Pedang Naga Kemala Jilid 29

Sonny Ogawa

Pedang Naga Kemala Jilid 29 karya Kho Ping Hoo - GADIS itu memandang wajah pemuda itu yang menjadi pucat sehingga ia menjadi tidak tega, lalu menundukkan mukanya. Ia tahu bahwa kata-katanya walaupun sudah diatur sebaik-baiknya agar terdengar lembut dan tidak menyinggung, tetap saja mendatangkan kenyerian yang membuat wajah pemuda itu menjadi pucat seketika.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Keadaan menjadi hening setelah ia mengeluarkan kata-kata itu. Ceng Hiang tidak berani mengangkat muka memandang, hanya menunggu dan rasanya lama bukan main ia menanti jawaban Ci Kong yang tak kunjung tiba, seolah-olah pemuda itu mendadak kehilangan kemampuannya untuk bicara. Dan memang demikianlah, pernyataan Ceng Hiang yang terus terang itu merupakan pukulan batin yang cukup hebat bagi Ci Kong, membuatnya tertegun dan lidahnya seolah-olah menjadi kaku.

Dia hanya menatap wajah yang menunduk itu dengan hati terasa pedih. Akan tetapi, pemuda gemblengan ini akhirnya dapat menekan perasaannya dan suaranya terdengar agak menggetar dan lirih dia bertanya. “Engkau cinta padanya?”

Ceng Hiang terkejut. Pertanyaan tiba-tiba ini tidak diperhitungkannya sebelumnya dan ia tertegun, tak mampu menjawab. Akan tetapi ia seorang gadis yang cerdik dan jujur, maka ia dapat mengatasi rasa kagetnya, dan dengan menentang pandang Ci Kong yang penuh selidik itu ketika ia menjawab halus.

“Aku tidak tahu, Toako, akan tetapi sudah pasti aku akan belajar mencintanya, atau setidaknya aku akan berusaha untuk membahagiakan orang yang menjadi suamiku kelak. Engkau tahu, aku adalah seorang gadis yang masih terikat oleh tradisi kebangsawanan. Tak mungkin bagi seorang gadis dari golonganku untuk menentukan jodohnya sendiri.

“Ayahku memilihkan untukku, dengan segala pertimbangan dan kebijaksanaan, dan aku tidak kecewa atas pilihan ayah. Yu-koko adalah seorang pemuda bangsawan yang amat baik. Kurasa tidak akan sukar bagiku untuk mencintanya kelak setelah dia menjadi suamiku.”

Ci Kong mengangguk-angguk. Dia tadi menatap wajah gadis itu penuh selidik dan dia tahu bahwa gadis itu tidak menyembunyikan sesuatu, bicara dengan sejujurnya. Dia dapat menghargai sikap gadis itu dan membuat dia menjadi semakin kagum, akan tetapi juga membuat hatinya terasa semakin pedih. Dia lalu menarik napas panjang.

“Aku mengerti, Lihiap. Aku yakin bahwa pilihan orang tuamu tentu tepat sekali. Seorang bangsawan seperti engkau ini memang sudah sepatutnya kalau berjodoh dengan seorang pemuda bangsawan yang kaya raya dan berkedudukan tinggi pula. Sedangkan aku, ah... biarlah aku menyadari keadaanku sendiri, Lihiap. Maafkan atas kelancanganku semalam. Setelah aku sadar, aku merasa malu karena sungguh-sungguh aku seorang pemuda yang tidak tahu diri. Nah, aku mohon diri, Lihiap. Aku akan pergi sekarang juga.”

“Toako! Apakah engkau tidak berpamit kepada ayah dulu?” Ceng Hiang terkejut melihat pemuda itu akan pergi begitu mendadak, dan di dalam hatinya timbul perasaan iba yang mendalam.

“Tidak perlu, Lihiap. Tolong agar engkau nanti menyampaikan ucapan maaf dariku, juga terima kasihku kepada beliau. Selamat tinggal!”

“Nanti dulu, Toako!”

Ci Kong yang sudah bergerak hendak memutar tubuh itu, berhenti dan membalikkan tubuhnya memandang wajah gadis itu. Dia melihat ada titik air mata turun dan kedua mata Ceng Hiang, dan hatinya merasa terharu sekali. Gadis ini amat baik, terlalu baik. Dialah yang sial dan bukan jodoh gadis ini.

“Tan-Toako, aku tidak ingin melihat engkau pergi membawa dendam dan sakit hati kepadaku.”

Ci Kong memaksa dirinya untuk tersenyum. “Dendam dan sakit hati? Aihhh, mengapa engkau menduga begitu, Lihiap? Tidak, selamanya aku tidak akan mendendam kepadamu. Aku mengerti keadaanmu, dan cinta seseorang tak mungkin dapat dipaksakan. Sungguh mati, aku sama sekali tidak menyesal kepadamu, hanya menyesali diri sendiri yang tak tahu diri...”

“Tan-Toako, tunggu dulu, aku mau bicara...”

“Lihiap, ada urusan apalagi yang dapat dibicarakan antara kita?”

Mendengar suara yang mengandung kepahitan itu, Ceng Hiang menghapus dua titik air matanya, dan berkatalah ia dengan halus, namun nadanya mengingatkan. “Tan-Toako, sesungguhnya, pernyataan cintamu kepadaku itu salah alamat.”

Sepasang mata Ci Kong terbelalak dan alisnya berkerut. Apa maksud gadis ini, pikirnya heran. Benarkah bahwa Ceng Hiang sengaja hendak menghinanya setelah menolak cintanya? Dia menatap tajam penuh selidik, namun pandang mata gadis itu sedikitpun tidak nampak bahwa ia melakukan suatu kesalahan yang disembunyikan.

“Ceng-Lihiap, apa maksudmu?” tanyanya, suaranya agak gemetar.

“Maksudku, engkau menyatakan cinta kepada gadis yang keliru. Semestinya bukan aku yang harus Kau nyatakan cinta, akan tetapi kepada seorang gadis lain yang selalu mengharapkan pernyataan cintamu.”

Lega rasa hati Ci Kong. Gadis ini tidak bermaksud mengejek atau menghinanya, dan timbul heran dan keinginan tahunya. “Siapakah gadis yang Kau maksudkan?”

Ceng Hiang tersenyum dan ia merasa heran sendiri. Setelah membicarakan orang lain, setelah ia sendiri tidak tersangkut, ia dapat tersenyum dan timbul kembali kegembiraannya, maka tahulah ia dengan yakin bahwa ia memang hanya kagum dan suka kepada pemuda ini, dan tidak jatuh cinta, ia sama sekali tidak akan merasa cemburu atau iri kalau melihat Ci Kong dapat berjodoh dengan Lian Hong, bahkan sebaliknya, ia akan merasa gembira sekali.

“Tan-Toako, benarkah engkau tidak tahu? Engkau yang begini gagah perkasa dan bijaksana, benarkah engkau begini bodoh sehingga tidak melihat adanya seorang gadis yang amat baik, yang sudah bertahun-tahun menantimu dengan segenap jiwa raganya yang setiap saat mengharapkan pernyataan cintamu? Tidak dapatkah engkau menduga siapa gadis itu?”

Ci Kong mengelengkan kepalanya, dan diam-diam dia terkejut sekali. Beberapa buah wajah terbayang di depan matanya. Lian Hong? Kui Eng? Kiki? Diana? Akan tetapi dia tidak pernah menduga bahwa ada gadis yang jatuh cinta kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh Ceng Hiang. “Sungguh, aku tidak tahu, Lihiap. Siapakah gadis itu?”

“Siapa lagi kalau bukan Siauw Lian Hong?”

Ci Kong membelalakkan kedua matanya menatap wajah gadis itu penuh selidik, akan tetapi wajah itu menunjukkan bahwa Ceng Hiang bicara sebenarnya. Pemuda itu lalu mengerutkan alisnya. “Lihiap, harap jangan main-main. Di antara para gadis yang menjadi sahabatku, Lian Hong adalah seorang yang paling pendiam dan tidak pernah bicara tentang perasaannya.”

“Justeru karena ia pendiam maka ia menderita hebat, Toako. Ia mencintamu sejak pertama kali bertemu denganmu, dan ia memendam cintanya itu di dalam hatinya, setiap saat merindukanmu. Setiap saat menanti pernyataan cintamu kepadanya, karena ia merasa yakin bahwa engkau juga mencintanya. Nah, bukankah pernyataan cintamu yang Kau nyatakan kepadaku itu salah alamat... dan seharusnya engkau menyatakan cintamu kepada Lian Hong?”

Ci Kong termenung dan mengingat-ingat. Harus diakuinya bahwa dia amat menyayang Lian Hong, bahkan pernah terpikir olehnya apakah dia jatuh cinta kepada gadis murid San-tok yang gagah perkasa itu. Akan tetapi sikap Lian Hong yang pendiam, yang agak angkuh malah, membuat dia mundur teratur dan mengira bahwa gadis itu hanya berteman dengannya, tidak menaruh hati cinta kepadanya.

Lalu dia teringat akan pengalamannya ketika bekerja sama dengan Lian Hong. Bahkan terbayang olehnya betapa Lian Hong yang menyamar sebagai pria ketika dia menyamar sebagai pelayan dan mereka mengawal Kui Eng yang menyamar sebagai seorang gadis hartawan, selalu menggodanya kalau dia nampak cemburu melihat Kui Eng dirayu oleh Lee Song Kim.

“Tapi bagaimana engkau dapat mengetahui hal itu, Lihiap? Apakah ia menceritakan hal itu kepadamu?”

“Lian Hong adalah seorang gadis yang keras hati dan selalu menyimpan perasaannya, Toako. Akan tetapi sangat aneh sekali, ia telah melihat pertemuan kita semalam dan ia telah salah sangka, mengira bahwa kita saling mencinta dan ia...”

“Ia bagaimana, Lihiap?” Ci Kong bertanya dan hatinya penuh ketegangan dan kekhawatiran, juga kasihan mendengar betapa Lian Hong yang katanya mencintanya mati-matian itu melihat pertemuannya dengan Ceng Hiang.

Melihat perhatian yang makin meningkat dari Ci Kong terhadap Lian Hong, hati Ceng Hiang menjadi gembira dan bersemangat. “Ia hampir membunuh diri, Toako.”

“Ahhh!!” Bukan main kagetnya hati Ci Kong mendengar ini. Dia terbelalak memandang kepada Ceng Hiang. “Me... mengapa ia melakukan itu dan... dan kemudian bagaimana, Lihiap, dan dimana ia sekarang?”

“Tan-Toako, katakan saja terus terang kepadaku. Bukankah engkau mencinta adik Lian Hong?” Berkata demikian, Ceng Hiang menatap tajam pemuda itu, seolah-olah hendak menjenguk isi hatinya.

Ci Kong juga memandang kepadanya, dan sejenak dua pasang mata bertemu pandang, kemudian Ci Kong menunduk dan suaranya lirih ketika dia membuat pengakuannya. “Aku... aku tidak yakin benar, Lihiap. Aku amat sayang kepadanya, aku suka dan kagum kepadanya. Aku menganggap ia sebagai seorang sahabat baik, sebagai seorang teman seperjuangan, bahkan sebagai saudara. Mungkin aku cinta kepadanya, akan tetapi kami tidak pernah bicara tentang itu, dan aku semenjak bertemu denganmu, Lihiap, aku hanya memperhatikanmu. Ah, mungkin aku cinta padanya... aku tidak tahu.”

