Kisah Si Naga Langit Jilid 05

Sonny Ogawa

Kisah Si Naga Langit Jilid 05 karya Kho Ping Hoo - PADA keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami isteri itu sudah selesai berkemas. Ketika saatnya keberangkatan tiba, mereka memasuki kamar Bi Lan dan ternyata Lu-ma juga sudah bangun sejak tadi. Mereka menggugah anak itu. Anak itu malam tadi sudah memesan dengan sangat kepada ayah ibunya agar dia digugah kalau mereka hendak berangkat.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Bi Lan terbangun. Hong Yi merangkul anaknya. "Anakku Bi Lan, engkau baik-baik menjaga dirimu di rumah. Taati semua petunjuk nenekmu dan jangan lupa untuk belajar dengan tekun, baik sastra maupun silat."

"Jangan khawatir, Ibu." Dan ketika ia melihat Lu-ma mengusap air matanya, Bi Lan menegur. "Eh, nenek kenapa menangis? Jangan cengeng, nek dan jangan khawatir. Selama ayah dan ibu pergi, akulah yang akan menjagamu!"

Si Tiong juga merangkul anaknya. "Bi Lan, ingat, selama ayah dan ibu tidak berada di rumah, engkau jangan nakal. Jangan suka berkelahi dengan anak-anak lain."

"Ayah, ibu, kalau pulang jangan lupa membawa oleh-oleh!"

Hong Yi tersenyum. "Baik, akan tetapi oleh-oleh apa yang kau inginkan, Bi Lan?"

"Aku ingin ayah dan ibu pulang membawa oleh-oleh sebatang pedang bengkok milik seorang panglima Bangsa Kin!"

Han Si Tiong saling bertukar pandang dengan Liang Hong Yi. Keduanya mengangguk. "Baiklah, Bi Lan, aku akan mengusahakan agar dapat merobohkan seorang panglima Kin dan merampas pedangnya untukmu."

Suaml isteri itu lalu meninggalkan rumah, diantar sampai keluar pekarangan oleh Bi Lan dan Lu-ma. Bi Lan mengantar ayah ibunya dengan wajah cerah dan pandang mata bangga, tidak sepertl Lu-ma yang mengusap air matanya yang selalu mengalir keluar dari sepasang matanya.

Setelah suami isteri yang sering nengok dan melambaikan tangan menghilang di tikungan jalan, Bi Lan menggandeng tangan neneknya dan mengomel. "Aih, nenek ini cengeng benar sih! Sudah tua menangis! Ayah dan ibu kan pergi berjuang, sepatutnya bergembira dan berbangga, bukan menangis."

Lu-ma menyusut air matanya dan tersenyum, mengelus rambut kepala cucunya yang amat disayangnya. "Aku juga gembira dan bangga, Bi Lan."

"Lalu kenapa nenek menangis?"

"Hemm, karena cengeng itulah!"

"Ehh....?" Bi Lan tidak mengerti bingung.

"Sudahlah, mari kita masuk ke rumah, mandi yang segar, berganti pakaian lalu sarapan." Lu-ma lalu menggandeng tangan cucunya dan mereka memasuki rumah yang bagi Lu-ma tiba-tiba terasa sepi itu.

* * *

Sepasang suami isteri itu memang tampak gagah sekali ketika mereka menunggang kuda memimpin Pasukan Halilintar yang mereka bentuk. Terutama sekali Liang Hong Yi tampak cantik dan juga gagah perkasa. Dengan pakaian perang wanita yang baru berusia dua puluh enam tahun ini tampak gagah dan melihat isteri komandan mereka ini ikut memimpin pasukan di samping suaminya, para perajurit anggauta Pasukan Halilintar menjadi gembira dan bersemangat sekali!

Balatentara Kerajaan Sung itu dipimpin sendiri oleh Jenderal Gak Hui. Setelah barisan keluar dari kota raja, Jenderal Gak Hui lalu membagi barisan besar itu menjadi lima pasukan, di antaranya Pasukan Halilintar yang bertugas sebagai pendobrak di garis terdepan. Pasukan-pasukan itu berpencar dan dimaksudkan untuk menyerang benteng pertahanan tentara Kin di utara dari beberapa jurusan.

Siasat inl dilakukan untuk memecah perhatian musuh, membuyarkan pemusatan kekuatan musuh dan menimbulkan kesan seolah-olah yang melakukan penyerbuan ke utara itu jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang sebenarnya.

Penyerbuan besar-besaran yang dilakukan barisan yang dipimpin Jenderal Gak Hui Ini mengejutkan barisan Kin. Apa lagi karena serbuan itu dilakukan dari berbagai jurusan. Mereka melakukan perlawanan mati-matian dan terjadilah pertempuran di mana-mana, pertempuran yang dahsyat.

Han Si Tiong memperlihatkan kegagahannya. Pasukan Halilintar yang dipimpinnya merupakan pasukan yang membuat pihak musuh berantakan dan terpaksa mendatangkan bala bantuan lebih besar untuk menghadapi pasukan istimewa yang dipimpin Han Si Tiong dan isterinya.

Liang Hong Yi bertempur di samping suaminya, di setiap pertempuran wanita muda ini mengamuk dengan pedangnya. Gelung rambutnya terlepas dan rambutnya riap-riapan ketika ia mengamuk dan merobohkan banyak lawan.

Ketika pertempuran sedang memuncak, tiba-tiba Hong Yi melihat suaminya bertanding melawan seorang lawan yang bertubuh tinggi besar dan melihat pakaiannya dapat diketahui bahwa dia seorang panglima. Panglima Kin ini memainkan sebatang pedang bengkok dan dia lihai bukan main.

Han Si Tiong sendiri sampai kewalahan menghadapi lawan yang amat tangguh ini. Dan sepak terjang panglima Kin ini agaknya mendatangkan semangat yang berkobar di pihak pasukan Kin. Apa lagi datang pasukan lain yang membantu sehingga selain jumlah pasukan Kin lebih besar, juga kedudukan mereka jauh lebih kuat.

Pada saat itu, Pasukan Halilintar berada di lereng sebuah bukit dan mereka terkepung ketat oleh pasukan musuh. Mereka terdesak hebat dan melihat ini, Han Si Tiong bermaksud untuk mencari jalan terobosan agar pasukannya dapat diselamatkan dan untuk sementara mundur dulu dari kepungan dari pada pasukannya hancur dibinasakan pihak lawan yang amat kuat.

Juga dia melihat betapa pasukannya sudah tampak kelelahan dan semangat mereka sudah mulai lemah. Karena perhatiannya terpecah, hampir saja lehernya terkena sabetan pedang panglima musuh yang dilawannya.

Dia cepat melompat ke belakang dan memutar pedangnya sehingga tubuhnya terlindung dan terpaksa dia mencurahkan seluruh perhatiannya lagi menghadapi lawan yang tangguh itu. Karena desakan ini, maka Han Si Tiong belum mendapat kesempatan untuk memerintahkan pasukannya mundur.

Liang Hong Yi juga melihat keadaan Pasukan Halilintar yang sudah terjepit dan terdesak itu. la merasa khawatir sekali melihat pasukan yang tampak kelelahan dan kehilangan semangat. la tahu bahwa hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri dan memenangkan pertempuran berat sebelah itu, ialah dengan meningkatkan semangat pasukannya sehingga berapi-api. Maka, ia lalu cepat berlari ke arah para perajurit yang bertugas membawa bendera Pasukan Halilintar.

Setelah tiba dekat, ia berseru, "Berikan bendera dan genderang itu!" la merampas begitu saja bendera pasukan dan sebuah genderang perang, lalu berlari ke arah puncak bukit kecil tak jauh dari situ. Setelah tiba di puncak, la menancapkan tiang bendera di puncak, kemudian ia memukul gendereng dengan sekuat tenaga, mengisyaratkan penyerbuan.

Bunyi genderang bertalu-talu, nyaring sekali, mengejutkan Pasukan Halilintar sendiri dan juga pihak lawan. Ketika pasukan Kin melihat bahwa yang memukul genderang itu seorang wanita yang rambutnya riap-riapan dan berpakaian sebagai perwira, mereka menghujankan anak panah ke arah Liang Hong Yi.

Namun, Hong Yi mempergunakan pedang di tangan kanan untuk menangkisi semua anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya sedangkan tangan kirinya tetap memukuli genderang.

Melihat kegagahan Hong Yi, para perajurit Pasukan Halilintar menjadi kagum dan bangga. Semangat mereka terbakar berkobar-kobar dan mulut mereka mengeluarkan teriakan-teriakan nyaring, kemudian bagaikan kesetanan mereka mengamuk!

