Pedang Naga Kemala Jilid 28 karya Kho Ping Hoo - KAKEK Siauw-lim-pai ini baru saja terhimpit antara dua tenaga raksasa! Dari sini saja dapat diketahui betapa hebatnya kepandaian Siauw-bin-hud, dan dua orang Kakek itupun harus mengakuinya. Mereka bangkit berdiri dengan agak susah. Thian-tok dibantu oleh Siu Coan dan Hai-tok dibantu oleh Song Kim yang cepat-cepat menghampiri gurunya.

“Siauw-bin-hud, kenapa engkau mencampuri urusan kami? Aku sudah hampir dapat membunuhi Setan Gendut itu tadi!” kata Hai-tok setelah dia dapat mengatur pernapasannya dan dia nampak penasaran.
“Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, Setan Lautan itulah yang tadi sudah hampir mampus. Eh, hwesio yang jahil, apakah engkau hendak pamer kepandaian maka engkau berani melerai kami?”
“Omitohud, sungguh heran sekali, malah kalian yang menegur pinceng!” Siauw-bin-hud tertawa. “Apakah itu tidak terbalik namanya? Sepatutnya, pinceng yang harus menegur kalian! Sepatutnya kalian, seperti pinceng, berprihatin melihat keadaan negara kita.”
“Lihat, perjuangan rakyat menurun semangatnya, pemerintah penjajah Mancu menjadi semakin lemah tak tahu malu, menjuali bagian-bagian tanah kepada orang kulit putih, dan lihat... orang orang asing kulit putih itu kini menjadi semakin kuat, merajalela dan kekuasaan mereka semakin meluas.
“Dalam keadaan seperti ini, kalian bukannya bersatu untuk menyusun kekuatan menentang dan membela tanah air dan bangsa, malah kalian seperti anak-anak kecil saja yang memperebutkan kembang gula, saling pukul sampai loyo! Apakah kalian tidak malu? Omitohud, kalau kalian orang-orang tua tidak memberi contoh yang baik, apalagi yang dapat diharapkan dari yang muda-muda?”
“Ah, engkau tidak tahu apa yang tenjadi di antara kami!” Hai-tok membentak, masih penasaran. “Murid Thian-tok memukuli muridku, siapa yang tidak akan marah?”
“Maaf, locianpwe...” kata Siu Coan membela diri. “Saya telah mendapat ijin locianpwe Tang Kok Bu untuk membantu puterinya, Ki-moi, mencari dan membunuh pengkhianat Lee Song Kim. Bahkan saya sudah diterima untuk menjadi calon suami Ki-moi. Akan tetapi ketika kami menghajar Lee Song Kim, muncul Tang-locianpwe menyerang saya.”
“Nah, nah... apa itu tidak gila namanya? Melihat Siu Coan diserang oleh tua bangka ini, aku merasa ditantang!” Thian-tok menyambung.
“Omitohud...!” Siauw-bin-hud tertawa lebar. “Heh-heh-heh, kiranya hanya urusan jodoh. Hai-tok, bagaimana pendapatmu tentang jodoh puterimu?”
“Aku belum pernah meresmikan perjodohan antara anakku dan Ong Siu Coan. Akan tetapi sekarang aku ingin menjodohkan anakku dengan Lee Song Kim!” kata Hai-tok.
“Ayah! Aku tidak sudi!!” Kiki berteriak memandang ayahnya dengan mata terbelalak penuh penasaran dan kemarahan.
“Engkau harus mau!” kata ayahnya.
“Tidak, lebih baik aku mati saja dari pada menikah dengan dia!”
“Hemm, hendak membantah dan melawan orang tua? Kalau begitu matilah!” Hai-tok menjadi marah dan mengambil tongkatnya, akan tetapi Siauw-bin-hud sudah di depannya sambil tertawa.
“Ha-ha-ha, urusan perjodohan adalah urusan yang menggembirakan, kenapa harus mengakibatkan seorang ayah hendak membunuh puterinya? Hai-tok, sebenarnya yang ingin menikah itu engkau ataukah puterimu? Yang hendak memilih suami itu engkau ataukah puterimu?”Mendengar pertanyaan ini, Thian-tok tertawa bergelak, dan muka Hai-tok berubah merah sekali. Dia tahu bahwa pendeta tua itu tidak ingin mengejeknya, namun pertanyaan itu merupakan tikaman bagi hatinya karena dia memang seorang yang suka sekali kepada pemuda-pemuda tampan!
“Gila! Tentu saja anakku!” bentaknya ketus.
“Nah, kalau anakmu yang mau berjodoh, kenapa tidak membiarkan ia memilihnya sendiri? Ia yang akan menikah, ia pula yang berhak menentukan calon suaminya, bukan?” Siauw-bin-hud berkata ramah dan sambil tersenyum.
Hai-tok menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya. “Tidak, tidak akan baik jadinya kalau anak memilih sendiri. Harus orang tua yang memilihkan. Pandangan anak masih sempit dan hijau, hanya melihat ketampanan wajah seorang pemuda saja. Sebaliknya, pandangan orang tua lebih luas dan jauh jangKau annya, memperhitungkan masa depan anaknya. Tidak, Siauw-bin-hud, sekali ini engkau keliru. Pemilihan jodoh seorang anak perempuan harus di tentukan oleh orang Tuanya.”
“Heh-heh-heh, ini pandanganmu sebagai orang tua, bukan? Tentu saja begitu! Orang tua memilihkan calon jodoh anak perempuannya sesuai dengan pandangannya, sesuai dengan pandangannya terhadap calon mantu itu. Dan pinceng percaya bahwa orang tua yang memilihkan jodoh anaknya akan memperhitungkannya masak-masak untuk masa depan anaknya.
“Akan tetapi benarkah demikian? Bukankah si orang tua hanya memperhitungkan masa depan dirinya sendiri? Si orang tua hanya mencari kesenangan hatinya sendiri tanpa memperhitungkan perasaan anaknya? Dia boleh senang kepada calon mantu yang dipilihnya, akan tetapi bagaimana dengan anaknya?
“Orang tua menganggap bahwa apa yang disukai tentu akan disukai pula oleh anaknya, benarkah pendapat ini? Ingat, Hai-tok, alam pikiran orang tua dan anaknya belum tentu sama, selera di antara mereka mungkin sekali berbeda.”
Sejenak Hai-tok termenung, lalu membantah. “Akan tetapi Siauw-bin-hud, pandangan seorang gadis muda masih terlalu dangkal dan hijau untuk dapat melakukan pemilihan yang tepat. Ia akan mudah terpikat dan terbujuk omongan manis, sikap yang manis, dan wajah yang gagah tampan. Apakah orang Tuanya tidak akan ikut menyesal kelak kalau sampai ternyata kemudian pilihannya itu keliru?”
“Mungkin saja bisa keliru. Akan tetapi kekeliruan karena pilihan sendiri menjadi tanggung jawabnya sendiri, dan si anak yang akan mengalami segala akibatnya, bukan? Orang tua hanya menonton saja. Kalau seorang anak keliru memilih, kelak ia akan menyesali nasib dan diri sendiri yang salah pilih, tidak menyalahkan orang tua. Sebaliknya, kalau orang tua yang salah pilih, dia akan menjadi bulan-bulan penyesalan anaknya!”
Hai-tok mengerutkan alisnya dan memandangi kepada Hwesio tua itu. “Siauw-bin-hud... engkau memang pandai bicara. Habis, apa yang harus dilakukan orang tua? Menurut saja kepada kehendak anak perempuannya, walaupun dia tahu bahwa pilihan anaknya itu keliru?”
“Ho-ho-ho, jangan menjebak omongan, Hai-tok. Apa yang harus dilakukan orang tua? Bukan orang yang baik namanya kalau membiarkan saja, acuh saja akan segala tindakan anak-anaknya. Orang tua harus memberi kebebasan kepada anaknya, akan tetapi bukan berarti lalu acuh dan tidak perduli. Orang tua mengamati saja dari belakang.
"Dan kalau melihat kenyataan bahwa tindakan anaknya keliru, orang tua berkewajiban untuk mengingatkannya, menasihatinya. Akan tetapi bukan berarti lalu orang tua memaksa anaknya untuk mentaati segala kehendaknya, menerima segala pilihan yang dilakukan orang tua untuk anaknya. Apalagi dalam hal memilih jodoh.”
“Mungkin ada benarnya ucapanmu itu, Siauw-bin-hud. Akan tetapi kenyataannya, kuanggap Lee Song Kim ini seorang murid dan calon mantu yang baik sekali.”
“Ha-ha-ha-ha!” Thian-tok tertawa bergelak. “Baik apanya? Karena ulahnya, kita berdua hampir mati konyol, Hai-tok! Dan para pimpinan pejuang hampir mati konyol semua! Dan Kau masih memujinya sebagai murid dan calon mantu yang baik? Heh-heh-heh!”
“Thian-tok, engkaulah yang mendurhakai golongan kita! Coba ingat baik baik, apa jadinya dengan murid-muridmu sendiri? Apa jadinya dengan murid Tee-tok dan San-tok? Huh, mereka semua menjadi orang-orang yang meninggalkan golongan kita, condong untuk menjadi pendekar dan menentang golongan kita! Huh, lupakah engkau siapa dirimu, siapa kita, siapa Empat Racun Dunia yang namanya pernah menggemparkan jagad? Hanya muridku seorang inilah yang masih aseli!
Dia melakukan apa saja yang hebat, yang tidak kalah oleh tindakan kita. Segala kecurangan dan tipu muslihat itu menunjukkan bahwa dia cerdik dan patut menjadi murid Hai-tok! Dia melakukan semua itu karena ada tujuan yang besar, bukan sekedar main gagah-gagahan! Aku suka padanya dan dia patut menjadi muridku, bahkan patut menjadi mantuku atau puteraku sekalipun!”
Dibantah seperti itu, Thian-tok tak mampu bantah lagi. Memang, tadinya diapun merasa bangga akan tingkah laku Koan Jit, muridnya yang pertama, yang dalam hal kejahatan tidak kalah oleh Empat Racun Dunia sendiri! Akan tetapi muridnya itu akhirnya tewas sebagai seorang pendekar! Dan Siu Coan inipun tidak begitu menonjol dalam hal kejahatan seperti suhengnya. Apalagi Gan Seng Bu yang mati muda karena tergila-gila kepada seorang wanita kulit putih!
“Ha-ha-ha, sesukamulah Hai-tok, itu urusan pribadimu, aku tidak mau turut campur. Asal engkau tidak mengganggu muridku, akupun tidak perduli,” akhirnya Thian-tok berkata dengan sikap acuh.
“Omitohud...!” Siauw-bin-hud juga tertawa kini. “Bukankah amat mudahnya melenyapkan permusuhan dan lebih enak hidup damai antara manusia! Hai-tok, urusan jodoh adalah urusan anak, hal itu sudah Kau akui kebenarannya. Nah, urusan perjodohan anakmu juga serahkan saja kepadanya sendiri. Biarkan ia yang memilih calon suaminya.”
“Aku memilih Ong Siu Coan!” Tiba-tiba Kiki berseru. Sebetulnya, hati Kiki hanya satu kali saja pernah tertarik kepada pria, yaitu kepada Tan Ci Kong. Akan tetapi karena dara inipun tahu bahwa Ci Kong dicinta banyak gadis lain, dan melihat betapa Siu Coan yang mendekatinya, iapun menentukan pilihannya kepada Siu Coan, seorang pemuda yang dianggapnya memiliki cita-cita besar sekali.