“Engkau cinta padanya, Toako. Lihat betapa engkau gelisah memikirkan keadaannya. Engkau cinta padanya seperti juga ia cinta padamu.”

“Ceng-Lihiap, katakanlah, dimana ia sekarang?”

Nona itu menggeleng kepalanya. “Ia pergi, hanya pamit kepadaku semalam, tanpa memberi tahu kemana akan pergi, dengan hati patah dan semangat hancur, seperti patahnya ini...” Ceng Hiang mengeluarkan sebuah kipas yang sudah robek menjadi dua bagian itu dan menyerahkannya kepada Ci Kong.

Pemuda itu terkejut dan merampas kipas itu dari tangan Ceng Hiang, lalu mencengkeram kipas itu, wajahnya pucat. “Ini senjatanya! Ah, dimana ia, Lihiap? Dimana Hong-moi?”

“Ia pergi meninggalkan kipas ini setelah menceritakan semua perasaan hatinya kepadaku. Pergilah, pergilah sekarang, Toako... dan cari Lian Hong. Kasihan anak baik itu, ia mungkin akan menderita selama hidupnya, dan hanya engkau seorang yang akan mampu membahagiakan hidupnya.”

“Aku akan pergi, aku akan mencarinya. Ah, Lian Hong...” kembali Ci Kong hendak pergi, akan tetapi ditahannya kakinya dan dia menoleh. “Katakan, Lihiap... apakah sikapmu terhadap diriku ini karena engkau mendengar bahwa Lian Hong mencintaku? Apakah engkau sengaja mengalah, tidak menerima cintaku agar aku dapat hidup bersama Lian Hong?”

Ceng Hiang kembali terkejut, tak menyangka akan ditanya seperti itu. Akan tetapi, pada saat dara ini kebingungan harus menjawab bagaimana, terdengar suara gaduh dan muncullah Pangeran Ceng Tiu Ong bersama seorang pemuda yang tampan dan berpakaian indah, bersikap halus dan gagah.

“Hiang-ji, mari ke sini. Tunanganmu telah berhasil membujuk kaisar, bukan hanya mengampuni aku, bahkan permintaanku untuk mengundurkan diri dari jabatan ini dikabulkan! Ah, aku akan dapat beristirahat dan hidup tenang di dusun, dan semua ini berkat banTuan Yu Kiang!” Pangeran tua itu nampak girang sekali.

Munculnya ayahnya dan tunangannya, melepaskan Ceng Hiang dari keadaan terjepit oleh pertanyaan Ci Kong tadi, dan iapun sudah tahu akan jawabannya, jawaban tanpa kata. Iapun memperlihatkan wajah cerah, tersenyum manis dan menghampiri dua orang itu, langsung mendekati Yu Kiang.

“Benarkah itu, koko? Ah, sungguh engkau baik hati sekali, dan aku berterima kasih sekali kepadamu, Yu-koko.” Ketika menyebut “Yu-koko”, Ceng Hiang sengaja mengeluarkan kata-kata yang mesra dan suara yang manis.

Sehingga sekali pandang saja tahulah Ci Kong bahwa gadis bangsawan itu mencinta tunangannya. Dan ini berarti tidak mencinta dirinya. Tahulah dia bahwa dia telah bersikap tolol. Apa artinya dia dibandingkan dengan pemuda yang bernama Yu Kiang ini? Seorang pemuda yang tampan, juga sikapnya halus dan amat gagah, pakaiannya indah, pembawaannya agung, tentu saja kaya raya. Sedangkan dia? Seorang perantau, tak berumah tinggal, tidak punya apa-apa, dan orang macam dia berani menyatakan cinta kepada seorang gadis bangsawan seperti Ceng Hiang!

“Oya, Yu-koko, inilah Toako Tan Ci Kong, pendekar yang telah membantuku menolong ayah itu.”

Yu Kiang segera menghampiri Ci Kong dan memberi hormat dengan pandang mata kagum. “Ah, kiranya ini Tan-taihiap yang gagah perkasa itu?”

“Marilah, kita semua duduk dan mengobrol di dalam. Mari, Tan-taihiap,” kata Pangeran Ceng dengan ramah.

“Maafkan saya, Pangeran. Baru saja saya berpamit kepada Ceng-Lihiap, karena saya mempunyai uusan penting sekali yang harus saya laksanakan sehingga sekarang juga saya mohon diri. Maaf bahwa saya telah mengganggu keluarga Ceng yang terhormat dan banyak terimakasih atas segala keramahan dan kebaikan budi yang dilimpahkan selama saya berada di sini.” Ci Kong memberi hormat, dan tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk bicara, diapun sudah meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

“Ayah, adik Lian Hong juga sudah pergi, bahkan malam tadi ia pergi. Ia mempunyai urusan yang amat penting maka ia pergi lebih dulu. Ia minta agar memaafkannya,” kata Ceng Hiang.

Pangeran tua itu menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang. “Orang-orang muda yang gagah perkasa dan berbudi mulia, akan tetapi dengan watak yang amat aneh. Aihh, ngeri aku membayangkan seandainya engkau menjadi seorang gadis kang-ouw dan berwatak aneh seperti mereka, Hiang-ji.” Katanya kemudian, “Mari kita bicara di dalam.”

Dengan hati yang tidak karuan rasanya, Ci Kong meninggalkan kota raja. Dia harus mencari Lian Hong! Harus dapat cepat menemukannya sebelum terjadi apa-apa dengan Lian Hong. Gadis itu hendak membunuh diri karena cintanya terhadapnya? Sudah bertahun-tahun mencintanya dan setiap saat mengharapkan pernyataan cintanya? Dan Lian Hong selalu diam saja, tak pernah bicara apapun tentang cinta, bahkan tidak memperlihatkan cemburu terhadap para gadis lain yang juga mencintanya!

Terbayanglah semua kebaikan Lian Hong terhadap dirinya, dan hatinya diliputi penuh keharuan. Kini, dia sudah melupakan bayangan Ceng Hiang. Yang nampak hanyalah bayangan Lian Hong seorang. “Hong-moi... ah, Hong-moi!”

Berkali-kali Ci Kong mengeluh, merasa menyesal mengapa dia membuat hati gadis itu hancur, walaupun hal itu tidak disengajanya. Agaknya Lian Hong melihat ketika dia merangkul Ceng Hiang di dalam taman itu, padahal rangkulan itu hanya sebentar, hanya terdorong oleh perasaan hatinya, bukan rangkulan sebagai tanda dua orang sedang berpacaran.

Ceng Hiang tidak cinta kepadanya, melainkan mencinta Yu Kiang, tunangannya, hal yang wajar dan sudah sepatutnya demikian. Lian Hong lah yang cinta padanya, dan diapun mencinta Lian Hong. Baru sekarang hal itu terasa benar olehnya. Kemana dia harus mencari Lian Hong? Ke tempat tinggal gurunya, San-tok di Puncak Naga Putih Pegunungan Wu-yi-san?

Akan tetapi, kemana kiranya seorang gadis akan pergi kalau ia menderita duka yang mendalam? Tentu ke rumah orang Tuanya, akan tetapi gadis itu sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Dan teringatlah dia dalam perjumpaannya yang terakhir kalinya dengan Lian Hong, di rumah keluarga Ceng sebelum gadis itu pergi, bahwa Lian Hong berniat untuk membersihkan dan memperbaharui makam kedua orang Tuanya.

Di Tung-kang, dusun kelahiran mereka, tentunya. Benar! Dia sendiri kalau sedang menderita duka, condong untuk pergi mengunjungi kuburan orang Tuanya dan kembali ke dusun tempat kelahirannya. Maka Ci Kong lalu mengambil keputusan untuk pergi ke selatan, ke dusun Tung-kang di luar kota Kanton. Dia melakukan perjalanan secepatnya, dan di sepanjang perjalanan dia melakukan penyelidikan.

Betapa girang rasa hatinya ketika dia akhirnya menemukan jejak Lian Hong dari seorang pelayan restoran yang mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu, gadis seperti yang digambarkan oleh Ci Kong memang lewat di kota itu dan makan di restoran itu. Tidak salah lagi, pikir Ci Kong girang, tentu Lian Hong sedang melakukan perjalanan menuju ke Tung-kang.

* * *

Lian Hong tidak lagi menangis. Biarpun ia merasa betapa hidupnya kini amat sepi dan semangatnya lemah, gairahnya menipis, ia tidak mau menangis lagi. Sudah beberapa hari lamanya ia berada di kuburan orang Tuanya, menbersihkan kuburan itu, dan setiap hari menyuguhkan masakan sembahyang kepada ayah ibunya.

Malam itu adalah malam kelima ia berada di situ. Setiap malam Lian Hong tidur di depan kuburan ayah ibunya, di atas rumput tebal. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk merebahkan tubuhnya, selebihnya ia pergunakan untuk merawat kuburan, menanami bermacam bunga dan bersamadhi.

Hari masih belum gelap benar, karena malam baru saja mulai remang-remang, pergantian antara senja dan malam, pada saat matahari sudah hampir menarik seluruh cahayanya dan permukaan bumi. Burung-burung sudah mulai terbang pulang ke sarang masing-masing.

Para petani juga memanggul cangkul pulang ke dusun, lampu-lampu mulai dipasang di rumah-rumah penduduk dusun Tung-kang. Di tanah kuburan itu amat sunyi, dan jangkerik mulai terdengar mengerik, di sana-sini terdengar bunyi katak yang bersembunyi di antara tanaman yang tumbuh di rawa-rawa di luar tanah kuburan.

Lian Hong sudah mempersiapkan kayu dan daun kening, ditumpuknya tak jauh dari tempat ia duduk bersamadhi. Nanti kalau sudah gelap. Ia akan membuat api unggun pengusir gelap dan nyamuk. Lian Hong tidak tahu bahwa sejak tadi Ci Kong mengamatinya dari jauh dengan hati penuh keharuan.

Pemuda itu merasa seperti tercekik kerongkongannya oleh keharuan yang naik dari dadanya melihat gadis itu, dan kini dia merasa lebih yakin lagi bahwa sesungguhnya sejak dahulu dia mencinta Lian Hong! Tadi, melihat Lian Hong mengumpulkan kayu dan daun kering seorang diri, melihat gadis itu dengan rambutnya yang kusut, pakaiannya yang agak kotor, mukanya yang tidak terawat, tubuhnya yang kurus dengan muka pucat seperti orang sakit, matanya yang begitu muram, hatinya merasa iba dan hampir saja dia berteriak memanggil.

Di samping rasa iba dan terharu, Ci Kong juga merasa girang sekali bahwa dugaannya tepat, dan dia dapat menemukan Lian Hong di tanah kuburan itu. Dia tidak berani muncul dengan tiba-tiba. Sesuatu yang membuatnya merasa sungkan dan juga ragu, maka dia hanya mengamati saja dari jauh sampai Lian Hong selesai mengumpulkan bahan bakar dan gadis itu kini duduk bersila dan bersamadhi.

