagi. Maka, kami mengambil keputusan untuk membentuk kesatuan dan pemberontak. Akan tetapi kami membutuhkan pimpinan, dan melihat betapa Lihiap memiliki kepandaian tinggi, dan sudah menolong kami, maka kami ingin sekali mengangkat Lihiap menjadi pemimpin kami.”

“Akurrr...!”

“Setuju...!”

“Hidup Lihiap...!”

Melihat orang-orang itu kesemuanya laki-laki muda dan gagah, memandang kepadanya dengan kegembiraan meluap, bahkan ada di antara mereka yang melahapnya dengan pandang mata, diam-diam Kui Eng merasa ngeri dan bergidik. Betapa mungkin dia akan hidup sebagai pemimpin di antara begini banyak pria yang setiap hari akan mengerumuni dan memandangnya dengan kekaguman yang kadang-kadang disertai nafsu dan gairah?

“Kawan-kawan, tenanglah dahulu,” katanya. Setelah semua orang tenang, ia melanjutkan, kata-katanya jelas dan tetap. “Aku tahu akan semangat kalian sedang terbakar, dan memang kita semua tidak suka melihat tanah air terjajah Bangsa Mancu, dan melihat orang-orang kulit putih semakin merajalela! Sudah sepatutnya kalau kita semua bangkit untuk membela bangsa dan tanah air.

“Akan tetapi, aku sudah terbiasa bergerak bebas di luar suatu perkumpulan. Bukan aku tidak mau membantu kalian, akan tetapi aku tidak mempunyai kecakapan untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, aku akan mengajarkan ilmu silat, beberapa jurus yang tangguh dan penting untuk kalian. Bagaimana?”

Riuh rendah sambutan mereka, ada yang setuju, ada yang tetap hendak mengangkat gadis cantik dan lihai itu sebagai pemimpin. Kembali Kui Eng mengangkat tangan ke atas minta mereka tenang.

“Karena tidak mungkin mengajarkan ilmu silat yang tangguh dalam waktu singkat kepada kalian semua, maka aku akan mengajarkan kepada lima orang pemimpin kalian ini saja, kemudian merekalah yang akan mengajarkan kembali kepada kalian. Menyesal sekali aku tidak dapat menjadi pemimpin kalian, karena aku sendiri masih terikat oleh tugas-tugas dari guruku.”

Orang-orang itu akhirnya tidak berani mendesak lagi dan hanya berteriak menanyakan nama gadis itu.

“Namaku Kui Eng,” kata Kui Eng sambil tersenyum, tidak berani memperkenalkan shenya. Siapa tahu mereka itu sudah pernah mendengar atau mengenal tentang Ayahnya yang pernah dimusuhi banyak orang karena mengedarkan madat! Dengan nama itu, semua orang mengira bahwa ia she Kui bernama Eng.

“Hidup Kui-Lihiap!” Terdengar teriakan berulang-ulang, dan Kui Eng membiarkan saja mereka salah duga terhadap namanya, ia lalu berunding dengan lima orang pimpinan para kuli yang memberontak itu.

Dan mulai hari itu, setiap hari untuk beberapa jam lamanya, Kui Eng datang ke tempat rahasia itu dan melatih lima orang itu dengan beberapa jurus ilmu silat yang tangguh. Ia memilih jurus-jurus yang praktis saja, yang akan menghasilkan kemenangan dalam perkelahian singkat melawan para perajurit musuh, baik perajurit pasukan Ceng maupun perajurit anak buah pasukan Harimau Terbang.

Karena kini kelompok bekas kuli angkut itu memiliki andalan, maka mereka dapat masuk bekerja kembali dengan muka berseri dan dada terangkat. Orang-orang kulit putih masih membutuhkan tenaga mereka, dan tidak mungkin dapat mengganggu mereka semua. Barang-barang itu perlu diangkat dari dan ke kapal. Maka para kuli itu, di samping kuli-kuli baru, masih diterima bekerja, walaupun pihak orang kulit putih mengadakan pengawasan dengan amat ketatnya.

Tentu saja dua orang yang pernah ditahan dan lima orang yang menjadi pimpinan, tidak berani memperlihatkan diri lagi. Dan kini, para kuli angkut itu bukan hanya bekerja untuk mencari uang, melainkan juga mencari kesempatan untuk melakukan pencurian, di samping diam-diam bekerja sebagai mata-mata untuk mengamati gerak-gerik orang kulit putih. Dalam catatan sejarah kelak, orang-orang yang bekerja sebagai kuli angkut inilah yang banyak membantu para pejuang dalam menentang orang-orang kulit putih.

Setelah memberi latihan selama beberapa bulan, akhirnya Kui Eng meninggalkan para kuli angkut itu. Akan tetapi walaupun ia tidak menjadi pimpinan mereka, nama Kui Eng atau Kui-Lihiap takkan pernah terlupa oleh mereka, sebagai seorang pendekar wanita perkasa yang mereka kagumi.

