Pedang Naga Kemala Jilid 27

Sonny Ogawa

Pedang Naga Kemala Jilid 27 karya Kho Ping Hoo - KALAU pedang itu terkena tendangannya, bahkan ada bahayanya akan terlepas dari pegangan pemiliknya. Namun, Ceng Hiang juga cerdik dan tahu betapa dahsyatnva tendangan itu, maka iapun melangkah mundur. Dan iapun kini dikeroyok tiga.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Biarpun Ciong-goanswe menganjurkan sepuluh orang pengawalnya untuk membantu puteri itu, tetap saja mereka tidak dapat maju karena gerakan empat orang yang sedang berkelahi itu luar biasa cepatnya, sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus terjun ke dalam arena perkelahian.

Setelah menemukan kitab Pek-seng Sin-pouw (Langkah Ajaib Seratus Bintang), Ceng Hiang kini walaupun dikeroyok tiga, selalu dapat menghindarkan diri dari setiap serangan dengan langkah-langkah aneh yang didapatkan dari kitab peninggalan Tat Mo Couwsu itu. Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan tiga orang yang amat lihai itu. Tentu saja ia berada dalam bahaya dan tidak mampu balas menyerang, melainkan hanya terus menghindarkan diri, mengandaikan langkah-langkah dan ilmu pedangnya.

Pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat, dan tahu-tahu Ci Kong telah menyerang Ciok Im Cu, sedangkan Lian Hong menyerang Ban Hwa Sengjin. Tadi, dua orang pendekar ini sejenak mengagumi kehebatan langkah-langkah ajaib yang dimainkan Ceng Hiang, kemudian Ci Kong yang khawatir akan keselamatan gadis bangsawan yang membuatnya tergila-gila itu, menerjang masuk dan diikuti cepat oleh Lian Hong.

Ciok Im Cu menyambut munculnya Ci Kong dengan pukulan ampuh tangan kirinya yang terkepal diikuti dorongan tangan kanan yang terbuka dan telapak tangan kanan itu, mengepul uap, dibarengi bentakan. “Robohlah, orang muda!”

Namun, Ci Kong adalah gemblengan Kakek tua renta Siauw-bin-hud, tentu saja selain memiliki ilmu silat Siauw-lim-pai yang amat kuat dan tenaga sin-kang yang dahsyat, juga memiliki tenaga batin yang mampu menolak pengaruh sihir yang dilontarkan Ciok Im Cu tadi. Dia mengerahkan sin-kang dan menyambut serangan kedua tangan lawan itu dengan dorongan yang kokoh kuat seperti batu karang.

“Desss!” Akibat pertemuan tenaga itu, tubuh Ciok Im Cu terdorong mundur dua langkah. Tentu saja Kakek Pek-lian-pai ini terkejut dan marah sekali. Dia menggerakkan tangan kiri ke dalam saku jubahnya, dan seuntai tasbeh putih telah berada di tangan kiri itu. Terdengar suara berkelitikan ketika tasbeh itu dia gerakkan, suara geseran antara biji-biji tasbeh, akan tetapi dasar seorang Kakek sihir, suara inipun mengandung pengaruh sihir yang ampuh.

Suara berkelitikan itu memasuki telinga lawan dengan suara yang nyaring dan mendatangkan rasa nyeri, bukan hanya di dalam telinga, bahkan sampai menembus ke dalam jantung. Namun, Ci Kong dapat menolaknya dengan kekuatan batinnya sehingga suara itu tidak mengganggunya. Ketika tasbeh itu berubah menjadi gulungan sinar putih menyambar ke arah kepalanya, diapun cepat mengelak sambil melepaskan tendangan dari samping mengarah lambung lawan.

Tosu tinggi kurus itu mampu mengelak, dan ketika tubuhnya ditarik ke belakang dengan kepala dicondongkan ke depan, tiba-tiba dia menggerakkan kepalanya dan jenggotnya yang panjang itu menyambar ke depan, seperti ujung kebutan saja menyerang ke arah mata Ci Kong.

Pemuda ini terkejut juga. Tak disangkanya bahwa tosu ini sedemikian lihainya, bahkan mampu menggunakan jenggot panjang itu sebagai senjata yang cukup berbahaya. Dia menarik muka ke belakang menghindar dan merekapun segera terlibat dalam perkelahian yang seru.

Sementara itu, Lian Hong sudah menerjang Ban Hwa Seng-jin dengan senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kipas yang kedua gagangnya berujung ranting. Sepasang gagang itu dengan kecepatan kilat menyambar ke arah leher si tosu gendut yang tadi sedang mengeroyok Ceng Hiang, sehingga Ban Hwa Seng-jin terkejut bukan main dan cepat dia melangkah mundur untuk menghindarkan diri.

Ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang gadis lain yang juga cantik manis, dia cepat mempergunakan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada Lian Hong. Ular yang melibat pergelangan tangan kirinya juga mengeluarkan suara mendesis dan menyemburkan uap beracun ke arah gadis itu.

Lian Hong tidak menjadi gugup menghadapi serangan ini, digerakkannya kipasnya, kipas terbuka dan menyambar ke depan, didahului oleh angin kebutan kipasnya yang membuat uap yang disemburkan ular itu membalut ke arah muka Ban Hwa Seng-jin sendiri. Dan secepat kilat kipas itu tertutup kembali dan kedua gagang yang sudah bersatu itu kini menusuk ke arah leher setelah berhasil menghalau tangan yang hendak mencengkeram tadi dengan totokan.

Kembali Ban Hwa Seng-jin terpaksa harus mengelak karena gerakan kipas itu sedemikian cepatnya sehingga tidak keburu untuk menghindarkan dengan tangkisan pula. Dia semakin kaget dan maklum bahwa lawannya ini lihai bukan main, maka sambil mengeluarkan suara menggereng, diapun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, dibantu oleh kedua ekor ularnya, melakukan serangan bertubi-tubi.

Namun semua serangan itu dapat dihindarkan oleh Lian Hong yang juga membalas dengan tidak kalah dahsyatnya. Dua orang inipun segera terlibat dalam perkelahian yang mati-matian.

Sementara itu, melihat munculnya Ci Kong dan Lian Hong, tentu saja Lee Song Kim terkejut bukan main. Hatinya merasa gentar sekali, karena dia maklum siapa adanya dua orang pendekar itu yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak kalah olehnya, apalagi Ci Kong. Celaka, pikirnya, dengan munculnya dua orang pendekar itu, biar dia dibantu oleh dua orang tosu, akhirnya dia dan teman-temannya akan kalah juga.

Dan kalau dia tertangkap oleh Jenderal Ciong Ti, tentu dia akan dihukum sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak. Maka tanpa banyak membuang waktu lagi, dia lalu meloncat ke belakang pada saat Ceng Hiang masih belum menyerangnya, karena tadi gadis ini didesak oleh pengeroyokan tiga orang lawan.

Melihat Song Kim, orang yang menyebabkan ditangkapnya Ayahnya itu meloncat dan lari, Ceng Hiang terkejut. “Keparat, mau lari kemana kau ?” bentaknya.

“Kejar dan tangkap dia!!” Ciong-goanswe juga berteriak, dan sepuluh orang pengawalnya sudah berloncatan dan lari mengejar. Mereka inilah yang mengganggu pengejaran Ceng Hiang.

Karena sepuluh orang itu mengejar lebih dahulu, kecepatan Ceng Hiang menjadi terhalang oleh mereka yang mengejar kalang kabut itu, dan ketika dia akhirnya keluar dan dalam kuil, Song Kim sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Ceng Hiang mencoba untuk mengejar dan mencari-cari, namun tidak berhasil sehingga gadis ini merasa marah, penasaran dan menyesal sekali. Ia segera kembali ke dalam kuil, dan ternyata perkelahian telah berhenti. Dua orang tosu itu telah roboh terluka dan ditangkap.

Ketika mendengar bahwa Song Kim dapat lolos, Jenderal Ciong Ti juga merasa kecewa dan penasaran, demikian pula Ci Kong dan Lian Hong. Akan tetapi dengan adanya dua orang tosu itu sebagai saksi akan pengkhianatan dan pemberontakan Lee Song Kim, Jenderal dong Ti berani mengeluarkan dan membebaskan Pangeran Cong Tiu Ong, karena memang pelapornya ternyata malah menjadi pengkhianat dan pelaporan itu hanya berdasarkan dendam dan usaha mengadu domba.

Pangeran Ceng Tiu Ong dibebaskan disertai pernyataan maaf dari Ciong Ti Goanswe. Lian Hong dan Ci Kong ikut pula menjemput Pangeran Ceng Tiu Ong yang dibebaskan dari di dalam gedung pangeran itu. Keluarga Ceng mengadakan perayaan untuk bergembira menyambut pembebasan pangeran itu. Yang hadir hanya anggauta keluarga, yang ikut bergembira hanya anggauta keluarga dan para pelayan.

Akan tetapi dua orang tamu itu, Ci Kong dan Lian Hong, dianggap sebagai tamu agung bahkan anggauta keluarga sendiri, dan mereka berdua ikut pula dalam pesta keluarga ini. Dalam kesempatan ini, Ceng Hiang menceritakan kepada Ayahnya dan keluarganya tentang jasa dua orang tamu itu yang berhasil membebaskan Ayahnya.

“Kalau tidak ada mereka, Ayah, sukarlah membebaskan Ayah. Mereka ini. Tan Ci Kong Toako, dan adik Siauw Lian Hong, adalah dua orang pendekar perkasa!” Pangeran Ceng Tiu Ong mengangguk-angguk dan mengucapkan terima kasih kepada dua pendekar muda itu.

“Aku sudah mendengar dari jenderal Ciong ketika dia membebaskan aku,” katanya.

“Memang ada usaha dari Yu Kiang yang menghubungi menteri, dan menteri sudah mendesak Jenderal Ciong yang masih terhitung saudara misan Menteri. Akan tetapi, menurut Jenderal Ciong, dia tidak atau belum berani mengambil keputusan untuk membebaskan aku. Baru setelah terbukti akan pengkhianatan dan pemberontakan Lee Song Kim, jenderal itu berani dan bertanggung jawab untuk membebaskan aku. Oya, mana Yu Kiang? Kenapa dia tidak diundang datang?”

Kedua pipi Ceng Hiang agak kemerahan ketika ditanya tentang orang yang bernama Yu Kiang itu oleh Ayahnya. “Dia berpamit untuk pergi menemui Menteri dan menghaturkan terima kasihnya, Ayah. Beberapa hari lagi tentu dia akan datang.”

Ci Kong dan Lian Hong tidak mencampuri percakapan mereka. Sebetulnya, Lian Hong sudah ingin pergi meninggalkan gedung pangeran itu, namun Ci Kong membujuknya untuk menerima undangan Ceng Hiang, selain untuk menyambut pulangnya Ayahnya dari tahanan, juga untuk tinggal selama beberapa hari di dalam rumah gedungnya.

“Kalau kalian tidak ingin memenuhi permintaanku kali ini, kapan lagi aku akan dapat berkumpul? Berjumpa pun akan sukar agaknya dengan kalian. Karena itu, dalam kesempatan ini biarkanlah aku bergaul dengan kalian, untuk menyatakan rasa syukur dan terima kasih kami.”

Demikian antara lain Ceng Hiang membujuk. Biarpun demikian, andaikata tidak ada Ci Kong yang segera menerima undangan itu, tentu Lian Hong akan memaksa diri pergi atau paling lama tinggal semalam saja di rumah gedung yang megah itu. Betapapun juga, Lian Hong tidak merasa menyesal telah menerima undangan Ceng Hiang, karena ia merasa menjadi tamu terhormat, tinggal di kamar yang mewah bersama sahabat barunya itu, setiap hari menikmati hidangan yang serba lezat dan mahal.