Hebat bukan main sepak terjang para perajurit Pasukan Halilintar ini, bagaikan halilintar menyambar-nyambar dan para perajurit Kin roboh bergelimpangan! Biarpun Hong Yi sudah menghentikan pemukulan genderang, namun bunyi genderang masih bertalu-talu karena ada perajurit penabuh genderang yang menggantikannya.

Hong Yi sendiri lalu berlari menuruni bukit kecil itu. la melihat betapa suaminya masih bertanding seru melawan panglima Kin dan kini suaminya mulai terdesak dan keadaannya berbahaya sekali. Maka, dengan pedang di tangan Hong Yi melompat dan menerjang, membantu suaminya menyerang panglima itu.

Panglima itu terkejut karena gerakan pedang Hong Yi cukup dahsyat. Dia mengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua ilmu pedangnya, namun menghadapi pengeroyokan suami isteri itu, akhirnya dia roboh terkena tusukan pedang di tangan Han Si Tiong. Tusukan itu mengenai dadanya dan diapun roboh dan tewas.

"Pangeran Cusi gugur...!" terdengar seruan beberapa orang perajurit Kin yang bertempur tdak jauh dari situ. Berita ini terus menjalar dan robohnya panglima Kin yang ternyata seorang pangeran ini membuat pasukan Kin menjadi kacau dan panik.

Han Si Tiong teringat akan pesan puterinya. Dia lalu mengambil pedang bengkok milik panglima atau pangeran yang tewas. itu. Sebatang pedang yang indah sekali, bergagang emas! Setelah membuka sarung pedang yang tergantung di pinggang pangeran itu dan menggantung pedang itu di pinggangnya sendiri, bersama Hong Yi dia lalu terus memimpin pasukannya untuk mendesak pihak lawan yang sudah menjadi panik Itu.

Akhirnya pasukan Kin mundur melarikan diri, meninggalkan banyak kawan yang tewas. Pasukan Halilintar yang mula-mula mengejar, berhenti atas perintah Han Si Tiong. Mengejar terus di daerah lawan, selain membuat pasukannya yang sudah lelah sekali itu kehabisan tenaga, juga ada bahayanya mereka akan terjebak.

Pasukan Halilintar bersorak menggegap-gempita sebagai pernyataan kegembiraan mereka. Hong Yi yang telah berhasil meningkatkan semangat pasukannya dengan cara yang gagah berani itu menjadi bahan percakapan pasukan yang merasa kagum dan bangga sekali.

Kemenangan demi kemenangan diperoleh barisan yang dipimpin Jenderal Gak Hui dan Pasukan Halilintar memegang peran penting dalam pertempuran yang berhasil ini. Tentu saja Jenderal Gak Hui mencatat semua jasa Han Si Tiong dan juga Liang Hong Yi.

Akan tetapi, selagi Jenderal Gak Hui mulai berhasil dengan gerakan serangannya ke arah utara yang dikuasai kerajaan Kin, tiba-tlba saja datang utusan Kaisar Sung Kao Tsu yang membawa surat perintah kaisar untuk Jenderal Gak HUl. Alangkah terkejutnya hati Jenderal Gak Hul ketika membaca surat perintah Itu.

Kalsar memerintahkan agar dia menghentikan serangannya dan segera menarik barisannya kembali ke selatan. Rasa kaget, heran, penasaran dan marah memenuhi hati jenderal inl. Dia sudah mulai menyerang dan mendapatkan banyak kemenangan dan kemajuan.

Kalau dia diberi kesempatan, bukan mustahil dia akan mampu mengusir penjajah Kin keluar dari seluruh daerah Sung yang dirampasnya karena di sepanjang daerah yang dapat direbutnya, seluruh rakyat menyambutnya dengan hangat dan siap membantunya!

Dia dapat memperbesar dan memperkuat barisannya sambil berperang. Akan tetapi, tlba-tiba tanpa alasan apapun, Kaisar merintahkan agar dia menghentikan gerakannya dan menarik kembali pasukan-pasukannya ke selatan!

Biarpun hatinya penuh penyesalan, namun Gak Hui adalah seorang panglima yang amat setia kepada Kerajaan Sung. Berarti dia harus setia kepada Kaisar! Apapun perintah kaisar harus dia taati, bahkan dia siap memberikan nyawanya kalau hal itu dikehendaki oleh kaisar!

Demikianlah kesetiaan Jenderal Gak Hui yang disanjung dan dipuji rakyat jelata. Jenderal Gak Hui sempat menitikkan air mata ketika dia berada seorang diri dalam kamarnya pada saat dia memerintahkan para perwiranya untuk menarik kembali pasukan-pasukan di bawah komandonya.

Apakah yang terjadi di kota raja, terutama di istana Kaisar? Mengapa Kaisar Sung Kao Tsu memerlntahkan Jenderal Gak Hui untuk menghentikan gerakan penyerbuannya mengusir penjajah Kin yang sudah mulai tampak hasilnya?

Semua ini adalah hasil persekutuan antara Raja Kin dan Perdana Menteri Chin Kui yang sudah dijalin selama bertahun-tahun. Perdana Menteri Chin Kui yang sudah bersahabat dengan Raja Kin ini selalu berusaha untuk mencegah Kaisar Kao Tsu memerangi kerajaan Kin di Sung Utara. Akan tetapi sekali ini dia tldak berhasil sehingga Kaisar Kao Tsu mengijinkan Jenderal Gak Hui untuk mengadakan gerakan penyerbuan ke utara seperti yang diusulkan Jenderal Gak itu.

Serangan mendadak itu mengejutkan Raja Kin. Apa lagi ketika seorang pangeran tewas dalam pertempuran itu. Dia menjadi marah sekali dan segera dia memerintahkan seorang menterinya untuk memanggil seorang datuk yang tinggal dl Sin-kiang, Datuk ini bukan lain adalah Ouw Kan, peranakan Uigur-Cina yang berilmu tinggi dan datuk ini memang sudah seringkali dimintai bantuan untuk melaksanakan tugas yang berat dengan imbalan besar.

Pada bagian awal kisah ini kita sudah mengenal Ouw Kan datuk darl Sin-kiang ini yang mencoba untuk merampas kitab-kitab yang dibawa Tiong Lee Cin-jin dari hegara India. Tak lama kemudian Ouw Kan sudah datang menghadap Raja Kin. Usianya sekitar enam puluh dua tahun. Rambut kumis dan jenggotnya sudah berwarna putih. Tubuhnya sedang saja namun masih tegak dan tegap seperti tubuh seorang muda.

Tangannya selalu membawa sebatang tongkat dari ular cobra kering. Wajahnya tidak buruk, akan tetapi menyeramkan dan sepasang matanya yang lebar itu bergerak liar. Raja Kin menyambutnya dengan girang dan datuk ini dihormati, diperbolehkan menghadap raja sambil duduk di atas kursi, menghadap Raja Kin.

"Apakah yang dapat saya lakukan untuk paduka?" tanya Ouw Kan tanpa banyak upacara lagi. Memang sikap datuk ini terhadap Raja Kin berbeda dengan sikap para pembesar pada umumnya. Dia tidak pernah memberl hormat secara berlebihan kepada siapapun juga dan hal inipun dlmaklumi oleh Raja Kin.

Kami membutuhkan bantuanmu, Ouw-sicu (orang gagah Ouw), untuk urusan yang teramat penting. Engkau akan kami beri surat kuasa dan pergilah ke Selatan ke kota raja Hang-couw dan jumpai Perdana Menteri Chin Kui. Atas nama kami tegurlah dia mengapa balatentara Sung Selatan yang dipimpin Jenderal Gak Hui sampai menyerang ke utara. Katakan bahwa dia harus dapat membujuk kaisar menghentikan serangan itu, kalau tidak kami akan memutuskan hubungan dan akan menyerang ke selatan."

"Tugas itu mudah sekali, Sribaginda. Kenapa untuk tugas sesederhana itu harus saya yang melakukannya? Paduka dapat mengutus sembarang orang." kata Ouw Kan yang merasa betapa tugas itu terlalu kecil tak berarti bagi dirinya yang biasa melakukan tugas-tugas yang lebih besar dan sukar.

"Itu baru tugas pertama, Ouw-sicu. Ada tugas ke dua yang amat penting dan berat. Kami kira hanya engkau yang akan dapat melaksanakan dengan baik, Ouw-sicu." kata Raja Kin.

"Nah itu yang saya sukai, Sribaginda. Apakah tugas ke dua itu?"