Dengan berindap-indap, menyelinap di balik pohon-pohon dan semak-semak, Ci Kong mendekat, akan tetapi belum berani keluar, karena dia tidak ingin mengganggu Lian Hong yang sedang melakukan siu-lian. Lian Hong sadar dari samadhinya, menengok ke kanan kiri, karena ia merasa seolah-olah ada banyak orang mengintai dan memandangnya. Ketika teringat bahwa ia berada di tanah kuburan, ia bergidik.

Aneh pikirnya, mengapa ia tadi merasa seperti ditonton banyak orang? Jelas bahwa di tempat seperti ini tidak ada orang, kalaupun ada hanyalah orang-orang mati yang sudah dikubur. Setan? Ia tidak pernah takut setan. Ia lalu membuat api unggun karena tangannya sudah mendengar suara nyamuk di sekitar telinganya. Suara itu pula yang tadi menggugahnya dari samadhi.

Hawa yang mulai dingin menjadi hangat dan nyamuk-nyamukpun melarikan diri, takut terhadap api yang panas juga sinar api unggun mendatangkan cahaya yang mengusir kegelapan di tempat itu, akan tetapi mendatangkan bayang-bayang yang menyeramkan. Pohon-pohon berubah menjadi bayangan hitam seperti raksasa atau binatang-binatang aneh yang bergerak-gerak, dibuat bergerak oleh api yang bergoyang.

Rasa lapar menyadarkan Lian Hong bahwa sejak pagi tadi ia belum makan. Diambilnya beberapa potong roti dan buntalan pakaiannya, berikut daging kering yang sudah menjadi dendeng manis. Direndamnya beberapa potong daging ke dalam air, lalu ditusuknya dengan kayu, dan dipanggangnya daging-daging kering yang sudah dibasahi itu ke dalam api unggun. Tercium bau sedap bumbu pada daging itu yang tersentuh dan terbakar api.

Bau sedap ini sempat melanggar hidung Ci Kong yang bersembunyi tak jauh dari situ, dan tiba-tiba saja perut pemuda ini berkeruyuk hebat. Diapun belum makan sejak pagi tadi, dan kini mencium bau sedap dendeng bakar, otomatis perutnya menanggapi dengan keruyukan nyaring. Ci Kong merasa kaget dan malu sendiri mendengar suara perutnya, lupa bahwa yang dapat mendengar suara itu sebetulnya hanya dia sendiri. Dia khawatir kalau-kalau Lian Hong mendengarnya pula.

Karena khawatir dan kaget, dia membuat gerakan dan kaki kanannya menginjak daun kering, mengeluarkan bunyi berisik. Sedikit suara ini cukup membangkitkan perhatian Lian Hong, dan gadis ini cepat menaruh panggang dagingnya ke atas daun dan ia cepat meloncat berdiri, memandang ke arah semak-semak dan mana tadi terdengar suara daun diinjak orang.

“Siapa di situ? Keluarlah atau aku aku menyerangmu!” bentaknya, siap untuk menerjang dan meloncat ke arah belakang semak-semak.

Kini nampaklah olehnya bayangan orang di belakang semak-semak itu. Untung bahwa Lian Hong bukan seorang gadis yang percaya akan tahyul, akan segala macam dongeng tentang setan. Kalau ia percaya tahyul, tentu ia akan merasa ngeri dan ketakutan, mengira di kuburan itu muncul setan yang hendak mengganggunya.

“Hong-moi, maafkan aku!” Terdengar bayangan itu berkata, dan muncullah Ci Kong dari balik semak-semak. Pemuda ini berdiri dengan muka tunduk dan sikap bodoh, karena dia merasa malu sekali kepada Lian Hong.

“Engkau .. benarkah engkau ini...” Lian Hong berseru, matanya terbelalak dan wajahnya menunjukkan keriangan luar biasa. Memang hatinya girang bukan main melihat munculnya pemuda yang selama ini dirindukannya, yang selama ini menjadi sebab derita batinnya, pemuda yang siang malam dikenangnya dengan sepenuh cinta hatinya.

Seperti ada yang mendorong dari belakang, iapun melangkah maju sampai berhadapan dekat dengan Ci Kong. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan peristiwa di taman keluarga Ceng, dan iapun seperti disengat laba-aba, menarik kembali kakinya dan mundur-mudur seperti orang ketakutan, mukanya berubah pucat lagi.

“Kau... Kau kenapa Kau ke sini?” tanyanya gagap dan jari telunjuk kirinya menuding ke arah muka Ci Kong.

Ci Kong menelan ludah sendiri, hatinya seperti ditusuk rasanya. Dia mengerti akan sikap Lian Hong yang seperti orang kebingungan, dan dia merasa betapa dia telah berbuat dosa terhadap gadis ini, tanpa sedikitpun dapat menghargai cinta kasih orang. “Hong-moi...”

“Kenapa? Kenapa Kau datang ke sini?” kembali Lian Hong berkata, suaranya mengambang di antara pertanyaan dan teguran.

“Kenapa, Hong-moi? Tentu saja untuk mencarimu, untuk bicara denganmu. Kenapa engkau kaget melihat kedatanganku, Hong-moi?”

“Tidak, jangan dekat!” Lian Hong berseru ketika melihat Ci Kong melangkah menghampirinya, dan ia mundur lagi tiga langkah, lalu menutupi muka dengan kedua tangan sambil memejamkan kedua matanya, karena tiba-tiba saja kepalanya terasa pening sekali. “Jangan mendekati aku, pergilah ke sana... seharusnya engkau pergi kepada enci Hiang, engkau engkau cinta padanya...”

“Tidak, Hong-moi... aku hanya cinta padamu seorang. Engkau lah yang kucinta, Hong-moi, bukan lain orang.”

“Engkau bohong!” Tiba-tiba lenyap seluruh kelemahan Lian Hong. Dara ini sudah menurunkan kedua tangannya dan kini ia menatap wajah Ci Kong yang diterangi sinar api unggun dengan mata tajam terbelalak penuh kemarahan. “Engkau hendak mengingkari? Aku melihat dan mendengar sendiri! Engkau mencinta enci Hiang, dan kini berani engkau mengkhianatinya dan mengaku cinta padaku?”

Melihat kemarahan Lian Hong yang sudah mengepal kedua tangannya itu, Ci Kong menundukkan mukanya. “Benar... aku tidak perlu menyangkal dan engkau boleh membunuhku untuk semua itu, Hong-moi. Akan tetapi ia telah mencinta orang lain dan telah bertunangan, dan dialah yang menyadarkan aku, dan baru aku melihat bahwa sesungguhnya... sejak dahulu, jauh sebelum aku bertemu dengan Ceng-Lihiap, aku telah cinta padamu.

“Akan tetapi, kita saling diam saja... engkau kuanggap sebagai rekan seperjuangan, sebagai saudara, dan aku terpesona oleh kecantikan Ceng-Lihiap. Akan tetapi, setelah ia menceritakan semua, baru terbuka mataku. Betapa bodohnya aku, Hong-moi. Sesungguhnya... engkau lah seorang yang sejak dahulu sudah kucinta...”

“Ahhhh... ohhhhh...” Seketika tubuh Lian Hong menjadi lemas dan kembali ia menutupi muka yang dibayangi tangis, kedua mata dipejamkan karena kembali kepalanya terasa pening. “Aku... ahhhh... engkau...” Dan Lian Hong pun terguling karena tubuhnya seperti tenggelam ke dalam lautan yang gelap pekat. Ia siuman dalam rangkulan Ci Kong yang duduk di atas tanah.

“Tidak!” Lian Hong meronta lemah. “Jangan dekati aku, jangan sentuh aku! Kau... Kau tidak cinta padaku!” Dan iapun menangis.

“Hong-moi, pukullah aku, bunuhlah aku... akan tetapi maafkan aku. Tanpa kusengaja, aku telah melukai hatimu, menghancurkan harapanmu. Sungguh mati, ini hanya kesalahpahaman belaka. Sejak dulu aku cinta padamu, Hong-moi... akan tetapi karena kita bergaul akrab seperti saudara, perasaan itu tidak kusadari lagi. Sesungguhnya aku hanya kagum dan terpesona akan kecantikan Ceng-Lihiap, akan tetapi cintaku hanya padamu, Hong-moi...” Ci Kong merangkulnya, mengelus rambut yang kusut itu, menghapus air mata yang membasahi kedua pipi itu dengan penuh kemesraan dan kehangatan kasih sayangnya.

Merasakan ini semua, Lian Hong tersedu-sedu dan menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu. “Toako... betapa kejamnya engkau padaku...” ia sesenggukan.

Ci Kong merasa menyesal sekali. Diangkatnya kepala itu sehingga muka mereka saling berdekatan, didekapnya dan ditempelkannya pipinya ke atas pipi Lian Hong, dan dibisikkannya kata-kata lembut penuh penyesalan. “Hong-moi, aku menyesal sekali, maafkanlah aku... sungguh, kalau sekarang engkau membunuhku, akupun tidak akan merasa penasaran. Kau maafkanlah aku... maukah engkau memaafkan aku?”

Suara itu demikian penuh penyesalan dan minta dikasihani. Sikap dan suara Ci Kong itu merupakan obat yang amat manjur bagi rasa nyeri di hati Lian Hong. Ia tersedu sampai terengah-engah, bukan karena luka, melainkan karena lega dan bahagia. “Koko, aku... ah, seperti gila aku mencintamu, sejak dahulu...”

“Hong-moi...!” Ci Kong menutup mulut yang terengah-engah itu dengan bibirnya, dan sampai lama mereka berdekapan seperti itu, seolah-olah mereka hendak melebur badan dan batin mereka menjadi satu. Segala kerinduan, segala perasaan mesra dan sayang, mereka curahkan dalam dekapan itu. Dan lenyaplah segala duka, lenyap segala rasa kesepian, lenyap pula segala rasa khawatir.

Batin terasa bebas, seperti terlepas dari segala ikatan, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Saat-saat seperti itu, dimana dua hati bertemu, dimana keduanya tenggelam ke dalam keheningan bebas, dimana semua ikatan terpatahkan, merupakan saat yang paling bahagia bagi manusia.

Hanya patut disayangkan, perasaan bebas dan segala ikatan seperti ini tidak bertahan lama, segera pikiran dipenuhi lagi oleh segala macam beban sehingga muncul pula segala macam rasa kecewa, takut yang mendatangkan duka. Sang aku mulai berkuasa lagi atas pikiran, ingin memperoleh segalanya yang menyenangkan.

Perasaan bahagia karena bebas itu oleh aku di dalam pikiran, dirubah menjadi suatu bentuk kesenangan yang hendak dipertahankan dan diulang. Justeru inilah yang menimbulkan segala macam konflik dalam batin. Ingin memiliki segala sesuatu yang dianggap menyenangkan. Bahagia hendak disamakan dengan kesenangan.


Keruyuk dari dua perut mereka agaknya menjadi penyebab kesadaran mereka. Keduanya tersenyum geli dan hampir berbareng mereka berkata. “Engkau lapar?”

“Engkau lapar, koko?”

Keduanya tertawa. Melihat betapa wajah manis yang masih basah air mata itu kini tertawa, Ci Kong memagutnya dan menciumi wajah Lian Hong sampai gadis itu gelagapan, dan dengan sikap manja ia mengelak melepaskan diri dari rangkulan.

“Ihh... Kau membikin aku menjadi semakin kelaparan saja!” katanya. “Aku mempunyai roti dan dendeng bakar, koko... mari kita makan.”