Hai-tok cemberut. Untuk menentang anaknya, dia merasa malu kepada Thian-tok dan Siauw-bin-hud. Maka sambil bersungut-sungut dia menyumpah. “Anak tolol! Kalau engkau tidak mau berjodoh dengan Song Kim pilihanku, biarlah engkau tak usah kembali ke Pulau Naga dan jangan anggap aku sebagai ayahmu lagi!”
Kiki adalah seorang anak yang sejak kecil dimanja dan memang wataknya keras dan bandel sekali. Mendengar ucapan ayahnya itu, ia memandang ayahnya dan berkata. “Kata ayah sendiri bahwa anak harus mentaati perintah orang tua. Nah, sekarangpun aku akan mentaati perintah ayah, aku tidak akan pulang ke Pulau Naga.”
“Ha-ha-ha!” Thian-tok tertawa bergelak sampai perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang. “Bagus, bagus! Ini namanya Hai-tok rugi kehilangan anak perempuan, akan tetapi aku untung mendapatkan seorang mantu perempuan, ha-ha-ha!”
Siauw-bin-hud melihat betapa sepasang mata Hai-tok mencorong marah, maka diapun cepat berkata sambil tertawa. “Siapa bilang Hai-tok rugi? Dia boleh jadi kehilangan anak perempuan, akan tetapi dia mendapatkan seorang anak laki-laki sebagai penggantinya.”
Mendengar ini, wajah Hai-tok berseri dan diapun tertawa. “Ha-ha-ha... orang bilang bahwa anak perempuan itu hanya mendatangkan kesialan belaka, sebaliknya anak laki-laki mendatangkan bahagia. Thian-tok memperoleh seorang anak perempuan, dan aku mendapatkan seorang anak laki-laki, biarlah semua kesialan akan menimpa Thian-tok dan semua kebahagiaan menjadi bagianku. Mulai detik ini, Song Kim kuangkat menjadi puteraku.”
Song Kim yang amat cerdik itu, begitu mendengar ucapan Suhunya seperti itu, tanpa membuang waktu lagi dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hai-tok, memberi hormat dan berkata. “Ayah...!”
Dan Hai-tok menerima penghormatan itu sambil tersenyum girang. Dengan berkerut, Kiki melangkah maju.
“Song Kim, di antara kita masih ada perhitungan yang belum kita bereskan! Bangkitlah dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa tanpa ada campur tangan orang lain! Aku tantang Kau, dan kalau engkau tidak berani menerima tantanganku, berarti engkau hanya seorang laki-laki pengecut dan hina, rendah dan tak tahu malu!”
Song Kim memang cerdik. Tadi dia sudah melihat gerakan-gerakan Kiki, dan dia maklum bahwa sumoinya itu telah memperoleh ilmu lain yang membuat sumoinya dapat bergerak amat cepatnya. Mungkin sekarang dia tidak akan mampu mengalahkan sumoinya, maka setelah selesai memberi penghormatan ke ayah angkatnya, diapun bangkit berdiri tanpa menjauhi ayahnya dan berkata dengan halus. “Sumoi, apakah sebabnya engkau menantangku? Perhitungan apakah yang ada di antara kita?”
“Keparat! Engkau masih pura-pura tidak tahu dan berani bertanya lagi? Lupakah engkau akan apa yang Kau lakukan terhadap diriku ketika aku berangkat meninggalkan Pulau Layar? Engkau menyerangku di dalam perahu dan dengan curang merobohkan aku. Kemudian engkau ... engkau berusaha untuk memperkosaku!”
Song Kim tertawa, meniru suara ketawa guru atau ayah angkatnya yang jarang tertawa itu. “Hemm, sumoi... hal itu hanya membuktikan bahwa aku jauh lebih cerdik dari pada engkau, sehingga engkau dapat kutundukkan di dalam perahu. Akan tetapi, tidak ada alasannya sama sekali bagimu untuk membalas dendam kepadaku, karena bukankah engkau belum ternodai.”
“Jahanam! Kalau sudah ternoda, lebih baik aku mati!” teriak Kiki marah.
Hai-tok berkata, nada suaranya tegas kepada Kiki. “Kiki, kalau engkau sudah ternoda oleh Song Kim, engkau harus menjadi isterinya. Kalau belum ternoda, sudahlah... tidak ada urusan lagi antara engkau dan dia.”
Melihat betapa ayahnya selalu membela Song Kim, Kiki menjadi marah sekali, akan tetapi ia menghadapi ayahnya, walaupun ia tidak diakui lagi, tetap saja ia tidak berani melawan ayahnya yang juga menjadi gurunya. Mukanya menjadi merah dan ia tidak tahu apakah ia harus marah-marah ataukah menangis.
Melihat ini, Siu Coan cepat maju dan berkata dengan suara lantang. “Sungguh penasaran sekali kalau dosa-dosa yang dilakukan Lee Song Kim dibiarkan begitu saja! Semua urusan pribadi boleh kita lupakan. Akan tetapi kita tidak sepantasnya melupakan bahwa dia telah menjadi pengkhianat dan telah menangkap para pimpinan pejuang! Dia telah menjadi musuh para pejuang, maka kita semua akan menjadi pengkhianat pula kalau membiarkan saja dia berkeliaran!”
“Dia tidak selamanya menjadi pengkhianat!” Hai-tok cepat membela. “Orang yang cerdik selalu bertindak menurut angin yang menguntungkan. Sekarang tidak mungkin lagi bagi dia untuk bekerja sama dengan pemerintah Mancu atau orang kulit putih, berarti dia sekarang menjadi sekutu pejuang.”
Siauw-bin-hud tertawa lagi. Dia tidak menghendaki terjadi perpecahan antara mereka yang diharapkan akan dapat membantu gerakan para pejuang. “Omitohud... di dunia ini, manakah ada yang baik selamanya? Baik dan buruk sudah menjadi pakaian manusia, menguasai diri manusia seperti siang dan malam. Perbuatan-perbuatan yang lalu, yang dianggap jahat dan buruk penuh dosa, dapat saja ditebus dengan perbuatan baik.
“Ingatlah kepada Koan Jit. Kurang bagaimana dia? Akan tetapi pada saat terakhir, dia menjadi seorang patriot, seorang pahlawan yang dikagumi semua orang. Kalau Lee Song Kim dapat berbuat seperti Koan Jit, bukankah orang akan melupakan semua perbuatannya yang lalu dan mengaguminya pula.”
Mendengar ini, Siu Coan tidak dapat membantah lagi. Harus diakui kebenaran ucapan kakek gundul itu. Suhengnya, Koan Jit, memang merupakan pengkhianat yang jauh lebih besar dibandingkan Song Kim, akan tetapi setelah pada saat kehidupannya yang terakhir, Koan Jit melakukan perbuatan gagah berani, berkorban nyawa demi perjuangan. Orang mengaguminya dan melupakan semua dosanya yang lalu.
Thian-tok juga tidak berani membuka mulut, hanya menyeringai saja karena diapun merasa akan kebenaran omongan Siauw-bin-hud. Dia sebagai guru Koan Jit, tentu saja tidak dapat mencela Song Kim sebagai seorang pengkhianat seperti yang dilakukan oleh Siu Coan.
“Ha-ha-ha, memang tua bangka Siauw-bin-hud memiliki pandangan yang amat luas. Kita semua harus menerima pendapatnya itu, dan sudahlah... aku tidak mau memperpanjang urusan lagi. Siu Coan dan Kiki, sebaiknya kalian melanjutkan perjalanan dan buang saja pikiran kalian untuk membunuh Song Kim! Kini dia telah menjadi putera Hai-tok. Kita menjadi anggauta keluarga besar pejuang.”
“Suhu, teecu hendak melanjutkan niat teecu untuk membentuk pasukan besar,” kata Siu Coan.
“Dan aku akan membantunya!” kata pula Kiki.
“Ha-ha-ha, berangkatlah, muridku, jangan kecewakan harapan gurumu. Engkau harus menjadi pejuang nomor satu di dunia ini, ha-ha-ha!” kata Thian-tok.
Mereka lalu bubaran. Siu Coan bersama Kiki, Song Kim pergi mengikuti Hai-tok, dan yang tinggal di situ kini hanyalah Thian-tok dan Siauw-bin-hud. Dua orang kakek yang sebaya, dengan bentuk tubuh dan muka yang mirip sekali seperti dua orang kembar namun dalam keadaan yang amat berbeda.
Karena yang seorang adalah pendeta Siauw-lim-pai yang terkenal sebagai seorang pertapa yang hidup bersih, sebaliknya Thian-tok adalah seorang di antara Empat Racun Dunia yang paling jahat! Keduanya sama sakti, juga sama-sama suka tertawa gembira. Kini mereka berdiri berhadapan dan saling pandang sambil menyeringai lebar.
“Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, kalau sekali ini engkau tidak muncul, entah akan bagaimana jadinya dengan Hai-tok dan aku. Mungkin kami berdua sudah mampus sekarang. Engkau ternyata dapat memperpanjang usiaku entah beberapa tahun lagi!” kata Thian-tok. “Bagaimana engkau begini kebetulan dapat muncul di sini?”
Siauw-bin-hud tertawa. “Aha... masih belum tahukah engkau, Thian-tok? Thian sendirilah yang membawa pinceng sampai di sini dan melerai kalian yang sedang berkelahi.”
“Haiii, jangan bohong engkau, Hwesio tua! Bagaimana Thian dapat membawamu ke sini? Apakah engkau digendongnya? Ha-ha-ha!”
Biarpun wajahnya masih penuh senyum berseri, Siauw-bin-hud menjawab. “Thian-tok, coba rasakan, apakah jantungmu masih berdenyut?”
Thian-tok terkejut, dan sambil mengerutkan alisnya dia memperhatikan. Dan memang jantungnya masih berdenyut! Untung sekali. Dia tadi sudah terkejut setengah mati mendengar ucapan Siauw-bin-hud itu.
“Coba Kau hentikan sebentar saja. Dapatkah?”
“Ha-ha-ha, apakah engkau telah menjadi gila, Siauw-bin-hud? Bagaimana mungkin menghentikan denyut jantung? Kalau berhenti berdenyut, berarti aku sudah mampus!”
“Nah, engkau mengakui juga, bukan? Kalau Tuhan menghendaki, sekarang juga denyut jantung kita terhenti dan kita mati. Namun Tuhan menghendaki bahwa engkau masih hidup, kita masih hidup. Mengertikah engkau sekarang bahwa kedatanganku ini juga dikehendaki oleh Tuhan? Segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan, karena kita hidup inipun atas kehendak Tuhan.”
“Ha-ha-ha, engkau memang pandai membujuk, Siauw-bin-hud. Aku tidak pernah memikirkan tentang Tuhan, melainkan melihat kenyataan. Engkau dapat datang ke sini, sebetulnya hendak kemanakah?” Dia berhenti sebentar dan memandang tajam menghentikan tawanya. “Bukankah selama ini engkau hanya bertapa saja? Mengapa sekarang keluyuran sampai di sini. Mau apakah engkau?”
