Kisah Si Naga Langit Jilid 07

Sonny Ogawa

Kisah Si Naga Langit Jilid 07 karya Kho Ping Hoo - ”MAMPUSLAH...!” bentaknya dan dia sudah menyerang dengan bacokan pedangnya ke arah leher Thian Liong. Orang itu sudah membacok dengan sekuat tenaga dan sudah merasa cepat sekali.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

Namun bagi mata dan telinga Thian Liong yang terlatih baik, bacokan itu datangnya lambat dan lemah saja. Maka dengan mudah dia mengelak dengan miringkan tubuhnya sehingga bacokan meluncur lewat mengenai tempat kosong.

”Sobat, aku tidak mau berkelahi denganmu. Aku hanya menghendaki agar engkau menyerahkan buntalan biru itu." kata Thian Liong tenang.

Si tinggi kurus itu menghentikan gerakannya. "Apa? Engkau juga menghendaki uang ini? Kalau begitu, kita adalah rekan segolongan, mengapa engkau menggangguku? Kalau engkau minta bagian, katakan saja dan aku pastl akan memberimu."

Thian Liong menggeleng kepalanya. "Tldak, aku tidak menginginkan uang itu. Akan tetapi uang itu harus dlkembalikan kepada pemlliknya yang merasa kehllangan. Serahkan buntalan itu kepadaku dan aku tidak akan menahanmu lagi."

"Engkau minta ini? Nah, terimalah!" Si muka tikus membentak akan tetapi bukan buntalan itu yang dia berikan, melainkan pedangnya sudah menyambar lagi dengan cepat karena dia mengerahkan seluruh tenaganya.

Akan tetapi dengan tenang namun jauh lebih cepat Thian Liong miringkan tubuhnya, membuat langkah ke depan mengitari tubuh lawan, tangan kirinya menepis tangan lawan yang memegang pedang sedangkan tangan kanannya meraih ke arah punggung perampok muka tikus itu.

"Dukk.....! Aduhh..... brettt'!" Tubuh perampok itu terhuyung dan buntalan yang tadinya tergantung di punggungnya telah berpindah ke tangan Thian Liong.

Perampok itu marah sekali. Tentu saja dia tidak rela buntalan biru berisi uang emas dan perak itu direbut begitu saja. Biarpun tangan kanannya terasa ngilu ditepis tangan Thian Liong tadi, namun kemarahan membuat dla tidak merasakan ini dan dia sudah menerjang lagi seperti kesetanan.

"Kembalikan bungkusan itu!" terlaknya.

"Benda ini bukan milikmu." kata Thian Liong dan tubuhnya bergerak cepat mengelak dari sinar pedang yang menyambar-nyambar. Sampai belasan kali pedang itu menyambar namun tak pernah dapat menyentuh ujung baju Thian Liong. Melihat kenekatan orang itu, Thian Liong menyadari bahwa penjahat seperti ini sukar untuk diharapkan kesadarannya tanpa memberi hajaran kepadanya.

"Slnggg....!" Pedang menyambar lagi membabat ke arah pinggang kiri Thian Liong. Pemuda Itu menggerakkan kaki kirinya yang mencuat ke depan menyambut serangan itu. Ujung kakinya menendang pergelangan tangan yang memegang pedang. Pedang terlepas dan terpental jauh dan sebelum si muka tikus hilang kagetnya, kaki kanan Thian Liong mencuat.

"Dukkk!" Kaki itu menyambar dada dan tubuh perampok bermuka tikus itu terjengkang dan terbanting roboh. Sambil meringis kesakitan dia merangkak bangun. Kini maklumlah dia bahwa pemuda ini lihai sekali dan kalau dia melawan terus, berarti dia mencari penyakit.

Maka setelah dapat bangkit berdiri dan kepeningan kepala serta kesesakan napasnya mereda, dia lalu melarikan diri meninggalkan Thian Liong yang masih berdiri dengan sikap tenang. Setelah melihat penjahat itu pergi, diapun lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat di mana terjadi perampokan tadi.

Sementara itu, Bi Lan masih bertanding seru melawan perampok yang bertu-buh gendut. Dia termasuk seorang tokoh Pek-tiauw-pang dan tingkat kepandaianya sudah cukup tinggi. Ilmu pedangnyapun lihai. Pedangnya berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung. Namun, dia merasa penasaran sekali karena betapapun cepatnya dia memutar pedangnya, sama sekali tidak pernah dapat menyentuh ujung baju gadis remaja yang menjadi lawannya.

Tentu saja dia menjadi penasaran sekali. Bagaimana mungkln dia, seorang jagoan darl perkumpulan Pek-tiauw-pang, kini tidak mampu mengalahkan seorang gadis yang usianya baru kurang lebih tujuh belas tahun dan yang hanya menghadapi pedangnya dengan sebatang ranting kecil?

Dia sama sekali tidak tahu bahwa gadis remaja itu adalah murid manusia saktl Jit Kong Lama, pendeta Lama dari Tibet yang amat sakti dan yang telah menggembleng murid perempuannya itu selama sepuluh tahun!

Kalau Bi Lan menghendakl, dalam satu dua jurus saja ia tentu mampu merobohkan lawannya. Akan tetapi dasar ia memiliki watak yang llncah gemblra, jenaka dan nakal, di samping galak dan cerdik, gadis itu sengaja hendak mempermainkan lawannya.

"Singg....!" Pedang sl gendut menyambar ke arah lehernya. Bi Lan dengan mudah mengelak kebelakang dan ujung rantingnya menyambar.

"Brettt....!!" ujung ranting itu menebas dari atas ke bawah dan rontoklah semua kancing baju si gendut sehingga baju itu seketika terbuka memperlihatkan dada dan perutnya yang gendut sekali dan berkulit putih.

"Hiiih, seperti babi kamu!" Bi Lan berkata mengejek dan belasan orang piauwsu yang menonton perkelahian itu tak dapat menahan tawa mereka.

Si gendut menjadi marah bukan main. la merasa dipermainkan, dihina dan dijadikan buah tertawaan semua orang itu. "Bocah jahanam, mampus kau!" bentaknya dan kembali pedangnya menyambar dahsyat, kini menusuk ke arah ulu hati gadis itu. Bi Lan menekuk lutut, merendahkan tubuhnya dan ketika pedang meluncur lewat atas kepalanya, dari bawah ranting di tangannya meluncur ke depan.

"Bret....!" Kini tali celana si gendut itu yang putus semua dan tak dapat dicegah lagi, celana itu lepas dari perut yang gendut dan melorot turun!

"Hihhh! Menjijikkanl" Bi Lan memejamkan mata dan memutar tubuh membelakangi lawannya yang kini telanjang sambil menutupl mukanya dengan tangan kiri. Suara tawa meledak bahkan ada yang terpingkal-pingkal mellhat Si gendut kedodoran dan repot mengangkat celananya ke atas.

Muka Si gendut menjadi merah sekali seperti kepiting direbus. Akan tetepi ketika dia melihat Bi Lan berdiri membelakanginya, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan balk untuk membalas penghinaan yang luar biasa itu, Cepat sekali dengan tangan kiri menahan celananya agar jangan merosot turun, tangan kanannya menggerakkan pedangnya hendek memenggal leher gadis itu dari belakang.

"Wuuutt.... crott!!" Tubuh si gendut terkulai roboh dan darah bercucuran muncrat dari dadanya yang berlubang tertusuk ujung ranting yang tadi secepat kilat ditusukkan Bi Lan sambil membalikkan tubuh, tepat memasuki dada si gendut selagi pedangnya masih terangkat ke atas.

Gerakan Bi Lan cepat bukan main sehingga lawannya tidak sempat mengelak atau menangkis lagi. Karena ranting itu telah menembus jantungnya, maka begitu terkulai roboh si gendut segera tewas tanpa dapat mengeluh lagi.

Bi Lan membuang rantingnya yang berlumur darah dan sama sekali tidak melirik lagi ke arah lawan yang telah tewas itu. Lima orang pedagang yang usianya sudah setengah tua kini berani keluar dari dalam kereta dan mereka menghampiri Bi Lan dengan sikap hormat.