Keluarga Ceng, walaupun keluarga bangsawan, ternyata tidak tinggi hati dan semua ramah kepadanya, terutama sekali Ceng Hiang dan Pangeran Ceng Tiu Ong. Dan yang lebih dari semua itu, ia tinggal di dalam gedung itu bersama Ci Kong! Andaikata tidak ada Ci Kong di situ, ia masih sangsi apakah ia akan betah tinggal lama-lama di tempat yang indah mewah itu.

“Ceng Lihiap...”

Ceng Hiang sedang melamun di atas bangku di dalam tamannya itu. Ia melamun tentang Ci Kong. Semenjak bertemu dengan pemuda itu, apalagi pertemuan terakhir ini ketika pemuda itu bersama Lian Hong membantunya dan berhasil membebaskan Ayahnya, bayangan pemuda itu selalu mengganggunya. Pandang mata Ci Kong kepadanya, bicaranya, sikapnya, jelas sekali membayangkan gairah cinta! Ia tidak salah duga.

Ia melihat jelas betapa Ci Kong jatuh cinta padanya. Dan ia sendiri? Ah, ia tertarik sekali kepada Ci Kong. Gadis mana yang takkan kagum kepada pemuda itu? Selain memiliki wajah yang tampan, bentuk tubuh yang gagah, sikap yang ramah dan sopan, juga pemuda itu adalah seorang pendekar sakti yang rendah hati dan budiman. Seorang pendekar, murid terpandai dari Siauw-lim-pai yang mengagumkan.

Betapa akan mudahnya mengaku cinta kepada pemuda seperti itu! Selamanya ia sendiri belum pernah jatuh cinta, akan tetapi sudah banyak melihat pandang mata laki-laki penuh gairah cinta ditujukan kepadanya. Namun, baru sekaranglah pandang mata laki-laki seperti itu membuat ia termenung. Ci Kong cinta padanya, dan ia?

“Ceng Lihiap...”

Ceng Hiang sadar dan lamunannya. Tadipun ia sudah mendengar suara itu, akan tetapi suara itu memasuki lamunannya dan seolah-olah menjadi bagian dan lamunannya. Kini ia tersadar dan menengok. Dua pasang mata bertemu pandang. Matahari sudah turun ke barat, namun cahayanya yang redup masih menerangi taman itu.

“Aih, Tan-Toako...!” serunya sambil bangkit berdiri, namun jantungnya berdebar tegang. la sedang melamun tentang pemuda ini, dan tahu-tahu pemuda ini muncul di dalam taman itu, sendirian saja! Dan pandang matanya itu, begitu penuh dengan pancaran cinta kasih sehingga diam-diam ia merasa terharu dan tegang. Namun Ceng Hiang menekan perasaannya dan tersenyum ramah.

“Aih, Tan-Toako, engkau mengejutkan hatiku saja. Kenapa masih menyebut Lihiap padaku? Bukankah kita ini sudah menjadi sahahat baik, seperti kakak dengan adik saja?"

“Maaf, aku merasa janggal kalau harus menyebut adik. Kurasa sepantasnya aku menyebut Lihiap atau Siocia. Engkau engkau terlalu tinggi untukku.”

“Ah, jangan berkata demikian, Toako. Aku tidak merasa lebih tinggi atau engkau lebih rendah. Bagaimana aku bisa memandang rendah kepadamu, engkau yang sudah menolong keluarga kami dari malapetaka? Engkau sudah menyelamatkan kami, mungkin nyawa Ayah...”

Dengan suara gemetar Ci Kong berkata. “Demi engkau, aku rela berkorban nyawa sekalipun.” Sudah lama Ci Kong menanti-nanti kesempatan untuk mengucapkan kalimat ini. Dan kini kesempatan itu tiba, maka dia mengucapkannya dengan suara menggetar.

Dan Ceng Hiang mendengarkan dengan hati terharu. Ia tidak merasa terkejut maupun heran, karena ia sudah dapat menduga akan isi hati pemuda ini. Akan tetapi tidak disangkanya bahwa pemuda ini sekarang akan berterus terang tentang perasaannya.

“Aihh, sudahlah, Toako. Aku sudah tahu akan kemuliaan hatimu. Engkau seorang pendekar budiman yang akan merelakan nyawa demi membela kebenaran dan keadilan, dan mengulurkan tangan untuk menolong siapa saja. Nah, sekarang katakan. Hanya kebetulan saja engkau memasuki taman ini untuk menikmati bunga, ataukah ada keperluan lain dengan aku?”

“Maaf kalau aku mengganggumu. Terus terang saja, aku sudah menunggu-nunggu kesempatan ini, untuk dapat bicara berdua saja denganmu.”

Ceng Hiang masih berpura-pura tidak tahu. “Aih, engkau aneh, Tan-Toako. Bicara berdua saja denganku? Wah, ada rahasia apakah ini? Mari duduk, dan bicaralah.” Ceng Hiang sebetulnya merasa tegang hatinya dan kedua kakinya agak menggigil, maka iapun menjatuhkan diri duduk kembali di atas bangku.

Ci Kong tidak duduk, melainkan berdiri di depannya. Jantung di dalam dada pemuda ini berdebar keras, wajahnya menjadi agak pucat akan tetapi dia memaksa diri, mengisi hatinya dengan keberanian yang dianggapnya nekat, dan diapun berkata, suaranya lirih dan agak gemetar.

“Maaf, Ceng-Lihiap... terus terang saja, sejak pertemuan kita yang pertama kali dahulu itu, lalu disambung pertemuan berikutnya, aku seperti tergila-gila kepadamu. Wajahmu yang cantik, suaramu, gerak-gerikmu, semua terbayang di depan mata setiap saat, sukar bagiku untuk melupakannya. Ahh, bisa gila aku kalau perasaan ini terus kutahan-tahan, karena itu... melihat kesempatan ini, biarlah aku berterus terang saja. Aku... aku cinta padamu, Lihiap...”

Suasana menjadi hening sekali setelah Ci Kong berhenti bicara. Pemuda itu masih berdiri di depan gadis itu, menunduk dan memandang wajah itu dengan sinar mata penuh harap, namun juga penuh kegelisahan, karena baginya agaknya tidak mungkin puteri pangeran itu dapat cinta kepada semang miskin seperti dia.

Sementara itu, sejenak Ceng Hiang memandang wajah pemuda itu. Pernyataan cinta yang terang-terangan itu sebenarnya tidak mengejutkan hatinya, namun setelah diucapkan oleh Ci Kong, dara ini menjadi lemas dan bingung juga. Ia lalu menundukkan mukanya, bahkan menutupi muka itu dengan kedua tangannya untuk menenangkan hatinya. Gerakan ini diterima salah oleh Ci Kong.

“Ceng-Lihiap... kalau kata-kataku menyinggungmu, maafkan aku... memang tidak pantas bagi seorang rendah seperti aku berani menyatakan cinta kepada seorang Siocia sepertimu...”

“Tidak! Jangan kau berkata begitu, Toako!” Ceng Hiang bangkit berdiri dan karena Ci Kong berdiri di depannya, ketika ia bangkit berdiri, mereka berdiri berdekatan sekali. Sejenak keduanya seperti terpesona oleh keadaan ini, demikian berdekatan sehingga mereka dapat mencium bau badan masing-masing.

Seperti didorong oleh sesuatu, Ci Kong mengulur kedua lengannya dan tahu-tahu Ceng Hiang telah berada di dalam rangkulannya! Akan tetapi hanya sebentar saja Ceng Hiang membiarkan dirinya hanyut oleh perasaannya, terbuai oleh alunan perasaan. Ia segera dengan lembut melepaskan rangkulan Ci Kong dan menjauh sampai tiga langkah, kemudian ia mengangkat muka memandang wajah pemuda itu.

“Tan-Toako, selama ini engkau kuanggap sebagai seorang sahabat yang teramat baik, dan aku suka kepadamu, kagum kepadamu sebagai seorang pendekar yang budiman dan berilmu tinggi. Akan tetapi tentang cinta? Ah, aku tidak tahu, Toako. Pernyataanmu begitu tiba-tiba sehingga membingungkan hati.”

“Maafkan aku, seperti kukatakan tadi, aku dapat menjadi gila kalau terus menerus menahan perasaan tanpa kunyatakan. Sekarang hatiku sudah lega, Lihiap. Kalau engkau menerima cintaku dan membalasnya, aku akan menjadi seorang manusia yang paling berbahagia di dunia ini. Andaikata sebaliknya, andaikan engkau tidak menerimanya dan tidak ada perasaan cinta kepadaku, akupun tidak akan sakit hati, tidak akan menyalahkanmu, karena hal itu adalah wajar saja.

"Nah, aku mohon diri dan maafkan sebesarnya, Lihiap. Aku hanya akan menanti, menanti keputusanmu seperti ladang yang kekeringan menanti turunnya hujan. Malam ini telah terlaksana apa yang kurasakan selama ini, hatiku terasa lega, dadaku terasa lapang, aku minta diri untuk berada di luar gedung semalam ini. Selamat sore, Lihiap.”

Ci Kong lalu membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari taman itu, dadanya memang serasa lapang setelah dia menyatakan cintanya, seolah-olah beban yang terangkat dan dalam dadanya. Dia tidak tahu betapa Ceng Hiang tetap duduk melamun di dalam tamannya setelahnya pergi. Ceng Hiang duduk seperti tadi sebelum Ci Kong datang, akan tetapi kini wajahnya nampak agak muram. Terjadi perang di dalam batinnya. Harus diakuinya bahwa tadi hampir saja ia tenggelam.

Ia sudah hanyut dan betapa indahnya menempuh kehidupan ini selanjutnya berdua dengan seorang pria seperti Ci Kong! Betapa mudahnya melepaskan segala penghalang dan menjatuhkan diri dalam pelukan Ci Kong, membiarkan diri dan hati mencinta pemuda itu. Akan tetapi, sudah hampir dua tahun ia telah dijodohkan, walaupun belum diterimanya secara resmi, dengan putera seorang pembesar tinggi, seorang pemuda bangsawan yang sebenarnya harus diakui cukup baik.

Yu Kiang, demikian nama pria itu, adalah seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun. Seorang pemuda yang terpelajar tinggi, pandai dalam urusan kenegaraan, halus budi pekertinya, berbudi dan adil seperti Ayahnya. Seorang pemuda pilihan. Ia belum pernah menyatakan persetujuannya, namun iapun belum pernah menolak kehendak Ayahnya dalam pilihan calon mantu bagi Ayahnya ini.

Dan sikap Yu Kiang amat baik, tak pernah terlalu mendesak, menanti dengan penuh kesabaran dalam cintanya. Hubungan Yu Kiang dengan keluarga Ceng amat akrabnya, dan dia sering kali datang berkunjung. Namun sikapnya terhadap Ceng Hiang selalu sopan, seperti seorang sahabat lama yang baik. Dan harus diakuinya bahwa Ceng Hiang banyak mendapat penambahan pengetahuan dari Yu Kiang. Hanya dalam hal ilmu silat sajalah Ceng Hiang menang, dan pemuda itu yang hanya menganggap ilmu silat sebagai olah raga belaka.

Namun dalam hal lain, dalam pengetahuan umum, Ceng Hiang boleh menjadi muridnya! Dan kini muncul Ci Kong. Biarpun Ayahnya juga amat kagum kepada Ci Kong, namun ia merasa yakin bahwa Ayahnya pasti takkan setuju kalau ia memutuskan hubungan dengan Yu Kiang lalu menerima cinta Ci Kong, menerima pemuda itu untuk menjadi calon suaminya.