“Omitohud...” Siauw-bin-hud menarik napas panjang. “Kehendak Tuhan pun terjadilah! Pinceng mendengar akan keadaan yang makin memburuk di negeri kita. Dua kekuasaan besar yaitu pemerintah Mancu dan orang-orang kulit putih bagaikan dua ekor anjing kelaparan yang hendak memperebutkan tanah air kita. Tanah air kita mungkin akan tercabik-cabik oleh dua kekuasaan itu, dan yang menyedihkan, gerakan para pejuang kini menjadi semakin lemah. Karena itulah pinceng keluar dan ingin menganjurkan para pejuang untuk bergerak lagi lebih bersemangat. Kalau bukan kita sendiri yang bergerak, sampai kapankah bangsa dan tanah air kita terbebas dan cengkeraman penjajah?”
Thian-tok tertawa. “Jangan engkau khawatir, Siauw-bin-hud. Tidak lama lagi akan muncul sebuah angkatan perang yang amat kuat, dengan balatentara yang besar, dipimpin oleh seorang gagah yang kelak akan mengusir penjajah dan bangsa asing lainnya dari tanah air.”
“Omitohud, alangkah baiknya kalau ramalanmu itu benar. Siapakah orangnya yang akan mampu melakukan itu?”
“Bukan lain adalah muridku tadi... Ong Siu Coan!”
“Omitohud... pinceng melihat dia sebagai seorang muda yang penuh cita-cita. Mudah-mudahan harapanmu terkabul, Thian-tok. Nah, sekarang pinceng hendak melanjutkan perjalanan dan engkau pun usahakanlah agar dapat menghubungi para patriot di seluruh tanah air untuk membantu perjuangan.”
Dua orang kakek ini saling berpisah meninggalkan tempat itu yang kini berubah sunyi sekali.
Sunyi bukan berarti kesepian, melainkan sunyi yang hening. Keheningan mendatangkan kedamaian. Keheningan menonjolkan kekuasaan alam, dan keheningan baru mungkin muncul kalau batin tidak dibebani oleh bermacam keinginan. Kalau airnya keruh, takkan nampak apa-apa kecuali yang berada di permukaan saja. Akan tetapi kalau airnya jernih, akan nampaklah segala rahasia dan keindahan sampai ke dasarnya.
Thian-te-pang merupakan sebuah perkumpulan orang gagah yang kini menjadi semakin besar semenjak mereka ikut terjun dalam perjuangan karena banyak orang muda perkasa yang tertarik dan masuk menjadi anggauta dan murid Thian-te-pang. Pusatnya berada di lereng bukit Kijang Putih di Propinsi Hunan, di sebelah utara kota Kanton. Seperti kita ketahui, perkumpulan ini pernah dikuasai oleh Ong Siu Coan.
Ketika ketua Thian-te-pang yang bernama Ma Ki Sun melihat betapa kekuasaan Ong Siu Coan makin besar, dia lalu minta banTuan para tokoh kang-ouw yang perkasa untuk merebut kembali kedudukannya. Dan melihat betapa di situ hadir banyak tokoh besar di dunia persilatan, dengan cerdik Siu Coan lalu mengundurkan diri sehingga tidak terjadi bentrok antara dia dan Ma Ki Sun.
Pada hari itu, tempat yang menjadi pusat Thian-te-pang nampak ramai, penuh dengan para anggauta Thian-te-pang. Ada dua ratus orang lebih anggauta Thian-te-pang kini, merupakan orang-orang muda yang rata-rata gagah perkasa dan bertubuh kuat. Pada pagi hari itu, Ma Ki Sun memang memanggil seluruh anggauta untuk berkumpul di situ. Di sebuah lapangan rumput yang amat luas di lereng bukit Kijang Putih, mereka sudah berkumpul.
Di tengah lapangan rumput itu terdapat sebuah tiang bambu yang tinggi dan di ujungnya berkibar bendera Thian-te-pang yang bergambar tanda Im dan Yang, yaitu bulatan dimana terdapat bagian yang hitam dan putih saling melingkar. Itulah tanda perkumpulan ini, dan tanda inipun terdapat di baju semua orang anggauta, terlukis di dada baju mereka.
Setelah dua ratus lebih orang itu berkumpul, keadaan menjadi bising karena mereka semua saling bercakap, seperti dalam pasar saja. Dan memang mereka membicarakan panggilan berkumpul ini, karena mereka semua tahu belaka bahwa sang ketua memanggil untuk memecahkan masalah yang timbul di antara mereka. Ada sebagian yang dengan penuh semangat ingin melanjutkan perjuangan.
Akan tetapi sebagian pula yang terbanyak, merasa malas dan tidak bersemangat tetapi setelah kini perjuangan pada umumnya mengendur. Banyak sudah korban jatuh di antara para pejuang, namun sampai sekian lamanya, tetap saja pemerintah Mancu bertahan, bahkan kini orang-orang kulit putih makin memperlebar sayap mereka dan bekerja sama dengan pemerintah.
Karena perbedaan paham, tentu saja terjadi pertentangan di antara mereka sendiri, dan kini Ma Ki Sun, yang menjadi pang-cu (ketua) mereka, memanggil semua anggauta untuk berkumpul pada pagi hari itu. Baru setelah ketua Thian-te-pang muncul, kegaduhan itu berhenti dan suasananya menjadi sunyi karena semua orang memperhatikan sang ketua yang memasuki lapangan rumput itu.
Ma Ki Sun kini sudah berusia enam puluh enam tahun, tubuhnya kini menjadi agak gemuk, tidak sekurus dahulu. Mata kirinya yang buta membuat dia kelihatan lebih berwibawa, dengan pakaiannya yang juga memakai tanda gambar lambang perkumpulannya. Wajahnya nampak sekali membayangkan wataknya yang angkuh dan keras, dan memang Ma Ki Sun ini seorang yang keras hati, dengan julukan It-gan Lam-eng (Pendekar Selatan Bermata Satu).
“Para anggauta dan murid sekalian, dengarkan apa yang akan kukatakan kepada kalian!” Terdengar suara lantang sang ketua setelah dia meloncat naik ke atas panggung yang memang dipasang di bawah tiang bendera. Karena dia berada di atas panggung yang cukup tinggi, semua orang anggauta dapat melihat ketua mereka dengan jelas.
“Kalian semua tahu sudah...” sambung ketua itu yang dapat dikatakan bicara di depan para muridnya atau anak buahnya. “Perjuangan telah mengendur dan kedudukan kita sebagai pejuang semakin lama semakin lemah, sehingga kalau kita maju, sama saja dengan membunuh diri. Perjuangan adalah gerakan rakyat seluruhnya.
“Kalau yang lain mengendur dan mundur, tentu saja tidak mungkin bagi kita untuk maju sendiri dan mengorbankan nyawa dengan sia-sia belaka. Balatentara Ceng terlampau kuat, apalagi kini mereka diperkuat dengan senjata api, dan mereka bersahabat dengan orang-orang kulit putih."
“Kita lawan mereka!!” tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari para anggauta yang bersemangat. Banyak di antara mereka yang telah kehilangan keluarga atau kehilangan sahabat karib yang gugur dalam perjuangan, maka bagi mereka kini lebih condong kepada persoalan pribadi yang mendendam dan pada persoalan perjuangan.
“Ya... bunuh semua orang kulit putih!” teriak seseorang yang diikuti oleh banyak orang yaitu mereka yang merasa dendam kepada orang kulit putih karena keluarga mereka menjadi korban senjata api pasukan kulit putih.
Keadaan menjadi lebih gaduh dan pada tadi, karena ada pula orang-orang yang berteriak mendukung sang ketua. Kegaduhan itu tentu akan makin menjadi dan bukan tidak mungkin mereka akan berkelahi satu sama lain kalau saja sang ketua tidak cepat mengangkat kedua tangan ke atas sambil mengerahkan khi-kang dan membentak nyaring.
“Semua diam...! Kuminta semua tenang...!” Bagaikan dikomando saja, semua orang berdiam diri dan kegaduhan lenyap seketika, membuat suasana menjadi lengang dan aneh rasanya. Setelah melihat keadaan menjadi tenang, Ma Ki Sun mengeluarkan suaranya lagi, kini terdengar ketus dan marah.
“Kalian bersikap seolah-olah segerombolan serigala liar yang tidak ada pemimpinnya lagi! Lihatlah aku! Bukankah aku ketua kalian, guru kalian? Akulah yang berhak mengambil keputusan dan menentukan langkah perkumpulan kita. Nah, sekarang dengarkan dan taati saja dan jangan membuat ribut!” Setelah melihat semua orang tidak ada yang berani mengeluarkan suara, Ma Ki Sun melanjutkan kata-katanya.
“Seperti kukatakan tadi, para pejuang kini mengendur semangat mereka. Bukan kita yang mengendur, namun mereka. Dan kita harus bersikap cerdik, tidak bunuh diri mati konyol! Bukan berarti kita berhenti dan menentang perjuangan, melainkan berhenti dulu dan tidak melakukan hal-hal yang akan mencelakakan diri sendiri. Kita mulai sekarang tidak boleh memusuhi pemerintah atau orang kulit putih, kita melihat keadaan saja. Kalau kelak perjuangan menjadi lagi, barulah kita akan bergerak kembali!”
Tiba-tiba terdengar suara nyaring melengking. “Ma Ki Sun telah menjadi seorang pengecut! Tidak pantas dia menjadi ketua Thian-te-pang yang gagah perkasa...”
Semua orang terkejut, apalagi setelah melihat berkelebatnya dua bayangan orang, dan ketika semua orang memandang ke arah melesatnya dua bayangan itu, tahu-tahu di atas panggung telah berdiri dua orang muda, seorang laki-laki dan seorang perempuan, berhadapan dengan Ma Ki Sun! Semua orang terkejut, apalagi ketika mengenal bahwa pemuda itu adalah Ong Siu Coan yang telah mereka kenal dengan baik! Dan gadis itu amat cantik manis dan gagah sekali sikapnya.
Sebelum Ma Ki Sun yang terkejut bukan main melihat munculnya Ong Siu Coan itu sempat menegurnya, Siu Coan sudah memandang ke arah bendera yang berkibar di puncak tiang dan berkata, suaranya tetap nyaring seperti tadi sehingga terdengar oleh semua anggauta yang berdiri mengurung di bawah panggung.
“Aiihh, sungguh sayang sekali bendera Thian-te-pang yang demikian agung itu hari ini harus tercemar oleh sikap ketuanya yang pengecut. Sebaliknya, bendera itu ku selamatkan saja dari tangan seorang pengecut. Ki-moi, tolong Kau ambikan bendera itu!”
“Baik, Toako!” kata Kiki. Dan gadis itu dengan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah mencelat ke atas, membuat salto dan setiap kali berjungkir balik, tubuhnya melayang semakin tinggi, tangannya menyentuh tiang dan membuat salto lagi sampai akhirnya ia tiba di puncak tiang.
Tangannya kini meraih gagang bendera dan sekali cabut, bendera itu telah berada di tangannya. Lalu dengan gerakan indah, dengan salto tiga kali, tubuhnya meluncur turun membawa bendera yang berkibar, dan dengan ringan kedua kakinya hinggap di atas papan panggung pula.
Menyaksikan pertunjukan demonstrasi gin-kang yang demikian hebatnya, banyak anggauta Thian-te-pang tak dapat menahan kekaguman mereka dan mereka bertepuk tangan memuji, bahkan ketua Ma Ki Sun sendiri memandang bengong. Harus diakuinya bahwa gadis itu memiliki gin-kang yang amat luar biasa, dan belum pernah dia melihat orang mampu melakukan hal seperti itu.