Pada saat itu Thian Liong datang berlari cepat dan dia membawa sebuah kantung kain berwarna biru yang tampaknya berat. Thian Liong menghampiri lima orang pedagang itu. Dia dapat menduga bahwa tentu lima orang itu yang memiliki barang-barang yang dikawal karena pakaiannya berbeda jauh dari para piauwsu.

"Ini rnlllk kalian yang tadi dilarikan perampok, Terimalah!"

Lima orang pedagang itu tampak girang sekali. Seorang dari mereka menerima kantung biru itu dan mereka berlima segera memberi hormat kepada Thian Liong dan Bi Lan. Mereka semua menyangka bahwa pemuda dan gadis itu tentu merupakan pasangan karena mereka datang pada saat yang sama dan keduanya merupakan orang-orang lihai yang telah menolong mereka.

Seorang dari lima orang saudagar itu mewakili teman-temannya dan berkata kepada sepasang muda mudi itu dengan sikap hormat. "Tai-hiap (pendekar besar) dan li-hiap (pendekar wanita) berdua telah menyelamatkan nyawa dan harta kami. Untuk itu kami semua mengucapkan banyak terima kasih dan kami harap tai-hiap berdua sudi menerima sedikit sumbangan dari kami ini sebagai tanda terima kasih kami." Saudagar yang berjenggot panjang itu membuka kantung blru dan mengeluarkan segenggam uang emaa, dlserahkan kepada Thian Liong!

Thian Liong mengerutkan alisnya dan menggoyang tangan kanan menolak. "Tidak, apa yang kami lakukan sudah merupakan kewajiban kami, kami tidak mengharapkan upah!"

Akan tetapi Bi Lan sudah melangkah maju dan sekali tangannya bergerak, ia sudah menampar tangan yang menggenggam uang emas itu sehingga saudagar itu berteriak kesakitan dan uang emasnya berhamburan di atas tanah.

"Engkau ini sungguh seorang yang sama sekali tidak mengenal budi, sudah ditolong malah balas menghina dengan menyerahkan segenggam uang! Lupakah kalian bahwa kami berdua bukan hanya telah menyelamatkan harta bendamu akan tetapi juga nyawa kalian berlima dan belasan orang pengawal kalian? Apakah nyawa kalian semua harganya hanya segenggam uang emas ini? Betapa murahnya nyawa kalian!"

Lima orang saudagar itu terkejut sekali dan menjadi ketakutan. Si Jenggot panjang yang agaknya menjadi pemimpln mereka, cepat membungkuk-bungkuk kepada Bi Lan, memberi hormat dan berkata dengan suara mengandung penuh penyesalan.

"Ampunkan kami, li-hiap. Kami memang bersalah. Sekarang katakanlah apa yang li-hiap kehendaki dan kami pasti akan memenuhi permintaan li-hiap untuk niembalas budi li-hiap."

”Sebetulnya kami tidak mengharapkan apa-apa seperti dikatakan tai-hiap ini. Kami bukan pengawal kalian yang kalian gaji. Kami membunuh dan mengusir penjahat, menyelamatkan kalian hanya karena hal itu sudah merupakan kewajiban para pendekar! Akan tetapi mengingat bahwa nyawa kalian telah diselamatkan, apakah tidak sepantasnya kalau nyawa kalian dihargai sedikitnya. Separuh dari isi kantung uang itu?"

Mendengar ini, Thian Liong mengerutkan alisnya akan tetapi dia tidak dapat berkata apa-apa. Sementara itu, lima orang saudagar itu membungkuk-bungkuk dan si jenggot panjang cepat berkata,

"Tentu saja, li-hiap! Tuntutan itu lebih dari pada pantasl" Dia lalu mengambil sebuah kantong kosong lalu memindahkan sebaglan isi kantung biru ke kantung yang kosong, bahkan dla sengaja memlllh emasnya saja.

Setelah emas separuh kantung biru itu dlpindahkan, dia lalu meletakkan kantung yang teriri emas itu ke atas tanah di depan Bi Lan sambil berkata, "Silakan, li-hlap. Bingkisan yang tldak seberapa ini kaml berikan kepada jl-wl (kallan berdua) dengan hati rela dan ikhlas. Sekarang kami mohon dlri hendak melanjutkan perjaianan kami."

Tergesa-gesa lima orang saudagar yang ketakutan melihat Bi Lan marah tadi lalu memberi isyarat kepada para piauwsu dan tak lama kemudian kereta mereka bergerak meninggalkan tempat itu.

Thian Liong masih berdiri berhadapan dengan Bi Lan. Kantung berisi uang emas itu masih tergeletak di atas tanah, di antara mereka. Mereka saling padang dan baru sekarang Thian Liong dapat mengamati wajah gadis berpakaian serba merah muda itu. Dan dia menjadi kagum dalam hatinya walaupun kekaguman itu tidak tampak pada wajahnya yang tetap tenang.

Siapa yang tidak kagum melihat gadis remaja yang jelita itu? Usianya paling banyak baru tujuh belas tahun, akan tetapi ilmu silatnya sungguh hebat! Pakaian sutera serba merah muda itu sesuai sekali dengan tubuhnya yang ramping dan kulitnya yang putih mulus itu tampak semakin bersih dan lembut dlpadu dengan sutera merah yang membungkusnya.

Rambut di kepalanya hitam lebat dan panjang, digelung dengan indahnya dan dihias tusuk sanggul dari emas berbentuk burung kecil bermata merah. Sinom (anak rambut) lembut halus melingkar-lingkir di dahi dan pelipisnya. Sepasang telinga yang Indah bentuknya itu terhias anting-anting membuatnya tampak lucu dan kekanak-kanakan.

Dahi yang halus putlh itu tampak semakin mulus karena sepasang alisnya amat hitam, menjelirit kecil melengkung, melindungi sepasang mata yang seperti bintang kejora, pandangannya tajam dan penuh gairah hidup, penuh semangat. Hidungnya yang mancung serasi sekali dengan mulutnya yang menggairahkan, dengan bibir yang indah dan kemerahan tanpa glncu, dihias pula sepasang lesung pipit di kanan kiri. Dagunya meruncing.

Kulitnya putih mulus dan tubuh yang mulai dewasa itu seperti bunga se-dang mekar atau buah sedang ranum, dengan lekuk lengkung yang menggiurkan. Pendeknya, seorang gadis remaja yang cantik jelita! Akan tetapi pandang mata Thian Liong tampak tak senang ketika dia melirik ke arah kantung uang. Sungguh sayang, gadis secantik itu ternyata mata duitan!

"Memalukan," katanya lirih namun penuh teguran, "Menerima upah untuk menolong orang. Seperti tukang pukul saja."

Gadis itu membelalakan matanya dan kini matanya tampak lebar sekali, membuat wajahnya tampak lucu. Akan tetapi setelah melebarkan mata, ia lalu menge-rutkan alisnya dan matanya mencorong, bibirnya cemberut. Jelas sekali tampak bahwa ia marah!

"Apa kau bilang? Memalukan? Engkau munafik!" la memaki.

"Munafik? Aku?" Thian Ltong melongo heran dan kaget dimaki munafik.

"Ya engkau munafik. Coba Jawab, apakah engkau memillki banyak uang?"

Thian Liong menggeleng kepalanya. "Tldak sama sekali."

"Jawab lagi, Apakah engkau tldak membutuhkan makan, pakaian, dan tempat tinggal untuk melewatkan malam?"

"Tentu saja aku membutuhkan."

"Jawab lagi. Kalau engkau lapar, apakah engkau mengemis makanan ataukah mencuri makanan? Kalau pakaianmu rusak, kulihat sepatumu itu sudah butut sekali dan perlu diganti, dari mana engkau akan mendapatkan semua itu? Mencuri? Dan kalau engkau menginap dl rumah penglnapan, apakah setelah bermalam paglnya engkau lalu minggat tanpa membayar? Hayo jawab! Untuk semua itu engkau membutuhkan uang ataukah tidak?"

Diberondong begitu dan melihat sikap gadis itu membusungkan dadanya seperti menantang, Thian Liong gelagapan dan menelan ludah sebelum menjawab "Ya.... eh, tentu saja untuk semua itu aku membutuhkan uang."