* * *

Orang yang berjalan seorang diri menuruni lereng gunung itu bertubuh jangkung kurus, akan tetapi tidak kelihatan kecil karena memang dia bertulang besar. Mukanya kehitaman dan matanya amat tajam seperti mata kucing. Pakaiannya juga serba hitam dan langkahnya tegap penuh wibawa, bahkan cara dia mengangkat mukanya yang kehitaman itu terbayang suatu kesombongan.

Akan tetapi, sepasang mata yang tajam itu kini dihias alis yang selalu berkerut, dan sinar mata yang tajam itu agak muram, mulutnya membayangkan kegelisahan dan kedukaan. Tiba-tiba dia berhenti melangkah dan tubuhnya menyelinap dengan cepatnya, lenyap di balik semak-semak. Akan tetapi, seorang gendut pendek yang muncul dari belakang sebatang pohon besar tertawa.

“Ha-ha-ha, sobat berpakaian hitam. Tak perlu kau bersembunyi, aku sudah tahu bahwa engkau berada di balik semak-semak itu. Keluarlah dan lebih baik engkau membagi hasil dengan aku, atau aku akan menangkapmu, ha-ha!” Orang jangkung berpakaian hitam itu keluar dan balik semak-semak. Mereka saling berhadapan. Dan kini orang pendek gendut itu kelihatan terkejut melihat muka yang kehitaman dengan sepasang mata yang amat tajam itu.

“Kau... kau siapa dan mengapa bersembunyi? kau tentu seorang kang-ouw, bukan?” Si gendut ini tadi hanya main-main, akan tetapi sekarang dia nampak jerih melihat sepasang mata itu. Mulut itu berkeriput dan sepasang mata yang tajam itu memancarkan sinar yang kejam.

“Tolol, ulahmu sendiri yang akan mengakhiri hidupmu. Aku sudah menghindarkan pertemuan, akan tetapi engkau memaksa aku keluar. Nah, mampuslah!” Si tinggi kurus itu menggerakkan tubuhnya.

Si pendek gendut terkejut dan mencabut golok sambil mengelak. Akan tetapi sia-sia belaka. Terdengar suara keras ketika goloknya terlempar dan tubuhnya terkulai, dan diapun sudah tewas karena pelipisnya, terkena tamparan tangan orang berpakaian serba hitam itu. Orang itu sejenak memandang tubuh korbannya yang sudah menjadi mayat, menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, lalu meloncat dan lari secepatnya meninggalkan mayat itu.

Sebentar saja dia sudah tiba di tempat yang amat jauh dari situ, baru dia berjalan lagi seenaknya. Ketika di depan nampak sebuah dusun, diapun memutar tubuhnya dan mengambil jalan menghindar pertemuan dengan dusun di depan. Orang berpakaian serba hitam itu adalah Koan Jit!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Koan Jit terpaksa melarikan diri dari markas pasukan Harimau Terbang yang diserbu oleh gurunya sendiri, yaitu Thian-tok bersama sutenya, Ong Siu Coan yang mengerahkan bekas anak buahnya dari Thian-te-pai yang setia kepadanya. Setelah mendengar berita bahwa Giok-liong-kiam yang berada di tangannya itu palsu, dia tersenyum masam dan hatinya menjadi semakin kecewa.

Pusakanya itu, bersama pusaka simpanannya lainnya, terampas oleh Thian-tok dalam penyerbuan itu, dia tidak punya apa-apa lagi. Kemudian dia menyebar berita desas-desus itu bahwa pusaka Giok-liong-kiam yang kini terampas oleh gurunya itu adalah pusaka palsu! Dia teringat akan keadaan di tempat rahasia dimana dia menyimpan pusaka-pusakanya ketika dia dipancing pergi oleh San-tok.

Tentu Kakek itu yang telah menukar pusakanya! Hatinya merasa penasaran sekali dan diapun menyebar berita bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangan Empat Racun Dunia, dan bahwa mereka itu hendak mencari harta karun dan pusaka itu untuk mereka pergunakan memberontak! Dengan penyebaran berita ini, dunia pun menjadi ramai, bahkan kini pihak pemerintah secara sungguh-sungguh mulai menyebar orang-orang pandai untuk merampas pusaka itu.

Demikian pula orang-orang kulit putih. Akan tetapi, balas dendam yang dilakukannya ini tetap saja tidak memuaskan hatinya. Dia gelisah sekali, gelisah karena duka dan kecewa, juga karena dia merasa kesepian, merasa sendirian. Dia merasa gagal dalam segala hal! Kedudukannya yang sudah baik di pasukan orang kulit putih telah terlepas dan tak mungkin dia kembali kepada orang kulit putih.