"Ketahuilah bahwa dalam penyerbuan barisan Kerajaan Sung Selatan, putera kami telah gugur dalam pertempuran. Dia tewas di tangan perwira yang bernama Han Si Tiong bersama isterinya yang bernama Liang Hong Yi. Nah, engkau carilah mereka dan engkau tentu tahu apa yang harus kaulakukan terhadap mereka untuk membalas sakit hatlku karena kematian puteraku di tangan mereka."

Ouw Kan mengangguk-angguk. Wajahnya berseri dan mulutnya yang dikelilingi kumis dan jenggot itu tersenyum, hati-nya gembira. "Baik, Sribaginda. Harap paduka tidak khawatir. Dua tugas Itu pasti akan dapat saya laksanakan dengan baik. Kapan saya harus berangkat?"

"Sekarang juga berangkatlah. Pilihlah kuda terbaik dan di sepanjang perjalanan sampai ke tapal batas, setiap orang pejabat tentu akan mengganti kudamu dengan yang baru asal engkau tunjukkan surat kuasa dari kami. Akan tetapi, Ouw sicu, jangan engkau melibatkan diri dalam pertempuran karena hal itu akan menghambat terlaksananya tugasmu yang penting. Berangkatlah dan hadiah besar menantimu setelah engkau menyelesaikan tugas itu dengan baik."

Ouw Kan menerima surat kuasa dari Raja Kin dan berangkatlah dia menunggang seekor kuda pilihan yang baik. Demikianlah, selagi di perbatasan masih terjadi pertempuran, Ouw Kan memasuki kota raja Hang-couw dan tidak sukar baginya untuk menemukan gedung istana tempat tinggal Perdana Menteri Chin Kui.

Perdana Menteri Chin Kui tergopoh-gopoh menerima utusan Raja Kin itu dan mengajaknya bercakap-cakap dalam ruangan rahasia yang tertutup rapat. Dia pernah bertemu dengan Ouw Kan sebagai utusan Raja Kin, apa lagi ketika Ouw Kan memperlihatkan surat kuasanya, Chin Kui percaya sepenuhnya kepada datuk itu. Dia menyambut tamunya dengan jamuan makan. Setelah mereka makan minum, Perdana Menteri Chin Kui lalu menanyakan maksud kunjungan Ouw Kan.

"Saya datang diutus oleh Sribaginda Kerajaan Kin yang marah sekali karena barisan Sung telah menyerang daerah Kin dan saya diutus untuk menegur dan me-nanyakan kepada Chin-taijin (Pembesar Chin) mengapa hal seperti itu dapat terjadi. Sribaginda minta agar saya menyampaikan kepada Chin-taijin bahwa kalau taijin tidak segera membujuk Kaisar Sung agar cepat menghentikan serangan dan menarik kembali pasukan dari daerah Kerajaan Kin, maka Sribaginda akan memutuskan hubungan dengan taijin dan akan menyerang dan membasmi Sung Selatan!"

Wajah Chin Kui agak berubah pucat dan dia menelan ludah beberapa kali sebelum menjawab. "Ouw-sicu, harap sampaikan kepada Sribaginda. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas penyerangan itu. Percayalah, saya sudah berusaha sekuatnya untuk mencegah penyerangan itu, akan tetapi semua ini gara-gara si kepala batu Jenderal Gak Hui. Dia dapat mempengaruhi Kaisar sehingga Kaisar menyetujui penyerbuan itu. Akan tetapi, saya akan berusaha mati-matian untuk membujuk Kaisar agar barisan itu ditarik kembali. Tunggu dan lihatlah saja, saya yakin pasti akan berhasil."

"Hemm, saya harap saja janjimu ini akan dapat dipenuhi dengan cepat, Chin-taijin. Karena kalau tidak, tentu Sribaginda akan menganggap bahwa taijin mengkhianati persahabatan. Nah, sekarang setelah saya menyampaikan pesan Sribaginda, saya mohon diri akan melaksanakan tugas lain. Saya minta tolong kepada taijin agar suka memberitahu dl mana adanya rumah seorang perwira yang bernama Han Si Tiong, seorang perwira dalam barisan yang tkut menyerbu ke utara."

"Han Sl Tiong? Ah, aku Ingat. Dia adalah perwira baru yang ditugaskan membentuk Pasukan Halilintar. Rumahnya berada dl sebelah barat Jembatan Rembulan, di ujung selatan kota, Ouw-sicu."

"Terima kasih, taijin dan saya mohon pamit." Ouw Kan bangkit berdiri dan merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

"Sebentar, sicu!" Perdana Menteri Chin Kui mengambil sebuah kantung kain yang sejak tadi telah dipersiapkan dan memberikan kantung itu kepada tamunya. "Ini ada sedikit hadiah dari kami iintuk sicu."

Hadiah atau bingkisan seperti ini sudah biasa diterima Ouw Kan, maka diapun tidak sungkan lagi, menerima kantung kain yang cukup berat itu, lalu membungkuk dan keluar dari gedung besar itu. Tak lama kemudian Ouw Kan sudah tiba di depan rumah Han Si Tiong. Dia menambatkan kudanya di sebatang pohon, kemudian dia memasuki pekarangan rumah itu.

Seorang laki-laki setengah tua yang bekerja di pekarangan Itu sebagai tukang kebun menghampirinya. Melihat seorang kakek menggendong buntalan kain kuning dan kepalanya memakai topi bulu, tukang kebun itu segera bertanya dengan sikap hormat. "Tuan mencari siapakah?"

Ouw Kan memandang tukang kebun jg itu lalu menjawab, "Aku mencari tuan rumah, ada urusan penting sekali."

"Wah, sayang sekali, tuan. Majikan, saya bersama isterinya sedang pergi memimpin pasukan untuk berperang mengusir penjajah Kin!" kata tukang kebun itu dengan nada bangga.

Ouw Kan mengerutkan alisnya. "Hemm, mereka pergi dan belum pulang? Kalau begltu, siapa saja yang tinggal di rumah?"

"Tinggal nyonya tua dan nona kecil."

"Tolong panggll mereka keluar. Aku dapat menyampaikan urusan penting ini kepada mereka saja."

Mellhat tamu itu sudah tua dan agaknya mempunyai urusan penting, tukang kebun tidak curlga. "Baiklah, tuan. Silakan duduk menunggu dl ruang tamu, saya akan melaporkan kepada nyonya tua."

Tukang kebun mengantar Ouw Kan memasuki ruangan tamu yang berada di bagian luar rumah itu, kemudian dia masuk ke dalam untuk melaporkan kedatangan tamu itu kepada Lu-ma. Ketika itu, Lu-ma sedang bereda di dapur membantu pelayan wanita setengah tua yang menjadi pelayan dalam keluarga itu. Bi Lan juga membantu.

Anak berusia tujuh tahun ini memang ingin membantu segala pekerjaan yang dilakukan neneknya. Mereka mempersiapkan masakan untuk makan siang nanti. Ketika tukang kebun melaporkan bahwa di ruang tamu menunggu seorang tamu lakl-laki tua yang mengatakan ada urusan sangat penting untuk dlsampaikan kepada Lu-ma, nenek ini lalu mencuci tangannya.

"Slapakah, nek?"

"Tidak tahu siapa, mungkin tamu kenalan ayahmu." kata Lu-ma, lalu ia melangkah keluar dari dapur menuju ke ruangan tamu di depan. Bi Lan tidak mau ketinggalan, menggandeng tangan neneknya, ikut pergi ke ruangan tamu.

Setelah Lu-ma dan Bi Lan memasuki ruangan tamu, mereka melihat seorang laki-laki tua duduk di atas kursi dan memandang kepada mereka dengan sinar mata penuh selidik. Ouw Kan bangklt berdiri dan segera bertanya. "Aku ingin bertemu dengan Han Si Tiong dan istrinya. Dimana mereka?"

Lu-ma menduga bahwa tentu kakek ini kenalan baik Han Si Tiong, maka ia-pun menjawab, "Han Si Tiong dan isterinya tldak ada di rumah, mereka pergi perang dan belum pulang."

"Dan siapakah kalian ini?"

"Saya Lu-ma, bibi mereka dan ini Han Bi Lan, anak tunggal mereka."

Ouw Kan memandang anak perempuan, itu. Sungguh seorang anak perempuan yang manis dan mungil sekali. Kalau dia membunuh anak ini, hal itu sudah merupakan pembalasan hebat yang akan menghancurkan hati Han Si Tiong dan isterinya. Akan tetapi dia meragu. Mungkin Sribaginda Raja Kin mempunyai rencana lain dengan anak musuh-musuhnya ini.

Mungkin juga dapat dipergunakan untuk memaksa suaml isteri itu datang! Sebaiknya dia cullk dan bawa saja anak ini dan diserahkan kepada Sribaginda Raja Kln. Setelah berpikir demikian, tiba-tiba dia menjulurkan tangan kanannya hendak menangkap lengan Bi Lan.