Tiba-tiba ia mendengar suara gerakan di belakangnya. Sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, Ceng Hiang dapat melompat ke depan sambil memutar tubuh untuk melihat siapa yang muncul secara mencurigakan di belakangnya itu. Dan ternyata yang muncul adalah Lian Hong. Akan tetapi hampir tidak mengenal lagi gadis itu. Muka gadis itu pucat, rambutnya kusut, bekas-bekas air mata nampak jelas di kedua pipinya, matanya agak merah dan membengkak.

Dan yang lebih mengejutkan hati Ceng Hiang adalah sebuah kipas yang berada di tangan gadis itu. Kipas itu bagi wanita lain mungkin merupakan kipas penghias diri atau pengusir kegerahan, namun bagi Lian Hong merupakan senjata istimewa dan bukan main ampuhnya. Lian Hong bekas menangis dan kini memegang senjata menghadapinya!

“Adik Lian Hong...!” tegurnya, masih dicekam kekagetan dan keheranan. “Dari manakah engkau dan apa yang telah terjadi?”

“Ceng Hiang, buang saja semua sikap manismu itu!” Tiba-tiba Lian Hong membentak, wajahnya yang nampak pucat, kini berobah merah dan ia menggerakkan kipasnya. “Dan cabut pedangmu itu. Aku tidak biasa menyerang lawan yang tidak bersiap!”

“Lian Hong...! Gilakah engkau...?” Ceng Hiang kembali menegur, kini alisnya berkerut dan matanya menatap tajam, khawatir karena jangan-jangan Lian Hong terserang penyakit gila.

“Cukup! Pergunakan pedangmu atau aku akan membunuhmu begini saja!” Dan kini Lian Hong mengirim serangan dengan kipasnya yang menotok ke arah pundak Ceng Hiang.

Melihat betapa serangan itu bersungguh-sungguh dan bukan main berbahaya, Ceng Hiang melempar tubuh ke belakang membuat pok-sai (salto) sampai susun tiga kali dan barulah ia terhindar dari ancaman maut. Wajahnya menjadi agak pucat karena serangan tadi benar-benar amat berbahaya.

“Lian Hong, sadarlah! Aku Ceng Hiang, Encimu, sahabatmu, dan engkau adalah sahabat baik dan tamu agung kami!” Ia mengingatkan karena masih menyangka bahwa Lian Hong tiba-tiba menjadi miring otaknya.

“Engkau Ceng Hiang, puteri seorang pangeran yang cantik jelita, akan tetapi menggunakan kecantikannya untuk memikat laki-laki!” Tiba-tiba Lian Hong menyerang lagi, kini lebih hebat lagi.

Angin bertiup ke arah muka Ceng Hiang, dan kalau gadis ini berkedip, mungkin saja serangan susulan akan mencabut nyawanya. Namun Ceng Hiang kini menjadi terkejut bukan main mendengar ucapan Lian Hong, dan tahulah ia apa yang menyebabkan Lian Hong menjadi seperti gila ini! Gadis ini cemburu! Ah, mengapa ia begitu bodoh?

Gadis ini mencinta Ci Kong, dan agaknya tadi melihat dan sudah duga ia mengira bahwa ia bercintaan dengan Ci Kong, berpacaran di dalam taman itu! Cepat ia meloncat sambil mencabut pedangnya dan menggunakan pedang menangkis beberapa kali karena gagang kipas itu menyerang bertubi-tubi.

“Trang-trang-cringgg!” Bunga api berpijar ketika dua senjata itu bertemu berulang kali, namun Ceng Hiang berhasil menghalau semua tusukan yang merupakan serangkaian serangan itu.

“Heiii, nanti dulu, Lian Hong!” Ceng Hiang berseru, penuh penasaran. “Engkau salah sangka!”

Akan tetapi, Lian Hong sedang marah sekali. Kemarahan membuat semua pertimbangan menjadi miring, bahkan berantakan sama sekali. “Aku melihat dengan mataku sendiri. Tak perlu kau menyangkal. Ataukah, engkau hanya seorang pengecut yang tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya?”

Lian Hong menyerang lagi dan kembali ia mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan jurus yang paling ampuh. Lian Hong adalah murid terkasih dan Bu-beng San-kai atau yang berjuluk San-tok yang sakti. Gadis ini telah menerima ilmu-ilmu yang paling hebat dari San-tok, dan selain ilmu silat kipas yang amat tangguh. Juga ia telah memiliki gin-kang luar biasa yang membuat ia bergerak seperti terbang dan memiliki pula tenaga sin-kang yang amat kuat.

Kini dalam keadaan marah dan mata gelap, apalagi ia memegang senjata utamanya yaitu kipas, tentu saja serangannya berbahaya bukan main. Ceng Hiang adalah seorang gadis yang berhati lembut. Akan tetapi, iapun telah terdidik untuk menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa walaupun keadaan ini hanya menjadi dasar wataknya saja, sedangkan kehidupannya tetap sebagai seorang puteri bangsawan.

Ia amat sayang kepada Lian Hong dan maklum bahwa gadis ini marah-marah seperti orang gila karena cemburu. Akan tetapi, mendengar dirinya dianggap seorang pengecut, mukanya berubah merah. Pantang bagi seorang gagah untuk disangka pengecut. Melihat keganasan serangan Lian Hong, ia berloncatan mengelak sambil memainkan Pek-seng Sin-pouw. Dengan langkah langkah ajaibnya ini, ia menghindarkan diri dan semua serangan, akan tetapi Lian Hong tak boleh disamakan dengan lawan lain.

Gadis ini amat lihai dan cerdik sehingga tak mungkin bagi Ceng Hiang kalau hanya menghadapi amukan Lian Hong itu dengan pengelakan melalui langkah-langkah Pek-seng Sin-pouw saja. Ia terdesak hebat dan beberapa kali nyaris terkena tusukan gagang kipas, maka terpaksa Ceng Hiang lalu menggunakan pedangnya lagi.

Terdengar bunyi berdesing dan nampak sinar berkilat ketika ia memainkan pedangnya, akan tetapi begitu menangkis kipas yang menimbulkan suara berdenting nyaring dan keduanya terdorong mundur oleh kekuatan masing-masing, Ceng Hiang masih membujuk lagi.

“Adik Lian Hong, marilah kita bicarakan masalah ini sebelum senjata kita mengambil korban di antara kita!”

Akan tetapi Lian Hong sudah terlalu marah. “Kalau bukan engkau, tentu aku yang menggeletak tak bernyawa malam ini!” bentaknya, dan iapun menyerang lagi, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bicara lagi.

Mereka kini berkelahi dengan seru, walaupun pihak Lian Hong lebih banyak menyerang, sedangkan Ceng Hiang lebih banyak mengelak dan menangkis, dan kalau kadang-kadang ia balas menyerang, itu hanya untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan oleh Lian Hong dalam keadaan marah itu. Suara senjata mereka yang sering saling bertemu itu mengeluarkan suara nyaring berdentingan.

Cemburu adalah suatu dorongan perasaan yang amat berbahaya, baik bagi orang lain, terutama sekali bagi diri sendiri. Cemburu menggelapkan pikiran, melenyapkan kesadaran, menimbulkan dendam, sakit hati dan kebencian. Cemburu dapat membuat seorang manusia berubah kejam penuh dengan kebencian. Cinta asmara antara pria dan wanita tak mungkin sepihak, harus datang dari kedua pihak.

Dan kalau orang yang kita cinta itu kemudian menoleh kepada orang lain. Hal itu berarti bahwa ia tidak cinta sesungguhnya kepada kita! Padahal, didalam cinta tercakup kesetiaan, dalam arti kata tidak mau menyakiti hati orang yang kita cinta, kemesraan, dan selalu ada dorongan untuk menyenangkan dan membahagiakan hati orang yang kita cinta.

Dan kalau sudah terdapat kenyataan bahwa orang yang kita cinta itu menoleh kepada orang lain, berarti tidak cinta kepada kita, apa gunanya timbul cemburu yang mendatangkan kebencian? Kalau kita benar-benar mencinta, kita tidak mengharapkan apa-apa lagi!

Cinta kasih yang murni tidak mendatangkan cemburu, tidak memperbesar si aku, tidak mengejar kesenangan belaka, tidak ingin memiliki atau dimiliki dengan arti kata mengikat, tidak ingin mengekang orang yang kita cinta. Cinta kasih adalah kebahagiaan. Dan kebahagiaan berubah menjadi kesenangan kalau sudah mengikat. Dan kesenangan ini hanya merupakan wajah lain saja dari kesusahan. Suka duka tak terpisahkan.


Lian Hong dimabok cemburu. Tadi, tanpa disengajanya, ia melihat adegan di dalam taman antara Ceng Hiang dan Ci Kong. Sayang bahwa ia tidak melihat atau mendengar seluruhnya dari pertemuan antara kedua orang muda itu. Bahkan ia datang tepat pada saat Ci Kong merangkul Ceng Hiang! Melihat betapa pemuda yang selama ini dicintanya setengah mati itu kini merangkul Ceng Hiang, hatinya seperti dibakar rasanya.

Hampir ia terhuyung roboh, akan tetapi dengan air mata bercucuran, Lian Hong menahan perasaannya dan segera pergi meninggalkan taman itu untuk dapat menangis di tempat sunyi dan tidak ketahuan oleh orang lain. Di tempat sunyi inilah, sambil menangis, ia membayangkan kehancuran hidupnya, kemusnahan harapannya.

Seolah-olah ia melihat istana yang dibangunnya di dalam lamunan dan mimpi, dimana ia hidup berbahagia bersama Ci Kong untuk selamanya, tiba-tiba dihancurkan dan yang menghancurkan itu adalah Ceng Hiang! Timbul kemarahan dan kebenciannya terhadap Ceng Hiang, sehingga ia mengambil keputusan untuk mengadu nyawa saja dengan Ceng Hiang!

Melihat betapa Lian Hong menyerangnya semakin ganas dan nekat seolah-olah gadis itu sudah mengambil keputusan untuk membunuh atau dibunuh dalam perkelahian itu, Ceng Hiang menjadi penasaran juga. Berkali-kali ia minta kepada Lian Hong untuk bicara, namun gadis itu sama sekali tidak pernah menghiraukannya! Akhirnya Ceng Hiang kehilangan kesabarannya. Ia telah sejak tadi mengalah, sudah lebih dan lima puluh jurus Lian Hong menyerangnya dan ia tidak pernah membalas dengan serangan maut.

“Baiklah!” ia membentak. “Engkau telah kehilangan kejernihan pikiranmu, Lian Hong! Engkau buta oleh cemburu dan hendak membunuhku. Aku berhak membela diri karena tidak bersalah!” Kini Ceng Hiang memutar pedangnya dengan cepat dan membalas dengan serangan yang gencar. Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung, seperti seekor naga bermain di angkasa.

Lian Hong tidak menjadi gentar dan iapun mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu-ilmunya. Terjadilah perkelahian yang lebih hebat lagi antara dua orang gadis perkasa itu. Kedua orang gadis itu memang memiliki bakat yang seimbang, dan merekapun menerima gemblengan dalam waktu yang sama lamanya.

Hanya bedanya, kalau Lian Hong menerima pelajaran ilmu-ilmu bela diri dari seorang datuk sesat, seorang di antara Empat Racun Dunia, sebaliknya Ceng Hiang mewarisi ilmu-ilmu yang murni dari keluarga Pulau Es. Bagi orang-orang yang baru setengah matang mempelajari ilmu silat, tentu saja ilmu silat dari kaum sesat lebih unggul, karena di dalamnya terkandung gerakan-gerakan keji dan penuh tipu muslihat.

Pukulan-pukulan yang curang, bahkan penggunaan alat-alat rahasia atau kadang-kadang alat beracun. Akan tetapi, bagi mereka yang sudah memiliki ilmu silat tinggi dan mendalam seperti halnya Lian Hong dan Ceng Hiang, akhirnya pemilik ilmu silat yang murnilah yang unggul.