Sudah terdapat suatu perasaan tidak enak, bahkan bermusuh sejak dia membunuh sutenya sendiri, Gan Seng Bu. Dia tentu sedang dicari oleh pasukan orang kulit putih, dan kalau sampai tertangkap, tentu hukuman yang berat, mungkin hukuman mati tembak menantinya. Dia telah meninggalkan markas dalam keadaan kacau dan hancur. Membantu pemerintah Ceng? Tentu dia akan ditangkap pula. Pengabdiannya kepada orang kulit putih membuat dia dianggap sebagai pengkhianat, mungkin sebagai pemberontak pula.

Tidak mungkin dia tidak dapat membantu orang-orang Mancu, tidak mungkin dapat membantu pemerintah Ceng. Membantu para pemberontak? Juga tidak mungkin sama sekali. Selama ini dia malah membantai banyak pemberontak dengan pasukan Harimau Terbangnya. Bahkan Empat Racun Dunia memusuhinya. Juga semua orang kang-ouw memusuhinya, baik dan golongan sesat maupun golongan pendekar. Dia menjadi orang yang terasing.

Dia selalu merasa diamati orang, kemanapun dia pergi. Merasa terancam dan dimanapun dia berada, dia merasa tidak aman. Karena itu, dia selalu gelisah dan menyembunyikan diri, menghindarkan pertemuannya dengan siapapun. Koan Jit merasa hidupnya terhimpit. Dimana-mana dia dimusuhi orang, dan segala hal yang dipegangnya ternyata telah gagal.

Beberapa kali dia didorong oleh keinginan bunuh diri saja, namun dia tidak memiliki keberanian cukup besar untuk mengakhiri hidupnya, karena dia membayangkan betapa ngerinya dirinya akan menempuh keadaan yang tidak dikenalnya, keadaan sesudah mati yang kabur dan menakutkan. Dia merasa amat tersiksa. Hidup gelisah matipun takut.

Bukit itu menarik perhatiannya. Penuh dengan hutan-hutan yang subur dan dia melihat banyak tanaman-tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat hidup di daerah itu. Tempatnya sunyi dan sejak tadi dia tidak pernah melihat adanya orang di situ. Tempat yang baik sekali, pikirnya. Pemandangan alamnya juga indah, hawanya sejuk.

Tiba-tiba timbul pikirannya untuk tinggal di bukit itu. Diapun mulai mencari-cari tempat yang kiranya cocok untuk menjadi tempat tinggalnya, sementara atau seterusnya. Di sebuah dinding karang yang curam, dia melihat ada sebuah guha besar yang tertutup batu besar. Dia heran melihat batu itu.

Melihat tanda-tandanya, agaknya batu itu belum lama tergeser menutup guha. Dan celah-celah di tepi guha, dapat dilihat bahwa guha itu besar dan dapat menjadi tempat tinggal yang enak. Akan tetapi batu besar itu menutupinya. Koan Jit lalu menggulung lengan bajunya, dan dengan mengerahkan tenaganya, dia mendorong batu besar itu.

Memang hebat sekali tenaga Koan Jit. Batu itu perlahan-lahan tergeser ke pinggir dan nampaklah lubang guha itu, memang merupakan sebuah guha yang lebar dan amat dalam sehingga dari luar nampak gelap. Dia merasa girang sekali. Seperti telah diduganya tadi, guha itu luas dan enak untuk ditinggali. Dan batu besar itu dapat dipergunakan sebagai pintu sehingga tempat tinggalnya akan tertutup dan tidak dapat diganggu orang luar.

Akan tetapi dia harus memeriksa dulu keadaan guha. Setelah matanya terbiasa oleh keadaan dalam guha yang remang-remang, diapun masuk. Sebuah terowongan di ujung kanan guha itu diikutinya dan tibalah dia di sebuah ruangan dalam bukit itu, ruangan yang lebar dan enak karena sinar matahari dapat masuk dari atas dari celah-celah batu karang yang pecah. Hawa yang sejukpun masuk dan celah-celah itu.

Dan dia terkejut. Di ruangan itu terdapat seorang Kakek yang bertubuh gendut, sedang duduk bersila. Mula-mula dia mengira sebuah arca, akan tetapi dia terkejut karena melihat bahwa Kakek itu seperti gurunya, seperti Thian-tok! Ketika dia menghampiri dan memandang dengan teliti, ternyata Kakek itu bukan gurunya, melainkan seorang Hwesio gendut yang mirip gurunya, seorang Kakek Hwesio yang sudah amat tua.

“Omitohud, selamat datang, orang yang gagah perkasa. Apakah engkau juga sedang mencari tempat yang baik untuk menjernihkan batin?” Suara itu demikian lemah lembut, demikian ramah dan mengandung getaran suara yang selama hidupnya belum pernah didengar dan dirasakan Koan Jit.