"Eh....?" Ouw Kan terbelalak, kaget dan heran. Anak perempuan kecil itu dapat mengelak sehingga tangkapannya luput.

"Mau apa engkau?" bentak Bi Lan dan ia sudah memasang kuda-kuda, siap untuk berkelahi! "Nek, dia ini orang jahat, nek. Hati-hati, dia orang jahat!"

Ouw Kan merasa kagum juga. Hebat anak ini, pikirnya. Selain memiliki bakat gerakan yang amat gesit, juga tampaknya cerdik bukan main. Maka dia lalu melangkah maju dan kembali tangannya menyambar. Bi Lan mengelak, akan tetapi apa artinya kegesitan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun terhadap datuk yang sakti itu?

Sekali jari tangan Ouw Kan menyambar, Bi Lan sudah tertotok dan. terkulai. Akan tetapi Ouw Kan menangkapnya sehingga anak itu tidak sampal roboh dan sekali angkat, Bl Lan sudah berada dalam pondongan lengan kinnya, terkulai lemas, tak mampu bergerak atau bersuara!

Melihat ini, Lu-ma terbelalak dan ia marah sekali. Tadi ketika cucunya berteriak mengatakan bahwa laki-laki itu jahat, ia tentu saja tidak percaya. Akan tetapi sekarang ia marah sekali. Bagaikan seekor singa betina direbut anaknya, ia menyerbu dengan kedua tangan mem-bentuk cakar ke arah Ouw Kan.

"Mau apa engkau dengan cucuku? Lepaskan ia! Lepaskan Bi Lan, engkau penjahat!"

Akan tetapi tangan kanan Ouw Kan yang memegang tongkat ular cobra kering bergerak dan robohlah Lu-ma tanpa dapat bersuara lagi karena totokan tongkat itu mengenai ulu hatinya dan ia tewas seketika.

Biarpun tidak mampu bergerak dan bersuara, Bi Lan masih sadar dan ia melihat dengan mata terbelalak betapa neneknya roboh dan tak bergerak lagl. la tidak dapat mengeluarkan suara tangis, akan tetapl dari kedua matanya bercucuran air mata.

Pembantu wanita yang tadi dipesan oleh Lu-ma untuk mengeluarkan minuman untuk tamu, muncul di pintu. la terbelalak melihat Lu-ma menggeletak di atas tanah dan Bi Lan dipondong seorang kakek yang memegang sebatang tongkat ular, dan anak itu menangis tanpa suara. Po-ci dan cawan minuman yang dibawanya di atas baki terlepas dari tangannya dan jatuh tnengeluarkan bunyi berkerontangan.

Melihat ini, sebelum pembantu wanita jitu melarikan diri, Ouw Kan kembali menggerakkan tongkatnya yang menyambar dan mengenai leher wanita itu. Tanpa mengeluarkan suara lagi wanita itupun roboh dan tewas seketika.

Setelah membunuh dua orang wanita lemah itu, Ouw Kan lalu melangkah keluar sambil memondong Bi Lan yang makin deras tangisnya setelah melihat Lu-ma dan pembantu rumah tangga itu di-bunuh kakek yang menculiknya.

Karena khawatir kalau-kalau ada yang melihatnya dan menjadi curiga melihat anak yang dipondongnya itu mencucurkan air mata dan wajahnya jelas menunjukkan tangis walaupun tidak ada suara keluar dari mulutnya, Ouw Kan menepuk tengkuk Bi Lan ddn anak perempuan itu terkulai dan pingsan, seperti tidur. Ouw Kan menyimpan tongkatnya, diselipkan di ikat pinggangnya, kemudian dengan langkah lebar hendak keluar dari pekarangan itu.

Akan tetapi, tukang kebun yang tadi pertama kali menyambutnya, melihat dia tergesa-gesa keluar sambil memondong Bi Lan. Tukang kebun itu tentu saja menjadi curiga. Dia mengejar dan rnenghadang di depan kakek itu.

"Heii! Mau kau bawa ke mana Nona Bi Lan itu? Lepaskan!" Tukang kebun itu menerjang untuk merampas Bi Lan dari tangan Ouw Kan.

Datuk ini melihat bahwa gerakan tukang kebun itu cukup kuat, menunjukkan bahwa dia pandai bermain silat. Akan tetapi tentu saja tingkat kepandaian tukang kebun itu tidak ada artinya dibandingkan tingkat Ouw Kan. Menghadapi terjangan tukang kebun itu, Ouw Kan menyambutnya dengan tendangan kaki kanannya. Cepat dan kuat sekali tendangan itu. Biarpun tukang kebun itu sudah berusaha mengelak, tetap saja ujung sepatu Ouw Kan masih menyambar iganya.

"Krekk....!" Tukang kebun itu terpelanting keras dan roboh tak dapat bergerak lagi. Tulang-tulang iganya patah-patah dihantam tendangan kaki Ouw Kan!

Karena khawatir kalau banyak orang akan rnelihatnya, dan merasa yakin bahwa tukang kebun itu juga tewas, Ouw Kan lalu cepat keluar dari pekarangan itu. Dengan cepat dia menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara. Melihat seorang kakek menggendong seorang anak perempuan yang agaknya sakit atau tertidur dipondong dengan sikap penuh kasih sayang, tentu saja tidak ada orang yang mencurigainya dan Ouw Kan dapat keluar dari kota raja dengan aman.

Sementara itu, sepergi Ouw Kan, Perdana Menteri Chin Kui lalu berusaha keras untuk membujuk Kaisar Sung Kao Tsu, memperingatkan kaisar bahwa gerakan penyerbuan yang dilakukan Jenderal Gak Hui itu sesungguhnya salah sama sekali.

Bangsa Kin yang berada di utara selama ini tidak pernah mengganggu daerah Sung di selatan sehingga kita berada dalam keadaan tenteram penuh damai, dapat bekerja membangun kembali kerajaan di daerah yang tanahnya lebih subur. Mengapa sekarang mencari permusuhan? Kalau nanti Kerajaan Kin membalas dan menyerbu ke selatan, bukankah hal itu i akan mendatangkan kesengsaraan?

"Hamba yang akan mengusahakan minta maaf dan hamba berani menanggung bahwa Sribaginda Raja Kin tidak akan melakukan balas dendam terhadap penyerbuan itu, asalkan paduka segera memerintahkan Jenderal Gak Hui agar menghentikan penyerbuan dan menarik kembali balatentara." Demikian Perdana Menterl Chin Kui mengakhiri bujukannya.

Kaisar Kao Tsu menurut, apa lagi ketika para menteri lain juga mendukung usul Perdana Menteri Chin Kui. Juga pada dasarnya Kaisar Kao Tsu mernang seorang yang tidak suka perang. Maka, diapun segera mengambil keputusan dan dikirimlah utusan dengan perintahnya kepada Jenderal Gak Hui untuk menghentikan penyerbuan ke utara dan menarik kembali barisannya ke daerah selatan.

Jenderal Gak Hui merasa kecewa, marah dan menyesal sekali. Dia telah memenangkan pertempuran dl banyak tempat dan sudah menguasal daerah yang luas. Akan tetapi karena kesetiaannya, terpaksa dla meninggalkan daerah yang telah dlkuasainya itu dan kemball ke selatan, diiringi tangis kecewa penduduk daerah yang ditinggalkannya.

Akan tetapi dia masih ragu untuk pulang ke kota raja dan mendirikan perkemahan di daerah tapal batas. Dia hanya mengutus para perwiranya kembali ke kota ra|a dan mengantar laporan tertulis yang dltujukan kepada Kaisar Kao Tsu.

Karena sudah tldak ada pertempuran lagi, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi juga Ikut pulang dengan sebagian darl pasukan dan para perwlranya. Kalau di sepanjang perjalanan, pasukan yang pulang ke kota raja membawa kemenangan ini disambut oleh rakyat dengan gembira.

Setelah memasuki kota raja, dari ( pihak pemerintah malah tidak ada penyambutan dan suasananya dingin saja. Hal ini adalah karena perintah dan pengaruh Perdana Menterl Chtn Kui yang menganggap barisan yang menang perang itu bahkan meruglkan kerajaan!

Betapapun juga, ketika menerima para perwira yang pulang dan menghadapnya, Kaisar Kao Tsu menerima mereka dengan baik. Bahkan dla lalu memberi anugerah pangkat kepada para perwira yang namanya disebut dalam daftar Jasa yang dikirlm Jenderal Gak Hui. Karena Han Si Tiong dan Isterinya dipuji-puji oleh Jenderal Gak Hui, maka Kaisar Kao Tsu memberl anugerah kedudukan panglima muda kepada Han Si Tiong dan isterlnya dan keduanya diangkat menjadi bangsawan!