Demikianlah, akhirnya kini Ceng Hiang dapat mendesak Lian Hong dengan pedangnya. Apalagi semenjak gadis bangsawan ini mewarisi kitab Ilmu Pek-seng Sin-pouw dan kumpulan kitab kuno ciptaan Tat Mo Couwsu, kelihaiannya meningkat, dan setelah mendesak lawan sampai belasan jurus, akhirnya pedangnya berhasil merobek kipas di tangan Lian Hong menjadi dua dan sekaligus melukai lengan kiri gadis itu.

Lian Hong mengeluh, kipasnya yang sudah pecah menjadi dua terlepas dan ia memandang lengannya yang berdarah. Hal ini bukan membuat ia menjadi jerih, bahkan ia semakin marah. “Bagus, bunuhlah aku kalau kau mampu!” bentaknya, dan ia sudah siap untuk menyerang lagi dengan kedua tangan kosong.

Akan tetapi, Ceng Hiang sudah merasa menyesal bukan main karena melukai lengan Lian Hong. Gadis perkasa itu adalah seorang di antara para penolongnya, yang telah membantunya membebaskan Ayahnya, dan kini ia malah melukai penolongnya itu. Ia lalu menyimpan pedangnya dan sambil berdiri lunglai, ia berkata.

“Adik Lian Hong, aku menyesal sekali telah melukaimu. Kalau memang engkau akan merasa lega jika membunuhku, nah, silahkan. Biarlah aku balas budimu yang telah menolong Ayahku dengan nyawaku. Nah, kau pukullah dan bunuhlah aku. Aku tidak akan melawan lagi.”

Lian Hong yang tadi marah sekali, dan sudah siap untuk menyerang dengan kedua tangan kosong, seketika memandang lemas. Biarpun sejak kecil ia berguru kepada seorang datuk sesat, namun ia sama sekali tidak pernah mewarisi watak jahat gurunya. Sebaliknya, dalam dirinya berkobar api dan semangat kepahlawanan, dan ia menjadi seorang gadis gagah perkasa yang menjunjung tinggi kegagahan.

Kini melihat lawannya berdiri lunglai dan tidak mau melawan, dengan sendirinya iapun menjadi lemas. Mana mungkin ia menyerang dan membunuh orang yang tidak mau melawannya? “Kau... kau mempergunakan kecantikan dan kepandaian dan kekayaanmu untuk memikat hati Ci Kong...!” Lian Hong berkata, terengah-engah karena perkelahian tadi telah menguras tenaganya, apalagi kini hatinya penuh ketegangan.

Ceng Hiang mengerutkan alisnya. “Adikku yang baik, engkau boleh jadi melihat pertemuan kami tadi di sini, akan tetapi engkau salah sangka. Aku tidak memikatnya, aku tidak merampasnya darimu. Kalau tadi Ci Kong merangkulku, itu hanya karena dorongan perasaan hatinya. Akan tetapi aku segera melepaskan diri. Salahkah aku kalau dia jatuh cinta kepadaku, adikku? Akan tetapi, aku tidak merampasnya.”

Lian Hong memandang wajah itu, mukanya berubah pucat. “Akan tetapi... kau... kau juga mencintanya, bukan?”

Ceng Hiang tersenyum sedih. Ia tahu bahwa kalau ia mengaku cinta, berarti ia akan menghancurkan hati Liang Hong, dan ia sendiripun belum yakin, apakah ia mencinta Ci Kong ataukah hanya suka dan kagum saja. Ia lalu menggeleng kepala dan suaranya mengandung kesungguhan hatinya ketika ia berkata.

“Ci Kong juga menanyakan hal itu, dan jawabanku kepadanya adalah bahwa aku memang suka dan kagum kepadanya, sebagai seorang sahabat. Akan tetapi cinta? Ahhh, terlalu pagi untuk bicara tentang cinta. Tidak, adik Lian Hong, aku tidak pernah mengaku cinta kepadanya!

“Aku yakin engkau cukup gagah dan bijaksana untuk dapat melihat kenyataan dan tidak sembarangan menyalahkan aku. Bukan salahku kalau ada orang-orang mencintaku, bukan? Akan tetapi, kalau engkau memang sudah buta oleh cemburu dan hendak membunuhku, silahkan, aku takkan melawan.”

Tiba-tiba Lian Hong menangis dan menubruk Ceng Hiang. Ia telah sadar kembali dan ia merasa menyesal bukan main. Ia menangis sesenggukan di pundak Ceng Hiang yang merangkulnya, dan kedua mata gadis bangsawan inipun menjadi basah oleh air mata keharuan. “Enci Hiang, maafkan aku... oohhh... maafkan aku. Ah, kenapa tadi engkau tidak membunuhku saja!” Lian Hong menangis tersedu-sedu. Baru sekali ini gadis yang keras hati ini menangis, perasaan hatinya seperti tersayat-sayat.

“Sudahlah, adikku, aku mengerti perasaanmu...! Sungguh heran, kenapa Tan-Toako berani bersikap seperti itu? Benarkah di samping kegagahan dan segala sifatnya yang amat kukagumi itu, terdapat sifat mata keranjang sehingga dia setelah menjadi kekasihmu, masih berani mengaku cinta kepadaku?”

“Tidak... tidak... jangan salah sangka, Enci. Dia... dia bukan kekasihku... maksudku, kami belum pernah saling mengaku cinta.”

“Ahhh?” Ceng Hiang terbelalak. “Jadi maksudmu... engkau hanya mencintanya secara diam-diam?” Lian Hong mengangguk. “Dan kalian belum pernah bicara tentang cinta kalian?” Ceng Hiang bertanya.

“Belum pernah, walaupun tadinya aku mengira diapun cinta kepadaku. Tapi ternyata dia cinta kepadamu, Enci. Aku bersalah kepadamu, aku telah memakimu, menyerangmu. Kau maafkan aku, Enci... semua ini karena aku... aku menjadi seperti gila karena cintaku kepadanya. Maafkan aku...”

Ceng Hiang mencium pipi yang basah itu. “Tidak mengapa, adikku. Mari kubalut dan kuobati lukamu. Akulah yang minta maaf telah merusak kipasnu dan melukai lenganmu...”

Lian Hong menarik dirinya dan memandang dengan mata merah dan basah. “Tidak, Enci. Semua ini salahku, dan engkau tidak bersalah andai kata engkau tadi membunuhku. Sekarang selamat tinggal, Enci... biarkan aku sendiri dalam kehampaan hidupku...!” Lian Hong lalu meloncat dan menghilang ke dalam kegelapan.

“Adik Lian Hong!” Ceng Hiang memanggil, akan tetapi bayangan gadis itu telah lenyap dan Ceng Hiang tidak mengejar, tahu bahwa tidak ada artinya mengejar, bahkan ia hanya akan membuat Lian Hong semakin berduka saja. Ia berdiri bengong sambil menarik napas berulang-ulang.

Tak disangkanya bahwa malam ini akan terjadi dua hal yang demikian hebat tergores di dalam kalbunya. Ci Kong menyatakan cintanya, dan Lian Hong hampir gila karena cemburu dan hampir saja membunuhnya! Ia lalu merenungkan dan menyelidiki hatinya sendiri. Cintakah ia kepada Ci Kong? Bagaimana dengan Yu Kiang pilihan, Ayahnya?

Kalau ia memilih Yu Kiang yang tidak dicintanya, walaupun ia suka pula kepada pemuda bangsawan itu, berarti ia berkorban dan memaksa diri tidak menerima uluran tangan Ci Kong yang begitu menggairahkan hatinya. Sebaliknya, kalau ia menerima Ci Kong, berarti ia membuat Lian Hong patah hati dan merana, juga tentu membuat Yu Kiang berduka, selain itu membuat Ayah dan keluarganya kecewa. Jalan mana akan ditempuhnya? Yang mana akan dipilihnya?

“Aihhh... aku tidak tahu... aku tidak tahu...” keluhnya, dan iapun memungut kipas Lian Hong yang telah robek menjadi dua itu, dan perlahan-lahan meninggalkan taman dan memasuki kamarnya dengan wajah muram dan pandang mata sayu.

* * *

Jalan setapak di lereng bukit itu sepi bukan main, akan tetapi lebih sepi lagi rasanya di dalam hati Lee Song Kim yang sedang berjalan di atasnya. Wajah pemuda ini pucat, rambutnya yang panjang hitam dan lebat itu nampak kusut. Demikian pula pakaiannya, dan wajah yang biasanya nampak tampan berseri itu kini muram.

Dan matanya yang kemerahan dan pakaian serta sepatunya yang penuh debu, mudah diduga bahwa dia telah melakukan perjalanan jauh dan jarang tidur. Dia nampak lelah, lelah lahir batin, dan memang keadaan Song Kim pada saat itu seperti keadaan orang yang putus asa. Bagaimana dia tidak akan putus asa dan gelisah? Cita-citanya yang setinggi langit itu kini buyar sama sekali.

Dia kehilangan kedudukan, kehilangan kemuliaan, kehilangan segalanya, setelah dia mengorbankan golongannya, gurunya pula, setelah dia merendahkan diri bersekongkol dengan para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, kesemuanya itu gagal sama sekali, bahkan kini dia menjadi seorang buruan. Diburu oleh pemerintah, juga diburu dan dimusuhi oleh para pejuang, baik dari golongan pendekar maupun dan golongan sesat. Dia merasa diasingkan di dunia ini, tidak mempunyai sahabat, dikelilingi oleh musuh belaka.

Perasaan kesepian ini seringkali melanda batin kita, tak perduli bagaimana keadaan kita, tak peduli kita berada di tengah banyak orang atau keluarga, tak perduli kita berada dalam keadaan yang kaya raya atau berkecukupan, maupun dalam kedudukan tinggi dan kemuliaan. Perasaan sepi menggerogoti batin, apalagi kalau kita merasa tidak dicinta seorangpun.

Perasaan kesepian dan sendirian inilah yang mendorong kita untuk mengikatkan diri kepada sesuatu atau seseorang sebagai sumber-sumber kesenangan. Kita mengikatkan diri sebagai anggauta suatu kelompok, golongan, persahabatan, atau kita mengikatkan diri dengan suatu aliran, dengan benda-benda, dengan sumber-sumber kesenangan yang lain.

Dan kita takut dan merasa ngeri kalau harus meninggalkan semua itu, karena kita membayangkan betapa hidup ini akan terasa kosong dan sepi! Ngeri akan perasaan sepi dan bersendirian inilah agaknya yang membuat orang takut akan kematian. Bukankah kalau sudah mati, kita kehilangan segala-galanya dan berada dalam keadaan kesepian dan menghadapi segala sesuatu sendirian saja?

Karena inilah maka kita berusaha mencari pegangan, mencari kepercayaan sebagai sesuatu yang akan menemani kita, akan menjadi bekal dalam menghadapi kematian atau kesepian dan kesendirian itu. Ngeri timbul dan rasa takut yang selalu menghantui batin kita. Kita haus akan cinta kasih, haus akan cinta orang lain terhadap kita, perhatian dan keramahan orang-orang lain terhadap diri kita, dan hal ini menunjukkan bahwa kita sendiri kering, tidak memiliki cinta kasih!

Orang yang tidak memiliki cinta kasih, bagaikan sebuah cawan yang kering dan kosong, selalu haus akan isi. Sebaliknya, batin yang penuh dengan cinta kasih bagaikan cawan yang penuh air, terus diisi oleh air yang mengalir masuk, sehingga bukan saja air itu dapat membasahi dan memenuhi cawan itu sendiri, melainkan juga dapat meluap dan membasahi dan mengisi cawan lain.