Keduanya lalu makan, dan sungguh mentakjubkan. Roti dan dendeng yang biasanya merupakan makanan yang membosankan bagi Lian Hong, kini terasa luar biasa nikmatnya! Juga Ci Kong makan dengan nikmat sekali, padahal yang dimakan hanyalah roti yang sudah agak keras dan dendeng bakar, didorong air teh yang sudah dingin pula.

Perut lapar dan keadaan hati berbahagia memang dekat sekali hubungannya dengan selera. Kalau perut lapar, hati senang, makanan yang paling sederhana sekalipun akan terasa amat lezatnya. Sungguh kasihan sekali mereka yang mengejar-ngejar makanan mahal dan dianggap enak, tetap tidak dapat menikmatinya, karena hal itu jelas menunjukkan bahwa kalau bukan tubuh mereka yang tidak sehat, tentu hati mereka yang tidak bahagia!

Habislah semua roti dan dendeng, dan tak lama kemudian, mereka berdua sudah berlutut dan bersembahyang di depan makam mendiang Siauw Teng dan Gin Hwa, ayah dan ibu Lian Hong. Tanpa berjanji dan bersepakat, keduanya sudah bersembahyang dan terdengar Ci kong berkata, cukup keras sehingga terdengar oleh Lian Hong yang berlutut di sampingnya.

“Paman Siauw Teng berdua bibi, saya Tan Ci Kong, putera sahabat paman yaitu ayah Tan Seng, mohon perkenan paman berdua untuk meminang adik Siauw Lian Hong untuk menjadi isteri saya. Saya bersumpah di depan makam paman berdua, untuk mencintanya dan menjaganya sampai selama hidup kami.”

Biarpun hatinya berdebar saking bahagianya, tak urung dua titik air mata membasahi kedua mata Lian Hong karena terharu mendengar ucapan yang keluar dan mulut Ci Kong itu. “Ayah dan ibu, aku mohon doa restu ayah dan ibu. Aku telah memilih Tan Ci Kong ini untuk menjadi jodohku... harap ayah dan ibu dapat menyetujuinya.”

Setelah mereka selesai sembahyang secara sederhana sekali, Lian Hong mengeluarkan pedang Giok-liong-kiam dari buntalannya dan menyerahkannya kepada Ci Kong. “Koko aku sudah berjanji di dalam hatiku untuk memberikan Giok-liong-kiam ini kepada calon suamiku. Terimalah, koko... tanda ikatan jodoh antara kita.”

Ci Kong terharu sekali, menerima pedang pusaka itu dan menciumnya, kemudian berkata dengan suara sedih. “Moi-moi, terima kasih. Akan tetapi, aku tidak memiliki apapun untuk kuberikan kepadamu...”

Lian Hong tersenyum. “Engkau sudah memberikan cintamu, itu berarti engkau telah memberikan segala-galanya. Koko, marilah kita bersembahyang di depan makam kedua orang tuamu, mohon doa restu."

Keduanya lalu malam-malam itu juga meninggalkan kuburan dan menuju ke sebuah tanah kuburan lain tak jauh dari situ, dimana terdapat makam Tan Seng bersama isterinya. Perlu diketahui bahwa Tan Seng yang telah menduda, setelah tewas dan dikubur secara sembarangan, oleh Ci Kong tulang-tulangnya telah dipindahkan dan dikubur di dekat kuburan ibunya. Malam itu juga, mereka bersembahyang di depan makam ayah dan ibu Ci Kong.

Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang muda yang saling mencinta ini sudah bergandeng tangan meninggalkan dusun Tung-kang untuk pergi menemui guru mereka, karena mereka yang sudah yatim piatu itu tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk dimintai doa restu. Kini mereka melakukan perjalanan sebagai dua orang calon suami isteri, penuh kebahagiaan dan seolah-olah mereka hendak menempuh suatu kehidupan baru yang sama sekali berbeda dengan kehidupan mereka yang lalu.

Kini mereka saling memiliki dan mereka merasa seolah-olah kehidupan mereka menjadi lebih berarti, merasa saling dibutuhkan! Memang tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari pada kegembiraan karena dapat menggembirakan orang lain! dua orang itu tidak tahu betapa sepeninggal mereka, seorang gadis nampak meninggalkan pula dusun Tung-kang, dan dengan cepat gadis itu menuju ke kota Kanton. Gadis ini bukan lain adalah Kui Eng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kui Eng meninggalkan kelompok pejuang yang dipimpinnya untuk pergi mencari Ci Kong, untuk mencari keputusan tentang cintanya. Di tengah penjalanan, ia bertemu dengan gurunya, dan Tee-tok segera menceritakan kepada muridnya tentang urusan perjodohan yang dibicarakan dengan Siauw-bin-hud.

“Si keparat San-tok juga datang ke sana untuk membicarakan perjodohan antara Ci Kong dengan munidnya. Kami hampir saja berkelahi dan tentu akan ribut kalau tidak dilerai Siauw-bin-hud.”

Mendengar ini, Kui Eng terkejut dan mengerutkan alisnya. “Murid yang mana, Suhu?” Kui Eng menyangka Diana, karena pernah ia melihat sikap Diana ketika mereka menghadapi Ci Kong yang terluka parah dan terancam maut. Ia sudah menduga bahwa gadis bule itu tentu mencinta Ci Kong, atau setidaknya tertarik.

“Siapalagi kalau bukan Lian Hong?”

“Lian Hong?” Nama ini benar-benar membuat Kui Eng terkejut dan heran. Tentu saja ia mengenal Lian Hong dengan baik, bahkan di antara mereka terdapat ikatan persahabatan yang amat erat. Bukan itu saja, juga ia seakan-akan merasa berhutang budi kepada Lian Hong. Orang Tuanya tewas gara-gara ayahnya, akan tetapi Lian Hong sama sekali tidak menaruh hati dendam kepadanya.

Bahkan ketika ia diculik oleh Koan Jit dan terancam bahaya maut yang akan mencemarkan dirinya bahkan menewaskannya, muncul Lian Hong yang membela dan menolongnya secara mati-matian. Dan iapun mengenal Lian Hong gadis pendiam itu yang belum pernah memperlihatkan sikapnya mencinta Ci Kong.

Bukankah Lian Hong pernah menggodanya sebagai pacar Ci Kong ketika mereka bersama Ci Kong menyamar dan melakukan penyelidikan sebagai pejuang-pejuang ke kota raja? Maka, mendengar bahwa kini guru Lian Hong hendak menjodohkan gadis itu dengan Ci Kong, ia terkejut dan terheran-heran.

“Ya, Lian Hong. Seperti juga engkau, gadis itu mencinta Ci Kong. Kami berebutan dan akhirnya Siauw-bin-hud mengatakan bahwa yang memutuskan haruslah Ci Kong sendiri. Biarlah Ci Kong yang menentukan pilihannya, engkau ataukah Lian Hong. Karena itu, aku pulang dan sebaiknya kalau engkau pergi mencari Ci Kong dan minta ketegasannya agar dia melakukan pilihannya.”

Mendengar keterangan gurunya, wajah Kui Eng berubah merah. Tak disangkanya kalau Lian Hong mencinta Ci Kong, ataukah itu hanya pengakuan dari San-tok saja? Ia cukup mengenal watak Empat Racun Dunia yang aneh-aneh. Ia tahu bahwa Kiki mencinta Ci Kong, bahkan pernah ia berkelahi dengan Kiki karena cemburu. Juga Diana memperlihatkan sikap tertarik kepada Ci Kong.

Akan tetapi Lian Hong? Ia harus menemui Lian Hong dan menanyakan hal ini terus terang kepadanya! Bagaimana, kalau Lian Hong benar-benar mencinta Ci Kong? Ia akan mengalah! Tentu saja kalau Ci Kong juga mencinta Lian Hong, dan iapun meragukan hal ini, karena selama dalam pergaulan mereka, ia tidak pernah melihat sikap Ci Kong mencinta gadis murid San-tok itu.

Karena Kui Eng ingin mencari ke tempat yang paling dekat dengan Kanton, yaitu di dusun Tung-kang tempat kelahiran Lian Hong. Maka pergilah ia ke dusun itu dan langsung saja ia pada malam itu mengunjungi tanah kuburan dimana kedua orang tua Lian Hong dimakamkan. Dan apa yang dilihatnya? Ci Kong dan Lian Hong sedang memadu asmara! Sedang berenang di dalam lautan kemesraan, dan tanpa kata-katapun, ia melihat sendiri betapa kedua orang itu saling mencinta!

Kui Eng tidak mengganggu mereka, bahkan setelah yakin benar bahwa kedua orang itu saling mencinta, melihat mereka bersembahyang mohon doa restu di depan makam, diam-diam ia lalu meninggalkan mereka dan menghilang di dalam kegelapan malam. dua titik air mata saja membasmi matanya. Ia tidak menangis, dua titik air mata itu mewakili bermacam perasaan yang saat itu bercampur aduk di di dalam batin.

Ia merasa iri terhadap Lian Hong, dalam kebahagiaannya, dicinta oleh Ci Kong. Namun ada rasa gembira juga melihat kebahagiaan Lian Hong gadis yang disayangnya dan dikaguminya itu. Ia merasa lega pula, karena tanpa harus bicara, hal yang tentu akan lebih menyakitkan lagi, ia kini sudah mendapatkan keputusan. Ci Kong tidak mencintainya, melainkan mencinta Lian Hong. Hal ini membuat ia lega karena ia merasa sudah terbebas dari keraguan dan harapan hampa.

Maka, dapat dibayangkan rasa girang dan heran yang membayang di wajah Thio Ki, putera ketua Kang-sim-pang itu ketika pada pagi hari itu, Kui Eng menemuinya dan secara terang-terangan dan dengan suara yang jelas, bahkan disaksikan oleh belasan orang teman yang belum berangkat bekerja di pelabuhan berkata kepadanya.

“Thio-Toako, maukah engkau mengambil aku sebagai isterimu?”

Tentu saja Thio Ki terbelalak dan hampir bersorak girang. Teman-teman yang berada di situpun terbelalak. Mereka tahu bahwa gadis cantik yang menjadi pemimpin mereka itu adalah seorang gadis pejuang yang gagah perkasa, berhati keras dan jujur, akan tetapi sungguh tak mereka sangka bahwa pemimpin mereka itu akan membicarakan tentang perjodohannya.

“Tapi, Eng-moi apakah... apakah engkau cinta padaku?” Karena semua teman sejak tadi sudah menonton mereka, Thio Ki terang-terangan mengajukan pertanyaan itu kepada Kui Eng. Dia masih merasa penasaran sekali. Kui Eng tersenyum dan memandang mesra, lalu memegang kedua tangan pemuda itu.

“Tentu saja aku cinta padamu, bodoh. Kalau tidak, masa aku mau menjadi isterimu?”

Teman-teman mereka tertawa, bersorak dan bertepuk tangan, dan Thio Ki tersipu malu, akan tetapi juga girang bukan main, dan diapun menurut saja ketika Kui Eng menarik tangannya diajak keluar untuk segera mencari dan menghadap gurunya.