Suami isteri ini lalu pulang ke rumah mereka. Tadi bersama para perwira lain, begitu masuk kota raja mereka langsung menghadap kaisar. Ini merupakan peraturan dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun juga. Tentu saja mereka merasa gembira sekali, terutama sekali Hong Yi. Kalau diingat bahwa tadinya ia hidup dalam rumah pelesir asuhan Lu-ma dan walaupun ia tidak diperas.

Namun tetap saja ia pernah menjadi seorang pelacur! Dan sekarang, ia memperoleh seorang suami yang baik dan yang mencintainya, tidak memandang rendah walaupun suaminya tahu bahwa ia seorang bekas pelacur! Dan ia telah mempunyai seorang anak yang manis pula. Sekarang ditambah lagi anugerah dari Kaisar yang mengangkat ia dan suaminya menjadi bangsawan!

Bangsawan yang berkedudukan terhormat sebagai panglima muda! Semua ini sungguh cocok sekali dengan ramalan yang ia dapatkan dari Kwan Im Bio, kuil dari Sang Dewi Welas Asih itu. Dengan hati dipenuhi kebanggaan dan kebahagiaan, bersama suaminya ia pulang membawa hadiah pedang bengkok bergagang emas untuk anak mereka.

Akan tetapi, alangkah heran rasa hatl mereka ketika mereka tiba di depan rumah mereka. Keadaan tempat tinggal mereka itu hampir tak dapat mereka kenali lagi. Pekarangannya tak terawat, penuh dengan rumput liar dan daun-daun, kering. Agaknya sudah lama sekali tidak' pernah disapu dan dibersihkan. Dinding rumah itupun kotor dan semua pintu dan jendela di depan tertutup.

Rumah itu tampak sunyi sekali. Sungguh aneh. Seluruh penduduk kota raja sudah mendengar bahwa sebagian pasukan yang pergi ber-perang sudah pulang. Mustahil kalau Lu-ma, pelayan wanita, tukang kebun dan Bi Lan belum mendengar akan kepulangan rnereka. Mereka tidak ada yang menyambut?

Dengan hati merasa heran dan tidak enak suami isteri itu berlari memasuki pekarangan. Setelah hampir tiba di pintu depan, tiba-tiba muncul seorang perajurit dari pintu samping. Melihat Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, perajurit itu memberi hormat. Tentu saja suami isteri ini bertambah heran melihat adanya seorang perajurit di situ.

Han Si Tiong cepat melompat ke depan perajurit itu. "Hei, siapa engkau dan mengapa berada di sini?"

"Han-ciangkun, saya memang hari ini bertugas menjaga rumah ciangkun ini." jawab perajurit itu.

"Menjaga rumah kami? Kenapa? Dan di mana puteri kami? Di mana Lu-ma dan para pembancu?" tanya Sl Tiong sambil mengerutkan alisnya.

Perajurit itu tampak bingung. Dia mengerti bahwa suami isteri perwira ini belum tahu akan malapetaka yang menimpa keluarga mereka dan agaknya d»a| menjadi orang pertama yang harus menceritakannya! Dia merasa tidak enak sekali harus menyampaikan berita yang menyedihkan itu.

"Tidak ada siapa-siapa di rumah ini, ciangkun. Hanya ada saya yang bertugas jaga hari ini. Kwe-ciangkun atasan saya yang memerintahkan kami inelakukan penjagaan di sini secara bergantian dan hari ini tiba giliran saya."

"Akan tetapi kenapa? Apa yang telah terjadi? Ke mana perginya semua peng-hunl rumah Ini? Di mana anakku?" Liang Hong Yi yang sudah tldak sabar lagt bertanya, suaranya mengandung kegelisahan.

Perajurlt itu menelan ludah beberapaj kali sebelum menjawab, kemudian memberanikan diri menjawab, "Ciangkun dan hujin, telah terjadi hal yang menyedihkan di rumah ini, kurang lebih sebulan yang lalu...."

Han Si Tiong menangkap lengan perajurit itu dan mengguncangnya. "Apa yang telah terjadi? Hayo cepat ceritakan!"

Perajurit itu mengangguk-angguk. "Kurang lebih sebulan yang lalu, di rumah ini telah ditemukan Lu-ma dan pelayan wanita telah tewas, dan tukang kebun terluka parah...."

"Dan anakku, Puteriku Bi Lan....??" teriak Hong Yi wajahnya menjadi pucat sekali.

"Ia.... ia.... hilang. Tidak ada yang tahu kemana...."

"Aihhh....!" Hong Yi sudah melompat ke serambi depan dan mendorong dauh plntu depan. Pintu itu terpalang dari dalam, akan tetapi dorongari kedua tangan Hong Yi yang disertai tenaga sakti itu membuat palang pintu jebol dan daun pintunya terbuka. Hong Yi berlari-lari memerlksa semua bagian dalam rumah. Kosong! Benar-benar telah kosong, tidak ada seorangpun di situ. Anakoya tidak ada di rumah itu!

"BiLan....! Bi Lan....!! Bibi Lu-ma...!!" la menjerit-jerit mernanggil sambil ber-lari ke sana-sini mencari-cari, akan te-tapi tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba Si Tiong merangkulnya dan melihat su-aminya, Hong Yi merangkul dan menangis.

"Tiong-ko.... di mana Bi Lan? Dan Bibi Lu-ma? Apa yang terjadi dengan me-reka?" la menangis tersedu-sedu di atas dada suaminya.

Han Si Tiong mendekap kepala isterinya. "Yi-moi, tenangkanlah hatimu, Yi-moi. Dalam keadaan seperti ini kita harus menguatkan perasaan hati. Ingat sepak terjangmu dalam pertempuran. Engkau seorang wanita gagah perkasa, harus mampu dan kuat menghadapi apapun juga. Tenangkanlah hatimu."

Hong Yi menumpahkan kegelisahan-nya melalui tangis. Setelah tangisnya mereda dan ia mampu menguatkan hati-nya, ia melepaskan rangkulannya. Dengan wajah pucat dan sepasang mata merah, ia bertanya kepada suaminya. "Tiong-ko, bagaimana dengan Bi Lan? Apa yang terjadi dengan anak kita itu?"

"Tenangkan hatimu, Yi-moi. Aku sudah mendengar cerita perajurlt itu. Bi-bi Lu-ma dan pelayan wanita telah dibunuh orang. Tukang kebun kita terluka parah akan tetapi kata perajurit itu, sebelum tukang kebun tewas, dia sempat dibawa oleh Kwee-ciangkun. Dan anak kita agaknya dibawa lari pembunuh itu."

"Ahh....! Siapakah yang melakukan ini? Aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Bi Lan, anak kita.... bagaimana nasibnya....?"

"Tenangkan hatimu. Setidaknya, aku yakin Bi Lan masih hidup. Kalau penculik itu berniat membunuhnya, tentu sudah dilakukannya seperti ketika dia membunuh yang lain. Kalau dia menculik anak kita, itu berarti dia menginginkan anak kita hidup-hidup dan selama Bi Lan masih hidup, ada harapan bagi kita untuk dapat berjumpa lagi dengannya."

"Akan tetapi, siapakah yang melakukan kekejian ini? Siapa yang memusuhi kita seperti ini?"

"Kita tunggu saja. Aku sudah memerintahkan perajurit tadi untuk mengundang Kwee-ciangkun ke sini. Engkau tahu, Kwee-ciangkun adalah sahabat kita yang baik. Tentu dia mengetahui lebih banyak dari tukang kebun kita itu."

Tak lama kemudiari muncullah Kwee-clangkun. Perwira Kwee ini tldak ikut pergi berperang karena dia bertugas sebagal perwira pasukan penjaga kota raja. Dia bersahabat balk dengan Han Si Tiong dan biarpun dia tldak termasuk anak buah Jenderal Gak Hul seperti halnya Sl Tlong, akan tetapl Perwlra Kwee Inl-pun seorang yang tidak suka kepada Perdana Menterl Chin Kui.

Begitu diterima oleh Si Tlong dan Hong Yi, Kwee-ciangkun merangkul sahabatnya itu.. "Han-ciangkun, aku merasa ikut prihatin atas malapetaka yang menimpa keluargamu selagi kalian pergi berjuang melawan penjajah Kin." katanya terharu.

"Terima kasih, Kwee-ciangkun. Duduklah dan ceritakanlah sejelasnya kepada kami apa yang telah terjadi dalam rumah kami ini ketika kami pergi bertempur." kata Han Si Tiong.