"Bagus, ya? Engkau butuh uang pada hal engkau tidak punya uang, dan seka-rang ada orang yang memberimu uang, engkau pura-pura menolak dan berani mengatakan i-nemalukan. Apa lagi nama-nya itu kalau bukan inunafik?"

"Akan tetapi aku menolong mereka bukan untuk mendapatkan bayaran uang!" Thian Liong membantah.

"Berlagak suci! Kita tidak rninta uang. Mereka yang memberikan kepada kita karena mereka hendak membalas jasa. Uang ini sudah sepantasnya menjadi milik kita. Apa artinya uang sebegini dibandingkan dengan harta kekayaan dan nyawa mereka berlima itu? Ini adalah uang halal, sama sekali tidak haram, tahu?"

Bi Lan lalu membuka kantung itu, menuangkan isinya ke atas tanah lalu membagi potongan-potongan emas itu menjadi dua. Yang setengah bagian ia masukkan ke dalam buntalan kuning berisi pakaiannya, dan yang setengahnya lagi ia masukkan kembali ke dalam kantung biru.

"Nah, yang itu bagianmu. Ambillah!" katanya sambil menudingkan telunjuk kirinya yang kecil mungil ke arah kantung biru itu.

Akan tetapi Thian Liong tidak mengacuhkan kantung itu, melainkan menghampiri mayat perampok gendut yang tewas oleh ranting di tangan Bi Lan tadi. Dia membungkuk untuk memungut pedang milik perampok gendut yang tewas itu dan mulailah dia menggunakan pedang itu untuk menggali tanah.

Melihat pemuda itu tidak mengacuhkannya dan malah menggali lubang di tanah, Bi Lan menjadi penasaran. la menghampiri pemuda itu dan menegur, "Hei, apa-apaan yang kau lakukan ini?"

Thian Liong yang sejak tadi menahan kedongkolan hatinya terhadap gadis itu, menghentikan pekerjaannya dan dia berdiri menghadapi Bi Lan, memandang dengan sinar mata tajam mengaridung marah dan berkata, suaranya maslh lirih dan lembut, namun mengandung nada suara teguran keras.

”Nona, engkau masih amat muda namun telah memillkl llmu kepandalan tinggi. Sungguh sayang sekali bahwa engkau terlalu kejam!"

Kini gadis itu yang terbelalak, kaget dan heran, lalu alisnya berkerut dan la, inenjadi marah. "Aku kejam?"

"Ya, engkau kejam! Engkau telah membunuh orang ini padahal tanpa membunuhnyapun, dengan mudah engkau akan dapat mengalahkannya!" kata Thian Uong penasaran, lalu melanjutkan pekerjaannya menggali lubang kuburan.

"Kalau engkau bilang aku kejam, maka aku katakan engkau ini tolol! Tolol, bodoh, munafik!" Gadis itu memaki-maki karena ia menganggap pemuda itu memakinya kejam. "Aku membunuhnya kau katakan kejam? Apa kau kira dia itu orang lemah-lembut dan baik hati? Ketahuilah, tolol, bahwa diapun berusaha membunuh para piauwsu dan saudagar itu dan kalau tidak ada aku, tentu semua orang itu celah dibunuhnya! Dia itu pembunuh kejam!"

Thian Liong menunda penggaliannya dan manoleh kepada gadis itu, klni suaranya terdengar tegas. "Dia pembunuh orang dan jahat? Akan tetapi engkau juga membunuhnya. Apa bedanya antara kalian berdua? Apa kau ingin kusamakan dengan perampok yang kau bunuh ini?"

"Jelas beda! Tolol dan bodoh sekali kalau tidak melihat bedanya! Dia menyerang dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, dia menggunakan kepandaiannya untuk melakukan kekerasan dan mencelakai orang! Sedangkan aku, aku menggunakan kepandaian untuk menentang kejahatan, aku membunuh orang yang jahat berbahaya bagi orang-orang lain yang tidak berdosa! Dia penjahat dan aku pendekar, itulah perbedaannya!" Bi Lan membentak marah dan ia membanting-banting kaki saking jengkelnya disamakan dengan perampok jahat!

Akan tetapi Thiah Liong juga sudah merasa jengkel dan tidak mau mengalah. "Engkau dapat berbuat lebih baik dari itu, nona. Engkau akan benar-benar berjasa besar kalau engkau hanya menghajar penjahat ini, membuatnya jera dan berhasil menasehatinya agar dia kembali ke jalan benar. Akan tetapi membunuhnya? Engkau tldak mampu memberi hidup, maka juga tldak berhak mematikan.

Setelah berkata demikian, Thian Liong melanjutkan pekerjaannya menggali iubang kuburan. Bi Lan membantlng-banting kaki dengan gemas, kedua tangannya terkepal akan tetapi tidak menyerang karena ia melihat pemuda itu sibuk bekerja. "Engkau.... cerewet dan bawel! Huh, aku muak dan benci melihatmu!!"

Thian Liong tertawa dan kembali menunda pekerjaannya, lalu menoleh ke arah gadis itu. "Akan tetapl aku suka dan kasihan padamu."

Bl Lan mendengus dan memutar tubuhnya, terus melangkah pergi, diikuti suara tawa Thian Liong yang dapat menguasai perasaannya dan kini melihat betapa lucu keadaan mereka. Baru bertemu, bekerja sama menolong rombongan saudagar menentang penjahat, lalu bercekcok! Padahal mereka belum saling memperkenalkan dlri, namanyapun tidak tahu.

Setelah gadis itu pergi, baru dia teringat betapa jelita dan menariknya gadis itu dan betapa lihai ilmu silatnya. Berwatak pendekar pula, atau setidaknya merasa menjadi pendekar. Sayang, galaknya bukan kepalang, seperti seekor harimau betina! Dia masih tersenyum-senyum ketika melanjutkan pekerjaannya.

Setelah lubang itu cukup dalam, dia lalu mengubur jenazah penjahat gendut itu, menimbuni jenazah dalam lubang, menancapkan pedang itu di atas gundukan tanah kuburan, baru dia membersihkan kedua tangannya, mengambil buntalannya yang tadi dia letakkan di bawah pohon tak jauh dari situ. Dia tidak menengok ke arah kantung biru yang berisi setengah jumlah uang emas yang ditinggalkan gadis itu.

Ketika membungkuk hendak mengambil buntalan pakaian dan kitab-kitabnya, dia melihat buntalannya itu menonjol dan tampak lebih besar dari biasanya. Dia merasa heran lalu membuka ujung kain buntalan yang tadinya diikat. Ternyata buntalan atau kantung biru berisi uang emas itu telah berada dalam buntalannya!

Cepat dia menoleh ke arah tempat dimana kantung biru tadi ditinggalkan gadis itu dan kantung itu telah lenyap. Kiranya diam-diam kantung itu telah dimasukkan ke dalam buntalannya oleh gadis itu! Bukti bahwa gadis itu dapat melakukan ini tanpa diketahuinya, agaknya ketika dia sedang asik menggali lubang, menunjukkan bahwa gadis itu memang lihai sekali.

Sejenak Thian Liong termangu dan ragu-ragu apakah akan menerima uang itu ataukah tidak. Kalau dia tidak menerimanya dan meninggalkan di tempat itu,y apa gunanya? Jangan-jangan malah dltemukan orang-orang jahat, karena yang berkeliaran dalam tempat liar dan sunyi sepertl itu biasanya hanyalah orang-orang sesat.

Kalau diterimanya dan menjadi miliknya, apa salahnya? Gadis itu benar juga. Harus diakui bahwa dia membutuhkan uang untuk membeayai perjalanannya. Dia butuh uang untuk membeli pengganti pakaian, untuk membeli makan setiap hari, dan untuk membayar sewa kamar untuk bermalam. Dan uang itu memang bukan uang haram, melainkan pemberian para saudagar yang memberinya dengan rela dan senang hati.

Dia menghela nepas panjang lalu menglkat-kan ujung buntalannye kemball, kemudian menggendong buntalan itu dan mulai mendaki sebuah puncak yang menurut keterangan penduduk di lereng bawah, adalah tempat tinggal Kun-lun-pai. Tiba-tiba dia menahan langkahnya. Dia hendak ke Kun-lun-pai, kemudian ke Bu-tong-pai dan ke Siauw-lim-pai untuk menyerahkan kitab-kitab atas perintah gurunya.