Perasaan sayang kadang-kadang membuat orang menjadi kurang waspada, bahkan dapat membuat orang menjadi lengah. Rasa suka dan tidak suka membuat semua pertimbangan akal menjadi miring dan tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Kalau kita merasa suka kepada seseorang, timbul rasa sayang dan apapun yang dilakukan orang yang kita suka itu, bagi kita selalu nampak menyenangkan, apalagi kalau yang dilakukannya itu memang tidak merugikan kita secara langsung.

Hal ini bukan hanya teori maupun dongeng belaka. Orang tua yang terlalu menyayang anaknya, condong untuk memanjakan anak itu dan walaupun si anak itu nampaknya nakal dan menjengkelkan hati orang-orang lain. Bagi orang Tuanya, kenakalannya itu bukan nampak nakal seperti pandangan orang lain, melainkan mungkin saja dianggapnya lucu dan menggelikan, menyenangkan!

Sebaliknya kalau kita tidak menyukai seseorang, timbul kecondongan untuk membenci orang itu, dan kalau sudah begini, apapun yang dilakukan orang itu akan nampak tidak menyenangkan bagi kita. Bukan kelakar belaka kalau dikatakan bahwa hati yang sedang suka, melihat wajah cemberut orang yang disukainya nampak lebih manis. Sebaliknya, melihat wajah orang yang dibencinya, walaupun sedang tersenyum semanis-manisnya, nampak buruk dan tidak menyenangkan!


Demikian pula dengan Hai-tok Tang Kok Bu. Datuk sesat yang kaya raya ini terlalu sayang kepada Lee Song Kim, muridnya yang paling disayangnya. Rasa sayang bukan hanya timbul karena Lee Song Kim merupakan seorang murid utama yang paling cerdik, pandai menyenangkan hati gurunya, juga bukan hanya karena Lee Song Kim merupakan seorang pemuda yang berwajah tampan.

Bukan hanya karena Song Kim seorang murid terpandai dan kekasih tersayang, melainkan juga karena Hai-tok Tang Kok Bu memang haus akan putera, haus akan anak laki-laki. Anaknya hanyalah Kiki seorang, anak perempuan, dan sejak mudanya dia amat menginginkan seorang anak laki-laki. Dia menganggap Song Kim sebagai murid terpandai, dan juga sebagai puteranya sendiri.

Tidaklah mengherankan apabila Hai-tok mencurahkan kasih sayangnya kepada Song Kim. Lebih-lebih lagi setelah Kiki meninggalkannya untuk menikah dengan pria yang dicintanya, yaitu Ong Siu Coan. Kini seluruh rasa kasih sayangnya dilimpahkan kepada Song Kim. Hal ini tentu saja amat menggembirakan pemuda yang penuh ambisi itu. Dia melihat kesempatan yang amat baik. Rasa sayang yang berlebihan dan Hai-tok itu membuat dia manja dan ingin memperoleh segala-galanya.

Dia menguras habis ilmu kepandaian Hai-tok, juga menganggap dirinya sebagai putera Hai-tok dan ahli waris dari kakek kaya raya itu, menjadi Tuan muda dari Pulau Naga. Semua anak buah di pulau itupun tunduk kepadanya, karena mereka semua maklum bahwa pemuda itu memang memiliki kekuasaan besar sekali dan semua perbuatannya dan kehendaknya dibenarkan saja oleh Hai-tok. Setelah semua ilmu yang dimiliki Hai-tok habis dipelajarinya, Song Kim merengek dan memanaskan gurunya Suhu.

“Benarkah tidak ada lagi ilmu yang dapat Suhu ajarkan kepadaku?” Pada suatu malam Song Kim bertanya kepada Hai-tok.

“Song Kim, sudah berapa kali Kau tanyakan hal itu kepadaku? Sudah berulang kali kuberitahukan bahwa semua ilmu yang kumiliki sudah kuajarkan kepadamu. Masa engkau tidak percaya kepadaku? Satu-satunya hal yang masih kurang padamu hanyalah pengalaman saja, dalam hal ini tentu engkau masih kalah olehku. Akan tetapi dalam hal ilmu silat, tidak ada ilmu yang masih kurahasiakan.”

“Kalau begitu, aku kelak dapat menjadi pengganti Suhu dan melanjutkan sepak terjang Suhu, dan membuat nama besar sebagai murid dan ahli waris Suhu.”

“Tentu saja, muridku yang baik...”

“Akan tetapi, Suhu. Hatiku masih belum puas. Melihat Suhu tempo hari bertanding melawan Thian-tok, ternyata Suhu belum dapat mengalahkannya.”

“Ha-ha, akan tetapi diapun tidak mampu mengalahkan aku. Tingkat kekuatan dan kepandaian kami memang seimbang.”

“Hal itulah yang mencemaskan hatiku, Suhu. Dengan demikian, berarti pula bahwa tingkat ilmu silat yang kumiliki belum berapa tinggi, dan baru seimbang dengan tingkat murid-murid Thian-tok, San-tok, maupun Tee-tok. Kalau begitu, mana mungkin aku dapat menjagoi dunia kang-ouw? Belum lagi mengingat bahwa tingkat kepandaian Siauw-bin-hud masih lebih tinggi dari pada tingkat Suhu, berarti bahwa aku takkan mampu menandingi ilmu kepandaian muridnya seperti Tan Ci Kong dan lain-lainnya.”

Mendengar ini, Hai-tok menarik napas panjang. “Hal yang Kau kemukakan itu memang tak dapat kusangkal, Song Kim. Akan tetapi, ilmu kepandaian memang tidak ada batasnya di dunia ini. Betapapun tingginya Gunung Thai-san, masih ada lagi awan yang lebih tinggi, dan di atas awan masih ada jutaan bintang yang lebih tinggi lagi.”

“Aku tahu, Suhu, dan akupun belum gila untuk menjadi orang yang paling pandai di dunia ini. Akan tetapi setidaknya aku harus lebih kuat dari pada musuh-musuh dan sainganku, dan aku harus dapat mempelajari ilmu-ilmu yang lebih tinggi lagi. Dan hal ini, kiranya hanya dapat terjadi kalau Suhu mau menolongku.”

“Hemm, menolongmu bagaimana? Sudah kukatakan bahwa semua ilmuku sudah kuajarkan kepadamu.”

“Suhu, maukah Suhu menolongku?” Song Kim merajuk.

Hai-tok tertawa. “Ha-ha-ha, Song Kim. Engkau tahu bahwa aku akan mau melakukan apa saja untuk menolongmu. Bukankah aku telah menyelamatkan engkau dan melindungimu ketika engkau terancam bahaya? Bukankah aku lebih memberatkan engkau dari pada anak kandungku sendiri?”

“Kalau begitu, Suhu... usahakanlah agar ilmu kepandaianku dapat meningkat. Kalau saja Suhu suka meminjam kitab-kitab ilmu yang dalam dari aliran persilatan yang besar di dunia persilatan, tentu aku akan dapat mempelajari kitab-kitab itu untuk memperdalam pengetahuanku.”

Peribahasa yang mengatakan bahwa “cinta itu buta” sesungguhnya keliru. Cinta kasih yang murni tidak membuat orang menjadi buta, sebaliknya malah, membuat orang menjadi waspada dan bijaksana. Yang membuat orang menjadi buta, buta batinnya, adalah nafsu, bukan cinta kasih! Nafsu, segala macam nafsu yang menguasai batin manusia, membuat batin itu menjadi keruh dan kotor, lenyap semua pertimbangan, dan bahkan kekeruhan batin itu membuat kita menjadi seperti buta.

“Baiklah, Song Kim, tenangkan hatimu dan bergembiralah. Aku akan membantumu untuk meminjam kitab-kitab yang mengandung ilmu silat tinggi dari beberapa perkumpulan yang kutahu memilikinya,” katanya kepada pemuda itu.

Tentu saja Song Kim menjadi girang sekali, dan diapun berusaha keras untuk menyenangkan hati gurunya. Janji Hai-tok dipenuhinya. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, mulailah dia mencuri atau merampok kitab-kitab dari perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, Lam-hai-pai, dan lain-lain. Semua kitab-kitab itu diserahkannya kepada Song Kim, bahkan dia membantu muridnya itu untuk membaca kitab-kitab kuno.

Akan tetapi, nafsu membuat orang tak pernah merasa cukup. Makin dituruti nafsu itu, ia menjadi semakin lahap. Song Kim tidak puas dengan kitab-kitab yang telah dipelajarinya, dan dia selalu merengek agar gurunya mencarikan kitab lain. Mulailah Hai-tok melakukan pencurian-pencurian di perkumpulan-perkumpulan yang lebih besar lagi.

Bahkan dia berani pula mencuri kitab dari perpustakaan di kuil para tosu Kun-lun-pai, dan mencuri beberapa buah kitab ilmu simpanan dari kuil para Hwesio di Go-bi-pai. Tentu saja dengan adanya kitab-kitab itu, ilmu kepandaian Song Kim meningkat dengan cepat. Dia memang amat cerdik sehingga dengan mudah dia mempelajari ilmu-ilmu silat dan kitab-kitab itu, sehingga dalam waktu singkat, dia dapat menguasai semua, hanya tinggal mematangkannya dalam latihan saja.

Hai-tok kini seperti menjadi bujangnya saja. Kitab dari perkumpulan manapun yang dikehendakinya, tentu akan diusahakan oleh Hai-tok untuk memperolehnya. Dan makin lama Song Kim makin tidak takut kepada Suhunya, apalagi setelah dia mempelajari banyak ilmu silat tinggi, sehingga tingkatnya mulai melampaui tingkat gurunya! Dan dia mulai mengancam akan meninggalkan gurunya kalau Hai-tok menolak pemintaannya.

Kakek itu sendiri mulai terikat semakin erat, mulai tergantung semakin tinggi, tidak mungkin lagi dapat terpisah dan Song Kim. Karena itu, apapun permintaan muridnya selalu dipenuhinya. Akan tetapi, Hai-tok terkejut sekali ketika pada suatu malam, muridnya minta kepadanya agar mencarikan kitab-kitab pelajaran silat yang dirahasiakan oleh para tokoh Siauw-Iim-pai!

“Song Kim, muridku yang baik, bagaimana engkau dapat meminta hal yang tak mungkin terlaksana? Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai. Ah, engkau tidak tahu. Siauw-lim-pai tak boleh disamakan dengan Kun-lun-pai, Go-bi-pai atau perkumpulan silat lainnya! Perkumpulan itu bukan hanya perkumpulan silat biasa, melainkan menjadi pusat para pendeta Buddha, pusat penyebaran agama, dan di sana berkumpul tokoh-tokoh yang sakti! Ingat saja Siauw-bin-hud, dan masih banyak yang lain.”

“Aku bukan minta agar Suhu menghadapi mereka secara berterang. Aku tahu bahwa Suhu tentu tidak akan menang melawan mereka. Akan tetapi kalau diusahakan agar Suhu dapat memasuki kamar perpustakaan mereka, memilih kitab-kitab yang hebat, tanpa melawan mereka, apa susahnya?

“Bukankah dengan cara itu pula Suhu telah berhasil mencuri beberapa buah kitab rahasia yang amat penting dari Kun-lun-pai dan Go-bi-pai? Juga dari Bu-tong-pai, Suhu bisa mendapatkan kitab tanpa harus berkelahi dengan mereka. Suhu, tolonglah aku, aku ingin sekali mempelajari ilmu yang tinggi dari Siauw-lim-pai.”