Mereka bertiga duduk berhadapan. "Memang lebih sebulan yang lalu, tepatnya mungkin sudah tiga puluh lima hari, pada suatu pagi aku mendengar laporan dari anak buahku yang melakukan perondan bahwa telah terjadi pembunuhan di rumahmu ini. Mula-mula yang mengetahuinya adalah seorang tetanggamu yang melihat tukang kebunmu menggeletak di pekarangan. Mendengar bahwa pembunuhan itu terjadi di rumahmu, aku sendiri lalu bergegas datang melakukan pemeriksaan. Ternyata bukan hanya tukang kebun yang menggeletak dalam Keadaan terluka parah, melainkan juga Lu-ma, bibi kallan Itu, dan wanita pembantu rutnah tangga kallan telah menggeletak tewas di kamar tamu."

"Kwe-ciangkun, siapa yang melakukan pembunuhan keji ini? Dan apa yang terjadi dengan anakku Bi Lan?" Hong Yi bertanya tak sabar.

"Tenanglah. Yi-moi. Biarkan Kwee-ciangkun melanjutkan ceritanya." suaminya menenangkannya.

Kwee-ciangkun yang bernama Kwee Gi itu, seorang pria tinggi besar gagah berusia kurang lebih empat puluh tahun, menghela napas panjang dan memandang dengan sinar mata penuh iba kepada Hong Yi.

"Pada saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Bi Lan yang tidak berada di rumah. Akan tetapi aku meli-hat tukang kebun itu masih hidup, maka aku lalu menyuruh orang memanggil tabib dan merawatnya. Setelah dia siuman dari pingsannya, aku segera bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. Sebelum dia tewas karena luka parah, semua tulang iganya patah-patah, dia bercerita kepadaku.

"Katanya pagi hari itu datang seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih, rambut, kumis dan jeriggotnya lebat dan sudah putih semua, mengenakan topi asing seperti yang biasa dipakal suku-suku asing di utara dan barat, memegang sebatang tongkat ular kobra kering, wajahnya menyeramkan dengan mata lebar dan liar, tubuhnya sedang dan tegap. Tamu itu datang mencari kalian berdua.

"Ketika dijawab bahwa kalian pergi, dia minta bertemu dengan siapa saja yang berada di rumah. Tukang kebun itu lalu memberitahu Lu-ma dan tukang kebun itu kembali ke pekarangan depan, tidak tahu lagi apa yang terjadi di dalam. Akan tetapi, tak lama kemudian dia melihat laki-laki tua itu keluar dari dalam rumah sambil memondong Bi Lan yang tampak lemas dan anak itu menangis tanpa suara.

"Tukang kebun berusaha untuk merebut kembali anak itu, akan tetapi penculik itu lihai sekali. Sebuah tendangan yang amat kuat mematahkan tulang-tulang iga tukang kebun itu sehing-ga dia roboh pingsan. Nah, demikianlah ceritanya. Setelah menceritakan semua itu, diapun menghembuskan napas terakhir.

"Ketika aku memeriksa jenazah Lu-ma dan pelayan itu, mereka berdua tewas dengan luka di ulu hati dan di leher. Luka itu kecil saja, agaknya tertusuk benda tumpul, akan tetapi di sekitar luka itu berwarna menghitam. Tentu mereka keracunan hebat sekali dan tewas seketika. Dari kenyataan itu, jelas bahwa laki-laki tua itu seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.”

Sunyi sekali setelah Kwee-ciangkun menyelesaikan ceritanya. Suami isteri itu saling berpandangan dan perlahan-lahan dari kedua mata Hong Yi kembali menetes-netes air mata.

"Tiong-ko, kenalkah engkau dengan jahanam itu?" tanya Hong Yi sanrbil menahan isak tangisnya.

Sambil mengerutkan alisnya, Han Si Tiong menggeleng kepala. "Aku tidak mengenalnya, tidak pernah melihatnya, mendengarpun belum. Kenapa orang yang tidak dikenal reelakukan semua kekejaman ini?"

"Akupun tidak mengenal orang dengan gambaran seperti itu. Akan tetapi kenapa dia menculik anakku?" Hong Yi mengepal kedua tangannya, kegelisahan, kedukaan dan kemarahan memenuhi hatinya.

Kwee-ciangkun menghela napas panjang. "Kiranya tldak salah lagi kalau aku mengira bahwa perbuatan orang yang keji ini tentu merupakan suatu balas dendam!"

“Akan tetapi kami berdua tidak mengenal orang macam itu! Bagaimana dia dapat membalas dendam kalau kita mengenalnyapun tidak? Ada urusan apa antara orang itu dengan kami?" kata Hong Yi penasaran sekali.

"Tidak selamanya orang yang mendendam kepada kita turun tangan sendiri. Bisa saja dia menyuruh orang lain yang lihai untuk melaksanakan balas dendamnya itu. Mungkin saja orang yang membunuh bibi kalian dan menculik puteri kalian adalah orang suruhan, seorang pembunuh bayaran." kata Kwee Gi.

Han Si Tiong mengangguk-angguk. "Apa yang dikatakan Kwee-ciangkun itu benar sekali, Yi-moi. Tentu ada orang yang sakit hati kepada kita, yang secara pengecut membalas dendam kepada keluarga kita. Betapapun Juga, masih ada harapan bagl kita bahwa mereka tidak akan mengganggu Bi Lan yang tidak bersalah apapun kepada mereka."

"Perkiraanmu itu kurasa benar sekali Han-ciangkun. Kalau pembunuh itu menginginkan kematian anakmu, tentu hal itu telah dilakukannya di sini, tidak perlu bersusah payah menculik anak itu keluar dari kota raja yang tentu saja mengandung resiko ketahuan."

"Aku bersumpah akan mencari penculik itu, membunuhnya dan merampas kembali anakku. Aku tidak akan berhenti sebelum dapat menemukannya!" Hong Yi berkata dengan tegas dan penuh kemarahan.

Si Tiong menghela napas panjang. "Tentu hal itu akan kita lakukan, Yi-moi, akan tetapi harus dengan persiapan matang dan sebagai seorang yang memegang kewajiban, kita harus mengembalikan dulu kedudukan yang dianugerahkan kepada kita. Ahh, sungguh bertubi-tubi malapetaka menimpa diri kami, Kwee-ciangkun. Pertama, kami harus ikut berduka dan prihatin karena Jenderal Gak dipaksa menghentikan gerakannya dan menarik mundur pasukannya yang sudah mulai memperoleh kemenangan. Kemudian setelah kami pulang dengan hati berat, kami bahkan dihadapkan dengan peristiwa pembunuhan bibi dan dua orang pembantu kami dan penculikan anak kami." Han Si Tiong menarik napas panjang lagi dengan wajah diliputi kedukaan.

"Aku mengerti, Han-ciangkun. Biarpun engkau dan isterimu mendapat anu-gerah pangkat panglima muda dan men-jadi bangsawan, namun hati kalian diliputi kedukaan. Aku juga mengerti akan keputusan Sribaginda Kaisar yang mengejutkan itu, yang memerintahkan Jenderal Gak menghentikan gerakan penyerbuan ke utara dan menarik mundur tentaranya.

"Semua ini gara-gara bujukan perdana Meteri Chin Kui dan antek-anteknya sehingga Sri Baginda Kaisar mengambil keputusan seperti itu. Djam-diam aku sendi-ri sudah mengirim orang yang dapat ku-percaya untuk mengabarkan tentang perbuatan Perdana Menteri Chin Kui ini kepada Jenderal Gak Hui." kata Perwira Kwee Gi.

"Hemm, begitukah?" Han Si Tiong mengepal tinjunya. "Kasihan Jenderal Gak yang gagah perkasa dan budiman. Kasihan rakyat yang tinggal di sekitar perbatasan sebelah utara yang tadinya sudah dibebaskan oleh pasukan kita. Mereka mengantar penarikan mundur pasukan di bawah pimpinan Jenderal Gak dengan ratap tangis. Kalau begitu, untuk apa kami lebih lama lagi bertugas sebagai perwira? Kwee-ciangkun, kami berdua akan mengundurkan diri, kami akan pergi mencari puteri kami sampai dapat kami temukan."

Kwee-ciangkun dapat memaklumi keadaan sahabatnya. Demikianlah, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi lalu mohon ijin untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan mereka dengan alasan harus mencari puteri mereka yang hilang diculik orang. Permohonan berhenti ini hanya sampai di tangan Jenderal Ciang Sun Bo yang berhak menangani urusan Ini.