Orang yang batinnya penuh dengan sinar cinta kasih, tidak mengharapkan cinta kasih orang lain terhadap dirinya lagi, bagaikan sebuah ruangan tidak lagi membutuhkan cahaya karena dirinya telah menjadi cahaya yang dapat menerangi ruangan-ruangan lain. Hidup harus berani bersendirian, bukan dalam arti kata kesepian dan merasa ditinggalkan seorang diri, melainkan bersendirian, berdikari, bebas tidak bersandar atau bergantung kepada gagasan, benda, atau orang lain.

Hanya dalam keadaan bebas tidak terikat inilah, pikiran tidak merajalela, mengendap dan si-aku pun tidak menonjolkan diri, sehingga kini dapat waspada setiap saat. Hanya dalan keadaan bebas inilah, cinta kasih dapat memenuhi relung-relung batin kita dengan sinarnya. Hanya dalam keadaan bebas dari segala ikatan inilah, Sinar Illahi dapat menyentuh batin kita, dan kita menjadi waspada akan apa yang dinamakan kekuasaan, kemurahan dan cinta kasih Tuhan Yang Maha Kasih!

Segala macam perbuatan dalam bentuk apapun merupakan pencerminan keadaan batin. Kalau batin kita bebas sehingga penuh dengan sinar cinta kasih, maka perbuatan yang akan dilakukan oleh badan kita, dengan sendirinya berdasarkan cinta kasih. Batin yang bebas dan penuh cinta kasih tidak mengenal kebencian, iri hati, dendam, permusuhan, dengki. Si AKU yang menjadi sumber dan segala macam perasaan dan nafsu itu telah tiada.

Lee Song Kim adalah seorang pemuda yang penuh dengan ambisi, penuh dengan apa yang dinamakan secara halus “Cita-cita”, yang sesungguhnya bukan lain dari pada keinginan mendapatkan sesuatu yang dianggap lebih baik dari pada apa yang kita miliki sekarang. Dan cita-cita ini mulur terus, tiada batasnya, membuat kita selalu tidak puas dengan apa yang ada.

Dan membuat kita kadang-kadang (seringkali) membuta dalam menggunakan segala cara untuk mengejarnya. Cita-cita yang tercapai melahirkan cita-cita lain yang lebih hebat. Cita-cita yang gagal mendatangkan kekecewaan dan kedukaan, seperti halnya Lee Song Kim.


Semenjak dia melarikan diri ketika diserbu oleh Jenderal Ciong yang dibantu oleh pasukan pengawal, Ceng Hiang, Ci Kong dan Lian Hong, dia terus lari sampai berpekan-pekan lamanya. Jarang dia berhenti, kecuali kalau tidak kuat lagi karena mengantuk atau lapar. Dia masih merasa untung bahwa dia mampu meloloskan diri dari kepungan orang-orang yang lihai itu. Dia kini berada di lereng bukit-bukit yang menjadi anak Pegunungan Tai-hang-san, di sebelah selatan Kota Raja.

Hari masih pagi sekali ketika Song Kim berjalan seorang diri di tempat yang amat sunyi itu. Dia tidak mempunyai tujuan tertentu. Yang penting baginya sekarang ini adalah menyelamatkan diri dan pengejaran musuh-musuhnya. Selagi dia berjalan seenaknya keluar dari dalam hutan dimana dia melewatkan malam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh berkelebatannya bayangan dua orang, dan ketika dia mengangkat muka, yang muncul di depannya secara tiba-tiba itu adalah Ong Siu Coan dan Tang Ki atau Kiki.

Tentu saja dia terkejut bukan main, menengok ke kanan kiri. Tidak ada jalan baginya untuk menghindarkan pertemuan itu. Mereka berdua telah berada di depannya dan andaikata dia melarikan diri kembali ke dalam hutan, tentu mereka akan melakukan pengejaran. Mereka berdua itu akan sukar dapat ditinggalkan, karena dia mengenal kelihaian sumoinya sendiri, juga tahu bahwa pemuda jangkung murid Thian-tok itupun lihai bukan main.

Selain itu, kedua kakinya sudah terlalu lelah untuk melarikan diri dari dua orang ini, maka diapun menjadi nekat dan menghadapi mereka dengan sinar mata tajam dan seluruh tubuhnya siap siaga. Dalam keadaan tersebut seperti itu, menghadapi dua orang lawan yang amat lihai, Song Kim masih belum kehilangan kecerdikannya. Dia segera memasang senyum ramah dan menghadapi Kiki dengan wajah cerah dan ramah.

“Aih, kiranya sumoi. Dari manakah, sumoi... dan bagaimana dengan keadaan suhu? Kuharap beliau berada dalam keadaan baik dan sehat saja.”

Kiki dan Siu Coan sampai melongo sejenak melihat sikap dan mendengar sapa yang ramah itu. Akan tetapi Kiki segera membentak dengan ketus dan marah. “Lee Song Kim! Tak perlu engkau menanam madu di bibirmu, mencoba untuk membujuk rayu aku! Engkau tahu bahwa aku mencarimu, dan setelah kini kita saling bertemu, aku akan membunuhmu! Bersiaplah untuk menebus dosa-dosamu dan menerima kematian di tanganku!”

Kiki sudah mencabut sebatang pedang yang tadi tergantung di punggungnya di antara buntalan pakaiannya. Gadis ini biasanya tidak mempergunakan pedang, karena memang ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi, dalam menghadapi bekas suhengnya, ia sudah mempersiapkan diri dan membawa sebatang pedang yang baik dari kumpulan senjata pusaka milik Ayahnya.

“Aih, sumoi, kenapa engkau bersikap begini? Aku adalah suhengmu, bukan? Suhengmu satu-satunya! Bukankah kita sudah menjadi saudara seperguruan dan teman bermain semenjak kita kecil?”

“Cukup! Tutup mulutmu dan cabut pedangmu!” Kiki membentak, semakin marah karena ia tahu bahwa bekas suhengnya itu berusaha untuk merayunya. Heran ia, mengapa pemuda bejat itu masih berani mencoba untuk membujuknya suatu hal yang takkan mungkin berhasil.

“Sumoi, melihat muka suhu, yang seperti telah menjadi Ayahku sendiri, tidak maukah engkau melupakan segala hal yang telah berlalu? Mungkin aku pernah melakukan kesalahan-kesalahan, akan tetapi aku akan bertobat, dan aku mengharapkan maafmu...”

“Lee Song Kim!” kini Ong Siu Coan ikut berkata, suaranya keren. “Di antara semua dosamu, bagaimana orang dapat mengampuni pengkhianatanmu terhadap para pimpinan pejuang tempo hari?”

Menghadapi Siu Coan, Song Kim membusungkan dada dan marah. “Ong Siu Coan! Engkau adalah murid Thian-tok dan aku adalah murid Hai-tok, sama-sama murid seorang di antara Empat Racun Dunia. Tidak perlu engkau bersikap sombong dan mengatakan aku berdosa dan pengkhianat. Engkau sendiri pernah menjadi pengkhianat, pernah menjadi anjing pasukan bule! Kalau sumoi tidak mencampuri, aku mau berkelahi melawanmu sampai seribu jurus, sampai seorang di antara kita menggeletak mampus untuk menentukan siapa yang lebih unggul!”

“Lee Song Kim, jahanam busuk!” Teriak Kiki yang marah mendengar tantangan Song Kim terhadap Siu Coan. “Dosa yang pernah kau lakukan terhadap diriku sudah tak dapat diampuni, akan tetapi dosamu terhadap para pimpinan pejuang lebih besar lagi. Kami berdua mewakili para pimpinan pejuang, hari ini datang untuk menghukum dan membunuhmu. Kalau engkau tidak mau bersiap sekarang juga aku akan membunuhmu, baik engkau melakukan perlawanan maupun tidak. Heiiiittt...!” Kiki sudah menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada Song Kim. Cepat sekali serangan itu dan didukung tenaga yang kuat.

“Ehhh!” Song Kim meloncat ke kiri untuk menghindarkan tusukan, akan tetapi Kiki sudah mendesak lagi dengan bacokan ke arah leher. Kembali Song Kim mengelak dengan melangkah mundur cepat-cepat, dan terpaksa dia mencabut pedangnya, karena kembali pedang di tangan bekas sumoinya itu sudah menyambar lagi.

“Trangggg!” Dua batang pedang bertemu dan demikian keras pertemuan itu sehingga bunga api berpijar, dan keduanya mundur dua langkah untuk memeriksa pedang masing-masing.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Song Kim untuk membujuk. “Sumoi, benarkah hatimu demikian tega untuk membunuh aku, suhengmu sendiri?”

“Cerewet!” bentak Kiki yang merasa tidak suka diingatkan bahwa orang ini adalah bekas suhengnya. Pedangnya menyambar ganas, sehingga terpaksa Song Kim harus mencurahkan perhatiannya untuk menangkis dan balas menyerang, karena kalau tidak, tentu keadaannya akan berbahaya sekali.

Sikapnya terhadap Kiki yang ramah itu tetap saja hanya merupakan siasat. Kalau mungkin dia akan membunuh Kiki agar kemudian dapat menghadapi Siu Coan. Maka, kini diapun membalas serangan Kiki dengan babatan pedangnya. Mereka terlibat dalam perkelahian yang seru dan Song Kim terkejut sekali. Biarpun kepandaian dan tingkat ilmu silat mereka berimbang, namun dalam hal permainan pedang, Song Kim lebih pandai. Hal ini diketahuinya benar.

Akan tetapi sekarang, melihat betapa sumoinya itu dapat bergerak dengan kecepatan kilat, ketika pedangnya membabat, tiba-tiba tubuh sumoinya lenyap dan tahu-tahu telah menyerangnya dari kanan! Hal ini amat mengejutkan hatinya. Belum pernah dia melihat sumoinya memiliki gin-kang sedemikian hebatnya, sehingga seolah-olah pandai terbang saja. Namun, dia sengaja memutar pedang dengan cepat untuk melindungi tubuhnya.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa Kiki sudah mendapat kitab ilmu meringankan tubuh Hui-thian Yan-cu (Walet Tebang ke Langit) ciptaan Tat Mo Cowsu. Akan tetapi, tiba-tiba Siu Coan sudah terjun lagi ke dalam arena perkelahian itu, dan biarpun Siu Coan tidak memegang senjata, namun serangan-serangannya yang menggunakan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sungguh amat berbahaya bagi Song Kim!

Dikeroyok dua, pemuda ini menjadi repot bukan main. Baru melawan sumoinya yang kini mendadak memiliki gerakan yang demikian cepatnya saja dia tadi sudah merasa kewalahan dan mulai terkejut karena belum tentu dia akan keluar sebagai pemenang melawan sumoinya. Dan sekarang ditambah lagi dengan majunya Siu Coan yang tingkat kepandaiannya seimbang dengan dia maupun Kiki. Tentu saja dia terdesak hebat dan hanya mampu mengelak dan menangkis saja.

“Suhu! Suhu Hai-tok Tang Kok Bu!” Tiba-tiba Song Kim berteriak nyaring. “Apakah suhu akan membiarkan saja sumoi Tang Ki membunuh suheng sendiri? Suhu, aku sudah seperti anak suhu sendiri, haruskah aku mati di tangan adikku sendiri?”

Kiki menjadi marah sekali mendengar ocehan ini. “Jahanam busuk, keparat hina tak tahu malu!” bentaknya. “Ayah tidak mempunyai anak macam engkau, dan aku tidak sudi mempunyai suheng seperti engkau!” Dan iapun mendesak lagi dengan pedangnya.