“Akan tetapi, Song Kim, bukankah selama beberapa bulan ini, tiada hentinya aku mendapatkan kitab-kitab yang amat langka di dunia ini untuknu? Kitab-kitab dari Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Bu-tonng-pai, Kong-thong-pai, dan belasan perkumpulan lain yang paling terkenal. Masih tidak cukupkan itu? Engkau sendiripun belum sempat mempelajari semua kitab itu? Untuk apa ditambah lagi? Untuk apa terlalu banyak ilmu itu yang akan memakan waktu lama untuk Kau latih?”

“Suhu, aku ingin menaklukkan semua jagoan dari manapun perguruannya. Dan untuk itu, aku harus mengenal rahasia-rahasia ilmu silat mereka, dan menguasai ilmu-ilmu mereka yang paling tinggi. Hampir semua sudah berada di tanganku kecuali ilmu yang tertinggi dari Siauw-lim-pai. Kalau aku tidak menguasainya, bagaimana kalau kelak aku berhadapan jagoan Siauw-lim-pai sebagai lawan? Aku akan mengumpulkan dulu kitab sebanyaknya, baru perlahan dilatih.”

“Akan tetapi mencuri kitab dari Siauw-lim-si, sukarnya sama dengan naik ke langit, muridku! Siauw-lim-si terjaga ketat dan memiliki banyak alat-alat rahasia. Belum pernah ada tokoh yang dapat memasukinya.”

Song Kim tertawa. “Aih, Suhu terlalu merendahkan diri, terlalu mengangkat lawan! Siapa tidak mengenal nama besar Suhu? Aku mendengar bahwa seorang lulusan Siauw-lim-pai diharuskan keluar melalui alat-alat rahasia itu, dan banyak di antara mereka, yang masih muda-muda, berhasil. Masa Suhu kalah dengan murid-murid Siauw-lim-pai itu? Sudahlah, kalau Suhu tidak mau, katakan saja. Suhu sudah tidak sayang lagi padaku, biarlah aku yang akan pergi mengambil sendiri kitab-kitab itu, akan tetapi aku tidak akan kembali lagi kepada Suhu!”

“Aihhh, jangan begitu, Song Kim. Siapa bilang aku tidak mau? Aku tadi hanya mengatakan betapa sukarnya mencuri kitab dan Siauw-lim-pai, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak ingin mencobanya.”

“Ah, Suhu memang hebat” Song Kim menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hai-tok yang duduk bersila itu. “Bagiku, Suhu merupakan guru dan juga pengganti ayah, satu-satunya orang yang kucinta dan sayang pula kepadaku. Terima kasih, Suhu...”

Pada hari itu, berangkatlah Hai-tok menuju ke kuil besar Siauw-im-pai yang menjadi pusat dan perkumpulan Siauw-lim-si. Beberapa pekan kemudian, terjadilah geger di kuil Siauw-lim-si. Di malam yang gelap dan sunyi itu, tiba-tiba terdengar bunyi kelenengan nyaring, bunyi tanda rahasia yang dipasang di bagian kuil, dan bunyi kelenengan itu menandakan bahwa tempat itu didatangi orang asing atau orang luar yang tidak tahu rahasianya.

Maka, para Hwesio segera memukul tambur bertalu-talu sebagai tanda bahaya, dan para pimpinan Siauw-lim-pai yang kebetulan malam itu berkumpul di situ, terkejut dan cepat berkumpul untuk melihat siapa yang telah memasuki kuil tanpa ijin.

Hai-tok yang telah berhasil melalui beberapa jebakan dan alat rahasia, sudah merasa girang sekali ketika dia tiba di bagian paling dalam dari Siauw-lim-si. Dengan kepandaiannya yang tinggi, dia berhasil berkelebat dan menyelinap ke dalam tanpa dilihat oleh para munid Siauw-lim-pai yang bertugas jaga. Bahkan dia dapat melumpuhkan beberapa macam alat rahasia yang menghadang di sepanjang lorong masuk.

Akan tetapi ketika dia tiba di ruangan dalam dan sedang mencari-cari dimana letaknya kamar perpustakaan, tanpa disangkanya, kakinya menginjak bagian lantai yang dipasangi alat rahasia sehingga terdengarlah kelenengan berbunyi nyaring. Hai-tok terkejut, akan tetapi dia bersikap tenang, siap untuk menghadapi segala bahaya.

Tiba-tiba ruangan itu menjadi terang benderang, muncullah puluhan orang Hwesio dengan obor di tangan, ada pula yang membawa lentera-lentera besar. Sebentar saja Hai-tok telah terkepung. Kakek ini masih bersikap tenang, siap untuk menghadapi segala akibat dari perbuatannya itu.

Akan tetapi, para Hwesio muda itu hanya mengepung dalam bentuk barisan yang rapi, sama sekali tidak bergerak untuk menyerang, hanya mengepung dan tidak memberi jalan ke luar, mata mereka memandang tajam kepada Hai-tok yang masih berdiri di tengah ruangan.

Tiba-tiba barisan yang berada di sebelah dalam terkuak dan muncullah lima orang kakek yang membuat Hai-tok diam-diam terkejut sekali. Dia mengenal dua orang di antara mereka. Yang seorang bertubuh tinggi kurus adalah Thian He Hwesio, sedangkan orang kedua adalah Thian Kong Hwesio.

Keduanya adalah pimpinan Siauw-lim-pai. Thian He Hwesio sebagai ketua dan Thian Kong Hwesio sebagai pelatih. Tentu saja Hai-tok tidak gentar menghadapi dua orang pimpinan Siauw-lim-si yang sudah dikenalnya dan diketahui sampai dimana tingkat kepandaiannya itu.

Akan tetapi dia memperhatikan tiga orang kakek yang lain. Mereka memiliki pembawaan yang aneh dan mengkhawatirkan hatinya. Mata mereka itu mencorong seperti mata naga, walaupun ada kelembutan pada pandang mata mereka.

Yang seorang adalah pendeta berkepala gundul seperti Hwesio-Hwesio lain, akan tetapi kulit mukanya hitam dan raut wajahnya berbeda dengan orang Han. Hai-tok yang berpengalaman dapat menduga bahwa tentu Hwesio yang satu ini datang dan barat, kalau tidak dan Bhutan, tentu dan Nepal atau India.

Orang ke dua adalah seorang Hwesio tinggi besar berperut gendut, mulutnya yang lebar itu selalu tersenyum, dan melihat jubahnya yang kuning bergaris merah, dan hiasan kepala yang menutupi kepala gundulnya, dapat diduga bahwa dia adalah seorang pendeta Lhama dari Tibet. Orang ketiga juga seorang Hwesio tua, kepalanya gundul kelimis, akan tetapi mukanya penuh dengan kumis dan jenggot putih, jubahnya kuning agak kotor.

Namun Hwesio yang bertubuh kecil ini bersikap penuh wibawa, tangannya memegang sebatang tongkat pendeta yang kedua ujungnya dihias dengan emas! Thian He Hwesio dan Thian Kong Hwesio tentu saja mengenal Hai-tok dan diam-diam mereka terkejut. Mau apakah datuk sesat ini muncul pada waktu tengah malam di ruangan dalam kuil itu?

“Kiranya Tang-tocu yang muncul di sini,” kata Thian He Hwesio sambil menjura. “Sungguh mengejutkan hati kami semua. Entah ada urusan apakah tocu datang malam-malam begini dengan cara yang tidak wajar?”

Muka Hai-tok sudah berubah merah karena kikuk dan malu. Akan tetapi, dia tidak gentar menghadapi pengepungan para Hwesio, apalagi di situ tidak terdapat orang yang ditakuti, Siauw-bin-hud. Maka karena sudah tertangkap basah, diapun menjadi nekat. Tak perlu lagi dia mencari alasan dan berbohong, karena hal itu hanya akan menambah rasa malunya saja.

“Hwesio yang baik, aku datang hanya untuk meminjam beberapa buah kitab milik Siauw-lim-pai.”

Semua Hwesio terkejut mendengar ini, dan Thian Kong Hwesio yang wataknya lebih keras dari pada suhengnya segera berseru. “Omitohud... kitab-kitab kami tidak boleh dipinjam oleh orang luar!”

Hai-tok Tang Kok Bu tersenyum mengejek. “Hemm... apakah percuma saja aku menjadi kenalan dan sahabat Siauw-bin-hud? Masa meminjam kitab saja tidak diperbolehkan?”

Thian He Hwesio cepat menjura. “Tocu, kitab apakah yang ingin tocu baca? Kalau tocu ingin membaca kitab agama dan kitab pelajaran untuk menjadi manusia benar, kiranya pinceng akan dapat meminjamkannya kepada tocu.”

Hai-tok tertawa. “Ha-ha-ha, apakah engkau anggap aku ini anak kecil? Untuk apa segala macam kitab yang tidak ada gunanya itu? Membohongi orang-orang bodoh saja! Aku ingin memilih sendiri beberapa buah kitab dari kamar perpustakaan kalian, dan aku hanya akan meminjamnya selama setahun saja, tentu kelak akan kukembalikan.”

“Omitohud, permintaan yang tidak masuk akal, tocu. Akan tetapi kitab apakah yang ingin tocu pinjam itu?”

“Aku hanya mempunyai satu macam keahlian, yaitu ilmu silat. Kitab apalagi kalau bukan kitab ilmu silat yang menarik hatiku? Aku akan memilih dua atau tiga buah saja, ingin melihat sampai dimana kehebatan ilmu silat simpanan dari Siauw-lim-pai, dan setelah membacanya setahun, aku akan mengembalikannya.”

“Tidak mungkin!” Thian Kong Hwesio membentak.

Thian He Hwesio masih bersikap lunak. “Tak perlu pinceng menjelaskan panjang lebar, namun tentu tocu sudah maklum bahwa kami tidak mungkin dapat meminjamkan kitab pelajaran silat kepada orang luar. Bahkan murid-munid Siauw-lim-pai sendiri, tanpa ijin khusus, dilarang membaca kitab-kitab rahasia itu. Tentu tocu sudah maklum bahwa hal itu tidak mungkin, maka tocu datang malam-malam begini untuk mencuri.”

“Ha-ha-ha, kalau benar demikian, kalian mau apa? Kalau tidak boleh meminjam, biarlah kuambil sendiri saja!” kata Hai-tok dengan sikap angkuh.

“Omitohud! Orang ini benar-benar hendak mengacau. Kami bertiga sebagai tamu, tak boleh tinggal diam saja.”

Tiba-tiba kakek Hwesio kecil kurus yang memegang tongkat berseru sambil melangkah maju, diikuti oleh dua orang pendeta lainnya, yaitu pendeta dari India dan dari Tibet. Mereka mengepung dengan kedudukan segitiga, dengan Hwesio bertongkat di depan Hai-tok. Pada saat itu, Thian He Hwesio yang tidak keburu mencegah, membisikkan kepada tamunya bahwa pengacau itu adalah datuk sesat yang dijuluki Hai-tok. Nampak pendeta pendeta kecil kurus itu terkejut, juga dua orang kawannya terkejut.