Kitab-kitab itu menurut gurunya amat penting bagi ketiga partai persilatan itu. Kitab-kitab itu dia simpan dalam buntalan pakaiannya dan tadi buntalan pakaiannya telah dibuka oleh gadls itu! Ah, siapa tahu? Banyak tokoh persilatan yang menginginkan kitab-kitab itu.

Demikian gurunya berpesan dan agar dia berhati-hati menjaganya karena bukan tidak mungkin akan ada tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai akan mencoba merampasnya kalau mereka mengetahui bahwa dia membawa kitab-kitab itul Ah gadis itu! Siapa tahu?

Dengan jantung berdebar dan perasaannya tegang Thian Liong lalu menurunkan buntalannya dan membukanya. Dia cepat memeriksa isinya dan. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat ketika melihat bahwa yang berada dalam buntalannya kini hanya ada dua buah kitab, yaitu Kitab Sam-jong Cin-keng untuk diberikan kepada ketua Siauw-lim-pai dan Kitab Kiauw-ta Sin-na untuk Bu-tong-pai. Kitab ke tiga, yaitu Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat untuk Kun-lun-pai telah lenyap!

Dia mencari-cari, membolak-balik pakaiannya, namun tetap saja kitab kuno itu tidak dapat ditemukan! Dia teringat bahwa tadinya kitab itu berada paling atas di antara tiga buah kitab itu karena memang kitab itu tadinya akan dia serahkan paling dulu kepada Kun-lun-pai!

"Celaka!" Dia berseru dan mengepal tinju. Siapa lagi kalau bukan gadis galak itu yang mengambilnya? Agaknya ketika membuka buntalan dan memasukkan kantung uang, ia melihat kitab itu berada paling atas dan gadis itu lalu mengambilnya dan membawanya pergi.

"Bocah liar! Kalau bertemu, akan kutampari pinggulnya sedikitnya sepuluh kali!" kata Thian Liong gemas. Akan tetapi dia lalu tertegun. Bagaimana mungkin bisa bertemu? Ke mana dia harus mencari? Gadis itu asing sama sekali. Dia tidak mengetahui namanya, apalagi tempat tinggalnya! Sialan! Tiga tugas pertama telah gagal satu! Apa yang akan dikatakan kepada gurunya? Ah, dia merasa kecewa dan malu.

Akan tetapi dia harus bertanggung jawab! Dia harus mencari gadis itu dan merampas kembali kitab untuk Kun-lun-pai, tidak lupa menghukum gadis itu dengan sepuluh kali tamparan pada pinggulnya! Sekarang, tugas utamanya, dia harus menemui Ketua Kun-lun-pai dan melaporkan tentang kehilangan kitab itu. Dia harus bertanggung jawab dan siap menerima celaan dan teguran dari ketua Kun-lun-pai.

Dia memang bersalah, tidak hati-hati dan lengah sehingga kitab yang amat penting dan berharga itu dapat dicuri orang. Dia mengikatkan kembali buntalannya, menggendongnya dan mengerahkan tenaga mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga larinya seperti terbang mendaki puncak menuju ke kompleks kuil dan bangunan Kun-lun-pai yang berada di puncak itu.

Karena Thian Liong menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk berlari cepat mendaki puncak sebentar saja dia sudah tiba di puncak dan dia melihat sekumpulan bangunan besar yang luas, dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan kokoh. Dia lalu berlari ke depan, di mana terdapat sebuah pintu gerbang yang besar. Baru saja dia berhenti berlari, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring di belakangnya.

"Siapa kau? Mau apa kau berkeliaran di sini?"

Thian Liong terkejut. Dia tidak mendengar ada orang datang. Ini membuktikan bahwa orang itu tentu memiliki ginkang hebat. Cepat dia memutar tubuh dan berhadapan dengan seorang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun. Rambutnya sudah bercampur uban dan digelung ke atas diikat kain kumng yang lebar hampir menutupi seluruh kepalanya.

Pakaiannya sederhana seperti pakaian seorang pertapa atau pendeta. Juga pakaiannya terbuat dari kain kuning yang kasar dan murah. Sebatang pedang tergantung di punggungnya, pedang dengan ronce-ronce berwarna putih.

Thian Liong yang selain menerima pendidikan ilmu silat tinggi juga menerima pendidikan kerohanian yang mendalam disertai tata susila tinggi, cepat memberi hormat karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita sakti.

"Locianpwe (orang tua gagah), maafkan saya. Saya sengaja datang berkunjung untuk menghadap Ketua Kun-lun-pai." Dia merangkap kedua tangan depan dada sambil membungkuk hormat.

Akan tetapi wanita itu, yang wajahnya membayangkan kegalakan dan sinar matanya mencorong masih mengerutkan alisnya. "Huh, kamu seorang laki-laki berani mendatangi bagian asrama wanita, tentu mengandung niat kurang sopan. Kamu mengandalkan kepandaianmu untuk berlaku kurang ajar, ya?"

"Ah, tldak sama sekali, locianpwe!" seru Thian Liong dengan kaget. "Saya tldak tahu bahwa ini asrama wanlta....!"

"Bohong! Hendak kulihat sampai dimana kelihaianmu maka kamu berani muncul di depan asrama kami! Sambutlah!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja wanita itu sudah menyerang dengan tamparan tangan kirinya. Tamparan tangan terbuka itu cepat sekali dan membawa angin pukulan yang kuat, mengarah pelipis Thian Liong sehingga merupakan serangan berbahaya yang dapat mendatangkan maut!

Diam-diam Thian Liong merasa heran dan juga penasaran. Bagaimana seorang wanita yang berpakatan seperti pertapa atau pendeta, tabiatnya demikian keras, berprasangka buruk dan menyerang orang tak bersalah dengan serangan maut? diapun cepat mengelak mundur sehingga tamparan itu luput.

"Locianpwe, saya bukan musuh dan tidak berniat buruk." Thian Liong mencoba untuk mengingatkan wanita itu.

“Sambut ini....!!" Wanita itu bahkan menyerangnya lagi, kini menggunakan pukulan yang mengandung sin-kang (tenaga aakti). Pukulan jarak jauh ini cukup dahsyat. Angin menyambar dan hawa pukulan yang kuat menerpa ke arah Thian Liong. Melihat bahaya ini, terpaksa pemuda itu mengerahkan tenaga dan mendorong ke depan untuk menyambut serangan lawan.

"Syuuuuttt.... dessss....!!" Dua tenaga yang kuat bertemu diudara dan akibatnya, tubuh pendeta wanita itu terdorong ke belakang dan la terhuyung-huyung, sedangkan Thian Liong masih berdlri tegak.

Wanita itu terkejut. la adalah tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga, kepandaiannya hanya di bawah tingkat ketua dan wakil ketua. Akan tetapi dalam adu tenaga sakti melawan seorang pemuda, ia terdorong dan terhuyung! la terkenal berwatak, keras, maka kekalahan dalam adu tenaga ini bahkan membuatnya penasaran dan semakin marah.

”Sratt...." tampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata dan sebatang pedang mengkilat telah berada di tangan kanan wanita itu. Cara ia mencabut pedang dari punggung sedemikian cepatnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli pedang yang pandai.

"Cabut pedang atau senjatamu yang lain! Mari kita mengadu kemahiran memainkan senjata!" kata wanita itu dengan ketus.

"Locianpwe, sekali lagi saya harap locianpwe tidak salah sangka. Saya bukan musuh Kun-lun-pai. Kalau locianpwe masih berkeras hendak menyerang dan membunuh orang tidak bersalah, silakan!"

Setelah berkata demikian, Thian Liong berdiri tegak, memejamkan mata, menenggelamkan segala kegiatan jasmani ke dalam kehampaan, hati akal pikirannya tidak bekerja, lahir batin menyerah kepada Kekuasaan Tuhan seperti yang telah dilatihnya bertahun-tahun di bawah bimbingan Tiong Lee Cin-jin.