Melihat pedang itu membacok ke arah kepalanya dari atas dengan kecepatan kilat dan juga mengandung kekuatan sin-kang yang hebat, tidak ada jalan lain bagi Song Kim yang baru saja mengelak dan sebuah tendangan yang dilakukan oleh Siu Coan kecuali menangkis dengan pedangnya dari bawah ke atas.

“Tranggg!” Kedua pedang itu bertemu dan melekat. Kiki telah mempergunakan sin-kang untuk menempel pedang lawan, dan kesempatan ini dipergunakan Siu Coan untuk menggerakkan tangan mengetuk ke arah siku lengan kanan Song Kim.

“Duk! Ahhhh...” Song Kim terpaksa melepaskan pedangnya. Lengan kanannya seperti lumpuh dan dia cepat meloncat ke belakang. Akan tetapi pada saat itu, ujung kaki Kiki sudah menendang pinggangnya dan diapun terjungkal roboh. Maklum akan bahaya maut yang mengancam dirinya, Song Kim sudah meloncat lagi dan mengirim pukulan maut ke arah Siu Coan yang dielakkan oleh pemuda ini.

Kiki yang merasa rendah kalau harus menghadapi lawan yang sudah kehilangan senjata itu dengan pedangnya, sudah menyimpan pedangnya dan kini menerjang dengan kedua kaki dan tangannya. Juga Siu Coan menyerangnya dan terjadilah perkelahian tanpa senjata. Akan tetapi dalam hal ini, Song Kim semakin terdesak dan dalam waktu beberapa belas jurus saja, tubuhnya sudah menjadi sasaran pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari kedua orang pengeroyoknya.

Dia mencoba untuk melawan, namun karena memang kalah cepat dan kalah kuat, dia menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan kedua orang itu, sehingga tubuhnya babak belur dan dari hidung dan mulutnya sudah keluar darah. Song Kim melawan terus, namun semakin lama tubuhnya menjadi semakin lemah dan pada saat yang amat gawat bagi keselamatan nyawanya itu, tiba-tiba muncul seorang tinggi besar yang begitu muncul menerjang maju dan menendang ke arah Siu Coan.

Siu Coan terkejut bukan main dan cepat melompat ke samping untuk menghindar. “Locianpwe, mengapa Locianpwe menyerangku? Bukankah Locianpwe sudah memberi ijin kepadaku untuk membantu Ki-moi membunuh pengkhianat ini?” kata Siu Coan yang terkejut sekali melihat bahwa penyerangnya itu adalah Hai-tok Tang Kok Bu, Ayah Kiki.

“Ayah!” Kiki juga berseru keras. “Kenapa Ayah membela jahanam busuk ini...”

Akan tetapi Hai-tok yang nampak marah itu terus menyerang Siu Coan. “Bagaimanapun juga, dia ini adalah muridku yang pernah kuanggap sebagai anak sendiri. Ong Siu Coan, engkau masih orang lain dan engkau berani memukulinya, aku harus membalas perlakuan tidak patut itu!”

Tentu saja Siu Coan repot harus mengelak kesana-sini, karena dia tidak berani menangkis, dan akhirnya sebuah tamparan mengenai pundaknya. “Plaakkk...! Hebat bukan main tamparan itu, dan kalau saja Siu Coan tidak melindungi tubuhnya dengan sin-kang yang membuat pundaknya kuat dan kebal, tentu pundak itu akan hancur. Biarpun tidak demikian, tubuhnya terpelanting dan bergulingan sampai jauh dan dia meloncat bangun dengan kepala pening.

“Ayah, jangan!” Kiki berseru keras melihat betapa Siu Coan terpelanting oleh tamparan Ayahnya.

“Sumoi, apakah engkau akan menjadi seorang anak durhaka yang hendak melawan Ayahnya sendiri membela orang lain?” Tiba-tiba Song Kim berseru dan seruannya ini menahan gerakan Kiki yang menjadi bingung.

Dan Hai-tok sudah menerjang lagi ke depan, agaknya hendak membunuh Siu Coan! Watak dan Empat Racun Dunia memang aneh dan pantas mereka menjadi datuk-daruk kau m sesat. Tadinya Hai-tok memang sudah setuju kalau puterinya berjodoh dengan Siu Coan, dan mengijinkan pemuda itu membantu Kiki mencari dan membunuh Song Kim. Akan tetapi, setelah dua orang itu pergi, dia membayangkan Song Kim semenjak masih kecil telah menjadi muridnya.

Bahkan karena dia tidak mempunyai anak laki-laki, dia sudah menganggap Song Kim sebagai pengganti anaknya. Maka, timbul perasaan menyesal dan diapun lalu meninggalkan pulau untuk membayangi perjalanan Kiki dan Siu Coan. Maka, ketika tadi dia mendengar teriakan Song Kim yang menyebut-nyebut namanya, tentu saja hatinya tergerak.

Dan ketika melihat Song Kim yang disayanginya itu dijadikan bulan-bulanan pukulan dan tendangan Kiki dan Siu Coan, dia tidak mampu menahan diri lagi dan keluar membela munidnya itu. Dan kemarahannya dia tumpahkan kepada Siu Coan yang hendak dibunuhnya! Kini dia menendang dengan dahsyatnya. Tendangan itu amat kuat, mendatangkan angin keras, dan biarpun Siu Coan sudah siap siaga, menangkis dengan tangan, tetap saja tubuhnya terlempar dan terpelanting keras.

“Brukkk...!” Dan baru saja dia meloncat bangun, Kakek itu sudah berada di depannya dan lengannya yang panjang dan besar itu menyambar dengan pukulan maut ke arah kepala Siu Coan. Pemuda ini terkejut, akan tetapi sebagai murid seorang sakti, dia masih berhasil membuang diri ke belakang dan bergulingan seperti seekor trenggiling, menjauhi lawan.

Hai-tok mengejar, mencoba untuk menggunakan kakinya menginjak kepala pemuda yang tadinya ingin diambil mantu itu, dan kalau kepala itu kena injak sekali saja, tentu akan remuk! Sambil bergulingan, Siu Coan mengelak setiap kali kaki gajah itu datang menginjak, dan dia sukar memperoleh kesempatan untuk meloncat bangun.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan pada saat kaki kiri Hai-tok melakukan injakan mautnya, sebuah kaki lain yang juga besar menyambut dari depan, sehingga dua batang kaki yang kuat itu saling beradu tulang kering.

“Desss...!!” Akibatnya, dua tubuh yang besar itu sama-sama terdorong ke belakang sampai lima langkah. Tentu saja Siu Coan memperoleh kesempatan untuk meloncat bangun, dan bukan main girang dan lega hatinya ketika melihat bahwa yang menolongnya itu adalah gurunya sendiri, Thian-tok. Sementara itu, dua orang Kakek itu kini berdiri saling pandang dengan dua pasang mata mencorong saling tantang.

“Ho-ho-ho! Hai-tok, sungguh tidak pantas perbuatanmu, menyerang dan mengancam nyawa muridku, seolah-olah aku sebagai gurunya sudah tidak ada saja!” kata Thian-tok sambil menyeringai.

“Memang aku hendak membunuh Ong Siu Coan, kau mau apa? Dia sudah memukuli muridku, maka aku hendak memukulinya sampai mampus!”

“Ha-ha-ha, kenapa Hai-tok menjadi seorang pengecut besar sekarang? Urusan anak-anak kenapa dicampuri orang tua? Kalau memang engkau mencari tanding, inilah aku lawanmu, tua sama tua! Siu Coan, minggirlah dan jangan mencampuri. Biar aku yang akan menghadapi tua bangka ini!” kata Thian-tok sambil menyeringai.

Kakek ini semakin gendut saja, jubahnya terbuka sehingga nampak dadanya yang berbulu sampai ke pusar, perutnya yang gendut dengan pusar yang menonjol. Tangan kirinya memegang sebuah mangkok butut, tangan kanannya memegang sebuah ciu-ouw (guci arak) butut pula.

Mendengar tantangan Thian-tok, Hai-tok menjadi marah bukan main. Dia dan Thian-tok selama ini memang tidak pernah bersahabat. Keduanya adalah dua orang tokoh di antara Empat Racun Dunia, datuk-datuk kaum sesat yang tak pernah saling bersahabat. Kalau akhir-akhir ini mereka memiliki hubungan baik, hanyalah karena keduanya merasa berkewajiban untuk menentang pemerintah penjajah dan orang-orang asing kulit putih. Kini, begitu ada urusan mengenai murid masing-masing, tentu saja mereka saling membela murid dan siap untuk saling gempur.

“Song Kim dan Kiki! Kalian minggir dan jangan mencampuri. Biar kuhajar tua bangka gendut ini!” bentaknya kepada anak dan muridnya.

Dua orang Kakek itu lalu melangkah maju saling menghampiri. Thian-tok masih memegang guci arak dan mangkoknya, dua alat minum arak akan tetapi juga dapat menjadi senjatanya yang ampuh. Adapun Hai-tok juga sudah memegang tongkatnya yang indah, tongkat yang terhias emas permata. Mereka kini berhenti dan jarak di antara mereka tinggal dua meter lagi.

Sejenak mereka berdiri tegak, saling pandang seperti hendak mengalahkan lawan atau mengukur kekuatan masing-masing dengan pandang mata mereka yang mulai mencorong, sambil diam-diam keduanya mengerahkan tenaga sin-kang mereka, menyalurkan tenaga itu ke arah seluruh tubuh, terutama pada kedua tangan mereka.

“Hai-tok, kau majulah kalau tubuhmu sudah gatal-gatal ingin merasakan hajaranku, ha-ha-ha!” Thian-tok berseru sambil mengamang-amangkan guci arak dan mangkoknya ke atas kepala.

“Thian-tok iblis tua bangka gendut, aku sudah sejak tadi bersiap. Engkau yang datang menantangku, majulah untuk menerima gebukan tongkatku!” tantang Hai-tok.

“Heh-heh-heh, engkau mencari penyakit!” Kata Thian-tok, dan diapun melangkah maju, bergerak aneh dan tiba-tiba guci arak itu menyambar ke arah pelipis kiri lawan sedangkan mangkok bututnya bergerak menyambar ke arah pusar.

Nampaknya kedua senjata itu tidak berbahaya, namun Hai-tok yang lebih tahu bahwa biarpun kelihatannya tidak meyakinkan, namun sepasang senjata itu telah mengangkat nama Thian-tok ke puncak ketenarannya. Dia maklum betapa lihainya lawan ini, yang dalam banyak hal memiliki tingkat yang sama dengan dia, maka diapun tidak berani bersikap sembrono.

Kakinya melangkah mundur dan untuk menghindarkan serangan berganda lawan itu, dia memutar tongkatnya, bukan hanya untuk melindungi tubuh, melainkan sekaligus untuk balas menyerang! Akan tetapi, dengan dua buah senjatanya yang istimewa, Thian-tok juga dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat itu. Serang menyerang terjadi dan berkali-kali terdengar suara keras ketika tongkat bertemu dengan guci atau mangkok.

Hai-tok yang maklum akan kelihaian lawan, segera mengeluarkan ilmunya yang paling diandalkan melalui tongkatnya, yaitu ilmu Tongkat Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas). Tongkatnya berputar seperti kitiran bahkan semakin cepat lagi sehingga tidak nampak bentuknya, yang kelihatan hanyalah sinar keemasan yang menyilaukan mata saja dibarengi suara mendengung-dengung.

Thian-tok juga tidak berani memandang rendah. Dia mengerahkan tenaganya dan memainkan limu Silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya, dan mengimbangi kekuatan lawan dengan Kim-ciong-ko, yaitu ilmu kebal yang membuat tubuhnya dapat menahan senjata tajam.