“Omitohud, kiranya seorang di antara Empat Racun yang tersohor itu!” kata pula pendeta kecil kurus bertongkat. “Kabarnya Empat Racun telah mencuci kotoran dan batinnya dengan membantu perjuangan rakyat menentang kelaliman, akan tetapi ternyata sekarang Hai-tok masih saja melanjutkan kesesatannya dengan perbuatan rendah, mengacau di Siauw-lim-si dan hendak merampok kitab. Sungguh patut disesalkan!”

Melihat tiga orang tamunya yang merupakan tamu agung yang dihormati, yaitu para wakil golongan Agama Buddha dari Nepal, Tibet dan Yun-nan, kini maju hendak menandingi Hai-tok, dua orang pimpinan Siauw-lim-si itu merasa tidak enak hati. Thian He Hwesio segera maju.

“Sam-wi Suhu harap tidak turun tangan sendiri, ini adalah urusan dalam Siauw-lim-pai, biarlah para murid yang menanggulanginya.” Tanpa menanti jawaban, Thian He Hwesio memberi tanda kepada Thian Kong Hwesio, dan pelatih para murid Siauw-lim-pai ini segera memberi aba-aba kepada para murid.

“Ngo-heng-tin silahkan maju!” bentaknya. Dari para pengepung itu, berloncatan keluar lima orang murid Siauw-lim-pai yang berkepala gundul, mereka itu masing-masing memegang sebatang toya kuningan yang berat, senjata khas golongan Hwesio yang merupakan senjata terkuat dari Siauw-lim-pai. Setelah berloncatan, mereka berlima segera membentuk posisi segi lima dan itulah yang dinamakan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Unsur).

Dikurung oleh lima orang itu, Hai-tok nampak masih tenang saja. Dia maklum akan kelihaian Ngo-heng-tin dan tahu pula bahwa dengan berani maju berlima, tentu mereka ini merupakan murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah cukup tinggi tingkatnya. Dia menggerakkan tangan ke belakang dan sudah mencabut tongkatnya, sebatang tongkat yang terbuat dari pada emas berhiaskan permata!

Sebuan tongkat yang indah dan mahal sekali, namun merupakan senjata utama Hai-tok yang luar biasa ampuhnya pula. Barisan Ngo-heng-tin itu kini bergerak perlahan mengitari lawan, gerakan mereka ketika bergeser ke depan itu amat gagah dan tegap, kaki mereka hanya bergeser ke depan sehingga terdengar suara “sstt-sstt-sstt” yang berirama.

Keadaan menjadi menegangkan, dan kepungan itu kini agak mundur sehingga terdapat ruangan yang cukup luas untuk perkelahian keroyokan. Juga kedua orang pimpinan Siauw-lim-pai dan tiga orang tamu agungnya mengundurkan diri. Beberapa orang murid segera menyediakan lima buah bangku untuk mereka duduk menonton. Pimpinan barisan Ngo-heng-tin itu adalah seorang yang bertubuh tinggi kurus.

Dia memimpin barisan bukan dengan aba-aba, melainkan dengan gerakan. Dialah yang lebih dahulu bergerak, menjadi kepala binatang sedangkan yang lain menjadi tubuh dan ekornya, yang akan bergerak secara otomatis melanjutkan atau menyambung gerakan pertama dari pemimpin barisan itu.

Setiap gerakan atau serangan dari pemimpin, memiliki perkembangan tertentu dan mereka berlima sudah berlatih selama belasan tahun, sehingga kalau mereka maju sebagai Ngo-heng-tin, mereka itu seolah-olah menjadi kesatuan yang bergerak secara otomatis.

Tiba-tiba kepala barisan itu sudah menggerakkan toyanya, menyerang ke arah kepala Hai-tok, dan begitu dia bergerak menyerang, empat orang yang lain juga bergerak dengan serangan susulan! Hebatnya, di dalam serangan mereka berlima ini terdapat unsur yang saling melindungi!

“Trang-trang-trang-trang-trang!”

Lima kali beruntun terdengar suara nyaring ketika nampak gulungan sinar emas, dan ternyata serangan lima batang toya itu telah dapat tertangkis semua oleh tongkat di tangan Hai-tok. Bukan itu saja, bahkan kini Hai-tok membalas dengan serangan-serangan yang amat cepat dan kuat secara bertubi-tubi kepada lima orang lawannya!

Lima orang itu terkejut ketika toya mereka tertangkis tadi, karena hampir toya mereka terlepas dari pegangan dan tangan mereka seperti hampir patah-patah tulangnya. Apalagi kini lawan telah menyerang dengan amat ganasnya. Untung dalam barisan mereka terdapat kerja sama yang amat baik sehingga mereka dapat saling melindungi dengan cara menangkis dan menghambat serangan Hai-tok kepada seorang kawan dengan cara menyerangnya dari samping atau belakang.

Terjadilah pertandingan yang menarik dan mengagumkan. Lima orang Ngo-heng-tin itu bagaikan lima ekor burung garuda yang menyambar-nyambar, mengepung seekor ular yang melingkar di tengah yang mematuk-matuk dengan kepalanya. Akan tetapi, karena memang kalah jauh tingkatnya, setiap kali tongkat kakek yang menjadi seorang di antara Empat Racun Dunia itu menyentuh toya, pemegangnya meringis kesakitan dan telapak tangan mereka terasa panas sekali.

Karena ini, gerakan mereka, walaupun masih otomatis, nampak kacau. Dan Hai-tok makin lama semakin ganas. Tiba-tiba terdengar Hai-tok mengeluarkan teriakan melengking, dan tongkatnya, lenyap berubah menjadi sinar emas yang menyilaukan mata. Itulah Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas) yang dimainkan dengan hebat sekali. Harus diketahui bahwa kakek ini memiliki tenaga Thai-lek Kim-kong-jiu.

Tenaga sin-kang yang dahsyat, maka begitu dia memutar tongkatnya agak ke bawah, lima orang pengeroyoknya terlempar dan terpelanting ke kanan kiri. Mereka tadi sudah berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak atau menangkis. Yang menangkis kena dibabat berikut toya yang menangkisnya, sedangkan yang mengelak tetap roboh oleh angin pukulan tongkat yang dahsyat.

Para murid Siauw-lim-pai cepat menolong lima orang itu dan mengotong mereka keluar dan ruangan itu. Thian He Hwesio dan Thian Kong Hwesio, dengan muka merah karena marah, hendak melangkah maju, akan tetapi didahului oleh tiga orang tamu agung yang dipimpin oleh kakek Hwesio kecil kurus yang memegang tongkat pendeta.

Melihat majunya tiga orang ini, Hai-tok bersikap waspada. Dia dapat menduga bahwa mereka ini bukan orang sembarangan. “Siapakah kalian dan mengapa mencampuri urusan antara aku dan Siauw-lim-pai?” bentak Hai-tok sambil melintangkan tongkat emasnya di depan dada.

Kakek kecil kurus itu tertawa. “He-heh, kami hanyalah pendeta-pendeta yang biasa saja, tidak terkenal seperti Hai-tok. Kami maju bukan karena Siauw-lim-pai, melainkan karena melihat betapa ilmu dipergunakan orang untuk melakukan kejahatan.”

“Kapan saja dan dimana saja, terhadap siapa saja, engkau melakukan kejahatanmu, Hai-tok. Kalau kami melihatnya, tentu kami akan berusaha menghentikanmu.”

“Kalau begitu… mampuslah!” Hai-tok cepat menyerang pada saat kakek kecil kurus itu berhenti bicara. Biarpun lebih dahulu dia bersuara, namun serangannya datang secara mendadak, cepat dan juga mengandung tenaga sin-kang yang dasyat, sehingga tongkat emasnya berubah menjadi sinar gemilang dan mengeluarkan suara bersiutan nyaring.

Kakek ini memang licik. Melihat tiga orang itu maju, dia hendak cepat-cepat merobohkan seorang di antara mereka, dan menurut dugaannya, pembicara itulah yang merupakan lawan paling tangguh.

“Trakkk!” Tongkatnya bertemu dengan tongkat Hwesio yang dipegang oleh pendeta kurus kecil itu, dan keduanya terdorong mundur walaupun Hwesio itu terdorong dua langkah lebih jauh dibandingkan Hai-tok, tanda dia masih kalah kuat oleh Racun Lautan.

Akan tetapi dua orang Hwesio lainnya, yaitu pendeta dari Nepal dan dan Tibet, telah bergerak maju mengepungnya. Pendeta dari Nepal itu menggunakan kedua ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar menutupi tangannya, sedangkan pendeta Lhama dari Tibet telah mengeluarkan seuntai tasbeh dengan biji-biji tasbeh berwarna putih seperti batu akik.

Dan ketika mereka berdua bergerak, diam-diam Hai-tok terkejut. Kiranya tingkat kekuatan dua orang Hwesio asing itu tidak berada di sebelah bawah tingkat kekuatan Hwesio kecil kurus! Maklum bahwa dirinya dikepung tiga orang lawan yang tangguh, Hai-tok mengeluarkan suara mengereng keras dan diapun segera mainkan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Kim-kong-pang!

Kalau melawan mereka bertiga itu seorang demi seorang, agaknya Hai-tok masih lebih unggul walaupun selisih tingkat kepandaiannya hanya sedikit lebih tinggi dari pada mereka. Akan tetapi mereka bertiga itu maju bersama, dan hal ini membuat Hai-tok kewalahan. Apalagi ilmu silat dan gerakan dua orang Nepal dan Tibet itu amat aneh dan tidak dikenalnya sama sekali.

Dua ujung lengan baju dari pendeta Nepal itu lihai bukan main, kadang-kadang menjadi lemas dan ulet, dapat melakukan serangan menyabet dan mencengkeram atau mengait, kadang-kadang menjadi kaku dan dapat dipergunakan untuk menusuk atau menotok jalan darah! Juga untaian tasbeh di tangan pendeta Lhama itu lihai bukan main. Selain batu-batu yang menjadi biji tasbeh itu kuat dan mampu menangkis tongkat emas tanpa rusak.

Dan untaian ini diikat dengan tali yang amat kuat dan tidak dapat putus, juga kalau digerakkan untuk menyerang, tasbeh itu mengeluarkan bunyi berkeritikan yang amat nyaring dan menusuk telinga menembus ke dalam dan menggetarkan jantung! Hai-tok mengamuk dan memutar tongkatnya mengeluarkan jurus-jurus terampuh dan Kim-kong-pang.

Melihat betapa tiga orang tamu agung itu hanya mampu mendesak, namun Hai-tok masih terlalu kuat untuk dapat dikalahkan, diam-diam Thian Kong Hwesio memberi isyarat kepada belasan orang muridnya. dua belas orang murid lalu bergerak maju. Mereka membawa alat semacam jala terbuat dari pada baja. Empat orang memegang sehelai jala pada empat ujungnya sehingga mereka semua kini membawa tiga helai jala dan memasuki medan perkelahian.

Jala-jala itu mulai digerakkan menerkam ke arah tubuh Hai-tok. Kakek ini terkejut, mengelak dan hendak menyerang empat orang pemegang jala, akan tetapi dari belakang, jala lain menubruknya. Ketika dia mengelak, tiga orang pendeta yang mengepungnya telah menyerangnya lagi. Dikeroyok tiga orang kakek pendeta itu saja sudah merupakan hal yang berat bagi Hai-tok, apalagi kini ditambah oleh tiga helai jala yang amat berbahaya itu.