Getaran itu menyentuh hatinya, getaran yang penuh kontak perasaan, penuh kasih sayang, seolah-olah dia mendengar suara Ayahnya atau ibunya sendiri. Dia sudah hampir lupa akan suara orang-orang yang mengasihi, karena sejak kecil dia sudah terpisah dan Ayah bundanya, dan semenjak kecil dia hidup di lingkungan orang-orang yang selalu mempergunakan kekerasan, dimana tidak pernah bergema suara yang mengandung kasih sayang. Oleh karena itu, mendengar suara ini, dia tertegun.

Akan tetapi, dia segera teringat bahwa di tempat ini terdapat orang yang akan mengenalnya, kemudian akan mengkhianatinya. Semua orang merupakan musuh baginya, merupakan ancaman bagi keselamatan dirinya. Maka, kemarahan dan kebencian menyelubungi hatinya, mengusir perasaan haru yang tergerak dalam hatinya mendengar kelembutan suara penuh kasih sayang tadi.

“Orang tua, aku sudah mengambil keputusan untuk membunuh setiap orang yang kujumpai. Tanpa kusengaja aku bertemu dengan engkau di sini, maka engkaupun akan kubunuh sekarang juga!” demikian katanya dengan bengis dan keren, sambil melangkah maju.

“Omitohud... orang muda yang gagah perkasa. Engkau kira engkau ini siapakah maka akan dapat membunuh yang hidup? Hidup dan mati bukanlah urusan pinceng, akan tetapi jangan engkau mengira bahwa engkau akan mampu membunuh kehidupan.

“Mungkin engkau akan dapat membunuh pinceng, akan tetapi yang mati hanyalah tubuh seorang Hwesio tua yang tiada artinya. Dan siapa bilang bahwa kematian akan mengakhiri segala duka? Siapa bilang bahwa dengan membunuh pinceng atau orang lain, engkau akan terlepas dari pada himpitan yang menekan batinmu itu...”

Mendengar ucapan itu, Koan Jit mengerutkan alisnya. Seperti diingatkan dia betapa membunuh banyak orang yang dijumpainya selama ini, sama sekali tidak melenyapkan kegelisahannya, bahkan menambah. Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat lain. Orang ini, seperti yang lain, harus dibunuhnya, kalau tidak, keselamatannya akan terancam.

“Hwesio tua... apapun pendapatmu, tetap saja engkau harus kubunuh. Itulah satu-satunya jalan bagiku! Tentu saja engkau boleh membela diri, karena melihat batu itu, aku percaya bahwa engkau seorang yang memiliki kepandaian. Nah, hanya engkau atau aku yang akan kalah dan mati. Bersiaplah!”

“Nanti dulu, orang muda. Sudah lama pinceng melepaskan nafsu membunuh, dan pinceng sudah merasa bosan untuk mempergunakan kepandaian dalam perkelahian yang tiada gunanya. Pinceng tidak akan melawan kalau engkau hendak membunuh pinceng, hanya pinceng tidak ingin ilmu baru yang pinceng ciptakan baru-baru ini akan lenyap begitu saja bersama pinceng.

“Oleh karena itu, sebelum engkau membunuhku, pinceng mempunyai sebuah permintaan, yaitu engkau terima dan warisilah ilmu baruku itu. Setelah itu, barulah pinceng akan dapat mati dengan tenang karena ilmu yang selama ini pinceng ciptakan dengan susah payah itu sudah diwarisi orang. Bagaimana?”

Mendengar permintaan ini, Koan Jit mengerutkan alisnya. Dia memiliki banyak musuh. Menghadapi Thian-tok saja, dan tentu juga tokoh-tokoh Empat Racun Dunia, dia tidak akan menang. Dia perlu memiliki ilmu-ilmu yang sakti dan dahsyat. Dia menduga bahwa Kakek ini tentu bukan orang sembarangan.

Dia akan melihat seperti apa ilmu itu. Kalau memang merupakan ilmu kesaktian yang dahsyat, tiada salahnya kalau dia mewarisinya. Sebaliknya kalau ternyata ilmu yang dangkal dan tiada gunanya, masih belum terlambat untuk membunuh Kakek itu. “Baiklah, aku suka menerima warisan ilmumu itu. Setelah itu, baru aku akan membunuhmu.”

“Siancai... legalah hati pinceng. Ilmu silat baru ini pinceng beri nama Ilmu Silat Kebahagiaan, hanya terdiri dari duabelas jurus. Nah, kau lihat baik-baik. Pinceng hendak memainkan duabelas jurus Ilmu Silat Kebahagiaan itu.”

Diam-diam Koan Jit merasa geli dan memandang rendah. Ilmu silat yang namanya aneh begitu, apalagi hanya duabelas jurus, ada apanya sih yang hebat...?

Jilid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.