Akan tetapi melihat kemunculan bekas saingannya itu, mendengar kata-kata Siu Coan, kemudian melihat bendera pusaka perkumpulannya dirampas orang, tentu saja Ma-pangcu menjadi marah bukan main. “Ong Siu Coan! Apa maksudmu dengan kedatanganmu kali ini, dan dengan kata-katamu yang lancang bahkan berani merampas bendera kami. Engkau sudah menghina Thian-te-pang?”
Siu Coan tertawa, sengaja tertawa keras agar terdengar oleh semua anggauta. “Ha-ha-ha! Ma Ki Sun! Aku tadi hanya kebetulan saja lewat bersama tunanganku, dan aku tidak akan mencampuri seandainya tidak mendengar kata-katamu tadi. Engkau sendiri menyelewengkan para anggauta Thiau-tepang yang gagah perkasa dan patriotik!
“Engkau hendak menyeret mereka dan pejuang-pejuang gagah perkasa menjadi pengecut-pengecut dan pengkhianat-pengkhianat yang hina. Tentu saja aku tidak rela! Kalau engkau tidak lagi mampu memimpin saudara-saudara yang gagah ini, biarlah aku yang memimpinnya mulai detik ini!”
“Ong Siu Coan! Engkau lah yang pengkhianat besar! Siapa tidak tahu bahwa engkau pernah menjadi kaki tangan orang kulit putih?” bentak Ma Ki Sun, khawatir sekali karena sikap pemuda ini dapat menarik simpati para muridnya, seperti dahulu.
“Ha-ha-ha... kata-katamu itu menunjukkan bahwa engkau memang tolol! Pengetahuanmu dangkal sekali dan orang macam engkau ini akan memimpin Thian-te-pang? Phuhh! Akan dibawa kemana perkumpulan besar ini? Aku memang menyelundup ke dalam kalangan orang kulit putih, bukan untuk berkhianat seperti engkau, melainkan untuk mempelajari keadaan mereka! Nah, buktinya sekarang aku berada di luar dan menentang mereka, bukan?”
“Ong Siu Coan, jangan engkau mencampuri urusan Thian-te-pang. Engkau bukan orang kami, pergilah sebelum aku menyuruh semua anak buahku untuk menangkap atau membunuh kalian berdua, dan kembalikan bendera kami!”
Kembali Siu Coan tertawa. “Ha-ha-ha, apakah engkau tidak melihat bahwa sebagian besar dari para saudara Thian-te-pang setuju dengan aku dan mereka berpihak kepadaku? Andaikata ada sebagian yang berjiwa pengecut sepertimu dan memihak padamu, apa yang akan dapat mereka lakukan? Lihat, tempat ini sudah terkepung!”
Siu Coan mengeluarkan suara melengking dan nampaklah puluhan orang yang memakai pakaian seragam indah biru putih, dan mereka itu semua menodongkan anak panah dari gendewa yang sudah dipentang, bahkan di antara mereka ada pula yang menodongkan senapan atau pistol! Sikap puluhan orang itu gagah sekali, pakaian mereka yang seragampun indah! Mereka adalah anak buah Siu Coan yang memang telah dipersiapkan lebih dahulu.
Tentu saja Ma Ki Sun terkejut sekali, dan para anggauta Thian-te-pang juga terkejut dan gentar.
“Ha-ha-ha, Ma Ki Sun. Sebelum orang-orang yang berpihak denganmu bergerak, dada mereka akan ditembusi anak panah atau peluru panas! Saudara-saudara anggauta Thian-te-pang semua yang tercinta. Lihatlah baik-baik... bukankah saudara-saudaramu yang kini menjadi pembantuku memiliki perlengkapan yang lebih baik? Kalian akan menjadi seperti mereka kalau mau memilih aku menjadi ketua!”
“Hidup pendekar Ong Siu Coan!”
“Hidup Ong-pangcu...!”
Teriakan-teriakan ini yang menyebut Siu Coan sebagai ketua Ong membuat Ma Ki Sun marah bukan main. “Bangsat Ong Siu Coan! Engkau baru bisa menjadi ketua setelah aku roboh tak bernyawa!”
“Ah, begitukah? Kalau begitu, mari kuantar engkau ke neraka!” kata Ong Siu Coan sambil tersenyum mengejek.
Pada saat itu, nampak seorang laki-laki melompat naik ke atas panggung. “Suhu, biar teecu yang menghadapi penjahat ini!” bentaknya, dan orang itu bukan lain adalah Lui Siok Ek, murid kepala Thian-te-pang, murid yang paling pandai dari Ma Ki Sun. Lui Siok Ek usianya sudah hampir enam puluh tahun, tubuhnya agak pendek namun matanya mencorong penuh semangat.
Siu Coan memandang rendah. “Ha-ha, kalian berdua majulah, biar kubereskan sekaligus!”
Akan tetapi, Ma Ki Sun yang biarpun maklum bahwa ilmu silat Siu Coan amat lihai, tidak mau merendahkan diri. “Kami bukan golongan pengecut yang suka melakukan pengeroyokan!” Dia berkata dengan suara lantang agar didengar oleh para muridnya.
“Toako, biar aku yang menghajar tikus ini!” kata Kiki sambil menyerahkan bendera yang tadi diambilnya dari puncak tiang.
Sambil tertawa, Siu Coan menerima bendera itu, lalu berdiri di pinggir panggung melihat Kiki yang menghadapi lawannya. Seperti juga Suhunya, Lui Siok Ek sudah mengenal Siu Coan dan sudah tahu akan kelihaian Siu Coan. Bahkan mendiang Coa Bhok yang lihai, wakil ketua Thian-te-pang, sute dari Ma Ki Sun, roboh oleh Siu Coan. Akan tetapi Lui Siok Ek yang setia kepada gurunya, tidak perduli akan bahaya dan dia sudah maju mewakili Suhunya.
Kini, melihat bahwa yang menghadapinya bukan Siu Coan, melainkan gadis cantik itu, hatinya merasa agak lega. Biarpun gadis itu tadi memperlihatkan ilmu gin-kang yang luar biasa, dia tidak merasa gentar seperti kalau harus melawan Siu Coan, dan dia sudah sudah mencabut pedangnya.
“Singgg...!” Nampak sinar berkilau ketika pedang itu dicabutnya dan diputar-putarnya di atas kepala membentuk gulungan sinar pedang.
Kiki menghadapi Lui Siok Ek sambil tersenyum mengejek. Ia tidak mengeluarkan pedangnya, melainkan menghadapi lawan itu dengan tangan kosong, karena begitu melihat gerakan pedang lawan, walaupun ia tahu bahwa lawannya cukup tangguh, namun ia merasa kuat untuk menandinginya. “Majulah!” katanya sambil tersenyum. “Apa perlunya Kau memutar-mutar pedang itu? Di sini tidak ada anak kecil untuk ditakut-takuti!”
Diejek seperti itu, tentu saja Lui Siok Ek menjadi marah. Dia adalah jagoan nomor satu di antara semua murid dan anggauta Thian-te-pang, dan kini gadis yang masih ingusan ini mengatakan bahwa pedangnya hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil. Akan tetapi dia adalah seorang gagah, tentu saja merasa malu kalau harus menyerang seorang gadis muda sekali itu dengan pedang sedangkan lawannya bertangan kosong. “Bocah sombong, jangan banyak tingkah. Keluarkan senjatamu dan tandingi aku!”
Kiki memperlebar senyumnya. Tahi lalat di pipinya membuat senyumnya nampak manis sekali, akan tetapi ucapannya menyengat perasaan lawan. “Aku tidak biasa mempergunakan senjata terhadap lawan yang tidak ternama. Majulah dan pergunakan pedangmu, kedua tanganku sudah cukup untuk menghadapi pisau dapurmu itu.”
Muka Lui Siok Ek menjadi semakin merah, matanya melotot. Tidak saja dia diejek sebagai lawan yang tidak ternama, akan tetapi sekarang pedangnya malah dikatakan pisau dapur! Padahal, dengan pedangnya ini, entah sudah berapa puluh lawan roboh olehnya.
“Perempuan lancang mulut! Aku adalah Lui Siok Ek, murid nomor satu di Thian-te-pang, dan kalau engkau tidak pandai menggunakan senjata, biarlah kuIawan engkau dengan tangan kosong pula!” Dia lalu menyimpan pedang ke dalam sarung pedangnya dan memasang kuda-kuda dengan sikap gagah di depan Kiki.
Mula-mula kedua kakinya terpentang lebar, tangan kiri membentuk cakar ke atas kepala, tangan kanan ditekuk di depan pusar, kemudian perlahan-lahan namun dengan sikap tegap dan dua kakinya membuat gerakan melingkar dan kedua lengannya juga membuat silang-silang di depan dada, kemudian kembali kepada posisi semula, akan tetapi kini lebih dekat di depan Kiki.
Gadis ini melihat semua itu sambil tersenyum geli. “Hanya murid?” Kiki tertawa sambil menutup mulutnya dengan lagak mengejek sekali. “Sayang, muridku tidak kubawa, kalau ada dia, tentu akan kusuruh dia melawanmu.”
“Cerewet! Bersiaplah dan mari kita bertanding, bukan hanya berkicau!” bentak Lui Siok Ek marah.
“Kau kira sejak tadi aku mengapa? Aku sudah siap sebelum engkau menjual lagak. Nah, seranglah!” kata Kiki, akan tetapi tubuhnya tidak membuat gerakan apa-apa, tidak memasang kuda-kuda seperti umumnya orang hendak berkelahi atau bersilat. Kiki berdiri begitu saja seenaknya, bahkan tangan kirinya bertolak pinggang dan sikapnya acuh. Seolah-olah ia tidak sedang menghadapi seorang lawan yang siap menyerangnya, melainkan sedang bercakap-cakap dengan seorang sahabat yang akrab.
Di antara para anggauta Thian-te-pang yang tentu saja merasa kagum kepada nona yang cantik manis dan menarik perhatian dengan demonstrasinya mengambil bendera tadi, diam-diam merasa khawatir sekali. Mereka ini mengenal Lui Siok Ek, murid kepala yang mewakili ketua Thian-te-pang mengajarkan ilmu silat kepada mereka, mengenal betapa lihainya orang pendek itu.
Dan betapa kadang-kadang kalau marah Lui Siok Ek amat galak dan dapat bertindak keras dan kejam, mereka tahu bahwa saat itu Lui Siok Ek amat marah! Dugaan mereka memang benar. Mendengar ejekan dan melihat sikap yang memandang rendah kepadanya, dia tidak mampu lagi menahan kesabarannya.
“Perempuan sombong, lihat seranganku!” Berkata demikian, Lui Siok Ek menggerakkan tubuhnya. Tangan kiri menyambar dari atas, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala gadis itu seperti cakar garuda, sedangkan tangan kanannya membarengi serangan pertama mengirim totokan ke arah lambung Kiki! Serangan itu hebat sekali, sekaligus kedua tangan menyerang dan keduanya sama bahayanya, dapat mendatangkan maut.
Melihat serangan yang hebat ini, banyak orang merasa ngeri. Namun, Kiki masih tetap tersenyum dan masih berdiri seenaknya, seolah-olah tidak mengenal datangnya bahaya maut. Akan tetapi, setelah kedua tangan lawan tiba dekat, tangan kirinya yang tadi bertolak pinggang, tiba-tiba mencuat ke atas dan jari tangannya yang kecil mungil menyambut datangnya cengkeraman itu dengan totokan ke arah pergelangan tangan.