Akan tetapi dia tidak merasa takut dan mengamuk semakin hebat. Betapapun kuatnya, Hai-tok yang usianya sudah tujuh puluh itu, mulai kelelahan. Napasnya mulai memburu dan badannya penuh dengan keringat. dua kali sudah tubuhnya terkena pukulan tongkat Hwesio kecil kurus, dan biarpun pukulan-pukulan itu dapat diterima oleh tubuhnya yang dilindugi kekebalan, namun isi dadanya tergetar juga.

“Brukkkk!” Sehelai jala dari samping menubruknya pada saat dia menangkis tongkat dan tasbeh lawan. Cepat dia menggulingkan tubuh ke lantai, akan tetapi jala itu mengejarnya dan menubruk sepasang kakinya. Dengan marah Hai-tok memutar tongkatnya. Terdengar suara nyaring, dan ternyata tongkatnya tidak mampu membikin putus tali-tali jala.

Dengan marah dia lalu membabat dan empat orang pemegang jala berteriak kesakitan, terpelanting dan tidak mampu bangun lagi karena kaki mereka patah tulang. Akan tetapi, kaitan-kaitan kecil dari baja yang berada di sebelah dalam jala itu telah mengait kulit daging kaki Hai-tok. Kakek ini meronta dan melepaskan kaitan-kaitan dari kakinya.

Akan tetapi pada saat itu, sebuah totokan dengan ujung lengan baju mengenai pundak kanannya, membuat lengan kanannya lumpuh seketika. Dengan marah, dia menggunakan tongkatnya di tangan kiri untuk menyerang pendeta Nepal yang terpaksa harus melompat jauh ke belakang.

Jala itu sudah terlepas dari kakinya, akan tetapi lengan kanannya masih lumpuh, maka ketika tongkatnya itu bertemu dengan tongkat Hwesio kecil kurus, dia tidak mampu mempertahankan lagi dan tongkat emasnya terlepas dari tangan kirinya!

Hai-tok mengeluarkan suara melengking ganas, dan kini dia mengamuk dengan tangan kosong memainkan ilmu silatnya yang paling ampuh, yaitu dengan pengerahan tenaga Thai-lek Kim-kong-jiu. Ketika sehelai jala menubruknya, dia memapaki dengan pukulan tangan kirinya.

“Braakkkk!” Jala itu membalik dan menyelimuti empat orang pemegangnya seperti sehelai selimut tertiup angin keras dan empat orang pemegangnya menjerit-jerit kesakitan karena kaitan-kaitan baja kecil menancap di tubuh mereka! Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara berkeritik nyaring dari tasbeh, dan pendeta Lhama sudah menyambar ke arah kepala Hai-tok.

Kakek ini miringkan kepala dan menggunakan tangan kiri untuk menangkap tasbeh. Akan tetapi pada saat itu, tongkat di tangan Hwesio kecil kurus sudah mendorong dengan amat kuatnya ke arah lambung kanannya. Hai-tok berusaha menggerakkan lengan kanan, akan tetapi ternyata lengan itu masih belum dapat digerakkan.

“Dukkk!!” Tusukan ujung tongkat ke arah lambung kanan itu keras sekali, dan tubuh Hai-tok terpelanting dan terbanting roboh. Pendeta Lhama dan pendeta Nepal dengan berbareng menubruk, tubuh pendeta Lhama itu menghantam kepala dan ujung lengan baju menotok ke arah dada. Hai-tok berusaha menggulingkan tubuhnya, namun terlambat karena dia sudah berada dalam keadaan hampir tidak sadar oleh tusukan tongkat tadi.

Terdengar suara keras ketika tasbeh mengenai kepalanya. Dan pada saat itu, totokan ujung lengan baju juga mengenai jalan darah tepat didadanya. Entah yang mana lebih dulu merenggut nyawa Hai-tok pada saat itu. Tubuhnya tak bergerak lagi dan tewaslah datuk sesat yang memiliki kepandaian tinggi itu.

“Omitohud!” Tiga orang kakek itu merangkap tangan di depan dada sambil menundukkan muka, kelihatan betapa mereka prihatin sekali dan peristiwa itu sungguh tidak menyamankan hati mereka.

Sudah puluhan tahun mereka tidak mencampuri dunia ramai, apalagi menyerang orang. Akan tetapi sekarang ini terpaksa mereka mengeroyok, bahkan membunuh orang, karena kalau mereka tidak turun tangan, tentu datuk sesat itu akan membunuh lebih banyak orang lagi. Juga Thian He Hwesio dan Thian Kong Hwesio tidak merasa senang.

Dengan bijaksana, Thian He Hwesio lalu menyuruh anak murid Siauw-lim-pai untuk mengubur jenazah Hai-tok di lereng gunung, sebelah belakang kuil. Juga memasang bong-pai bertuliskan nama Hai-tok, yaitu Tang Kok Bu. Tiga orang pendeta yang menjadi tamu agung itu juga segera berpamit dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Lee Song Kim segera dapat menyelidiki keadaan gurunya, dan tahu bahwa gurunya gagal mencarikan kitab di Siauw-lim-si. Bahkan gurunya tewas oleh pengeroyokkan para pendeta yang berilmu tinggi. Dia merasa menyesal kehilangan guru dan pembantu yang amat baik itu, akan tetapi dia memendam rasa penasaran itu di dalam hati saja, hanya mencatat nama-nama tiga orang pendeta yang menjadi tamu agung dan yang menggagalkan bahkan menewaskan Hai-tok.

Kemudian, pemuda ini mengumpulkan semua harta kekayaan gurunya, membubarkan semua anak buah gurunya, dan sambil membawa harta pusaka dan terutama sekali kitab-kitab dari pelbagai perguruan silat yang dikumpulkan Suhunya untuknya, pergi meninggalkan Pulau Naga. Dia tidak ingin bentrok dengan musuh sebelum dia menguasai semua ilmu itu, sambil menyembunyikan diri di tempat yang jauh dan dunia ramai.

Lee Song Kim dengan tekun sekali mempelajari kitab-kitab itu, dan karena dia memang memiliki kemauan keras dan bakat yang baik, dia mulai dapat menguasai ilmu-ilmu yang tinggi itu. Para tokoh perguruan tinggi yang merasa kehilangan kitab-kitab wasiat, ketika mendengar betapa Hai-tok tewas di kuil Siauw-lim-si dalam usahanya mencuri kitab, kini dapat menduga bahwa tentu Hai-tok pula yang telah mencuri kitab-kitab mereka.

Oleh karena itu, berbondong-bondong para tokoh persilatan itu mendatangi Pulau Naga untuk mencari dan mendapalkan kembali kitab-kitab mereka. Akan tetapi, pulau itu telah kosong dan mereka tidak tahu dimana adanya kitab-kitab mereka. Akhirnya mereka tahu bahwa kitab-kitab mereka itu tentu telah lenyap bersama dengan matinya Hai-tok.

Tak seorangpun tahu bahwa kitab-kitab itu kini berada di tangan seorang pemuda yang amat lihai, yang kini menyembunyikan diri dan meggembleng diri dengan kitab-kitab yang rahasia, mempelajari ilmu-ilmu silat pilihan dari partai-partai besar, ilmu-ilmu silat yang bahkan tidak dikuasai oleh sembarangan tokoh partai-partai itu sendiri!

Seorang pemuda yang kelak akan menjadi ancaman bagi ketenteraman dunia persilatan, yang akan menggegerkan dunia persilatan, karena selain menguasai bermacam ilmu silat tinggi berbagai aliran, juga amat cerdik dan licik!

Kita tinggalkan dulu Lee Song Kim yang menggembleng diri dalam persembunyiannya itu, dan melihat keadaan para tokoh lain dalam cerita ini. Setelah memperoleh persetujuan dari guru-guru mereka, Tan Ci Kong melangsungkan pernikahannya dengan Siauw Lian Hong. Pernikahan ini sederhana, namun cukup meriah karena dihadiri oleh banyak tokoh persilatan dan para pejuang.

Yang menggirangkan hati mereka adalah ketika tiga pasang orang muda yang juga baru saja menikah, hadir dalam perayaan pernikahan mereka. Tiga pasang orang muda itu bukan lain adalah Ong Siu Coan yang telah menikah dengan Tang Ki tanpa sepengetahuan Hai-tok yang tidak menyetujuinya, pasangan bangsawan Yu Kiang dan Ceng Hiang, dan juga Thio Ki dan Ciu Kui Eng.

Tentu saja pertemuan antara mereka menimbulkan percakapan yang ramah dan akrab, juga amat menggembirakan. Hanya Hai-tok yang tidak hadir di antara para datuk, karena Hai-tok telah tewas. Bahkan kematiannya di kuil Siauw-lim-si menjadi bahan percakapan para tamu dalam pesta itu.

Di antara para pejuang muda itu, yang paling menonjol kemampuannya adalah Ong Siu Coan. Dengan bantuan Ki Ki dan dengan harta kekayaan dari pusaka Giok-liong-kiam yang terjatuh ke dalam tangannya tanpa diketahui siapapun juga, Siu Coan mulai membangun balatentara yang besar.

Dimulai dari para sisa anak buah Thian-te-pang, dia membentuk perkumpulan yang besar dan dinamakan Pai Sang-ti Hwe, balatentara yang makin lama menjadi semakin kuat dan yang kelak akan terkenal sekali dengan nama balatentara Tai Peng (Perdamaian Besar). Ong Siu Coan kemudian mengangkat diri sendiri menjadi guru besar merangkap pemimpin atau raja, mempersatukan pasukannya dengan cara mengajarkan suatu agama baru.

Pada dasarnya agama yang disiarkannya adalah Agama Kristen. Akan tetapi karena pengertiannya dalam hal agama ini hanya setengah-setengah saja, dengan penafsiran-penafsiran yang ngawur, maka agama itu sudah menyeleweng jauh dari aselinya, bahkan bercampur baur dengan pelajaran Agama Tao yang mengandung banyak mistik, dan bercampur pula dengan pelajaran filsafat Khong Cu.

Betapapun juga, seperti dapat diikutidalam sambungan cerita ini, pemberontakan Tai Peng yang dipimpin oleh Ong Siu Coan dan isterinya Ki Ki itu, sempat menggegerkan seluruh Tiongkok, hampir berhasil menggulingkan pemerintah Mancu. Hal ini tidaklah mengherankan, karena demikian pandainya Ong Siu Coan memimpin balatentaranya sehingga menarik perhatian para orang gagah yang dengan sukarela pada permulaan pemberontakan itu mendukung dan membantunya.

Sampai di sini berakhirlah sudah cerita Pedang Naga Kemala, Giok Liong Kiam ini, dan cerita ini akan disambung dengan cerita Pemberontakan Taipeng. Di dalam cerita baru ini, para pembaca akan bersua kembali dengan pasangan-pasangan pendekar muda yang menjadi tokoh-tokoh dalam cerita ini, dan Lee Song Kim akan muncul sebagai tokoh lawan yang amat sakti.

Juga pedang pusaka Giok-liong-kiam tetap akan menjadi bahan perebutan dalam suasana yang baru, dengan kepentingan-kepentingan baru pula. Semoga cerita ini bermanfaat bagi para pembaca, dan sampai jumpa dalam cerita berikutnya.

TAMAT

Seri selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.