"Engkau menantang maut? Apa kau kira aku tldak berani membunuh orang luar yang melanggar pantangan, mengunjungi asrama murid-murid wanita Kun-lun-pai? Sambut ini!" Nenek itu menerjang maju dan pedangnya berkelebat ke arah leher Thian Liong.

"Singgg....!" saking kuatnya pedang digerakkan, terdengar suara berdesing ketika senjata itu menyambar ke arah leher Thian Liong.

"Wuuutt....!" Wanita itu terkejut bukan main karena ketika pedangnya menyambar ke arah leher pemuda itu, tiba-tiba pedangnya terpental seperti tertolak tenaga tak tampak yang lentur dan kuat sehingga tenaganya yang mendorong pedangnya itu memballk!

Pemuda itu masih berdiri sambil menundukkan muka dan kedua matanya terpejam, mulutnya tersenyum dan wajahnya tampak demikian tenang dan tenteram, seperti wajah orang yang sedang tidur pulaa. la merasa penasaran sekali dan menyerang lagi dengan pedangnya. Namun setiap kali membacok atau menusuk, pedangnya selalu terpental. Makiri kuat ia menyerang, semakin kuat lagi tenaga yang membuatnya terpental karena tenaga membalik.

Tiba-tiba terdengar seruan lembut. "Ngo-sumoi (adik seperguruan ke lima), hentikan itu!"

Mendengar seruan ini, nenek itu melompat mundur, napasnya terengah dan wajahnya merah sekali. Thian Liong membuka matanya memandang dan dia melihat seorang pendeta wanita berpakaian serba putih berdlri di depannya. Wanita ini usianya sudah enam puluh lebih, namun wajahnya masih tampak segar dan sinar matanya lembut.

Begitu bertemu pandang, Thian Liong merasa tunduk dan tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang nenek yang sakti dan yang telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya sendiri. Maka dia cepat memberi hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Loclanpwe, saya mohon maaf sebanyaknya kalau kunjungan saya kesini hanya mendatangkan keributan dan gangguan."

Pendeta wanita itu tersenyum dan wajahnya tampak jauh lebih muda ketika la tersenyum. "Ah, sicu (orang muda gagah), kamilah yang sepatutnya mlnta maaf atas sikap sumoi Biauw In yang keras terhadapmu tadi. Akan tetapi siapakah engkau, sicu? Dan ada keperluan apakah engkau datang ke tempat kami ini?"

"Nama saya Souw Thian Liong dan kedatangan saya ini untuk memenuhi perintah guru saya."

"Hemm, kami melihat tadi bahwa engkau telah mencapai tingkat tertinggi dari tenaga sakti. Siapakah gurumu?"

"Suhu disebut Tiong Lee Cin-jin."

"Sian-cai (damai)....!" Nenek itu berseru dan wajahnya tampak terkejut dan berseri. "Kiranya Tiong Lee Cin-jin yang bijaksana yang mengutus muridnya datang berkunjung?" Nenek itu menoleh kepada sumoinya yang galak tadi. "Biauw In Sumoi, lihat apa yang telah kau lakukan tadi? Engkau menyerang murid Tiong Lee Cin-jin!"

Wanita galak itu tampak kaget dan wajahnya menjadi agak pucat. "Aku.... aku tidak tahu....”

"Locianpwe, kejadian tadi harap dilupakan saja, Sayalah yang bersalah dan minta maaf." kata Thian Liong yang merasa tldak enak mendengar teguran itu.

"Souw-sicu, sikapmu ini menunjukkan bahwa engkau pantas menjadi murid Tiong Lee Cin-jin yang bijaksana. Katakanlah, tugas apa yang diberikan gurumu kepadamu sehingga engkau datang ke sini?"

"Maaf, loclanpwe. Sesuai dengan perintah suhu, saya hanya dapat membicarakan urusan itu kepada para pimpinan Kun-lun-pai, yaitu Kui Beng Thai-su atau Hui In Sian-kouw saja."

Nenek itu tersenyum. "Kui Beng Thai-su adalah ketua umum Kun-lun-pai dan Hui In Siankouw adalah sumoinya yang memimpin para murid wanita. Akulah Hui In Siankouw dan ia ini seorang sumoiku bernama Biauw In Suthai."

"Ah, kiranya locianpwe adalah Hui In Sian-kouw. Terimalah hormat saya." Thian Liong memberi hormat lagi.

Hul ln Sian-kouw tersenyum dan berkata. "Souw-sicu, harap kelak sampaikan maaf kami kepada suhumu dan jangan menertawakan kami. Kami rnempunyai peraturan bahwa laki-laki tidak boleh memasuki asrama para murid wanita Kun-lun-pai. Oleh karena itu, terpaksa kami tidak dapat mempersilakan engkau memasuki asrama dan hanya dapat menyambutmu di sini saja."

"Tidak mengapa, locianpwe. Saya menghormati peraturan itu."

"Kalau begitu, mari kita duduk dan bercakap-cakap di sana." Hui In Sian-kouw menunjuk ke arah kiri di mana terdapat sekumpulan batu yang putih bersih. Agaknya batu-batu itu memang dirawat dan dijadikan tempat untuk duduk bersantai. Thian Liong mengikuti dua orang pendeta wanita itu dan mereka lalu duduk di atas batu sallng berhadapan.

"Nah, sekarang sampaikan pesan Tiong Lee Cln-Jln itu kepadaku, Souw-sicu. Aku yang akan menyampaikan kepada suheng (kakak seperguruan) Kui Beng Thaisu."

Thian Liong menghela napas panjang "Sungguh sayang sekali. Saya yang semestinya membawa kabar gembira untuk locianpwe, karena kelalaian saya, telah membuat kabar itu berubah menjadi tidak menyenangkan."

Hul In Siankouw tetap tersentum. "Apapun yang terjadi, terjadilah, Souw-sicu. Tidak ada kejadian baik atau buruk, sebelum pikiran kita menilai didasari kepentingan pribadi. Ceritakanlah tanpa ragu. Kami siap menerima yang ,dianggap paling buruk sekalipun."'

Thian Liong mengangguk kagum. Tak salah penilaiannya tentang pendeta wanita ini. Seorang yang arif bijaksana. Maka diapun bercerita dengan lapang dada. "Saya diutus suhu untuk mengantarkan sebuah kitab untuk Kun-lun-pai yang harus saya serahkan sendlri kepada Kui Beng Thai-su atau kepada Hui In Sian-kouw dan kebetulan sekali kini saya berhadapan dengan locianpwe sendiri."

"Ah, sebuah kitab dari Tiong Lee Cin-jin untuk Kun-lun-pai? Souw-sicu, apakah nama kitab itu?" Tiba-tiba Biauw In Suthai bertanya dengan nada suara gembira. Agaknya ia tetah melupakan kemarahannya tadi dan kini merasa gembira sekali mendengar bahwa Kun-lun-pai akan mendapatkan sebuah kitab dari Tiong Lee Cin-jin yang namanya terkenal di antara semua tokoh besar dunia persilatan itu.

"Nama kitab itu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat." kata Thian Liong.

"Aihh! Itu kitab pelajaran ilmu silat tinggi yang khusus diciptakan untuk murid wanita dan kitab itu lenyap ratusan tahun yang lalu, kabarnya dicuri seorang pertapa sakti yang jahat!" seru Hui In Sian-kouw kagum. "Dan sekarang Tiong Lee Cin-jin dapat menemukannya kembali dan hendak mengembalikan kepada Kun-lun-pai? Betapa bijaksananya Tiong Lee Cin-jin.

"Souw-sicu, cepat keluarkan kitab itu dan berikan kepada Hui In Suci (kakak perempuan seperguruan Hui In)!" kata Biauw In Suthai tidak sabar lagi karena ingin segera melihat kitab pusaka Kun luni-pai itu.

"Bersabarlah, sumoi. Berilah waktu kepada Souw-sicu, agaknya dia masih hendak bercerita." kata Hui In Sian-kouw dengan tenang dan sabar.

"Sesungguhnya banyak yang harus saya ceritakan, locianpwe. Akan tetapi yang terpenting untuk saya beritahukan adalah bahwa kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu, ketika saya berada dl lereng bawah pegunungan Kun-lun-san ini lenyap dicuri orang."