Sedangkan tangan kanannya dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, telah meluncur ke depan. Kedua jari telunjuk dan tengah sudah menusuk ke arah mata lawan, sedangkan totokan tangan lawan dielakkannya dengan menggoyang pinggulnya sehingga lambung yang ditotok berpindah tempat!
Gerakannya cepat bukan main sehingga Lui Siok Ek mengeluarkan seruan kaget sekali. Bukan hanya lengan kirinya terancam totokan, akan tetapi juga sepasang matanya bisa menjadi buta kalau terkena tusukan dua jari tangan itu! Terpaksa dia lalu menarik kembali tangan kirinya dan melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari bahaya, akan tetapi dia harus berjungkir balik sampai dua kali untuk menghindarkan serangan susulan lawan.
Ketika dia sudah berdiri lagi dalam jarak yang agak jauh, ternyata gadis itu sama sekali tidak mengejarnya, dan masih berdiri seperti tadi, seenaknya dengan tangan kiri bertolak pinggang dan mulut tersenyum. “Heii...! Engkau ini hendak bertanding ataukah mau main sirkus!” Kiki mengejek. “Baru segebrakan saja sudah mau melarikan diri!”
Lui Siok Ek tidak menjawab, melainkan mengeluarkan suara menggereng marah dan tubuhnya sudah menerjang ke depan. Langsung mengirim pukulan-pukulan keras bertubi-tubi, seolah-olah lupa bahwa yang diserangnya secara hebat itu hanyalah seorang gadis muda. Akan tetapi Kiki memperlihatkan kelihaiannya. Gin-kangnya sudah menjadi hebat bukan main semenjak ia mewarisi Ilmu Hui-thian Yan-cu dari kitab peninggalan Tat Mo Couwsu.
Dan kini dengan enak saja ia berlompatan ke sana sini, menggeser kaki dan tidak pernah menangkis, melainkan hanya mengelak namun tidak ada sebuahpun pukulan yang dapat mengenai sasaran, bahkan menyentuh ujung pakaiannyapun tidak. Papan panggung itu sampai mengeluarkan bunyi berkeretakan ketika Lui Siok Ek terus mendesak dengan serangan-serangan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
Makin lama, semakin hebat pula serangannya karena ia semakin penasaran melihat betapa semua serangannya mengenai tempat kosong belaka. Mereka berputar-putar di panggung itu, Kiki masih tersenyum-senyum sambil melangkah mundur, meloncat ke samping, kadang-kadang tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya hingga lawan menjadi bingung, dan ketika lawan membalikkan tubuh, ternyata ia sudah berada di depannya.
Semua mengikuti pertandingan ini dengan hati tegang dan kagum, kadang-kadang ada saja murid Thian-te-pang yang tidak dapat menahan ketawanya melihat betapa Lui Siok Ek kebingungan karena kehilangan lawan yang tiba-tiba saja lenyap dari depannya dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya! Setelah puas mempermainkan lawan, tiba-tiba terdengar suara gadis itu membentak nyaring. “Berlututlah Kau!”
Semua orang terbelalak karena melihat benar-benar Lui Siok Ek menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu! Sihirkah ini? Akan tetapi bagi Lui Siok Ek, sama sekali bukan sihir, karena ujung sepatu Kiki mencium lututnya dan tentu saja kakinya menjadi lemas seketika dan tertekuk lututnya di depan gadis itu. Lututnya tidak terluka, hanya lumpuh untuk beberapa detik saja. Hal ini membuat Siok Ek semakin marah.
Dicabutnya pedang dari sarung, dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah melakukan serangan maut dengan pedangnya, kini tidak perduli lagi bahwa gadis itu sama sekali tidak memegang senjata. Semua menahan napas, ngeri membayangkan betapa tubuh gadis itu akan koyak-koyak dan darah akan muncrat dari tubuh yang menggairahkan itu. Akan tetapi, biarpun kini Lui Siok Ek mempergunakan pedang untuk menyerang bertubi-tubi dengan cepat, ujung pedangnya tak pernah mampu menyentuh kulit badan Kiki.
Gadis ini mampu bergerak lebih cepat lagi, mengelak ke sana sini bagaikan sehelai bulu yang bergerak menghindar seperti tertiup oleh angin gerakan pedang, sehingga tubuh itu sudah mengelak sebelum tusukan atau bacokan tiba. Dan karena pedang itu gerakannya cepat, sedangkan gerakan Kiki lebih cepat lagi, maka tubuh gadis itu lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar pedang.
Sungguh merupakan pemandangan yang mentakjubkan dan terdengar seruan-seruan kaget dan kagum. Sekarang Kiki tidak mau membuang waktu dengan main-main lagi. Juga harus diakuinya bahwa permainan pedang lawan cukup berbahaya, maka iapun mengeluarkan kepandaiannya.
Ketika terdengar ia mengeluarkan bentakan nyaring, tahu-tahu jari tangannya telah berhasil menotok pundak kanan lawan. Seketika Iumpuh lengan kanan Siok Ek dan pedang yang dipegangnya sudah berpindah tangan. Sebelum dia dapat mengelak, kaki Kiki sudah menendangnya dengan keras.
“Dukkk...!” Tubuh Siok Ek terlempar sampai hampir terpelanting ke bawah panggung. Dia tidak terluka, dan kemarahan membuat mukanya berubah pucat. Dia telah dikalahkan oleh seorang gadis muda di depan gurunya dan semua anggauta Thian-te-pang. Rasa malu membuat kemarahannya memuncak dan menggelapkan pikirannya.
Sambil berteriak seperti gila, dia bangkit dan lari menerjang Kiki dengan gerakan buas, tidak terkendali kesadarannya lagi, melainkan penuh dengan dorongan kemarahan yang membuatnya mata gelap. “Aughhhhhh!” Dia menerjang dan teriakan yang keluar dari mulutnya seperti gerengan seekor binatang buas.
Melihat ini, Kiki meloncat dengan elakan manis. “Lui Siok Ek, engkau sudah kalah, kenapa nekat?” bentak Kiki. Kiki sekarang tidak main-main dan suaranya penuh wibawa ketika ia membentak dari sudut lain panggung itu.
Akan tetapi, ketika tubrukannya luput, Siok Ek menjadi semakin beringas. Teriakan Kiki tidak dijawabnya, dan ia lari untuk menyerang lagi. Melihat ini, Kiki menggerakkan tangannya dan pedang rampasannya itu meluncur dengan cepat sekali menyambut tubuh Siok Ek yang sedang lari menerjang dengan buasnya.
“Capp! Arrgghhhh...!” Pedang itu menancap dan menembus dari dada ke punggung. Mata Siok Ek terbelalak dan tubuhnya terhuyung-huyung lalu terjungkal keluar dan panggung, tewas di bawah panggung. Mayatnya segera dibawa keluar oleh para anggauta Thian-te-pang.
“Keparat Ong Sui Coan!” Kini Ma Ki Sun menjadi marah sekali. Marah dan berduka, karena murid yang paling diandalkan itu tewas. Begitu membentak, dia menyerang Siu Coan, tangan kiri berusaha merampas bendera, tangan kanan mencengkeram ke arah leher.
Siu Coan cepat mengelak. Berkali-kali dia harus mengelak karena lawannya menyerang secara bertubi-tubi. Dia lalu meloncat ke dekat Kiki dan menyerahkan bendera itu kepada gadis yang kini memegang bendera dan berdiri di sudut. Setelah menyerahkan bendera itu kepada Kiki, Siu Coan menghadapi lawannya, dan begitu dia diserang dengan pukulan tangan kanan ke arah perutnya, dia menangkis dan balas menyerang, dan kini serang menyerang terjadi dengan amat serunya.
Perkelahian sekali ini berbeda dengan tadi. Tingkat kepandaian Lui Siok Coan jauh sekali berada di bawah tingkat kepandaian Kiki, sehingga perkelahian tadi terjadi berat sebelah dan Kiki dapat memperoleh kemenangan dengan mudah sekali. Akan tetapi, Ma Ki Sun tidak boleh disamakan dengan murid kepala tadi. Tingkat kepandaiannya lebih dari dua kali lipat tingkat Siok Ek.
Kakek ini pernah menggemparkan dunia persilatan dengan julukan It-gan Lam-eng. Hampir dua tahun yang lalu, Ma Ki Sun pernah dikalahkan oleh Siu Coan ketika pemuda ini berhasil membunuh Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pang. Dan semenjak kekalahannya itu, Ma Ki Sun menjadi pendiam dan dia memperdalam ilmu silatnya.
Kini, dia telah memperoleh banyak kemajuan, dan walaupun dia belum dapat mengimbangi kehebatan Siu Coan, setidaknya dia sudah merupakan lawan yang cukup tangguh bagi pemuda itu. Tadinya Siu Coan tidak termaksud merampas Thian-te-pang dengan kekerasan, tidak harus membunuh para pemimpinnya, cukup dengan menaklukkannya saja. Akan tetapi, diapun tidak menyalahkan Kiki yang telah membunuh Siok Ek, karena orang itu terlalu mendesak.
Sekarang setelah Siok Ek terbunuh, mau tidak mau dia harus membunuh pula Ma Ki Sun. Hal ini untuk melenyapkan orang yang menaruh dendam. Dia tahu bahwa Thian-te-pang yang berkuasa hanyalah dua orang itu, dan kalau mereka terbunuh, tentu yang lain akan menakluk. Apalagi dia tadi melihat bahwa banyak di antara para anggauta yang berpihak kepadanya.
Maka ketika Ma Ki Sun menyerangnya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, diapun menyambut dengan serangan yang tak kalah lihainya. Dua orang itu berkelahi dengan sungguh-sungguh, akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, Ma Ki Sun mulai terdesak hebat oleh Siu Coan. Bagaimanapun juga, Ma Ki Sun sudah berusia enam puluh tahun lebih sedangkan Siu Coan adalah seorang pemuda yang sedang kuat-kuatnya.
Ketua Thian-te-pang itu kalah dalam segala-galanya, kalah lihai ilmu silatnya, kalah kuat tenaganya dan juga kalah panjang napasnya. Setelah lewat lima puluh jurus, ketua itu terdesak dan hanya mampu menangkis dan mengelak saja. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Siu Coan yang terus mendesaknya, dan pada suatu kesempatan yang baik, Siu Coan berhasil memasukkan tangannya yang terbuka dan miring menghantam dada lawan.
“Bukkk!” Tubuh itu terjengkang. Ma Ki Sun tewas seketika karena pukulan tangan yang ampuh tadi telah merusak isi dada termasuk jantungnya. Pukulan itu menggetarkan isi dada, juga mengandung hawa panas yang sukar ditahan. Para anggauta yang berpihak kepada Ma Ki Sun kelihatan marah dan beringas, akan tetapi Siu Coan cepat mengangkat bendera yang diambilnya dari tangan Kiki tinggi-tinggi di atas kepalanya sambil berseru keras.