Seperti kita ketahui, Jenderal Ciang itu adalah anak buah Perdana Menteri Chin Kui dan dia pernah bentrok dengan Si Tiong dan Liang Hong Yi karena dia tertarik oleh kecantikan Hong Yi. Dulu tidak berani mengganggu, suumi isteri itu karena mereka menjadl para pembantu Jenderal Gak Hui. Oleh karena itu membaca permohonan suami isteri itu untuk berhenti dari pekerjaan mereka, tentu saja dia segera menyetujui.

Han Si Tiong dan Liang Hong Yi lalu berkemas, menjuali harta miliknya lalu meninggalkan kota raja. Mereka berdua merantau, mencari-cari puteri mereka. Akan tetapi penculik itu sama sekali tidak meninggalkan jejak sehingga mereka tidak tahu harus mencari ke mana. Dari ciri-ciri penculik itu seperti yang diceritakan oleh tukang kebun mereka kepada Kwee-ciangkun.

Mereka mendengar keterangan dari orang-orang kang-ouw (sungai telaga, dunia persilatan) bahwa yang dimaksud itu mungkin seorang datuk yang bernama Ouw Kan dan berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa). Akan tetapi selama bertahun-tahun ini datuk itu hanya dlkenal sebagai seorang yang datang darl Siln-kiang dan namanya amat terkenal di utara, di daerah yang kini diduduki Kerajaan Kin.

Karena itu Si Tiong dan Hong Yi pergi merantau ke utara, lalu ke Sin-kiang. Sampai hampir dua tahun mereka merantau dan mencari-cari, akan tetapi semua usaha mereka sla-sia. Mereka tidak dapat me-nemukan datuk yang mereka curigai itu.

Bahkan akhirnya di daerah Sin-kiang mereka mendengar bahwa datuk itu mung-kin sekali sudah tewas, walaupun tak seorangpun dapat memastikan akan hal itu dan tidak ada pula yang tahu di mana kuburnya. Juga tidak ada orang yang dapat mengatakan di mana adanya Bi Lan yang diculik itu.

Akhirnya setelah semua usaha mereka sia-sia, Si Tiong dan Hong Yi meng-hentikan usaha mereka mencari puteri mereka. Dengan kecewa dan duka mere-ka lalu membeli sebidang tanah di dekat See-ouw (Telaga Barat) dan hldup sebagai petani, mengasingkan diri dari dunla ramai. Mereka hidup sederhana. Sang Waktu akhirnya mengobati sakit hati dan kedukaan mereka.

Mereka menerima nasib dan hidup sebagai petani, mendapatkan ketenterartian dan kedamaian di tempat yang sunyi dan indah itu. Penduduk sekitar telaga yang indah itu kadang melihat sepasang suami isteri ini menunggartg keledai mereka di sepanjang tepi telaga sambil menikmati pemandangan yang indah sekali dari tempat itu.

Mereka hidup terasing dan jauh dari dusun, seperti dua orang pertapa. Bah-kan para penduduk dusun di sekitar tela-ga tidak pernah tahu bahwa sepasang suami isteri itu adalah bekas panglima dan telah memperoleh gelar bangsawan darl Kaisar Sung Kao Tsu!

* * *

Apa yang terjadi dengan Bi Lan? Mari kita ikuti perjalanan Ouw Kan datukr yang dikenal dengan julukan Toat-beng Coa-ong itu, yang berhasil membawa Bi Lan yang ditotok pingsan dan dipondongnya itu keluar pintu gerbang kota raja sebelah utara. Orang-orang yang melihatnya tentu menduga bahwa kakek itu memondong cucunya yang sedang tidur.

Setelah tiba jauh darl kota raja, Ouw Kan menurunkan Bi Lan dan membebaskan totokannya. Bi Lan yarig merasa tubuhnya kaku dan lemah, jatuh terduduk. Kini ia terbebas dari totokan, mampu bergerak dan mengeluarkan suara. Begitu ia dapat menggerakkan tangan kakinya, tanpa memperdulikan tubuhnya yang masih terasa lemah, ia sudah meloncat bangun.

"Kakek jahat, engkau telah membunuh nenek, pelayan dan tukang kebun kami! Aku harus membalaskan kematian mereka!" Setelah mengeluarkan suara bentakan ini, ia lalu menerjang dan menyerang kakek itu kalang kabut!

Akan tetapi apa artinya serangan seorang anak berusia tujuh tahun? Biarpun Bi Lan sejak kecil telah digembleng dasar-dasar ilmu silat oleh ayah ibunya, namun tentu saja menghadapi seorang datuk seperti Ouw Kan, kepandaiannya itu sama sekali tidak ada artinya. Sekali tangan kiri kakek itu menyambar, anak itu telah terpelanting dan terbanting roboh.

"Hemm, anak bandel! Kalau engkau tidak mau menaatiku dan berjalan sendiri dengan baik-baik, aku akan membuatmu tidak dapat bergerak seperti tadi kemudian aku akan menyeretmu!"

Bi Lan adalah seorang anak yang memiliki keberanian besar. Mendengar ancaman itu ia sama sekali tidak merasa takut, bahkan kini ia sudah bangkit dan dengan nekat ia inenyerang lagi! Ouw Kan menangkap lengan Bi Lan, akan tetapi anak itu cepat mendekatkan mukanya dan menggigit tangan kakek itu!

"Uhh'" Ouw Kan yang tidak mengira tergigit tangannya. Karena merasa nyeri dia lalu mengibaskan tangannya dan kembali Bi Lan terpelanting. Akan tetapi ia bangkit lagi, mukanya merah karena marah dan ia sama sekali tidak menangis.

"Kakek iblis! Kubunuh engkau!" teriaknya dan kembali ia menerjang.

Ouw Kan diam-diam merasa kagum akan kenekatan dan keberanian anak itu akan tetapi dia juga merasa terganggu. Kini dia menggerakkan tangan dan sekali jari tangannya menotok, Bi Lan roboh dengan tubuh lemas dan kaki tangan lumpuh. Akan tetapi ia masih dapat mengeluarkan suara dan lapun memaki maki.

"Kakek Jahat! Kakek Iblls! Muka jelek, hatimu lebih jelek lagi!"

"Hemm, engkau memang bandel dan keras kepala. Engkau mencari sakit sendiri. Disuruh berjalan sendiri baik-baik tidak mau, rasakan sekarang aku akan menyeretmu!"

Ouw Kan melepaskan pita rambut Bi Lan sehingga rambut yang panjang itu terurai lepas. Kemudian kakek itu menjambak rambut Bi Lan yang lebat dan hitam, lalu menyeret tubuh yang telentang itu di belakang.

Tentu saja Bi Lan merasa tersiksa sekali. Belakang kedua lengan dan kakinya, juga punggung dan pinggulnya, terasa sakit-sakit karena terseret dan terantuk batu-batu di jalan. Tubuh bagian belakang itu lecet-lecet, pakaiannya bagian belakang juga pecah-pecah. Rasa pedih menusuk tulang. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, tidak mau berteriak, tidak mengeluh. Hanya matanya yang menjadi basah dan alr mata turun ke atas kedua pipinya.

Setelah berjalan agak jauh, Ouw Kan merasa kesal juga harus menyeret tubuh anak itu. Sama tldak enaknya dengan memondong. Dia berhenti dan menoleh. Dilihatnya anak itu sama sekali tidak mengeluh, melainkan mengertakkan gigi dan kedua matanya mengeluarkan air mata namun sedikitpun tidak terdengar tangisnya.

Anak yang luar biasa, pikirnya kagum. Bagian belakang tubuh anak itu sudah lecet-lecet berdarah, akan tetapi la tldak pernah mengeluh, dan sepasang mata yang jeli itu memandang ke-padanya penuh kemarahan!

"Nah, tidak enak bukan kalau kuseret? Apa sekarang engkau masih keras kepala dan tidak mau berjalan sendiri?"

Bi Lan adalah seorang anak yang pemberani dan keras hati, akan tetapi di samping itu ia juga seorang anak yang cerdik bukan main. Pikirannya berjalan cepat. la sudah melihat untung ruginya. Kalau la berkeras tidak menaati perintah penculikya, ia akan tersiksa, terluka dan mungkin akan tewas. Kalau begitu, tentu ia tldak beri kesempatan lagi untuk membalas semua kejahatan yang telah dilakukan kakek itu.

Sebaliknya kalau ia menaati, selain penyiksaan yang menghina itu tidak perlu ia rasakan, juga masih terbuka kesempatan baginya untuk membalas dan kalau mungkin membunuh kakek ini. Setelah pikiran secepat kllat ini bekerja, ia lalu mengatakan keputusan hatinya. "Baik, aku akan berjalan sendiri."