"Apa....??" Biauw In Suthai melompat berdiri. "Tidak mungkin!" Tentu engkau bohong dan ingin menguasai kitab itu untukmu sendiri!"

"Sumoi, Jangan sembarangan bicara!" Hui In Sian-kouw menegur adik seperguruannya.

"Suci, semua laki-laki di dunia ini mana ada yang dapat dipercaya? Dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, mana mungkin kitab itu dicuri orang? Coba kuperiksa buntalannya!" Biauw In Suthai melompat ke arah buntalan pakalan Thian Liong yang tadi diturunkan pemuda itu ketika hendak duduk di atas batu.

Melihat ini, Thian Liong membiarkan saja. Hui In Sian-kouw juga tidak keburu melarang sumolnya yang sudah membuka buntalan pakaian itu.

"Suci ini ada dua buah kitab!" seru Biuaw In Suthai sambil memperlihatkan dua buah kitab tua yang diambilnya dari buntalan itu.

"Itu adalah Kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dan kitab Kiauw-ta Sin-na milik Bu-tong-pai. Kedua kitab itu harus saya serahkan kepada pemilik masing-masing, seperti juga kitab milik Kun-lun-pai yang hilang."

"Sumoi, kembalikan dua buah kitab itu. Kita tidak berhak menyentuhnya." perintah Hui In Sian-kouw dan Biauw In Suthai mengembalikan dua buah kitab itu. Akan tetapi ia terus mencari dan membuka kantung biru.

"Hei, lihat, suci! Banyak emas di sini, Tentu dia telah menjual kitab kita itu dan mendapatkan banyak emas. Hayo kau mengaku saja! Kepada siapa kitab kami itu kau jual!" Biauw In Suthai sudah mencabut lagi pedangnya dan mengancam Thian Liong.

"Sumoi, sirnpan pedangmu dan mundur!" Hui In Sian-kouw menegur sumoinya dan Biauw In Suthai menyarungkan lagi pedangnya dan melangkah mudur dengan mulut cemberut dan matanya mencorong galak memandang Thian Liong. Hui In Sian-kouw memandang pemuda Itu. "Souw-sicu, apakah penjelasanmu tentang ini semua?"

Thian Liong menghela napas panjang. "Saya tadi belum selesai bercerita, locianpwe. Tadi ketika saya melakukan perjalanan dan tiba di jalan raya di lereng bukit sebelah bawah, saya melihat serombongan lima orang saudagar dlkawal belasan orang piauwsu sedang diganggu dua orang perampok. Dua orang perampok itu lihai dan para piauwsu agaknya akan kalah dan terbunuh semua.

"Saya lalu membela mereka yang dirampok dan pada saat itu muncul pula seorang gadis yang lihai, la juga membantu para piauwsu dan menewaskan seorang di antara dua perampok itu. Perampok ke dua melarikan sekantung emas dan saya mengejarnya dan berhasil mengambil kembali kantung yang dibawanya lari.

"Ketika saya mengembalikan kantung emas itu kepada para saudagar, mereka lalu menyerahkan setengah isi kantung itu kepada kami berdua, yaitu saya dan nona itu. Setelah para saudagar dan rombongannya meninggalkan tempat itu, saya lalu mengubur mayat perampok yang terbunuh oleh gadis itu.

"Di antara kami terjadi perselisihan paham karena saya mencelanya yang telah membunuh perampok itu. la marah-marah dan pergi membawa separuh uang yang ditinggalkan saudagar, yang separuh lagi ia berikan kepada saya.

"Nah, ketika saya sibuk menggali lubang untuk mengubur jenazah itulah, saya lengah. Tahu-tahu kantung uang emas yang tadinya saya tolak itu telah berada dalam buntalan pakaian ini dan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang berada di tumpukan paling atas, telah lenyap."

"Gadis Itu tentu cantik jelita, bukan?" Tiba-tiba Biauw In Suthai bertanya, nadanya mengejek.

"Memang ia cantik jelita dan usianya kurang lebih tujuh belas tahun," kata Thian Liong sejujurnya.

"Nah Itulah, laki-laki semua mata keranjang! Tentugadiihat gadis cantlk itu, dia tergila-gila dan untuk menyenangkan hatinya, dia memberikan kitab itu kepadanya. Suci, pemuda ini harus bertanggung jawab, dia harus mengembalikan kitab itu kepada kita!"

"Sumoi, tidak malukah engkau berkata seperti itu? Kitab itu memang millk Kun-lun-pai, akan tetapi telah ratusan tahun hilang dan kita tidak dapat menemukannya kembali. Tiong Lee Cin-jin berhasil mendapatkannya kembali dan hendak menyerahkan kepada kita. Souw-sicu kehilangan kitab itu, dlcuri oleh orang laln. Bagaimana kita dapat menimpakan tanggung jawab kepadanya untuk mengembalikan kitab itu kepada kita? Sudahlah, aku melarangmu bicara lagi!"

Mendengar teguran keras dari Hui In Siankouw, Biauw In Suthai mengerutkan alisnya dan mukanya menjadi buruk sekali karena ia cemberut. "Suci terlalu membela laki-laki ini. Biar aku melapor kepada toa-suheng (kakak seperguruan pria tertua)!" Setelah berkata demikian, pendeta wanita yang galak itu lalu meninggalkan tempat itu untuk pergi ke asrama bagian putera di balik bukit.

Hui In Siarikouw menghela napas panjang. "Souw-sicu, maafkan sikap sumoi Biauw In Suthai. la memang keras hati. Sungguh aku merasa tidak enak kepadamu, sicu."

"Tidak mengapa, locianpwe. Memang sudah sewajarnya kalau ia marah karena saya memang bersalah. Saya telah lengah sehingga kitab itu lenyap dicuri orang. Sudah semestinyalah kalau saya bertanggung jawab. Saya berjanji akan mencari kitab itu sampai dapat dan setelah saya temukan, tentu akan saya serahkan kepada locianpwe di sini."

Pendeta wanita itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Dari sikapmu sebagai murid, kami dapat menilai betapa bijaksananya Tiong Lee Cin-jin, Souw-sicu, Siapakah nama gadis yang mencuri kitab itu?"

"Saya tidak tahu namanya, locianpwe, kami tidak sempat berkenalan. Akan tetapi sayapun tidak berani mengatakan bahwa ia yang mencuri kitab itu karena tldak ada buktinya. Bagaimanapun juga, saya akan berusaha sekuat kemampuan saya untuk mencari kitab itu."

"Kami percaya bahwa engkau akan berhasil, sicu, dan sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas usahamu mencari kitab itu. Tldak lupa, sampaikan terima kasih Kun-lun-pai yang sebesar-besarnya kepada gurumu Tiong Lee Cin-jin yang sudah menemukan kitab kami yang hilang itu dan berusaha mengembalikannya kepada kami. Sampaikan hormat ku kepada beliau."

"Baik, loclanpwe, akan saya sampaikan kalau saya sudah menyelesaikan tugas-tugas saya dan bertemu lagi dengan suhu. Sekarang, saya mohon pamit dan terima kasih atas pengertian locianpwe yang sudah memberi maaf atas kelengahan saya sehingga kitab untuk locianpwe itu sampai hilang."

"Selamat jalan, sicu, dan berhati-hatilah dalam perjalanan. Semua prang mengetahui bahwa para datuk dan tokoh kang-ouw ingin sekali merampas kitab-kitab yang didapatkan oleh Tiong Lee Cin-jin dari dunia barat. Sicu yang masih membawa dua kitab, tentu tidak akan terlepas dari incaran mereka."

"Terima kaslh, locianpwe, atas nasihat itu. Selamat tinggal." Thian Liong menggendong buntalannya, memberi hormat lalu pergi menuruni puncak itu.

Akan tetapi, ketika dia tiba di lereng gunung ke dua dari puncak, dia melihat Biauw In Suthai menghadang perjalanannya dan pendeta wanita itu ditemani dua orang gadis yang berpakaian serba kuning. Dua orang gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, keduanya bertubuh ramping berkulit putih mulus dan keduanya cantik manis.