“Semua anggauta Thian-te-pang, pandanglah bendera kita ini!” Siu Coan mengibar-ngibarkan bendera itu. “Ma-pangcu telah tewas dalam perkelahian yang adil, dan kini akulah yang akan memimpin kalian, membawa Thian-te-pang kembali ke jalan gagah perkasa seperti yang kita semua kehendaki. Aku akan membentuk pasukan besar dan kalian akan memperoleh kedudukan yang sesuai dengan kemampuan kalian. Thian-te-pang akan menjadi perkumpulan terbesar dunia, dan kita akan menumbangkan kekuasaan penjajah dan mengusir orang-orang kulit putih dari tanah air.”
Mereka yang berpihak kepada Siu Coan, bersorak-sorak, sedangkan mereka yang masih ragu-ragu, saling pandang. Mereka ini maklum bahwa kalau mereka memberontak, akhirnya mereka semuanya akan terbasmi. Anak buah Siu Coan telah mengepung mereka dengan anak panah dan senjata api!
“Saudara-saudara yang merasa tidak cocok dan tidak mau bekerja sama dengan kami, tidak dipaksa dan dipersilahkan meninggalkan Thian-te-pang. Kami tidak akan mengganggu asalkan kalian juga tidak mengganggu Thian-te-pang. Akan tetapi ingat, kalian akan ketinggalan kalau tidak mau bekerja sama dengan kami, karena Thian-te-pang kelak akan menjadi perkumpulan para pejuang terbesar di tanah air.”
Akhirnya, hanya belasan orang saja yang meninggalkan Thian-te-pang, dan para anggauta yang lain menerima Siu Coan sebagai ketua mereka yang baru! Dengan cerdiknya, Siu Coan lalu membagi-bagikan harta peninggalan Ma Ki Sun yang tidak berkeluarga itu kepada para anggauta Thian-te-pang. Dia sendiri tidak membutuhkan harta yang baginya tidak berapa artinya itu, dibandingkan dengan harta karun yang diperolehnya di tempat rahasia, harta karun yang menjadi rahasia Giok-liong-kiam.
Demikianlah, bersama Kiki yang selalu mendampinginya, Siu Coan mulai menyusun kekuatan. Banyak perkumpulan yang didatangi dan ditaklukkan, baik secara halus maupun kasar, untuk bergabung dengannya dan memperkuat pasukan yang sedang disusunnya. Untuk ini, tentu saja dia mengeluarkan banyak biaya, akan tetapi hal itu dapat dicukupkan dengan adanya harta karun Giok-liong-kiam.
Kita tinggalkan dulu Ong Siu Coan yang berambisi besar dan kini sedang memperlebar sayapnya, dan mari kita ikuti perjalanan Lian Hong. Lian Hong yang patah hati, Lian Hong yang merana karena cintanya gagal! Kenapa begitu banyak manusia di dunia ini yang merasa patah hati, yang berduka karena cinta?
Mengapa cinta kasih kita ini hanya mendatangkan kebahagiaan sebentar, lalu berubah menjadi kekecewaan dan kedukaan? Mengapa? Pertanyaan ini amat penting untuk diselidiki, dan yang dapat melakukan penyelidikan secara tepat hanyalah mereka yang terlanda derita patah hati atau karena cinta gagal ini.
Kenapa cinta harus gagal? Kata “Gagal” ini saja sudah menunjukkan habisnya suatu “Keinginan”, dan karena keinginan itu tidak tercapai maka dinamakan gagal. Akan tetapi, haruskah cinta berdampingan dengan suatu keinginan? Biasanya, kalau orang jatuh cinta, maka dia ingin agar orang yang dicintanya itu membalas cintanya, kemudian menjadi miliknya! Kalau sudah begini, tentu saja timbul kemungkinan lain, yaitu kegagalan!
Dan segala macam bentuk pengejaran untuk memenuhi apa yang diinginkan, selalu membuahkan kebosanan dan kekecewaan kalau gagal. Siapakah yang memiliki keinginan itu? Aku! Bagaimana terciptanya aku? Karena kesenangan, pengalaman yang menyenangkan bersarang di dalam ingatan, akan muncullah keinginan untuk mengulang kesenangan itu kembali. Aku adalah keinginan untuk senang, aku adalah takut untuk mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.
Aku dan keinginan tidak pernah terpisah, karena kalau tidak ada keinginan, tidak ada rasa takut, akupun tidak pernah ada. Kita sendiri yang membuat cinta kasih menjadi sesuatu yang menyenangkan, menjadi suatu alat untuk menyenangkan diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa banyak terjadi kedukaan dalam cinta. Padahal, cinta yang mendatangkan duka itu bukan lagi cinta namanya, melainkan kesenangan. Kita kehilangan sumber kesenangan itu, maka kecewalah kita, dukalah kita.
Kuburan itu sunyi sekali. Malam itu terang bulan. Dunia nampak indah bukan main bermandikan cahaya bulan purnama. Segala sesuatu nampak keemasan dan kehijauan. Tiada awan menghalang bulan. Keindahan yang penuh rahasia, keindahan yang membuat setiap orang kalau keluar rumah menjadi termenung.
Namun Lian Hong tidak melihat keindahan itu. Ia sedang tenggelam ke dalam kedukaan, tenggelam ke dalam lautan air mata. Ia sedang menangis di depan kuburan orang Tuanya! Duka adalah hasil permainan pikiran yang mengingat-ingat hal yang telah lalu. Seperti rasa takut yang menjadi permainan pikiran mengingat dan membayangkan hal yang belum datang, duka juga merupakan permainan pikiran belaka.
Pikiran mengingat-ingat dan mengunyah kembali keadaan yang lalu, menimbulkan iba diri dan pikiran membayangkan betapa sengsaranya diri. Pikiran seperti mengubah diri menjadi tangan jari-jari kejam meremas hati, maka keluarlah tangis dan keluh kesah. Demikian pula dengan keadaan Lian Hong yang kini berlutut di depan makam ayah ibunya sambil menangis.
Gadis ini sejak kecil digembleng oleh orang sakti dan memiliki batin yang kuat, gagah dan biasanya pantang untuk menangis. Biarpun ia seorang wanita, namun berkat gemblengan San-tok yang sakti dan aneh, ia telah menjadi seorang gadis yang menganggap bahwa tangis hanya merupakan tanda kelemahan saja. Akan tetapi sekali ini, ia menangis sesenggukan di depan makam ayahnya. Pikirannya melayang-layang membayangkan keadaan dirinya yang penuh sengsara.
Sejak kecil ditinggalkan mati ayah ibunya, dan sekarang ia kehilangan Ci Kong, satu-satunya orang di dunia ini yang dicintanya setengah mati! Ci Kong ternyata mencinta gadis lain! Ia merasa kehilangan, ia merasa kesepian! Beginilah cinta kita pada umumnya. Aku yang penting, bukan si dia! Aku kehilangan, aku kesepian, tentu saja aku kecewa, aku berduka.
Ini berarti bahwa aku hanya menyayang diriku sendiri! Sudah sejak siang tadi Lian Hong merenungi keadaan dirinya di depan kuburan ayah ibunya, kadang-kadang menangis, kadang-kadang hanya duduk diam seperti patung. Diraihnya kini buntalannya yang hanya berisi beberapa potong pakaian, dan ketika dibukanya, nampak sebatang pedang yang amat indah di dalamnya. Dikeluarkannya pedang itu. Giok-liong-kiam!
Pedang Naga Kemala yang pernah menggegerkan seluruh tokoh persilatan yang hendak memperebutkannya. Sebuah pedang pusaka yang dijadikan rebutan karena menyembunyikan pusaka harta karun yang tak terhitung besarnya. Akan tetapi kini harta karun itu telah lenyap, peti yang ditemukan atas petunjuk yang ada pada pedang itu telah kosong, isinya telah diambil orang lain. Yang ada tinggal pedang itu.
Ia berhak memiliki pedang pusaka itu. Dan kini Lian Hong memegang pedang itu dengan kedua tangannya. Sebatang pedang indah yang sudah seringkali dikaguminya. Ia seringkali kalau memandangi dan mengagumi pedang itu, membayangkan betapa ia akan memberikan pedang itu kepada suaminya, kepada Ci Kong kalau sudah menjadi suaminya! Akan tetapi sekarang harapannya musnah, yang ada tinggal pedang itu yang berkilauan di depannya, seperti mentertawakannya, seperti mengejeknya.
Tiba-tiba timbul suatu dorongan hasrat gila. Lian Hong memegang gagang pedang dengan tangan kanannya. Pedang ini terbuat dan batu kemala yang mahal dan indah, tak pernah dipakai untuk bertanding karena ia khawatir pedang itu akan rusak. Namun, kalau dipakai membunuh diri tentu bisa!
“Ihhh! Pengecut!” Lian Hong memaki diri sendiri, dan cepat-cepat ia memasukkan pedang pusaka itu kembali ke dalam sarung pedang dan memegangi benda itu dengan kedua tangannya. Bayangan yang sejak tadi mengintainya dari jauh dari balik sebatang pohon besar itu, tiba-tiba muncul dan terdengar suaranya menegur.
“Hong Hong... apakah engkau sudah menjadi gila?”
Lian Hong terkejut dan cepat mengangkat muka. Dilihatnya seorang kakek kurus dengan baju tambal-tambalan, matanya sipit tersenyum-senyum lebar sambil mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas butut, telah berdiri di dekat makam ayah ibunya.
“Suhu!” Lian Hong berseru dan kembali kedukaannya datang menerpanya, sehingga ia menubruk kaki gurunya sambil menangis lagi.
“Eh, eh... apakah engkau benar sudah gila? Sejak tadi menangis, termenung, bahkan mau membunuh diri!” Kakek itu memandang kepada muridnya dengan terheran-heran. Dia mengenal muridnya sebagai seorang gadis yang keras hati, tabah dan pantang menangis, dan sekarang apa yang dilihatnya? Seorang gadis yang cengeng dan lemah sekali!
“Suhu... ah, Suhu... bunuh saja aku... aku tidak kuat rasanya menanggung derita batin ini!” Lian Hong menangis sambil merangkul kedua kaki gurunya.
“Bangkitlah, duduklah yang benar!” Tiba-tiba kakek itu membentak dan diapun duduk di atas rumput di depan makam, berhadapan dengan muridnya. Sinar bulan purnama menyinari wajah muridnya yang pucat kehijauan, dan semakin kagetlah hati kakek itu. Akan tetapi sekali ini dia tidak tersenyum melainkan mengerutkan alis dan suaranyapun terdengar bengis.
“Apa yang kulihat dan dengar ini? Benarkah engkau ini Lian Hong muridku? Ataukah hanya seorang gadis lemah yang cengeng? Hong Hong, aku gurumu, juga pengganti orang tuamu yang sudah di kubur di sini. Kalau ada sesuatu, rundingkanlah dengan aku, bukan ditangisi seperti perempuan cengeng di depan kuburan orang tuamu. Apa Kau kira orang tuamu yang sudah dikubur ini akan dapat menolongmu kalau engkau menghadapi kesulitan? Hayo ceritakan, apa yang membuat engkau menjadi seperti orang gila ini?”
Mendengar suara gurunya, Lian Hong terkejut dan hal ini menolongnya. Gurunya selalu bicara sambil tertawa dan seperti orang yang tidak pernah bersikap serius, akan tetapi sekali ini Suhunya demikian ketus dan bengis. Hal ini mengejutkannya dan seperti menyeretnya turun kembali ke dalam dunia kenyataan, bukan dunia yang penuh bayangan yang membuatnya iba diri dan berduka tadi.