Lawannya, Hai-tok, terkenal dengan tenaga saktinya yang disebut Thai-lek Kim-kong-jiu, yang membuat tangan Kakek ini dapat menghancurkan batu karang, maka Thian-tok selalu melindungi tubuhnya dengan ilmu kebalnya. Mereka saling serang dan saling desak dengan senjata masing-masing, dan ratusan kali senjata mereka saling bertemu, menimbulkan suara nyaring dan bunga api berpijar.

Beberapa kali mereka menarik senjata dan mengamankan senjata masing-masing, takut kalau-kalau senjata yang disayang itu menjadi rusak. Akhirnya, setelah mereka bertanding selama ratusan jurus, Thian-tok melompat ke belakang. “Nanti dulu, Hai-tok!”

“Thian-tok, kau mundur. Apakah mengaku kalah?” tanya Hai-tok sambil menggunakan lengan baju menghapus keringatnya di leher.

“Ha-ha-ha-ha, belum lecet kulitku, belum retak tulangku, bahkan belum keluar keringatku, siapa yang kalah! Ha-ha-ha!” Thian-tok tertawa bergelak.

Hai-tok mengerutkan alis. Memang benar, lawannya belum berkeringat di leher dan dahinya. Dia lupa bahwa hal ini adalah karena lawannya memakai baju yang terbuka sehingga dada, leher dan perutnya telanjang, dan tentu saja tidak mudah berkeringat seperti dia yang berbaju rapat dan tebal.

“Hemm, manusia sombong! Kalau tidak kalah, kenapa mundur dan menghentikan perkelahian?” bentak Hai-tok sambil melintangkan tongkatnya.

“Aku hanya takut kalau-kalau senjata-senjataku ini rusak. Aku hendak menyimpan senjata-senjataku ini dan menantangmu untuk berkelahi dengan kedua tangan kosong. Kita dilahirkan hanya dengan kaki tangan, maka marilah kita lanjutkan dengan menggunakan kaki tangan saja untuk melihat siapa yang sesungguhnya lebih unggul. Atau, engkau takut bertangan kosong dan hendak menghadapi kedua tanganku dengan tongkat itu? Ha-ha-ha, begitupun aku berani!”

“Huh, gendut sombong jangan berlagak. Siapa takut padamu? Lihat, aku juga menyimpan tongkatku, dan mari kita bertanding dengan tangan kosong sampai selaksa jurus!” Hai-tok menyerahkan tongkatnya kepada Song Kim yang menerimanya dengan membungkuk hormat.

Girang hati pemuda ini karena dia maklum bahwa dalam hal inipun dia lebih dipercaya oleh gurunya dari pada Kiki, sehingga tongkat pusaka itu dititipkan kepadanya! Selamatlah dia karena gurunya tentu akan membelanya mati-matian. Dia tadi sudah memungut pedangnya dan kini, di samping pedangnya, tongkat pusaka itu berada di tangannya. Andaikata suhunya sampai kalah, dia dapat mempergunakan tongkat itu untuk mengamuk, diapun sudah pernah mempelajari Kim-kong-pang.

Kini dua orang Kakek itu, dengan tangan kosong, sudah saling menghampiri. Tubuh mereka yang sama besarnya itu, termasuk kelas berat, bergerak maju perlahan-lahan seperti dua ekor gajah yang hendak berkelahi. Tiga orang muda yang sejak tadi menjadi penonton, Kiki, Siu Coan, dan Song Kim, tidak berani bergerak untuk membantu, karena mereka sudah dilarang untuk mencampuri perkelahian tingkat tinggi itu.

Tentu saja, karena tidak boleh membantu, hati mereka menjadi penuh dengan ketegangan. Terutama sekali hati Kiki. Gadis ini merasa bingung dan diam-diam ia marah kepada Ayahnya. Ayahnya sudah menyatakan persetujuannya kepada Siu Coan untuk membantunya membunuh Song Kim. Bagaimana sekarang Ayahnya itu berbalik membela Song Kim?

Dan kini muncul guru Siu Coan yang membela Siu Coan sehingga berkelahi mati-matian dengan Ayahnya. Tentu saja sukar baginya untuk berpihak lagi! Kalau ia berpihak kepada Ayahnya, seperti kecondongan hatinya, berarti ia berpihak kepada Song Kim! Dan ini tidak boleh terjadi! Sebaliknya kalau ia berpihak kepada Siu Coan, berarti ia menghadapi Ayahnya sendiri sebagai musuh dan inipun tidak boleh terjadi!

Sementara itu, dua orang Kakek itu sudah saling serang. Setelah tidak mempergunakan senjata, perkelahian itu menjadi semakin sengit, semakin seru dan ramai sekali. Terdengar suara “Bak-bik-buk” ketika dua pasang lengan itu saling bertemu dan bertumbukan. Dua tenaga sakti saling bertemu dan getarannya sampai terasa oleh tiga orang muda itu.

Namun, kedua orang Kakek itu memang memiliki kekebalan sehingga biarpun kadang-kadang ada pukulan yang sempat mampir ke tubuh, pukulan itu dapat mereka tahan dan mereka masih juga bertahan, belum ada yang roboh. Keduanya mengerahkan tenaga dan juga mengerahkan kecepatan mereka, dan memang kedudukan mereka seimbang sehingga perkelahian itu berlarut-larut tanpa ada yang mendesak atau terdesak.

Saling gebuk, saling tendang, dan kalau dua tenaga raksasa itu bertemu dengan dahsyatnya, paling-paling keduanya hanya terdorong mundur, terhuyung-huyung, kemudian melangkah maju lagi sambil mendengus-dengus penuh kemarahan dan penasaran. Bukan main lamanya perkelahian itu. Setelah matahari condong ke barat, keduanya mulai kehabisan tenaga. Hampir sehari penuh mereka berkelahi! Dan mereka adalah Kakek-kakek yang usianya tujuh puluh tahun lebih.

Bahkan Thian-tok sendiri yang bajunya terbuka sekarang mandi keringat, demikian pula Hai-tok. Keduanya sudah bermandi peluh sendiri, dan dari kepala mereka keluar uap putih membumbung ke atas, tanda bahwa tubuh mereka panas sekali. Mereka kini agak terhuyung, kehabisan tenaga dan napas. Dengan napas mereka semakin berat, sementara pukulan-pukulan mereka semakin kendur. Bahkan kini mereka tidak berani lagi menendang karena salah-salah dapat terjengkang sendiri kalau menendang dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit.

Kiki merasa kasihan kepada Ayahnya. Ia tidak berpihak, akan tetapi tentu saja sebagai anak, ia khawatir kalau-kalau Ayahnya akan roboh bukan karena kalah, melainkan karena kehabisan tenaga dan napas, walapun keadaan Thian-tok tidak jauh bedanya. Ia lalu berkata nyaring.

“Kenapa ji-wi seperti anak-anak kecil saja? Lihat, matahari pun bosan melihat ji-wi dan bersembunyi. Kenapa tidak berhenti dulu dan dilanjutkan kalau hari sudah terang kembali?” Teriakannya percuma saja, karena dua orang Kakek itu dengan keras kepala dan keras hati masih saling gebuk walaupun gebukan mereka kini sudah hampir tak mengandung tenaga lagi, seperti saling tepuk saja.

“Locianpwe Thian-tok dan Ayah. Kalau kalian mau berhenti malam ini, aku akan memasakkan daging kijang yang enak untuk kalian, dan memasakkan air teh yang hangat dan harum.”

Ucapan ini menolong. Tiba-tiba saja dua orang Kakek itu mendengar betapa perut mereka berkeruyuk. Leher mereka kering haus, dan mendengar penawaran Kiki itu, mulut mereka menjadi basah oleh air liur mereka. Entah siapa yang lebih dulu memulai, tiba-tiba saja tubuh mereka merenggang dan saling menjauhi, dan keduanya menghadapi Kiki.

“Heh...heh... aku mendengar masakan daging kijang tadi? Mana?” kata Thian-tok.

“Teh hangat? Aih, aku haus sekali Kiki!” kata Hai-tok.

Kiki memandang kepada dua orang Kakek itu bergantian. “Kalau kalian mau berjanji malam ini tidak akan berkelahi, aku tentu akan menyediakan makanan dan minuman seperti yang kukatakan tadi, bahkan lebih banyak lagi.”

Dua orang Kakek itu saling pandang dan agaknya mereka bimbang. Mau mengalah, merasa malu, diteruskan, sudah terlalu lelah.

“Bagaimana Thian-tok?” tanya Hai-tok. Thian-tok mengangguk cepat.

“Memang tidak enak bertanding dalam gelap. Besok bisa kita lanjutkan.”

“Nah, sekarang kalian beristirahatlah, aku akan mempersiapkan makanan dan minuman,” kata Kiki dengan girang.

Karena tidak berani bermain curang, tiga orang muda itu lalu diam-diam turun tangan dan bekerja. Tanpa diperintah, bukan untuk bermuka-muka melainkan karena melihat keperluannya, Song Kim lalu mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun, sedangkan Siu Coan pergi untuk mencari kijang atau kelinci. Kiki sendiri sibuk mengumpulkan alat-alat dan bumbu masak.

Thian-tok mengeluarkan guci araknya dan menuangkan arak ke dalam mangkuk. Melihat itu, Hai-tok menelan ludah. Agaknya Thian-tok tahu akan hal ini, maka diapun setelah minum arak dari mangkuk, melemparkan gucinya kepada Hai-tok. “Nah, kau minumlah dulu dari guciku, Hai-tok, sebelum anakmu selesai membuat air teh!”

Hai-tok menerima guci itu dan tanpa malu-malu lagi membuka tutupnya dan minum arak beberapa teguk, lalu melemparkan kembali guci itu, kepada pemiliknya. Kini dua orang Kakek itu, di bawah penerangan sinar api unggun yang kemerahan, mulai memeriksa tubuh masing-masing. Ada perasaan memar pada beberapa bagian tubuh yang terkena pukulan, dan mereka kini memeriksa kedua lengan mereka yang bengkak-bengkak dan matang biru.

Masing-masing mengeluarkan obat dan menggosok kedua lengan dan kaki dengan obat gosok. Memang aneh sekali watak dua orang Kakek yang menjadi datuk sesat di antara Empat Racun Dunia ini. Tidak ada kejahatan yang pantang mereka lakukan, namun karena kedudukan mereka yang tinggi, mereka itu merupakan orang-orang yang tidak mau melakukan hal-hal yang akan merendahkan nama mereka.

Seperti keadaan mereka sekarang itu. Kini Thian-tok hanya tinggal sendirian saja. Muridnya Siu Coan, pergi berburu binatang. Dalam keadaan kehabisan tenaga seperti itu, kalau Hai-tok mau berlaku curang, tentu mudah baginya menyuruh Song Kim turun tangan membunuh Kakek itu. Akan tetapi tidak, Hai-tok sama sekali tidak sudi melakukan kecurangan ini, bahkan andai kata muridnya itu berani berbuat curang, tentu dia sendiri yang akan menentangnya.

Padahal tadi, dalam perkelahian, mereka itu dengan sungguh-sungguh berusaha mencari kemenangan dan berusaha saling merobohkan atau bahkan saling membunuh! Padahal, kalau tidak menghadapi sesama datuk sesat, andaikata menghadapi lawan dari lain golongan, dua orang datuk ini tidak segan-segan untuk melakukan segala macam tipu muslihat dan kecurangan!

Kiranya di antara mereka terdapat semacam kode etik atau persetujuan tanpa kata yang dipegang teguh di antara golongan mereka sendiri! Tentu saja ini hanya dilakukan oleh mereka yang sudah menjadi datuk atau yang kedudukannya sudah tinggi, sehingga mereka perlu menjaga nama dan kehormatan mereka sebagai datuk.