Hanya bedanya, yang seorang lebih jang-kung dengan wajah bulat dan yang kedua agak lebih pendek dan lebih muda dengan wajah bulat telur. Rambut mereka di gelung ke atas dengan kain berwarna kuning yang lebar. Di panggung mereka tergantung sebatang pedang.

Blarpun Blauw In Suthai tadi bersikap galak kepadanya, Thian Liong tidak mendendam dan mellhat nenek Itu berdiri menghadang perjalanan bersama dua orang gadis itu, dla cepat menghampirl dan memberi hormat.

"Locianpwe, saya mohbn diri hendak meninggalkan Kun-lun-san, harap locianpwe suka memberi jalan."

Akan tetapi Biauw In Suthai bertolak pinggang dan memandang pemuda itu dengan marah. "Souw Thian Liong, engkau sudah tahu akan kesalahanmu! Engkau sebagai seorang laki-laki telah berani lancang datang ke asrama puteri Kun-lun-pai. Karena itu sebelum kami menguji kepandaianmu, kami tidak akan membiarkanmu pergi. Tadi kami melihat sebatang pedang dalam buntalanmu. Hayo keluarkan pedangmu. Kami menantangmu untuk mengadu silat pedang!" Nenek itu menantang.

Thian Liong mengerutkah alisnya. "Akan tetapi, locianpwe, saya tidak ingin bertanding dengan siapapun, saya tidak ingin bermusuhan dengan siapapun."

"Enak saja! Engkau melanggar daerah terlarang bagi pria, dan engkau telah membikin lenyap kitab pusaka Kun-lun-pai. Engkau harus menerima tantangan kami ini. Aku tidak ingin dianggap sebagai orang tua yang menghina anak muda. Karena itu, muridku ini akan mewakili aku menguji llmu pedangmu. Kim Lan, bersiaplah engkau!"

Gadis yang lebih tinggi bermuka bulat itu tiba-tiba menjadi merah wajahnya dan ia tampak semakin cantik. Ia mengangguk menerima perintah gurunya dan sekali tangan kanannya bergerak, tampak sinar berkelebat dan Thian Liong segera mengenal pedang itu sebagai pedang bersinar putih yang tadi dipergunakan Biauw In Suthai.

Dengan gerakan indah dan gagah gadis cantik bernama Kim Lan ini menggerakkan pedangnya menunjuk keatas, lalu pedangnya berkelebat seperti kitat menyambar, menjadi sinar menyilaukan dan ia sudah rnemasang kuda-kuda dengan pedang bersenibu-nyi di bawah lengan kanan, tangan kiri melingkar depan dada. Gayanya indah dan gagah sekali.

"Sicu, silakan!" kata Kim Lan, suaranya merdu namun mengandung tantangan dan kekerasan hati, sinar matanya tajam menyambar ke arah wajah Thian Liong. Tentu saja pemuda itu menjadi ragu. Dia tidak ingin berkelahi, apa lagi melawan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali, yang tidak mempunyai urusan apapun juga dengan dirinya.

Melihat keraguan ini, Biauw In Suthai segera berkata nyaring. "Souw Thian Liong, engkau mengaku murid Tiong Lee Cin-jin yang terkenal, akan tetapi engkau pengecut kalau tidak berani menghadapi tantangan muridku Klm Lan. Ambil pedangmu dan coba kita sama mellhat apakah engkau mampu menandingi Tian-lui-kiam-sut, (Ilmu Pe-dang Kilat Guntur)!

"Kalau engkau dapat menang melawan Kim Lan, berarti engkau pantas berkunjung ke markas puteri Kun-lun-pai karena engkau menjadi keluarga sendiri. Akan tetapi kalau engkau kalah, kami akan membiarkan engkau pergi dan ternyata nama besar Tiong Lee Cin-jin hanya kosong belaka!"

Wajah Thian Liong berubah agak merah. Terlalu sekali nenek ini, pikirnya! Dia dipaksa untuk melawan karena kalau tidak, dia akan dianggap sebagai pengecut dan berarti dia akan merendahkan nama besar gurunya yang amat dihormat di dunia kang-ouw. Dia terpaksa, mau tidak mau, harus melayani tantangan itu.

Dia merasa serba salah. Dilayani, dia merasa tidak semestinya karena dia tidak mempunyai permusuhan dengan mereka dan tidak ingin menghina Kun-lun-pai dengan mengalahkannya. Kalau tidak dilayani, dia dianggap pengecut dan nama besar gurunya terseret turun. Selain itu, dia juga ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan Ilmu Pedang Kilat Guntur itu.

Dia pernah mendengar dari gurunya bahwa ilmu pedang Itu merupakan llmu pusaka dan andalan Kun-lun-pai dan bahwa hanya murid-murid tertinggi saja yang berhak menguasai llmu pedang itu. Gadis ini masih amat muda paling banyak sembilan belas tahun usianya, akan tetapi sudah menguasai Tian-lui-kiam-sut, berarti ia seorang murid Kun-lun-pai yang sudah tinggi tingkatnya. Timbul keinginannya untuk menguji kehebatan ilmu pedang itu!

Setelah menghela napas panjang, Thian Liong melepaskan gendongannya ke atas tanah, membuka buntalan, mengambil pedangnya dan mengikatkan lagi buntalan itu dengan teliti karena dia tidak mau lagi kehilangan dua buah kitab untuk Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai itu, kemudian ia mencabut pedangnya, melempar sarung pedang di atas buntalan pakaian dan menghampiri Kim Lan dengan pedang di tangan.

Pedang Thian-liong-kiam itu adalah sebatang pedang kuno, berbentuk seekor naga gagangnya merupakan ekornya. Dia berdiri santai, pedang di tangan kanan itu tergantung ke bawah. Sama sekali dia tidak membuat pasangan kuda-kuda.

"Baiklah, kalau locianpwe memaksa. Sllakan, nona, saya sudah slap melayani nona." katanya.

Biauw In Suthai dan gadis ke dua melangkah mundur dan menonton di pinggir. Melihat Thian Liong sudah mencabut pedang dan mengatakan siap walaupun sikapnya masih santai, Kim Lan lalu membentak dengan suara nyaring.

"Lihat serangan pedangku!" Setelah memberi peringatan, barulah ia bergerak. Dan serangannya memang hebat sekali. Begitu ia menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar seperti kilat dan ia telah menghujani Thian Liong dengan serangkai serangan kilat yang dahsyat!

Thian Liong merasa kagum. Cepat dia menggunakan ginkang untuk berkelebatan mengelak dari semua serangan. Timbul kegembiraan hatinya. Ilmu pedang yang dimainkan gadis bernama Kim Lan itu memang hebat sekali dan gadis itu benar-benar telah menguasai llmu pedangnya dengan baik. Pedang kilat itu seolah telah menyatu dengan dirinya.

Sampai belasan jurus Thlan Liong menghindarkan diri dari sambaran pedang dengan elakan-elakan cepat. Namun dia tahu bahwa dia tidak mungkin mengandalkan elakan saja untuk menghindarkan diri dari serangan yang bertubi-tubi datangnya Itu. Maka, ketika dia terdesak, mulailah dia menggerakkan Thian-Liong-kiam di tangan kanannya.

Akan tetapi tentu saja dia membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membikin rusak pedang lawan, juga tidak ingin membikin malu gadis itu dengan tolakan tenaga saktinya. Dia menangkis dengan tenaga terbatas.

"Tranggg....!" Dua pedang bertemu dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata. Gadis itu cepat memeriksa pedangnya. la merasa lega melihat pedangnya tidak rusak, juga lega karena merasa betapa tenaganya seimbang dengan tenaga lawan.

Pertandingan dilanjutkan dan kini Thian Liong terkadang membalas dengan serangan pedangnya. Pertandingan itu tampak ramai dan seimbang. Hal ini terjadi tentu saja karena Thian Liong banyak mengalah. Dia tidak ingin membikin malu gadis itu maka sengaja membuat pertandingan itu tampak seru dan ramai seolah kepandalan mereka seimbang.

Tentu saja diapun tidak mau kalau sampai dia kalah, karena hal iu akan merendahkan nama besar gurunya. Tidak, dia harus menang, akan tetapi kemenangan melalui pertandingan yang seimbang dan ramai.