Teringatlah ia betapa ia menangis secara keterlaluan sejak sore tadi dan iapun melihat kenyataan betapa cengengnya ia, betapa biasanya ia akan memandang rendah sikap cengeng seperti itu. Iapun sadar dan mengambil keputusan untuk berterus terang kepada gurunya yang memang benar menjadi pengganti orang Tuanya karena ia tidak mempunyai siapapun lagi di dunia ini.
Maka iapun duduk berhadapan dengan Suhunya, menahan isak terakhir dan menghapus titik air terakhir di sudut matanya dengan lengan bajunya yang sudah basah. “Suhu, aku telah jatuh cinta...”
“Ha-ha-ha-ha!” Meledaklah suara ketawa kakek itu. Mendengar suara dan pengakuan muridnya, mengertilah San-tok bahwa muridnya sudah sembuh dan hatinya merasa lega, juga dia merasa geli mendengar pengakuan itu sehingga suara ketawanya memotong keterangan muridnya.
“Jatuh cinta saja sampai membuat engkau menangis dan berduka. Bukankah sepatutnya engkau tertawa gembira?” Lalu dia menambahkan cepat. “Siapakah pria yang beruntung memperoleh cintamu itu?”
“Dia Tan Ci Kong...”
“Ha-ha-ha!” Kembali meledak suara ketawa kakek itu. “Cocok, cocok... memang akupun ingin sekali engkau berjodoh dengan murid Siauw-bin-hud itu. Dia memang seorang pemuda yang gagah dan patut menjadi suamimu. Akan tetapi... eh, kenapa tadi engkau menangis dan ingin mati, padahal engkau jatuh cinta kepada Ci Kong?”
“Dia... dia mencinta gadis lain, Suhu...” Sedih sekali rasa hati Lian Hong, akan tetapi sekarang ia telah sadar dan kuat sehingga tidak lagi menangisi walaupun mulutnya cemberut menandakan kekesalan hatinya.
Kali ini San-tok yang meloncat ke atas, berdiri sambil melototkan matanya yang sipit dan membanting-banting kaki. “Apa Kau bilang? Dia berani menolak cintamu? Keparat!”
“Dia tidak menolak, Suhu.”
“Lebih gila lagi! Dia cinta padamu, akan tetapi berani mencinta lain perempuan?”
“Tidak, Suhu, tidak begitu...”
“Dia mencintamu, bukan?”
“Aku tidak tahu...”
“Ehhh? Engkau cinta padanya, dan engkau belum tahu apakah dia cinta padamu ataukah tidak? Sungguh aneh dan gila. Coba kuulangi... engkau mencinta Ci Kong akan tetapi engkau tidak tahu apakah dia cinta padamu atau tidak, kemudian engkau mengetahui bahwa dia mencinta gadis lain dan hatimu lalu menjadi sengsara dan engkau menangis di sini. Begitukah?”
Lian Hong menganggukkan kepalanya. Setelah kini gurunya membicarakan urusan itu dengan suara datar saja tanpa perasaan, nampak olehnya betapa sikapnya memang mendekati gila. Mengapa urusan begitu saja membuat ia tadi menangis seperti anak kecil, bahkan ingin membunuh diri?
Tiba-tiba kakek itu berkata dengan suara lantang. “Kenapa engkau begini bodoh? Pergi dan bunuh perempuan yang dicintanya itu!”
Lian Hong tidak kaget mendengar ini. Ia sendiri pernah mendatangi Ceng Hiang dan ingin membunuhnya! Memang tidak ada lain jalan, tentu demikianlah sikap gurunya. Ia menggeleng kepalanya. “Wanita itu tidak bersalah, Suhu... dan iapun belum tentu mencinta Ci Kong, dan pula, aku tidak sanggup mengalahkannya.”
San-tok membelalakkan matanya mendengar bahwa wanita yang dicinta Ci Kong itu sedemikian lihainya sehingga Lian Hong tidak mampu mengalahkannya! “Wah, kalau begini katakan dimana ia, aku yang akan membunuhnya!”
Namun Lian Hong menggeleng kepala. “Tidak guru, aku tidak ingin demikian. Apa artinya membunuhnya kalau Ci Kong tetap saja tidak cinta padaku?”
“Apakah Ci Kong sudah pasti tidak cinta padamu?”
“Aku tidak tahu, Suhu.”
“Engkau tidak pernah bicara tentang cinta dengan dia?”
“Tidak pernah. Tadinya aku menyangka dia cinta padaku, melihat dari pandang matanya, bicaranya dan sikapnya. Akan tetapi kemudian, aku melihat sendiri betapa dia jatuh cinta kepada gadis lain.”
“Wah, ini seperti main teka-teki saja. Tidak baik membiarkan diri dalam keraguan. Hayo bangkit berdiri dan ikut aku!”
“Ke... kemana, Suhu?” tanya Lian Hong tergagap, akan tetapi ia mengumpulkan pedang dan buntalan pakaiannya. Lian Hong lalu bangkit berdiri dan tanpa disadarinya, ada isak terlepas dari dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang membuat dadanya menjadi lega. Rasanya plong seperti ada ganjalan yang diambil dari dalam dadanya.
Diam-diam kakek itu merasa iba kepada muridnya. Wajah yang cantik itu memang kelihatan agak kurus, mukanya pucat sehingga mata yang biasanya sudah lebar itu menjadi semakin lebar. Dia tahu bahwa muridnya memang menderita hebat selama beberapa hari ini, dan kalau tidak cepat ditolong, mungkin saja akan jatuh sakit. “Kita mencari Siauw-bin-hud dan muridnya!”
“Tapi...” Lian Hong meragu dan terkejut, karena mengira bahwa gurunya akan membuat gara-gara. Kalau gurunya menyerang Siauw-bin-hud, mana mungkin gurunya akan menang? Pula, ia merasa malu kalau harus memaksa Ci Kong menerima dirinya. Tidak, ia tidak akan mengemis cinta!
“Tidak ada tapi! Tidak baik membiarkan diri tenggelam dalam keraguan. Sebaiknya kalau kita berterus terang saja. Aku akan meminang Ci Kong untukmu. Tinggal diterima atau tidak, akan tetapi ada ketentuan, tidak seperti keadaan hatimu sekarang ini, penuh keraguan tidak menentu. Hayo!”
Kakek itu membalikkan tubuh dan melangkah lebar. Lian Hong masih ragu-ragu, akan tetapi kedua kakinya melangkah dan iapun mengikuti gurunya. Biarlah, pikirnya. Ia akan menurut saja kepada gurunya. Mungkin ini lebih baik dari pada merana seorang diri. Memang sebaiknya ada ketenTuan. Dan hatinyapun mulai terhibur.
Dengan melakukan perjalanan cepat, San-tok dan Lian Hong tiba di kaki pegunungan dimana terdapat kuil Siauw-lim-si di puncaknya itu, dan berhenti mengaso karena telah beberapa hari lamanya mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh. Melihat Suhunya yang biasanya ramah dan suka tertawa itu, tiba-tiba kehihatan termenung, Lian Hong menjadi heran.
“Suhu, ada apakah? Suhu kelihatan seperti orang melamun.”
Heran sekali. Kakek itu menarik napas panjang, hal yang jarang sekali dia lakukan. Alisnya berkerut dan dia menjawab, suaranya berat. “Aku memang sedang melamun dan hatiku sedih karena aku teringat kepada Diana yang pernah ikut bersamaku naik ke bukit ini, Hong Hong.”
Karena ia sendiri terlalu terbenam ke dalam masalahnya sendiri, baru sekarang Lian Hong teringat kepada Diana. “Ah, dimana ia sekarang, Suhu? Apakah Suhu meninggalkannya seorang diri saja di puncak Naga Putih?”
Kakek itu menggeleng kepala. “Tidak, Hong Hong. Diana telah mengajak aku turun gunung, dan gadis itu memang tidak mengecewakan sekali menjadi muridku. Ia telah bertekad untuk membujuk para pimpinan pasukan orang kulit putih untuk tidak memusuhi para pejuang!”
“Ahhh...” Lian Hong terkejut sekali.
“Dan ia hampir saja menjadi korban dalam usahanya itu. Ia terjebak dan hampir celaka, tidak berdaya karena ditodong. Untunglah, dalam keadaan terjepit itu muncul seorang bintang penolong yang tak disangka-sangka.”
“Suhu, apakah yang telah terjadi dengan Diana? Dimana ia sekarang?” Lian Hong bertanya penuh kekhawatiran.
San-tok lalu menceritakan pengalamannya bersama Diana. Betapa dia mengantar Diana sampai ke Kanton, dan gadis yang gagah perkasa itu berusaha untuk menjelaskan kepada para pimpinan pasukan kulit putih bahwa para pejuang bukanlah bandit-bandit seperti yang mereka sangka, melainkan orang-orang gagah yang memperjuangkan hak mereka membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu.
Betapa kemudian Diana terjebak oleh seorang komandan kulit putih dan hampir saja celaka kalau tidak muncul seorang perajurit yang ternyata adalah kekasih Diana yang pernah berpisah karena dipisahkan orang tua. Betapa kemudian, kekasih Diana itu menembak mati si komandan yang kurang ajar, dan betapa dua orang muda itu terancam bahaya karena telah membunuh komandan.
“Di situ aku lalu turun tangan. Kuakui bahwa akulah pembunuh komandan itu, dan aku lalu mengamuk dan melarikan diri. Dengan demikian, Diana dan kekasihnya akan terbebas dari tuduhan membunuh komandan,” kata kakek itu, dan nampaknya puas bahwa dia telah dapat menolong murid yang disayangnya itu.
“Lalu sekarang dimanakah Diana, Suhu?”
Kembali kakek itu menarik napas panjang. “Kalau aku tidak terlalu sayang padanya, tentu akan kutahan ia agar jangan meninggalkan negeri ini. Akan tetapi, aku tidak tega. Ia telah bertemu kembali dengan kekasihnya. Ah, tahukah engkau, Hong Hong, bahwa gadis itupun pernah jatuh cinta kepada Ci Kong?”
Lian Hong mengangguk. Sudah diduganya akan hal itu dan kenyataan itu bahkan makin menyedihkan hatinya. Ci Kong terlalu baik sehingga banyak gadis yang jatuh cinta kepadanya. “Akan tetapi, dimana ia sekarang?”
“Ia telah pergi jauh sekali ke negeri barat, ke negerinya sendiri. Aku sempat melihatnya naik ke kapal. Akan tetapi hanya ia saja yang tahu bahwa aku mengantar kepergiannya. Aku menjadi orang buruan mereka. Ia berangkat bersama kekasihnya, menempuh hjdup baru, ataukah kembali kepada hidup lama? Setidaknya, ia ke sana untuk terus berjuang dengan caranya sendiri, yaitu membujuk pamerintah bangsanya agar lebih menghargai para pejuang.”
Dara itu mengerutkan alisnya. Hatinya merasa agak kecewa dan juga merasa rindu kepada Diana yang disayangnya. Sama sekali tak disangkanya bahwa Diana telah pergi, dan agaknya tidak ada kemungkinan untuk dapat bertemu kembali dengan gadis itu!
Mereka langsung menuju ke sebuah guha di belakang kuil Siauw-lim-pai, sebuah guha besar di puncak bukit itu dimana Siauw-bin-hud biasanya tinggal atau bertapa. Ketika mereka tiba di sana, San-tok melihat bahwa Siauw-bin-hud sedang menerima seorang tamu yang bukan lain adalah Tee-tok! Melihat munculnya San-tok, Siauw-bin-hud tertawa.