Ouw Kan tersenyum, merasa menang dan dia lalu membebaskan totokannya sehingga Bi Lan mampu bergerak kembali. Bi Lan maklum bahwa menyerang lagi dengan nekat akan sia-sia belaka. la harus menekan kemarahannya dan mena-han kesabarannya, menanti terbukanya kesempatan yang baik untuk membalas dendam. la bangkit dan merasa betapa bagian belakang tubuhnya nyerl sekall, panas dan pedih sehingga tak tertahankan lagi la menyeringai kesakitan.

Melihat inl, Ouw Kan yang merasa kagum dan suka melihat anak perempuan yang pemberanl dan tahan uji itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya. "Menghadaplah ke sana, akan kuobati lecet-lecet itu!"'

Bi Lan tidak membantah, lalu berdiri membelakangi kakek itu. Ouw Kan membuka bungkusan yang terisi obat bubuk berwarna kuning. Dia menaburkan bubuk kuning itu pada luka-luka di bagian be-lakang tubuh Bi Lan. Anak itu merasa betapa panas dan pedih di tubuhnya se-gera hUang terganti rasa dingin dan nyaman.

"Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita." kata Ouw Kan. Dia melangkah dan Bi Lan berjalan di sampingnya. Setelah berjalan tanpa bicara beberapa lamanya, Bi Lan lalu bertanya, mengatur agar kemarahan tidak muncul dalam suaranya. "Engkau ini siapakah, Kek?"

Ouw Kan tersenyum dan mengelus jenggot putihnya yang lebat. Dari suaranya, anak ini sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Sungguh seorang anak yang luar biasa! "Hemm, mau tahu siapa aku? Aku bukan orang biasa saja. Namaku Ouw Kan, akan tetapi dunia persilatan mengenal aku sebagai Toat-beng Coa-ong!"

"Pantas tongkatmu ular kering!" kata Bl Lan sambll memandang ke arah tongkat yang kinl dipegang tangan kanan kakek itu.

"Ha-ha, engkau cerdlk. Siapa namamu?"

"Namaku Han Bi Lan, kek."

"Han Bi Lan? Nama yang bagus." Ouw Kan mengangguk-angguk. Datuk Ini adalah seorang yang berwatak aneh dan terkenal kejam sekali. Dia dapat membunuhi orang tanpa berkedip. Akan tetapi, betapapun jahatnya, ada juga saatnya dia bersikap seperti seorang manusia biasa yang dapat tertarik dan merasa suka kepada seseorang seperti sekarang dia merasa suka sekali kepada anak perempuan yang dlculiknya ini. Sikap Bi Lan yang pemberanl itu membuat dia kagum dan suka.

"Akan tetapi, kek. Engkau yang tidak mengenal aku, kenapa sekarang menculikku? Dan nenek Lu-ma, pembantu rumah tangga dan tukang kebun kami, apa kesalahan mereka terhadapmu? Kenapa mereka kau bunuh?"

Dihujani pertanyaan ini, Ouw Kan tertawa. Dia adalah seorang manusia yang tak pernah menyadari akan kesalahannya. Dia percaya bahwa segala yang dia lakukan adalah benar, tidak jahat, karena semua perbuatannya itu ada alasannya!

Nafsu daya rendah memang menjadlkan hati akal pikiran sebagai sarangnya dan melalui hati akal pikiran inilah nafsu setan membisikkan alasan-alasan untuk membenarkan segala perbuatannya yang menyimpang dari kebenaran. Setan itu cerdik bukan main. Dia niembela semua perbuatan sesat dengan alasan-alasan yang tampaknya masuk akal dan benar!

"Hemm, engkau ingin tahu mengapa aku melakukan penculikan dan pembunuhan itu, Bl Lan? Semua Itu untuk menghukum dosa yang dllakukan ayah ibumu? Mereka telah membunuh Pangeran Cu Sl dalam pertempuran, maka Sribaginda Raja Kin lalu menyuruh aku untuk membalas dendam kematian puteranya."

"Akan tetapi, kenapa aku yang kau culik dan mereka yang kau bunuh? Kami tidak mempunyai kesalahan apapun!" Bi Lan membantah.

"Kalau ayah ibumu berada di rumah, tentu mereka yang akan kubunuh. Akan tetapi mereka tidak berada di rumah. Yang ada hanya engkau puteri mereka dan orang-orang itu. Maka engkau yang kuculik dan mereka kubunuh sebagai pembalasan atas kematian Pangeran Cu Si."

Pada saat itu terdengar suara derap kaki kuda datang dari belakang. Ouw Kan berhenti melangkah dan menengok. Bi Lan juga memutar tubuh. Mereka melihat seorang laki-laki menunggang kuda datang dari arah belakang. Ouw Kan lalu berdiri di tengah jalan menghadang dan mengangkat tangan kiri ke atas sebagai tanda menghentikan penunggang kuda itu. Kuda dihentikan, debu mengepul dan laki-laki itu melompat turun dari atas punggung kudanya.

Dia seorang laki-laki kurang lebih empat puluh tahun dan melihat sebatang golok yang terselip di punggungnya dapat diduga bahwa dia se-orang yang siap menghadapi gangguan dengan kekerasan. Seorang tokoh kang-ouw yang mengandalkan ilmu silatnya untuk membela diri. Mukanya bulat, tubuhnya kokoh dan sinar matanya mencorong.

Alisnya berkerut ketika ia memandang kakek yang menghentikannya di tengah jalan itu. "Paman tua, ada keperluan apakah engkau menghadang perjalananku?" tanya laki-laki itu sambil memandang kepada Bi Lan yang berdiri di tepi jalan. "Apakah ada sesuatu yang perlu kubantu?"

"He-he, memang ada yang perlu Kau bantu, sobat. Aku sudah tua dan cucuku ini masih kecil. Kami membutuhkan kudamu untuk melanjutkan perjalanan kami. Maka, engkau lanjutkan perjatanan dengan jalan kaki dan tinggalkan kudamu untuk kami pakai." kata Ouw Kan dengan senyum.

"Dia bohong! Aku bukan cucunya. Dia bukan kakekku, dia menculikku!" tiba-tiba Bi Lan berteriak. la melihat sikap gagah laki-laki itu dan mengharapkan pertolongan darinya.

Laki-laki itu mengerutkan alisnya semakin dalam dan memandang kepada Ouw Kan dengan tajam penuh selidik. "Ehh? Benarkah itu, paman tua?"

Sikap lembut Ouw Kan lenyap, terganti pandang mata mencorong dan suaranya juga ketus. "Jangan mencampuri urusanku. Berikan saja kudamu itu kepadaku!"

"Hemm, engkau sudah menculik seorang anak perempuan dan kini hendak merampas kudaku? Orang tua, jangan engkau berani main-main di depanku! Engkau tidak tahu siapa aku? Aku adalah orang yang disebut Hui-liong Sin-to (Golok Sakti Naga Terbang)! Minggirlah dan jangan ganggu. aku lagi dan biarkan aku mengantarkan anak ini kembali ke orang tuanya. Barulah aku mau mengampunimu!"

"Heh-heh-heh, kalau begitu terpaksa gku harus membunuhmu!" kata Ouw Kan tertawa sambil menggerakkan tongkat ularnya. Tongkat itu meluncur ke arah dada laki-laki itu.

Akan tetapi orang yang mengaku berjuluk Hui-liong Sin-to itu dengan tangkas dan gesitnya mengelak ke belakang dan sekali tangan kanannya meraba punggung, tampak sinar berkelebat dan sebatang golok yang amat tajam telah berada di tangan kanannya.

Ouw Kan tidak perduli. Serangan pertamanya yang dapat dihindarkan lawan itu membuatnya penasaran dan diapun menyerang lagi. Kini tongkat ular kobra itu membuat gerakan melayang dan melingkar-lingkar menyerang ke arah titik-titik jalan darah maut di bagian tubuh lawannya.

Hui-llong Sin-to terkejut bukan main, mengenal serangan yang amat berbahaya. Dia cepat memutar goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaga dengan maksud untuk mematahkan tongkat ular kobra kering itu.

"Tranggg.....!!'' Tampak bunga api berpijar dan bukan tongkat ular itu yang patah, melainkan golok itu terpental dan hampir saja terlepas dari tangan pemegangnya.

Laki-laki itu terkejut bukan main. Dia adalah seorang ahli silat yang kenamaan dan tergolong jagoan sehingga memperoleh julukan Golok Sakti Naga Terbang. Goloknya amat terkenal dan jarang menemukan tanding. Akan tetapi sekali ini berhadapan dengan seorang kakek, tongkat ular kering kakek itu dapat membuat goloknya terpental!

Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan sakti. Akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir karena tongkat yang sudah berubah menjadi gulungan sinar hitam itu sudah menyambar lagi ke arahnya...

Jilid selanjutnya,
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.