"Hailiiittt....!!" Tiba-tiba Kim Lan merendahkan tubuhnya setengah berjongkok dan pedangnya menyambar-nyambar kearah kedua kaki Thian Liong. Pedang itu diputar-putar merupakan gulungan sinar putih yang mengancam kedua kaki lawan. Thian Liong berloncatan untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah kedua kakinya itu.

Untuk menghentikan desakan lawan, dia menyerangkan pedang nya dari atas dan pedang Thian-liong-kiam berkelebat. Ujung kain pengikat kepala Kim Lan terbabat putus dan sehelai kain kuning melayang ke bawah. Gadis itu terkejut dan mengubah serangannya. Kini ia berdiri lagi dan pedangnya menyambar-nyambar ke arah leher lawan.

"Trang-trang-tranggg..., tiga, kali berturut turut kedua pedang bertemu di udara dan keduanya melompat ke belakang. Lima puluh jurus telah lewat dan Thian Liong merasa bahwa sudah cukup lama dia mengalah. Ketika pedang kilat itu meuncur menyambar dengan tusukan ke arah dadanya, dia hanya sedikit miringkan tubuhnya dan mengangkat lengan kirinya.

Pedang itu meluncur dekat sekali dengan iga kirinya dan pada saat itu, lengan kirinya turun mengempit pedang lawan! Kim Lan terkejut dan mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya yang tampaknya seolah menancap di dada lawan itu. Akan tetapi tiba-tiba Thian Liong mengetuk siku kanannya.

Seketika lengan kanannya kehilangan tenaga dan sebelum gadis itu dapat mengatasi keadaannya tangan Thian Liong yang memegang pedang itu telah mendorong pundak kiri Kim Lan sehingga tubuh gadis itu terhuyung ke belakang dan pedangnya tertinggal, dikempit oleh lengan kiri pemuda itu! Keadaan ini jelas membuktikan bahwa Kim Lan telah kalah.

Thian Liong cepat mengambil pedang gadis itu, memegang ujungnya dan menyodorkan gagangnya kepada Kim Lan. "Terimalah pedangmu dan maafkan aku, nona." ucapannya itu dikeluarkan dengan tulus.

Kim Lan menerima pedang itu dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri bersimpuh di atas tanah dan menangis tentu saja Thian Liong menjadi bengong melihat hal ini. Anehnya, Biauw In Suthai menghampirinya. Thian Liong sudah bersiap siaga untuk melindungi dirinya kalau diserang tiba-tiba oleh pendeta wanita yang galak ini. Akan tetapi anehnya, Biauw In Suthai tersenyum dan berkata dengan suara girang.

"Souw Thian Liong, kiong-hi (selamat)! Kami mengucapkan selamat!"

"Selamat? Untuk apa?" Thian Liong bertanya, tidak mengerti.

"Selamat karena engkau telah membuktikan bahwa engkau murid yang mengagumkan dari Tlong Lee Cin-jln, engkau telah menang dalam pertandingan ini dan engkau telah memperoleh seorang isteri yang baik dan cocok sekali bagimu."

Thian Liong terbelalak semakin heran. "Isteri? Apa.... apa maksud locianpwe?"

Nenek itu menunjuk Kim Lan yang masih bersimpuh dan menangis menutupi muka dengan kedua tangannya. "Lihat itu, calon isterimu menangis karena haru dan bahagia!"

"Locianpwe, apa maksudmu? Saya.... saya tidak...." dia bingung harus berkata apa.

Biauw In Suthai tertawa dan melihat nenek itu tertawa Thian Liong merasa aneh sekali. Nenek yang galak dan keras seperti batu karang itu dapat tertawa, akan tetapi hanya mulutnya yang menyeririgai tertawa, matanya sama sekali tldak ikut tertawa. Mata itu tetap memandang dengan sinar yang keras.

"Heh-heh-hi-hi-hik. Makaudku....? Itu urusan orang muda. Engkau boleh bicara sendiri dengan Kim Lan!" Setelah berkata demikian, pendeta wanita itu melangkah pergi meninggalkan Thian Liong yang masih berdiri bengong.

Setelah nenek itu pergi, Thiar Liong memandang kepada gadis yang masih duduk bersimpuh dan menangis tanpa suara itu. Kemudian dia memandang kepada gadis ke dua yang berdiri di dekat gadis yang menangis dan kebetulan gadis itu juga sedang memandang kepadanya Gadis yang bermuka bulat telur dan bertubuh mungil ini wajahnya sama cantik dengan gadis pertama.

Bedanya, gadis yang lebih pendek ini wajahnya tidak membayangkan kekerasan seperti yang lain. la bahkan memandang kepada Thian Liong dengan sinar mata kagum dan lembut, dan bibirnya mengembangkan senyum. Melihat sikap ini, Thian Liong yang tidak berani bertanya kepada gadis yang menangis, lalu bertanya kepada gadis ke dua itu.

"Nona, apakah sebenarnya yang dimaksudkan oleh loclanpwe tadi? Sungguh mati saya tldak mengertl sama sekali"

Gadis itu menoleh kepada gadis yang masih duduk bersimpuh dan biarpun sudah tidak menangs lagi namun masih menutupi mukanya dengan kedua tangan seperti orang yang merasa malu. "Suci (kakak seperguruan, bolehkah aku mewakilimu menceritakan apa artinya semua ini kepada Souw-sicu?"

Gadis yang bernama Kim Lan mengangguk. Gadis mungil itu lalu melahgkah maju rnenghampiri Thian Liong dan la berkata dengan suara merdu. "Kami berdua adalah murid Kun-lun-pai di bawah asuhan guru karni Biauw In Suthai. Ini adalah enci Kim Lan dan aku bernama Ai Yin. Ketahuilah, sicu, kami berdua telah disumpah oleh guru kami ketika kami menerima pelajaran ilmu pedang Tian-lui-kiamsut (Ilmu Pedang Kilat Guntur) bahwa kami hanya boleh menikah kalau...."

"Sumoi....!" Kim Lan menegur sumoinya dan ia kini bangkit berdiri, akan tetapi tidak berani menatap wajah Thian Liong, melainkan memandang wajah sumoinya.

"Suci, kalau aku tidak menceritakan semuanya, bagaimana Souw-sicu akan dapat mengerti persoalannya? Karena dia merupakan orang yang tersangkut, tiada salahnya dia mengetahui rahasia kita."

Sejenak Kim Lan termangu-mangu, lalu melirik malu-malu ke arah Thian Liong, kemudian mengangguk dan berkata lirih, "Baik, teruskanlah."

Thian Liong merasa tidak enak. "Nona, kalau kalian mempunyai rahasia, tidak perlu kalian ceritakan padaku. Akupun tidak ingin mendengar tentang rahasia orang lain."

"Souw-sicu, rahasia kami ini sekarang telah melibatkan dirimu, maka engkau harus mendengarnya."

"Hemm, kalau engkau dengan suka rela hendak menceritakan kepadaku, silakan." kata Thian Liong yang sebetulnya ingin sekali tahu akan sikap Biauw In Suthai tadi.

"Seperti kukatakan tadi, kami berdua telah disumpah oleh guru kami. Kami tidak boleh berhubungan dengan pria, bahkan tidak boleh berdekatan. Subo (ibu guru) mungkin akan rnembunuh kami kalau melihat kami akrab dengan pria. Kami disumpah bahwa kami hanya boleh menikah kalau ada pria yang dapat mengalahkan Ilmu Pedang Kilat Guntur kami. Pria yang dapat mengalahkan kami harus menjadi suami kami. Karena itu, ketika engkau mengalahkan suci Kim Lan, berarti engkau menjadi jodoh atau calon suami suci Kim Lan, Souw-sicu."

Thlan Liong terbelalak, terkejut dan heran. "Akan tetapi... bagaimana mungkin ada aturan seperti itu? Pernikahan tidak dapat dipaksakan oleh satu pihak, harus ada persetujuan kedua pihak. Sedangkan aku... aku sama sekali belum mempunyai keinginan bahkan belum pernah berpikir untuk menikah...!"

Jilid selanjutnya,
KISAH SI NAGA LANGIT JILID 08
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.