“Heh-heh-heh, sungguh beruntung sekali engkau, San-tok. Pinceng baru saja kembali kemarin dan sudah harus menerima tamu-tamu agung. Engkau lebih beruntung dari pada Tee-tok yang harus menanti kembaliku sampai satu minggu di sini.” Kakek itu memandang kepada Lian Hong dan mengangguk-angguk. “Muridmu itu semakin cantik dan gagah saja, San-tok. Mari, silahkan duduk.”
“Ha-ha, engkau melihat muridku semakin cantik dan gagah, Siauw-bin-hud? Bagus, kalau begitu, engkau tentu setuju kalau aku ingin menjodohkan muridku dengan muridmu, Tan Ci Kong! Aku datang untuk membicarakan urusan perjodohan itu denganmu, Hwesio tua!”
Tiba-tiba Tee-tok yang sejak tadi diam saja, meloncat berdiri. “Iblis Gunung tak tahu malu! Selalu engkau menjadi penghalang! Kedatanganku jauh lebih dulu darimu. Sudah seminggu aku di sini dan baru saja aku sempat bertemu dengan Hwesio tua ini yang sejak kedatangannya kemarin mengeram saja di kuil. Dan akupun tadi sedang membicarakan urusan perjodohan antara Ci Kong dengan muridku, Kui-Eng.”
San-tok terbelalak, lalu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sampai lupa aku bahwa ada manusia lain di sini. Tee-tok, apa salahnya kita berdua sama-sama melamar? Keputusannya tergantung kepada Siauw-bin-hud, bukan? Kalau dia setuju kepada muridku jodoh muridnya, engkau mau apa?”
“Keparat! Engkau memandang rendah kepadaku ya? Kalau lamaranku sudah ditolak, baru engkau boleh mengajukan lamaran. Sungguh tak tahu malu, dan kalau engkau tidak cepat pergi bersama muridmu itu, aku akan terpaksa menghajarmu!” Tee-tok membentak marah. Biarpun kakek ini pendek kecil kepalanya botak hampir gundul dan pakaiannya seperti tosu, akan tetapi dia jauh lebih galak dan pada San-tok. Kini, kakek yang katai ini kelihatan marah sekali dan membusungkan dada menantang, kelihatan lucu.
“Heh-heh, engkau hendak menghajarku? Tee-tok, sejak dahulu sampai kapanpun aku tidak pernah takut kepada setan cilik macam kamu. Majulah!”
Tiba-tiba Siauw-bin-hud sudah bangkit dan berada di antara mereka, sedangkan Lian Hong hanya diam saja, wajahnya berubah kemerahan. Ia pun sudah menduga bahwa Kui Eng juga jatuh cinta kepada Ci Kong! Begitu banyaknya gadis yang gagah perkasa dan baik-baik jatuh cinta kepada pemuda itu, seperti dipakai berebut sehingga ia menjadi bingung sendiri.
Dua orang kakek itu tadinya sudah siap untuk saling gebuk, akan tetapi ketika melihat Siauw-bin-hud berdiri di antara mereka, keduanya menahan diri. Siauw-bin-hud terkekeh geli. “Omitohud...! Empat Racun Dunia agaknya sudah berubah menjadi kanak-kanak lagi yang suka berkelahi. Kalau beberapa bulan yang lalu, Thian-tok berkelahi melawan Hai-tok karena urusan perjodohan murid, kini Tee-tok dan San-tok agaknya tidak mau kalah, siap untuk saling gebuk karena urusan jodoh murid masing-masing.
“Seperti pernah kutanyakan kepada mereka, sekarang aku juga ingin bertanya kepada kalian berdua, kakek-kakek tua bangka yang sudah terlalu banyak makan garam dunia. Sebenarnya, yang ingin menentukan jodoh dan menikah itu, kalian sendiri ataukah murid-murid kalian?”
Dua orang kakek itu melongo dan saling pandang, kemudian Tee-tok berkata dengan bersungut-sungut. “Pertanyaan gila! Tentu saja muridku, masa aku setua ini memikirkan kawin?”
“Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud mengoceh tidak karuan. Tentu saja muridku yang hendak kulamarkan muridmu. Aku sendiri, untuk apa kawin? Memikirkan kawin saja, bulu tengkukku sudah meremang semua saking ngerinya, ha-ha-ha!” kata San-tok.
“Omitohud... setidaknya kalian dua orang kakek masih memiliki kejujuran untuk mengaku. Nah, kalau yang hendak memilih jodoh itu murid kalian. Kenapa kalian berdua yang ribut-ribut? Biarkan murid-murid kita yang menentukan pilihan hati masing-masing, dan kita ini orang-orang tua hanya mendengarkan dan merestui saja.
“Tidakkah begitu sebaiknya. Kalau Ci Kong dengan murid San-tok saling mencinta, biarlah mereka berjodoh, sebaliknya kalau Ci Kong saling mencinta dengan murid Tee-tok, biarlah mereka itu berjodoh.”
“Muridku mencinta Ci Kong!” kata San-tok cepat.
“Muridku juga!” kata pula Tee-tok.
Lian Hong mendengarkan sambil menundukkan mukanya, bagaimanapun juga, hatinya terasa malu mendengar percakapan kakek-kakek itu tentang perjodohannya.
“Kalau begitu, serahkan pemilihannya kepada Ci Kong sendiri! Siapa di antara kedua nona murid kalian yang dicintanya. Kalau Ci Kong tidak mencinta, bagaimana mungkin dapat dipaksa untuk menikah? Eh, anak baik. Mengapa engkau tidak langsung saja bertanya kepada Ci Kong dan mengajaknya menikah kalau kalian saling mencinta? Jangan suruh kakek-kakek sinting ini mengurus perjodohanmu, akhirnya bahkan akan membikin kacau saja,” kata Siauw-bin-hud kepada Lian Hong sambil tersenyum.
“Tee-tok dan San-tok, dengarlah. Cinta tak mungkin dapat dipaksakan, dan menurut pendapat pinceng yang bodoh, perjodohan tak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik kalau kedua pihak yang bersangkutan tidak saling mencinta. Kalau hanya dari sepihak, berarti yang lain terpaksa dan perjodohan yang dipaksakan hanya dapat terjadi pada binatang saja, bukan pada manusia.”
Dua orang kakek itu saling pandang dan mengangguk-angguk. San-tok lalu menoleh dan berkata kepada muridnya. “Hong Hong, omongan Hwesio ini ceng-li (masuk di akal), maka sebaiknya kalau engkau terus terang saja bertanya kepada Ci Kong. Eh, Hwesio, dimana sih adanya muridmu yang diperebutkan para gadis itu?”
“Dia tidak berada di sini, entah dimana. Pinceng baru saja pulang dari menemui berbagai golongan untuk membujuk agar mereka membangkitkan kembali semangat mereka untuk berjuang. Dan kebetulan sekali pinceng bertemu kalian di sini. Pinceng melihat bahwa perjuangan menentang penjajah ini akan menemui banyak kesulitan.
Apalagi setelah kini orang-orang kulit putih makin berpengaruh di daratan. Kalau segenap lapisan masyarakat, seluruh rakyat dan segala golongan, segala suku, segala agama dapat bersatu padu menentang penjajah, pinceng kira barulah kemerdekaan tanah air dan bangsa akan benar-benar terlaksana.
"Dan sudah menjadi kewajiban kita yang tua-tua ini untuk membangkitkan gairah dan semangat yang muda-muda untuk bangkit. Nah, pinceng sudah terlalu banyak bicara, maafkan kalau pinceng sekarang ingin beristirahat.” Setelah berkata demikian, kakek itu begitu saja membalikkan tubuh dan memasuki guha untuk duduk bersila dan bersamadhi.
“Bagaimana pendapatmu, Tee-tok?” San-tok bertanya kepada rekannya.
Tee-tok mengangguk-angguk. “Memang Hwesio tua bangka itu benar. Kita terlalu meributkan urusan pribadi, urusan kanak-kanak. Biarkan saja murid kita mengurus persoalan jodoh masing-masing tanpa kita mencampurinya. Aku akan memberitahu muridku sekarang juga.” Setelah berkata demikian, Tee-tok lalu meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Hanya Lian Hong dan San-tok saja yang masih berada di luar guha. “Nah, muridku, engkau sudah melihat dan mendengar sendiri semua percakapan tadi. Memang sebaiknya kalau engkau mencari Ci Kong dan membicarakan urusanmu itu secara pribadi dan terus terang.”
“Suhu, tadinya akupun tidak ada niat sama sekali untuk datang ke sini, hanya mengikuti kehendakmu saja,” kata Lian Hong, bersungut-sungut. “Kalau memang Ci Kong tidak cinta kepadaku, akupun tidak sudi untuk mengemis kepadanya, Suhu. Biarlah aku akan merawat kuburan kedua orang tuaku yang kulihat tidak terpelihara. Setelah selesai merawat kuburan, baru aku akan bergabung lagi dengan para teman pejuang.”
San-tok menarik napas panjang. “Terserah kepadamu, Hong Hong. Hanya pesanku, jangan tenggelam ke dalam kedukaan. Aku sudah semakin tua, hatiku akan berduka kalau melihat engkau sengsara, muridku. Aku akan kembali saja ke puncak Naga Putih dan menghabiskan sisa usiaku di sana, sambil menanti berita darimu.”
“Baik, Suhu. Kalau terjadi sesuatu yang penting, tentu aku akan menyusul Suhu ke sana.”
Guru dan murid inipun saling berpisah. Lian Hong kembali lagi ke dusun Tung-kang di Kanton, sedangkan San-tok atau Bu Beng San-kai kembali ke puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san.
“Tan-Toako, maafkanlah aku. Demi kebahagiaan kita masing-masing, terpaksa aku harus berterus terang, dan kuharap saja keterus teranganku ini tidak begitu menyakitkan hatimu.”
Demikian Ceng Hiang mengeluarkan kata-kata dengan halus, pandang matanya penuh kegelisahan ketika memandang wajah pemuda itu. Pagi itu ia menemui Ci Kong dan mengajak pemuda itu bercakap-cakap di dalam taman. Ci Kong juga menatap wajah yang cantik jelita itu dan alisnya berkerut, akan tetapi dia tetap saja bersikap tenang.
“Ceng-Lihiap, sepagi ini engkau memanggil aku untuk mengajak bercakap-cakap dan ucapan pertama darimu adalah minta maaf. Sesungguhnya, apakah yang hendak Kau katakan? Memang aku lebih menyukai kejujuran dan keterus-terangan dari pada mendendam sesuatu dalam hati. Katakanlah, aku sudah siap untuk mendengar hal yang betapa burukpun.”
“Toako, mengenai pernyataanmu malam tadi, sudah kupikirkan masak-masak, karena hal itu menyangkut kehidupanku mendatang. Aku meneliti diri sendiri, dan sekarang dengan hati terurai, aku dapat mengatakan kepadamu bahwa yang ada dalam hatiku terhadapmu hanyalah rasa suka dan kagum saja, Toako. Aku... maafkan, aku tidak mungkin dapat menerima dan membalas cintamu, karena aku telah bertunangan dengan Yu-koko, yaitu orang yang berusaha menolong ayah melalui pembesar di kota raja. Nah, aku sudah berterus terang... dan sekali lagi maafkan aku, Toako...”