Tak seorangpun akan percaya kalau diberitahu bahwa di antara dua orang Kakek itu terjadi perkelahian mati-matian kalau dia melihat betapa malam itu mereka berdua duduk bersama menghadapi api unggun sambil menikmati hidangan masakan yang dibuat oleh Kiki! Kijang muda gemuk yang didapatkan Siu Coan, akhirnya habis semua dagingnya oleh mereka berlima! Setelah makan minum dengan kenyang, dua orang Kakek itu menguap dan nampak betapa mereka mengantuk sekali, hampir tidak lagi dapat membuka kedua mata.

“Heh-heh-heh, enak sekali masakan anakmu, Hai-tok! Heh-heh-heh!” kata Thian-tok sambil mengelus-elus perutnya yang gendut.

Hai-tok tersenyum. “Dan senang sekali dapat berlatih silat denganmu. Aihh, sudah puluhan tahun aku tidak dapat berlatih seenak tadi. Engkau ini tua-tua masih hebat, aku kagum sekali. Akan tetapi tunggu saja sampai besok. Besok aku akan memaksa engkau bertekuk lutut di depan kakiku!”

“Ha-ha-ha-ha!” Thian-tok tertawa. “Engkaulah yang tua-tua keladi, makin lama makin menjadi. Akan tetapi besok engkau tentu akan roboh dan tak dapat bangkit kembali!”

Keduanya masih ingin saling mengejek, akan tetapi karena kantuk yang hampir tak tertahankan, keduanya menguap berkali-kali dan merebahkan diri dekat api unggun yang hangat.

“Kalian tak boleh menyerang siapapun, tak boleh berkelahi. Urusan ini harus kami berdua yang menyelesaikan melalui perkelahian terakhir besok!” kata Hai-tok kepada murid dan puterinya.

“Siu Coan, jangan kau campuri urusanku ini. Tunggu sampai besok dan jangan kau melayani siapapun. Tahu?” Thian-tok juga memesan muridnya.

Tiga orang muda itu hanya saling pandang. Kehebatan perkelahian antara guru-guru mereka itu membuat urusan di antara mereka, pertentangan di antara mereka nampak kecil tak berarti. Sebelum tiga orang muda itu menjawab, dua orang Kakek luar biasa itu sudah mendengkur dengan keras. Bahkan dalam dengkur itu, mereka seperti berlumba untuk saling mengalahkan. Demikian keras dengkur mereka sehingga banyak binatang hutan yang tidak berani mendekati tempat itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, begitu matahari menyinarkan cahayanya di permukaan bumi, dua orang Kakek itu sudah terbangun, mengulet dan tiba-tiba saja mereka teringat akan urusan mereka dan keduanya meloncat berdiri. Mereka kembali mengulet dan merasa segar setelah malam tadi makan dan tidur sampai kenyang. Akan tetapi harus mereka akui bahwa kedua lengan mereka masih terasa nyeri-nyeri dan seluruh tubuh mereka terasa linu dan pegal, tulang-tulang mereka seolah-olah tidak benar letaknya!

Melihat betapa dua orang Kakek itu nampaknya sudah siap lagi, Kiki yang tetap merasa khawatir itu berkata. “Ayah, apakah kalian tidak mau sarapan dulu?”

“Ha-ha-ha, Hai-tok sungguh dimanja anaknya. Anak baik, kalau Ayahmu terlalu kenyang makan, tentu belum seratus jurus dia sudah roboh di depan kakiku, terlalu banyak makan, ha-ha-ha...”

“Tidak perlu sarapan, Kiki. Hei, Thian-tok, lihat di angkasa sudah ada tanda-tanda bahwa hari ini adalah hari kematian Thian-tok. Kematian sudah berada di depan mata dan engkau masih banyak berlagak?”

“Engkaulah yang akan mampus, ha-ha-ha. Mari kita lanjutkan perkelahian kemarin, Setan Lautan Pemakan Ikan.”

“Iblis gendut, nanti kutendang pecah perutmu!” Hai-tok juga memaki dan keduanya segera menghampiri lapangan rumput dimana kemarin mereka berkelahi.

Dan di lain saat, sudah terdengar suara “Bk-bik-buk” ketika mereka sudah saling hantam dan saling tendang dengan penuh semangat. Tenaga mereka masih utuh sekarang, walaupun badan masih terasa lelah. Semalam mereka sudah mengatur siasat mencari akal bagaimana harus mengalahkan lawan, maka sekarang mereka mengerahkan tenaga dan menggunakan segala macam akal untuk mencapai kemenangan.

Seperti juga kemarin, Hai-tok memainkan ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu. Ketika Thian-tok yang juga sudah mengatur akal semalam untuk mencari jalan untuk mengalahkan lawan menyerangnya dengan kedua tangan dibentuk seperti cakar-cakar naga. Tiba-tiba Hai-tok menangkis dan tubuhnya terpelanting, lalu rebah miring. Tentu saja Thian-tok merasa girang, sekali dan secepat kilat dia membungkuk untuk mengirim serangan selanjutnya kepada lawan yang sudah roboh.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh yang miring itu bergerak seperti seekor ikan di dalam air, lalu membalik dan kakinya menendang ke arah lutut dan pusar Thian-tok! Kiranya Hai-tok tadi hanya pura-pura saja jatuh, lalu menggunakan gerakan yang diambil dari gerakan ilmu di dalam air yang dikuasainya “berenang” dan melakukan tendangan tiba-tiba amat kuat. Thian-tok hanya mampu menyelamatkan lututnya, akan tetapi tendangan kedua yang mengarah ke pusarnya itu terpaksa diterimanya sambil mengerahkan sin-kang.

“Desss...!” Thian-tok tidak terluka karena terlindungi hawa sin-kang, namun saking kerasnya tendangan, tubuhnya yang gendut itu terpental dan terbanting ke atas tanah dalam keadaan duduk. “Ngeeek!” Karena terbanting pantatnya, Kakek itu merasa nyeri juga dan menyeringai lebar untuk menutupi rasa nyerinya. Dia sudah bangkit lagi ketika Hai-tok datang melakukan serangan dengan tubuh agak membungkuk seperti seekor kerbau menanduk, akan tetapi yang menjadi tanduknya adalah dua buah tangannya.

Melihat serangan yang aneh ini, Thian-tok tertawa akan tetapi juga siap dengan siasat yang diaturnya semalam. Dia membiarkan lawan menyerang sampai dekat, dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan. Dan genggaman tangan kirinya keluarlah tanah dan debu yang tadi dicengkeramnya dengan diam-diam ketika dia terjatuh. Kini tanah berdebu yang dilempar dengan tenaga besar itu menyambar ke arah muka dan leher Hai-tok.

Tentu saja Hai-tok terkejut bukan main. Terpaksa memejamkan mata untuk melindungi mata kemasukan dengan kedua tangannya cepat menubruk dengan cengkeraman ke depan. Namun dia menubruk tempat kosong, dan sadar bahwa lawan menggunakan siasat, dia cepat membalik dan mengayun kedua tangan melindungi tubuh. Akan tetapi kurang cepat.

Thian-tok tadi setelah menyambitkan debu, sudah meloncat dan dan atas dia menghantam ke arah tengkuk lawan. “Plakkk!” Pukulan itu tertangkis, akan tetapi karena agak terlambat, pukulan itu masih menyeleweng dan mengenai pundak kiri Hai-tok. “Desss!” Hai-tok sudah melindungi tubuhnya dengan kekebalan, akan tetapi kerasnya pukulan membuat dia terpelanting roboh!

Kakek itu memang lihai sekali, begitu roboh, kedua kakinya melakukan tendangan-tendangan berantai ke atas dan dengan kedua tangan menekan tanah sehingga Thian-tok tidak berani mendekat, dan Hai-tok mampu bangkit kembali dengan loncatan. Mereka kini berdiri saling berhadapan lagi, dengan napas agak terengah dan kedua mata melotot.

Karena masing-masing sudah merasakan hantaman lawan, mereka mulai marah dan muka mereka menjadi kemerahan, sepasang mata mereka memancarkan sinar beringas! Dua orang Kakek tua renta itu sudah saling berhadapan bagaikan dua ekor singa yang siap untuk saling terkam! Tiga orang muda itu menonton seperti kemarin serasa tegang, karena mereka dapat menduga bahwa hari ini, tentu dua orang Kakek itu sudah mengambil keputusan untuk menang.

Perkelahian hari ini tentu mati-matian dan menentukan, apalagi karena tenaga mereka tentu tidak akan sekuat kemarin lagi. Mungkin belum sampai siang, seorang di antara mereka akan roboh dan bisa juga tewas. Hal ini membuat mereka merasa serba salah. Membantu, berarti mereka melanggar larangan suhu mereka. Tidak membantu, hati merasa tidak tega melihat betapa suhu masing-masing sudah nampak loyo dan repot.

Memang, kedua orang Kakek yang usianya sudah amat tinggi itu telah memeras tenaga di luar batas kemampuan tubuh mereka yang tua, sehingga kini mereka sudah mulai nampak kehabisan tenaga dan napas walaupun mereka baru berkelahi tiga-empat jam dan matahari belum naik terlalu tinggi.

Kini, dua orang Kakek itu tidak dapat mengerahkan sin-kang, tidak mampu bergerak cepat. Gerakan mereka lambat sekali, namun setiap gerakan masih mengandung sin-kang yang kuat. Pukulan-pukulan dilakukan lambat, namun penuh tenaga, demikian pula tangkisan. Setiap pertemuan kedua lengan, baru nampak betapa hebatnya mereka mempergunakan tenaga sin-kang.

Sekitar mereka seolah-olah ikut tergetar apabila lengan mereka saling bertemu. Selagi tiga orang muda itu kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka takukan, tiba-tiba terdengar suara halus namun nyaring.

“Omitohud, kalian seperti anak-anak nakal saja! Harap hentikan pertandingan itu, pinceng mau bicara!” Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang hwesio tua yang bertubuh gendut seperti tubuh Thian-tok, dan tiga orang muda itu tentu saja mengenal Kakek ini yang bukan lain adalah Siauw-bin-hud!

Akan tetapi, dua orang Kakek yang sedang berkelahi itu tidak menghentikan perkelahian mereka. Bukan mereka tidak mau mendengarkan dan menuruti permintaan Siauw-bin-hud, melainkan mereka tidak mungkin lagi dapat menghentikan perkelahian itu. Gerakan-gerakan mereka yang lambat itu susul-menyusul dan apabila seorang di antara mereka mendahului lawan menghentikan serangan, besar bahayanya dia akan terkena pukulan yang akan mendatangkan akibat yang parah.

Melihat ini, Siauw-bin-hud diam-diam terkejut. Tak disangkanya bahwa dua orang Kakek sesat ini berkelahi benar-benar, bahkan sudah berada di ambang maut karena keduanya sudah berada dalam keadaan mengadu nyawa. Cepat dia mengeluarkan seruan halus.

“Omitohud!” Dan tubuhnya menerjang ke depan di tengah-tengah antara kedua orang Kakek itu. Siauw-bin-hud mengembangkan kedua lengannya ke kanan kiri, yang kanan menolak tangan Thian-tok, yang kiri menolak tangan Hai-tok.

“Desss...!” Hebat bukan main pertemuan tenaga antara dua orang Kakek yang sedang berkelahi itu dengan tenaga Siauw-bin-hud yang menahan mereka.

Dua orang Kakek itu merasa betapa tenaga serangan mereka amblas ke dalam kelunakan yang membuat mereka merasa seperti terjatuh dari tempat tinggi sekali. Mereka melawan karena terkejut, akan tetapi perlawanan mereka itu mengakibatkan mereka terlempar ke belakang sampai dua meter, sedangkan Siauw-bin-hud berdiri dengan tubuh agak bergoyang-goyang dan mukanya agak pucat...

Jilid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.